
"Apa kamu benar-benar akan masuk ke agamaku Pak?" tanya Amanda di saat mereka tengah berdua.
Herman sudah undur diri setelah membahas hal tersebut. Dia tengah mempersiapkan tempat untuk menikahkan kerabatnya buang tengah dirundung masalah. Berita pernikahan tersebut sama sekali tidak ada yang tahu kecuali Herman dan malam itu Oom yang lain datang ke rumah Abimana, iya Markus dengan berani datang dan melabrak Abimana.
"Iya, aku sudah memutuskan semuanya. Bersyukur aku ada Bang Herman yang mau memaklumi aku atas semua kesalahanku ini. Kalau tidak ada dia ...."
Belum selesai Abimana berbicara, sudah terdengar suara ketukan pintu yang memburu. Markus, benar-benar datang setelah persidangan pertama antara Abimana dan Clarissa. Sebab, di hari itu juga istrinya, Kinar mengetahui kebusukan suaminya dan juga Clarissa, istri keponakannya.
"Abi! Buka pintunya Abi" teriak Markus sembari menggedor-gedor pintu rumah Abimana.
"Pak, jangan seperti ini. Ini sudah malam, Pak Abi baru saja masuk untuk beristirahat," ujar Pak Jono yang mencegah Markus untuk terus menggedor pintu dan membuat keributan.
"Hah! Minggir kamu! Kamu tidak tahu apa urusan kami!" bentak Markus dengan mendorong kasar tubuh pak Jono.
Pak Jono yang tidak tahu kalau ada masalah pribadi antara Markus dan juga majikannya semula mengijinkan Markus untuk masuk lantaran Markus merupakan paman dari majikannya. Dia sama sekali tidak mengetahui perihal perselingkuhan tersebut, pun dengan Abimana yang lupa memberi tahu Pak Jono akan kasus itu supaya mencegah Markus untuk masuk ke sekitar rumahnya.
Mendengar keributan yang berasal dari depan pintu, Abimana yang baru saja selesai menikmati makan malam sederhana bersama Amanda pun seketika bersiaga. Ia langsung menggiring Amanda ke lantai atas. Abimana menyembunyikan Amanda di kamar calon anak mereka yang pada saat ini sudah Abi tetapkan sebagai kamar Amanda.
"Kamu di sini, jangan ke mana-mana sebelum aku yang mengetuk pintu. Itu adalah Om Markus, bukan aku takut menghadapinya. Tapi kamu tahu kondisimu seperti apa dan aku seperti apa. Aku tidak mau melihat kalian terluka. Jadi, tetaplah di sini sampai aku kembali," tutur Abimana di saat genting itu.
Amanda mulai terenyuh akan sikap lembut Abimana terhadapnya. Majikan yang telah berbuat hal buruk terhadap dirinya kini seakan bertanggungjawab penuh atas keselamatan dia dan bayinya. Abimana bertindak layaknya seorang ayah sekaligus suami yang baik.
Satu langkah Abimana memutar badannya, Amanda mencekal pergelangan tangannya. Langkah itu terhenti dan dalam beberapa detik mereka saling bertukar pandang. Tatapan yang penuh makna itu mereka lontarkan.
"Pak, hati-hati. Jaga diri baik-baik. Apa aku sebaiknya lapor polisi?" ucap Amanda dengan suaranya yang sudah bergetar ketakutan.
__ADS_1
Abimana tersenyum, lalu menggeleng. Ia lalu memegang tangan Amanda yang masih hinggap dengan cantik di pergelangan tangannya. Tatapannya begitu teduh dan lembut membuat Amanda hanya bisa mengulum senyum getirnya.
"Aku janji aku akan baik-baik saja. Kamu jangan khawatir, ada Pak Jono juga di bawah," ucap Abimana yang berusaha membuat Amanda tenang.
"Dia berusaha untuk melindungiku. Pak, kalau sikapmu seperti ini terus, aku tidak bisa menetap pada pendirianku. Kalau aku jatuh cinta kepadamu, maafkanlah aku ya," kata Amanda di dalam hatinya mengiringi kepergian Abimana.
Perlahan punggung tegap yang masih menonjolkan balutan perban di dalam pakaiannya itu pun menjauh. Entah mengapa ada segelintir lara yang mengiringi kepergian Abimana. Bila biasanya Amanda akan acuh, maka berbeda dengan kali ini di saat hatinya justru menjadi gelisah tak menentu.
"Ah, kenapa aku sangat mencemaskan dia. Aku takut kalau terjadi apa-apa," gumam Amanda sembari memegangi dadanya yang berdegup kencang.
• Di lantai bawah.
"Aku tidak peduli, yang penting aku mau bicara dengan dia malam ini!" tukas Markus dia begitu nyalang, api kemarahan terlihat memancar dari kedua matanya.
Bagaimana tidak marah bila setelah aibnya terbongkar dengan datangnya surat panggilan dari kepolisian yang ingin mendatangkan dirinya sebagai salah satu terduga kasus perselingkuhan justru sampai di tangan Kirana. Hal itu sontak membuat Kirana meledak dan menutup semua akses perbankan milik Markus yang selama ini ternyata, Markus hanyalah seorang sekuriti bernasib baik yang Kirana cintai. Namun sayang, Markus menjadi tamak dan lupa daratan. Lupa dari mana asal dia berada dan justru menghianati istrinya.
Awal mula kisah cinta Markus dan Kirana itu tergolong cukup indah dengan dikaruniai dua orang anak mereka berdua mengarungi bahtera cinta bersama. Namun semua berubah semenjak hadirnya Clarissa di dalam keluarga besar mereka. Berawal dari sikap baik Clarissa yang suka mengantarkan makanan di saat Kirana baru saja selesai operasi caesar, kebiasaan itu justru membuat Markus menyukai sosok istri keponakannya itu.
"Harusnya aku yang marah karena kalian tidak tahu diri! Kalian berselingkuh dan menghabiskan uang kami untuk bersenang-senang. Hahaha! Sudah putus rupanya urat malumu Om!" sentak Abimana tak kalah lantang.
"Hahaha ... kamu merasa paling dirugikan? Tidak pernah kamu bertanya kepada istrimu mengapa dia lebih suka berhubungan denganku dari pada kamu?" tutur Markus yang dengan sengaja ingin menjatuhkan mental Abimana sebagai laki-laki.
"Aku tidak peduli karena apa, yang jelas semua mahluk yang ada di muka bumi ini akan bertemu dengan yang sefrekuensi dengannya. Sampah dengan sampah. Pezina dengan pezina. Paham Om!" tukas Abimana penuh penekanan.
"Pak, sebaiknya Bapak pergi. Saya sudah memanggil polisi." Pak Joko bertindak tanpa sepengetahuan Abimana.
"Apa-apaan kamu!" bentak Markus.
__ADS_1
Markus merasa tersudut dan direndahkan oleh keponakannya yang di matanya Abimana bukanlah apa-apa. Iya, adanya penilaian semacam itu adalah karena sikap Clarissa yang mengidap NPD, di mana dia akan selalu menjatuhkan dan merendahkan pasangannya demi mendapatkan simpatik dari pria lain. Sementara Abimana yang paham akan pola itu kini sudah tidak ambil pusing, dia menggunakan fakta untuk melawan kezaliman tersebut.
Bug!
Tiba-tiba dengan begitu cepat, sebuah tinju melayang dan mendarat dengan tepat di hidung mancung Abimana. Seketika darah mengalir dari sana. Dengan rasa puasnya, Markus melenggang pergi.
Selepas kepergian Markus.
"Pak saya ambilkan tisu," kata Pak Joko.
"Stop, tidak perlu. Foto saya saja sekarang," titah Abi dengan mengeluarkan ponselnya.
Dia berpose dengan mengambil 3 sudut pengambilan gambar yang berbeda. Ia, Abimana akan menggunakan foto itu sebagai suatu senjata. Ia tersenyum puas setelah Pak Joko mengambil gambarnya.
"Bapak benar sudah panggil polisi?" tanya Abimana.
"Ia Pak, Pak Markus tadi sangat brutal dan saya rasa beliau itu memang tempramen sedangkan keadaan Bapak belum sembuh benar. Benarkan feeling saya kalau dia itu kasar, Bapak kena tonjok begini," jawab Pak Jono dengan sangat emosional.
Abimana tersenyum pias. "Tidak apa-apa, sekalian saja saya mau membuat laporan atas tindakan pemukulan. Bapak nanti jadi saksi ya? Tenang tidak usah takut. Apa yang terjadi juga sudah terekam CCTV."
"Di-dimana ada CCTV Bapak?" Pak Jono kebingungan.
Pasalnya, CCTV di teras itu belum lama rusak dan belum diperbaiki. Apa lagi setelah itu malah terjadi kasus seperti ini yang tentunya membuat Abimana lupa akan hal-hal seperti itu, pikir Pak Jono.
"Ada, sudah Bapak tenang saja," ujar Abimana yang kemudian masuk kembali ke dalam rumahnya masih dengan hidung yang berdarah.
Abimana segera masuk dan menuju ke kamar Ananda. Dia langsung membukakan kunci pintu kamar tersebut dengan hidungnya yang berdarah. Iya, dia sengaja menunjukkan itu di hadapan calon istrinya untuk melihat sejauh mana empatinya.
__ADS_1
Jeglek ....
~ Bersambung ☺️