
“Akh … terasa sakit sekali. Apa ada pecahan kaca di dalamnya? Oh, aku harus mengabadikan ini sebelum aku membersihkannya, biar saja. Kali ini aku tidak akan diam saja Cla,” kata Abimana sembari merogoh ponselnya dan mulai mengabadikan gambar luka dan darah yang masih mengalir di pelipisnya.
“Oh iya, Manda. Manda, dia harus mau menjadi saksi atas petengkaran dan penganiayaan ini. Iya, harus ada saksi atau dia akan kembali memutar balikan fakta.” Abimana menyusun rencana dan selesai mengambil gambar ia lalu menyusul Amanda.
Seperti biasa, setelah pertengkaran terjadi, Clarissa tidak akan langsung pulang. Dia pasti akan pergi untuk berhari-hari dengan alasan menenangkan
diri. Dia sama sekali tidak ingin melukai suaminya lagi, begitu alasannya.
Tok!
Tok!
Tok!
“Manda, Nda!” panggil Abimana dengan mengetuk pintu kamar pembantunya itu.
“Ada apa lagi dia memanggilku, katanya tidak mau diobati,” gumam Amanda yang berjalan mendekati pintu. Ia membuka pintu namun hanya menonjolkan kepalanya saja.
“Ada apa Pak?” tanya Amanda tanpa membuka lebar pintunya.
“Kenapa lukanya belum di obati, kenapa dibiarkan sepeti itu?” pikir Amanda.
“Boleh aku masuk? Aku ada hal penting yang harus ku bicarakan denganmu. Ini sangat penting,” pinta Abimana yang berupaya supaya Amanda berada dipihaknya.
Amanda sebenarnya malas untuk menolong Abimana. Namun, dia kembali ingat di saat sang adik masuk rumah sakit hanya Abimana seorang yang mau mengulurkan bantuan. Ya … walaupun setelahnya, Clarissa menagih pembayaran dari uang yang sudah suaminya gelontorkan.
“Masuklah.” Amanda mempersilahkan dan Abimana langsung masuk begitu saja. Manik matanya tertuju pada kasur yang masih tertekuk dan terlihat sama sekali belum pernah dipakai.
“Ada apa? kenapa melihat kasur itu Pak? Mau memintanya kembali?” tanya Amanda yang langsung pas mengenai hati Abimana. Dia teringat hari di mana dia bahkan melarang wanita itu untuk makan di dengan makanan dari dapurnya.
“Siapa? Siapa yang mau mengambilnya lagi? Aku heran saja kenapa kamu tidak mau pakai?” celetuk Abimana yang sesaat terlupa daro fokus utamanya.
__ADS_1
Amanda tersenyum miring. “Aku takut, nanti kalau aku memakainya Bapak akan mengungkitnya sama seperti kebaikan yang sudah Bapak berikan kepada keluarga saya.”
Jawaban dari Amanda tentunya langsung mengena di hati dan pikiran seorang Abimana Dipta. “Ah, sial. Itu rupanya sebab dia tidak mau memakai pemberianku.”
“Kamu itu terlalu baper. Ah sudahlah, aku ke sini bukan untuk itu. Aku datang untuk memintamu menjadi saksi atas apa yang terjadi hari ini. Kamu mau ‘kan?” Abimana bertanya dengan tatapan mata penuh harap.
“Saksi? Saksi atas apa yang Clarissa lakukan. Lalu aku … ah, ingin rasanya aku menolak ini supaya dia kesusahan. Tapi … nanti dia pasti mengadu sama ibu soal sikap cuekku ini.” Pikir Amanda yang kemudian mengangguk pelan.
“Apa itu? Kamu tidak bisa bicara? Kenapa hanya mengangguk saja?” tanya Abimana.
“Iya, aku akan bantu.” Amanda menjawab dengan datar. Ia kembali duduk dan mengabaikan Abimana.
“Hei! Aku terluka Manda. Bukannya seharusnya kamu membantu majikanmu untuk mengobati ini?” tanya Abimana.
“Tidak akan etis bila tersentuh tanganku. Tanganku ini bukan tangan dokter yang bisa melakukan visum Bapak. Kalau memang mau memproses semua ini harusnya Bapak segera melakukan visum dan menaikan laporan saja,” kata Amanda dengan acuh tanpa mau melihat muka Abimana.
“Oh astaga …! Lihat itu gaya bicaranya acuh sekali. Kenapa dia sangat menyebalkan. Jarang bicara tapi sekalinya bicara selalu membuatku mati kutu. Dia benar juga aku memang harus ke rumah sakit dan melakukan visum. Malam ini juga aku akan membuat laporan atas luka-luka ini Amanda,” kata hati Abimana.
Pagi hari, saat Abimana tengah menikmati sarapan pagi dan Amanda tengah mengelap kaca. Clarissa datang dengan membawa surat panggilan untuk suatu pemeriksaan dari pihak kepolisian. Tidak butuh waktu lama memang, semalaman Abimana tidak pulang, dia menemui kuasa hukum dan membuat laporan.
Hal itu tentunya membuat Clarissa mengamuk sejadinya. Biasanya Abimana tidak akan melawan sama sekali. Akan tetapi kali ini ia memberontak dan hal itu membuat Amanda merasa tersudut.
“Apa maksudnya ini!” bentak Clarissa dengan suaranya yang begitu lantang hingga suaranya menggema memenuhi ruang makan.
Abimana tersenyum miring dan menatap remeh sikap Clarissa. Melihat sikap Abimana yang meremehkannya Clarissa semakin naik pitam. Dia semakin marah
dan menggebrak meja.
“Apa maksudnya! Kamu sudah tidak mencintaiku lagi hingga membuat laporan ini?” bentak Clarissa lagi dengan nyalang dan suaranya yang lantang.
“Cinta? Cinta macam apa yang kamu maksud? Cinta yang dengan bebas menganiaya pasangan dengan alasan tidak bisa mengontrol emosi? Aku tahu
__ADS_1
Cla, kamu itu mengidap NPD. Kamu itu punya gangguan mental! Kamu itu gila!” pekik Abimana balik.
Amanda memegang pisau makan yang ada di meja makan. Ia sudah terprovokasi dan hendak melakukan kejahatan lagi. Dia yang paling tidak bisa direndahkan. Harga dirinya terluka ketika orang lain mengetahui kegilaan dan gangguan mentalnya.
“Dengar Abi, kita ini saling mencintai. Apa pernah aku marah kalau kita tidak pernah ada masalah? Dan lihat aku, selama ini aku yang membantu usahamu, aku adalah istri yang membantu keuangan keluarga dan ini
balasanmu? Kamu mau aku mendekam di penjara?” Clarissa mulai memanipulasi
Abimana.
Iya, hal seperti ini memang sering dipakai oleh para pengidap NPD. Mereka tanpa tahu malu membanggakan diri dan mengungkit semua yang telah mereka lakukan untuk kita. Iya, pengidap NPD adalah mereka yang tidak tahu bersyukur dan tidak tahu rasa terima kasih, selalu mengungkit dan menuntut lebih. Hal inilah yang membuat Abimana muak.
“Kenapa? iya aku mau melakukan semua itu karena di dalam ceritamu itu akulah penjahatnya. Aku penjahatnya! Lalu sekarang apa? kamu pikir aku tidak tega karena terlalu mencintaimu? ****! Itu hanya bohong. Aku tidak pernah benar-benar mencintaimu! Jangan kamu pikir aku tidak tahu permainanmu dengan Markus!”
Tercengang. Clarissa tercengang mendengarkan perkataan Abimana, suaminya. Suaminya yang selama ini ia jadikan inang dan hanya dia manfaatkan tanpa benar-benar dia cintai pada akhirnya tahu tentang kenyataannya, di mana dia ada main dengan Oom suaminya sendiri.
Clarissa mengamuk, dia melemparkan vas bunga dan apapun yang ada di atas meja. Abimana menyingkir dan dia tidak menyangka bila Clarissa akan menjadi semakin gila dengan menancapkan pisau ke punggung Abimana saat suaminya
itu berbalik badan untuk menghindari amukannya. Amanda merekam semua kejadian itu dalam ingatannya.
Clarissa sama sekali tidak menyadari bila ada Amanda yang berdiri di dekat tirai yang menutupi separuh jendela karena pada saat itu Amanda juga sengaja bersembunyi. Melihat Abimana jatuh, Clarisaa bukannya merasa bersalah, dia malah semakin brutal. Dia menghantam Abimana dengan kursi meja makan.
Mendengar suara keributan, Satpam pun masuk dan segera menghentikan aksi gila Clarissa. Sementara Abimana sudah tidak sadarkan diri dengan luka dikepala dan tusukan di punggungnya. Bahkan saat dievakuasi ke rumah sakit, pisau itu masih menancap di punggungnya.
-----*-----
“Ibu saja yang temani Pak Abi ya, aku malas Bu,” kata Amanda melalui sambungan telepon di saat dia menunggui Abimana.
“Tidak Nduk, harus kamu saja. Ibu masih tidka bisa berjalan lama. Kamu saja tunggu sampai keluarga besarnya datang,” kata bibik Ninik.
“Kenapa harus aku? Ah, tapi melihatnya yang diserang dengan brutal seperti tadi juga membuatku tidak tega. Rupanya selama ini dia menikah dengan orang dengan gangguan mental? Apa ini sebab dia ingin aku tutup mulut? Dia tidak ingin nyawanya dan nyawaku terancam?” pikir Amanda sembari mengamati majikannya dan tangannya mengusap perutnya.
__ADS_1