Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
17. Penolakan Amanda


__ADS_3


"Sudah, siap? Kita pulang sekarang. Tante Kartika memintaku untuk mengabarkan tentang kepulangan Bapak. Kita beri kabar sekarang atau nanti saja setelah sampai di rumah?" tanya Amanda kepada Abimana yang saat ini sedang berjalan terpincang menuju ke parkiran mobil.


"Nanti, nanti saja. Setidaknya aku tidak mau terlalu merepotkan mereka. Kamu jangan berjalan terlalu dekat denganku. Agak jauh saja, aku tidak mau nanti ada wartawan atau netizen yang menyorotmu." kata Abimana yang sangat memikirkan semua hal yang berpotensi membahayakan Amanda saat itu.


"Iya aku paham. Lagian kenapa kita harus buru-buru pulang, Bapak belum sembuh benar," kata Amanda pelan.


Abimana menghentikan langkahnya. Dia terdiam beberapa detik lalu menoleh menatap Amanda. Tatapannya menyiratkan begitu banyak makna. Tatapan antara perhatian dan kecemasan membaur menjadi satu yang padu.


"Apa menurutmu aku tega berada di sana terus dan membiarkan kalian tidur di sofa?"


Alih-alih menjawabnya, Abimana justru balik bertanya dan membuat Amanda diam tak bergeming.


"Mengapa setelah semalam dia jadi begitu memperhatikanku dan janin yang ada di dalam kandunganku? Kalau seperti ini aku jadi sangat bingung antara ingin menerima tawarannya atau menolaknya?" pikir Amanda.


"Ayo! Cepat naik! Jangan terlalu lama di luar, panas," kata Abimana seraya memasuki taksi.


Amanda pun segera menyusul dan duduk di belakang bersama majikannya. Dia sama sekali tidak mau menatap Abimana, pun dengan Abimana yang membuang muka. Rupanya, apa yang mereka berdua lakukan itu menyita perhatian sopir taksi online.


"Kalian ini suami istri yang sedang bertengkar ya? Yang satu sakit, yang satu lagi hamil. Tidak bagus loh seperti itu. Akan lebih baik kalau saling memaafkan dan akur. Bapak ini sudah sangat berpengalaman kalau soal seperti ini. Rejeki suami itu akan sangat melimpah ketika menyayangi istrinya, terlebih istrinya sedang hamil. Sedangkan wanita hamil itu akan merasa lebih nyaman dan tenang kalau bisa berdamai dengan keadaan."


Si sopir terus berbicara tanpa tahu hubungan apa yang mengikat keduanya. Hingga Amanda yang merasa gemas langsung menyahut. Dia tidak tahan dengan ceramah sopir tersebut.


"Pak, dia ini majikan saya. Dan yang saya kandung ini bukanlah anaknya. Jadi maaf Bapak salah sasaran," kata Amanda.

__ADS_1


Rupanya apa yang Amanda katakan itu membuat si sopir menertawakannya. Sopir itu melongok melihat Amanda dari spion dalam. Dia menatap seolah tidak percaya dengan apa yang Amanda tuturkan.


"Kalian ini, pengantin baru. Lagi manis-manisnya. Sebentar bertengkar, sebentar akur. Hemhh ... nanti kalau sudah tua, kalian akan tersenyum mengenang masa-masa indah seperti ini," ujar si sopir seraya menggelengkan kepalanya.


"Pak sopir ini mungkin ada benarnya. Namun sayangnya, Amanda selalu saja menolak mengakui kalau janin yang ada di dalam perutnya adalah buah kelakuanku di malam itu." Abimana mengulum senyumnya.


"Apa aku sudah salah mengambil keputusan dengan berbohong kalau dia bukanlah ayah kandung dari bayiku ini? Ah, tapi semua tidak akan seperti ini kalau bukan dia yang memulai! Aku harus berprinsip. Aku harus mencari jalan keluar lain," pikir Amanda.


Setengah jam mengendarai mobil, mereka akhirnya sampai di kediaman Abimana. Betapa terkejutnya Abimana ketika sampai di sana dia melihat ada orang tua Clarissa. Dia tahu bahwa keduanya datang hanya untuk membuat keributan.


Amanda pun melihat dua orang tua yang dihadang oleh Satpam. Memang Abimana memerintah supaya Satpam melarang siapa pun masuk terkecuali atas izinnya.


"Pak, ada mertua Bapak," ucap Amanda pelan.


"Aku tahu Amanda, aku tahu." Abimana memutar otak. Dia berpikir keras untuk mencari cara supaya mereka bisa masuk tanpa suatu kendala yang berarti.


Taksi yang semula akan berhenti itu pun kembali melaju, meninggalkan sepasang suami istri yang tengah sibuk mencecar Satpam dengan berbagai pertanyaan dan menghujaninya dengan tekanan.


"Apa buta matamu itu Jono? Tidak tahu kamu siapa kami ini?" sembur ibu Clarissa yang bernama Kamila.


"Iya, kami ini orang tua majikanmu. Itu artinya kamu juga harus hormati kami! Bukakan pintunya! Kami datang ke sini untuk mengambil barang-barang anak kami bukan amu mencuri!" pekik Pak Lim.


Niat kedua orang tua itu datang ke sana hanyalah untuk mengambil barang-barang berharga yang berharga fantastis milik Clarissa sebab saat ini Clarissa sedang meringkuk di dalam jeruji besi. Dia sedang dimintai keterangan dan juga penetapan sebagai tersangka atas penusukan dan penganiayaan yang terjadi terhadap Abimana. Ayah dan ibu Clarissa pun sama, keduanya sifatnya tak jauh dari Clarissa, salah satunya mengidap NPD.


"Maaf, iya saya tahu Bapak. Tapi Pak Abi saja sedang pergi. Beliau bahkan belum pulang. Saya tidak berani mengijinkan Bapak dan Ibu masuk. Ini bukan kewenangan saya." Pak Jono menjawab dengan sopan.

__ADS_1


"Halah! Banyak omong kamu ini!" Sembur Pak Lim yang mendorong tubuh Pak Jono agar menyingkir dari gerbang.


Sedikit perdebatan terjadi di gerbang depan. Sedangkan di gerbang belakang, Abimana dan Amanda sedang berteduh di bawah pohon yang berdiri tak jauh dari pintu gerbang. Mereka berdua berebut bayangan pohon di bawah terik panas matahari.


"Sebaiknya cepat telpon saja Pak Jono itu Pak," kata Amanda di tengah keheningan.


"Nanti, kamu apa tidak dengar mereka sedang berdebat itu," kata Abimana dengan penuh penekanan.


"Hemh, aku haus." Amanda berjongkok dan duduk di tanah menggunakan kedua sandalnya sebagai alas duduk.


Abimana memerhatikan Amanda yang beberapa kali membasahi bibirnya dengan lidah. Siapa sangka bila apa yang Amanda lakukan itu membuat Abimana teringat akan malam itu. Dia mengingat kembali saat dengan brutal dai menggigit bibir mungil tersebut.


"Abi ...! Mikir apa kamu di saat seperti ini? Gila! Jangan berpikir seperti itu. Jangan!" tepis Abimana dengan lamunannya.


"Bagaimana keadaan Aska?" tanya Abimana dengan tiba-tiba.


Amanda mengerutkan keningnya. Ia terheran. "Kenapa Bapak tiba-tiba bertanya soal Aska. Dia baik-baik saja dan Aska tidak ada kaitannya dengan maslaah saat ini."


"Memangnya harus menunggu ada masalah dulu baru aku bertanya tentang adikmu? Sudahlah, sedikit lebih santai denganku. Kamu harus terbiasa. Setelah ini juga kamu akan menjadi istriku," kata Abimana dengan entengnya.


"Memangnya siapa yang mau? Aku belum bilang apa-apa. Sebaiknya tidak usah ada pernikahan. Aku tidak menuntut Bapak untuk bertanggungjawab atas malam itu. Sudahlah lupakan saja. Aku bisa hidup dengan caraku," tolak Amanda yang membuat Abimana melotot.


"Hei! Orang lain kalau diperkosa itu menuntut balas, menuntut tanggung jawab. Ini kamu apa? Kamu malah menolak aku nikahi. Kamu itu waras atau tidak Amanda? Apa kamu sudah gila? Bagaimana kalau anak kita lahir dan dia tidak memiliki figur seorang ayah?" cerocos Abimana yang hanya diabaikan oleh Amanda.


"Sudahlah, kita jalani hidup masing-masing," tolak Amanda yang membuat Abimana mengguncang kedua pundaknya.

__ADS_1


"Apa aku harus memperkosamu lagi di tengah-tengah publik supaya kamu mau aku nikahi? Ini demi dia! Walau pun aku tak sengaja, tapi aku tidak sejahat itu untuk menelantarkan kalian," kata Abimana yang membuat hati Amanda bergetar.


__ADS_2