
Malam semakin sunyi, Amanda tengah menikmati kesedihan dan kesendiriannya di teras belakang dekat dengan kolam renang. Dia duduk sendiri di sana tanpa siapapun yang menemani. Pikirannya gampang dan mengambang hatinya terus saja bergelut dengan sisi baik dan sisi buruk.
sisi baik dalam hatinya memintanya untuk terus bersabar dan bertahan demi kelangsungan hidup ibu dan adiknya. Sedangkan, satu sisi jahat di dalam hatinya begitu menggebu memintanya untuk pergi dan meninggalkan rumah tersebut. Akan tetapi besar tanggung jawab yang tengah ia pikul membuatnya terbagus di sana dan sama sekali tak bisa berkeming walaupun sudah berupaya.
D saat sendiri seperti inilah Amanda selalu mencurahkan rasa sedih hatinya. Dia mengadu dan menumpahkan segala apa yang membebani hatinya kepada sang pencipta alam semesta. Satu yang ada di dalam kepalanya saat ini adalah bagaimana caranya supaya bisa melahirkan dan membesarkan bayi yang ada di dalam perutnya tanpa menuai konflik terlebih dahulu.
Bayangan dan angan-angan Amanda sudah terpaut dengan stigma buruk yang bisa berdampak kepada kesehatan dia dan juga bayinya nanti. "Bagaimana caraku nanti untuk membesarkanmu Nak? bahkan saat ini saja ibumu ini sama sekali tidak mempunyai tabungan. semuanya terkuras habis untuk kebutuhan nenekmu dan pengobatannya juga dengan Oom-mu, Aska. Ibu sangat pusing sekali Sayang."
Di saat wanita yang tengah hamil muda itu sibuk mengusap lembut perutnya, tiba-tiba saja terjadi dengar suatu lemparan barang yang mengenai pintu dapur dan pecah berhamburan. mendengar suara tersebut Meta pun segede menjadi gemetar ketakutan.
Pikirannya justru melayang. Dia menduga ada perampok atau bahkan yang masuk melalui pintu depan yang ia lupa kunci. Sekarang masalahnya adalah Neta harus memastikan siapa yang membuat keributan itu di dalam rumah. sekarang
Sedangkan pada detik itu juga Neta sama sekali tidak mempunyai keberanian untuk mendekati sumber suara. Baru saja dia hendak berdiri untuk memastikan keributan yang terjadi. Tiba-tiba saja dari dalam rumah terdengar suara bentakan dari seorang wanita yang amat sangat ia kenali suaranya.
__ADS_1
Wanita yang tengah mengomel itu adalah Clarissa. Wanita cantik dengan mempunyai gangguan NPD. wanita yang sama sekali tidak mempunyai kepuasan terhadap satu laki-laki.
Entah perkara apa keributan ini, Amanda pun belum mengetahui informasinya secara pasti. Hanya samar-samar Amanda mendengarkan tentang pembelaan diri yang diucapkan oleh Abimana. Semua itu terkait uang dan pengeluaran yang clarisan nilai terlalu boros untuk satu minggu selama dia tinggal pergi dengan alasan bekerja.
"Aku itu pergi bekerja ya dan kamu hanya di rumah dengan menghabiskan uang kita. Apa kamu lupa kita mempunyai impian bersama Abi? Kita mempunyai banyak impian yang harus kita wujudkan dengan uang itu. lihat aku pergi dan pulang membawa uang, sedangkan kamu apa? Kamu bukannya menghasilkan dan malah berbelanja barang-barang yang tidak perlu," kata Clarissa dengan menekankan keborosan Abimana.
"Uang? Uang haram itu? Uang hasil menjual lenggak-lenggok tubuhmu? Aku sudah memintamu berhenti dari lama dan kamu sama sekali tidak bisa menghargai ku!" bentak Abimana.
Abimana menjadi naik pitam dia bertambah geram setiap mendengarkan semua ocehan dari istrinya itu. Clarissa sama sekali tidak pernah merasa puas jika sudah berkaitan dengan pendapatan dan uang. Dia selalu menginginkan mempunyai banyak uang agar bisa melakukan banyak perawatan dan membeli barang-barang mewah hanya semata-mata untuk menunjang penampilannya.
"Mau sampai kapan Cla? Mau sampai kapan kamu akan seperti ini? Terus saja mengutamakan uang dan menyampingkan keluarga! Bahkan kamu sampai tidak mau punya anak denganku apakah karena di matamu aku ini sama sekali tidak bisa menjamin masa depan istri dan anakku nanti?" cecar Abimana dengan darahnya yang mendidih.
Clarissa menatap nyalang sang suami. "Bagus kalau kamu sudah mengetahui jawabannya. iya memang karena itu aku sampai tidak mau punya anak denganmu. Hanya mencukupi semua kebutuhanku saja kamu sampai berlari tunggang langgang, apalagi jika kita menambah punya momongan. Kamu mengharapkan aku seperti ibu-ibu lain yang mengalah tidak membeli baju baru hanya untuk membelikan anaknya susu? Jangan harap!" ujar Clarisa dengan ekspresi wajahnya yang merendahkan Abimana.
__ADS_1
"Sebelum aku mempercayakan semua keuangan kepadamu nasib perusahaanku baik-baik saja. Tapi sekarang apa? Setelah keuangan keluarga ini kamu yang menghandle, justru aku banyak mengambil uang dari perusahaan hanya untuk mengcover semua biaya gengsimu itu. Lalu di saat perusahaan tengah merangkak dan kembali mencoba untuk bangkit kamu bukan berjuang bersamaku namun sering pergi meninggalkanku. Aku tidak yakin kepergianmu itu untuk urusan pekerjaan Cla!" telisik Abimana panjang lebar.
Clarissa yang merasa tersudut dengan ucapan suaminya itu pun menjadi marah dia meraih gelas yang ada di sampingnya dan melemparkannya bertubi-tubi. sasaran amuknya saat ini sudah sangat jelas yaitu Abimana Dipta, suaminya sendiri. 1 2 kali Abi mana bisa menghindari gelas-gelas yang melayang.
Akan tetapi pada lemparan keempat gelas tersebut tepat mengenai pelipisnya hingga mengakibatkan pelipisnya robek dan berdarah. Sebagai seorang istri bukannya Clarissa merasa kasihan lalu mengurus suaminya dia malah kembali pergi begitu saja meninggalkan rumah tanpa belas kasihan. Setelah Clarissa benar-benar menjauh, setelah key puas merasakan tetesan tiap tetesan darah yang berjalan di atas pipinya barulah dia keluar meninggalkan dapur dan menuju ke kolam renang.
Biasanya di tempat itulah dia akan melepaskan segala kejenuhan dan beban di hatinya hanya dengan menghisap sebatang rokok. namun kali ini ada pemandangan berbeda Amanda sudah berdiri dengan memegang kotak obat ala kadarnya yang dia siapkan. Amanda teringat akan kata-kata ibunya yang sering bercerita tentang pertengkaran antara suami istri itu dan selalu berakhir dengan si suami yang terluka.
"Kamu ada di sini? Kamu pasti sudah mendengar semuanya isi dari pertengkaran kami. Cih! Aku merasa sedang ditelanjangi di hadapanmu saat ini Manda. Tidak bisakah kamu pergi dan berpura-pura tidak tahu lalu membiarkan aku sendiri di sini sampai pagi?"
"Baiklah kalau itu mau Bapak, aku akan pergi. Aku letakkan obatnya di sini, obati sendiri luka Bapak," kata Amanda yang kemudian meletakkan kotak P3K di atas meja kecil dan dia pergi kembali masuk ke dalam kamarnya begitu saja.
"Padahal aku sangat berharap Amanda mau mengobati luka-luka aku ini. Ah ... kenapa aku jadi banyak berharap kepada anak pembantu itu?" gumam Abimana yang terheran di dalam hatinya.
__ADS_1