
"Bapak, sudah lama?" tanya Jono yang baru saja membuka gerbang belakang setelah Abimana menghubunginya setelah merasa bahwa keadaan sudah terkendali.
"Lumayan, kami kepanasan di sini. Bagaimana, mereka sudah pergi?" tanya Abimana seraya melangkah masuk dan tanpa sadar dia mengulurkan tangannya untuk membantu Amanda melangkah masuk.
"Aku bisa sendiri Pak," tolak Amanda dengan melangkahkan kakinya masuk sendiri tanpa bantuan Abimana.
"Dia tetap pada pendiriannya menolak semua niat baikku. Kalau seperti ini menikah pun aku rasa bukan solusi yang baik. Tapi kalau tidak menikah bagaimana dengan anak itu nantinya, dia juga butuh sosok ayah," pikir Abimana seraya menatap punggung Amanda yang berjalan masuk lalu menghilang di pintu kamarnya.
"Aku menyesal mengambil cara seperti itu dulu untuk membuatnya aman. Harusnya aku bilang sedari awal kalau aku mau bertanggungjawab. Kalau begini ... argh! Salah, salah, salah! Semua terlanjur salah di matanya ...! Tubuh kecil itu kini mengandung anakku! ****!" umpat Abimana di dalam hatinya. Ia merutuki segala kebodohannya.
Abimana berjalan dan berhenti di lorong depan kamar pembantu. Dia menatap pintu kamar itu dan sekilas bayangan akan kejadian malam itu pun terulang. Getir yang dia rasakan ketika mengingat tiap-tiap apa yang dia lakukan saat menunggangi tubuh Amanda, anak pembantu yang jarak usianya terlampau 11 tahun lebih muda darinya.
Tok!
Tok!
Tok!
"Manda," panggil Abimana pelan pada penghuni kamar yang tengah merebahkan tubuhnya dan mengusap perlahan perut buncitnya yang setengah hari ini ia sembunyikan dengan bantuan korset.
Dengan susah payah, Amanda bangun dan membukakan pintu. Tangannya sibuk memegangi selimut untuk menutupi perutnya yang sebenarnya sudah membesar dan korset pun tak mampu bekerja sama untuk menyembunyikan janin yang meringkuk di dalamnya. Ia hanya mengeluarkan sedikit kepalanya dari celah pintu.
"Iya Bapak, ada apa?" tanya Amanda dengan sesekali melihat ke arah Pak Jono.
"Sebentar lagi makan siang, kamu masak ya, apa terserah dan antar ke kamar saya saja. Saya mau makan di kamar saja," titah Abimana tanpa memperlihatkan mimik wajah yang berlebihan. Semuanya standar dan biasa saja.
__ADS_1
"Baik," jawab Amanda dengan menganggukan kepalanya perlahan.
Selepas pesan itu ia dapatkan, Abimana melanjutkan langkahnya masuk ke rumah utama. Sementara Amanda, dia memutuskan untuk kembali beristirahat, dia berbaring di lantai tanpa alas dan dengan sengaja menempelkan perutnya ke ubin yang dingin. Iya, ibu hamil memang sering merasa kepanasan. Bermodalkan kipas kecil yang juga ia arahkan ke perut buncitnya, perlahan dia menikmati sensasi dingin hingga tidak sadar terlelap.
Amanda terlelap tanpa mengingat beban hidup dan pesan dari snag majikan sebelumnya. Sementara itu di ruang tengah Abimana tengah berbincang dengan pengacara, dan juga informan yang membawa semua bukti perselingkuhan antara Clarissa dan Markus. Sesekali ia menatap ke arah lorong dan kembali fokus pada pengacara dan informan.
"Sebentar aku ambilkan minuman dingin dulu," kata Abimana dengan manik matanya yang terus melirik ke arah lorong yang menuju ke kamar Amanda.
"Apa dia tertidur? Padahal aku memintanya untuk memasak. Ah sudahlah lebih baik pesan saja" kata Abimana dalam hatinya.
"Pembantumu ke mana, kenapa melakukan itu sendiri? Apa dia berhenti?" tanya si pengacara.
"Oh, dia mungkin sedang tidur. Kasihan dia juga kelihatan sedang tidak enak badan. Sama aku sakit hanya dia yang sibuk mengurusku," jawab Abimana dengan tersenyum ramah.
Perbincangan itu berlangsung selama satu jam penuh tanpa istirahat. Hingga semuanya selesai dan diambil kesimpulan bahwa mereka akan datang ke persidangan besok untuk memproses kasus penganiyaan dan perselingkuhan ini. Sudah dapat dipastikan bahwa Abimana yang menang. Dia yang bersih dan sama sekali tidak bersalah.
Abimana masuk ke dalam kamar itu dan pria bertubuh tegap nan gagah itu menangis saat melihat bagaimana Amanda hanya ingin merasakan hawa dingin di cuaca panas yang begitu terik dengan menempelkan perut besarnya ke lantai. Amanda membuka bajunya sebatas perut. Ia dia sengaja mendinginkan perutnya lantaran terasa begitu panas.
"Dia hanya ingin merasakan dingin saja sampai seperti ini? Astaga aku merasa sudah begitu jahat terhadap kalian berdua," gumam Abimana dengan satu tetes air mata byang terjatuh.
Ia keluar dan menuju ke kamar tamu. Ia menyalakan AC dan menata kamar tersebut. Lalu, dengan sangat hati-hati dia memindahkan Amnda untuk menetap di kamar tersebut.
Abimana dengan penuh kehati-hatian meletakkan Amanda di kasur empuk kamar tamu. Ia juga memakaikan selimut tipis yang hanya berfungsi untuk menutupi perut ibu hamil yang kemejanya tersibak itu. Ada perasaan bersalah byang menghimpitnya membuatnya sesak hingga sulit bernapas lega.
Setelahnya makanan yang ia pesan datang. Abimana menghangatkannya lagi dan barulah dia membangunkan Amanda yang masih setia terlelap meski waktu sudah menunjukkan pergantian waktu menuju sendikala. Langit jingga mulai memudar berganti warna abu yang kian pekat dan menggelap.
"Wanita hamil tidak baik tidur saat Magrib," kata Abimana seraya berjalan dan berniat untuk membangunkan Amanda.
__ADS_1
"Manda, Manda ... bangun dulu, ini sudah mau Magrib," kata Abimana seraya mengguncang punggung wanita yang memunggunginya.
"Apa sih?" sahut Amanda tanpa membuka matanya. Ia menggeliat dan menarik selimut.
Entah mengapa di posisi seperti itu wanita muda itu justru terlihat lebih cantik dan menawan. Dia terlihat lucu dengan gaya tidurnya dan wajah polos tanpa makeup. Tanpa sadar, Abimana mengulum senyumnya saat menyaksikan itu semua.
"Bangun ... ibu hamil tidak boleh tidur saya Magrib," kata Abimana dengan mengguncang kaki Amanda.
"Hei! Aku di mana?" pekik Amanda dengan terkejut dan terduduk begitu saja.
Namun beberapa detik setelahnya, ia kembali berbaring dan kali ini disertai dengan erangan. Dia mengerang kesakitan. Amanda untuk pertama kalinya mengalami kontraksi karena terkejut tadi.
"Argh ...." Amanda mengerang menahan sakit.
"Kenapa? Ada apa?" Abimana ikut panik. Ia langsung membantu Amanda untuk duduk dan mengabaikan luka di punggungnya ia langsung ingin membopong Amanda dan mengantarnya ke rumah sakit.
"Jangan, jangan angkat aku. Ini sakit, perutku seperti mengeras," kata Amanda.
"Kita harus ke dokter. Kenapa bisa seperti ini?" tanya Abimana balik dan Amanda menggeleng.
Abimana menghubungi temannya yang merupakan dokter kandungan. Ia menjawab semua pertanyaan dokter itu dan ia mendapatkan jawaban bahwa kontraksi itu terjadi karena si ibu yang terkejut. Hanya saja ada yang membuat Amanda merasakan sesak. Pada saat menelpon temannya, Abimana mengaku bahwa istri sirinya yang sedang mengalami kontraksi tersebut.
"Kenapa Bapak sebut aku istri Bapak tadi?" tanya Amanda dengan menundukkan wajahnya.
"Ya karena memang sebentar lagi kita akan menikah." Abimana menjawabnya dengan santai.
"Tapi aku belum mengiyakan," tolak Amanda.
__ADS_1
"Ayolah, aku memaksa!" kata Abimana dengan berlutut di hadapan Amanda dan memegang kedua tangan gadis lugu yang tertunduk kelu itu.