Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
22.Visum


__ADS_3


Pintu terbuka, udara sejuk dari dalam sebuah ruangan menyapa. Terbit seulas senyuman kekhawatiran dari seorang bibir gadis muda. Manda menatap nanar sosok di hadapannya, hatinya mengharu tatkala melihat penampakan laki-laki yang belum lama ia rawat lukanya, kini kembali terluka lagi.


"Dia berdarah lagi? Sampai seperti itu?" batin Manda menatap nanar Abimana.


"Tidak apa-apa dia sudah pergi," kata Abimana dengan sesekali meringis menahan sakit di hidungnya.


"Apa benar-benar sudah pergi? Bapak melawannya tadi, atau diam saja? Itu hidungnya sampai seperti itu," ucap Amanda dengan suaranya yang bergetar.


"Tidak apa-apa, namanya juga laki-laki. Aku sengaja tidak membalasnya memang," cetus Abimana yang membuat Amanda menoleh menatapnya lagi setelah sebelumnya ia masuk ke dalam kamar.


"Pak ...." Amanda menoleh dan Abimana sudah ikut masuk lalu duduk di kasur busa yang menghampar di lantai.


"Ya?" sahut Abimana. Ia mendongak dan mengerutkan keningnya layaknya orang kebingungan.


"Kenapa Bapak masuk? Saya tidak menyuruh."


"Aku kira kamu mau mengobati lukaku," jawab Abimana dengan santainya.


"Iya memang saya mau obati. Tapi sebaiknya di luar saja. Kita sudah pernah melakukan kesalahan satu kali, jadi saya mohon untuk tidak mengulanginya lagi. Saya masih takut dosa Pak," tutur Amanda dengan begitu pelan. Ada penyesalan yang terselip dalam setiap ucapan.


"Dia memang gadis baik-baik. Mungkin saat ini bila wanitanya bukan dia, maka akan merayuku dan membujukku untuk melakukan itu lagi. Lalu sesudahnya mereka akan memerasku. Tapi dia ini ... dia justru mengusirku secara halus karena tidak mau melakukannya." pikir Abimana.


"Oke, aku tunggu di luar. Eh, tapi tidak usah diobati dulu. Kamu mau mengantarkan aku pergi visum? Tidak enak rasanya berkendara malam-malam sendirian. Kamu tidur juga tidak apa-apa," pinta Abi.


"Bagaimana sih dia ini. Berubah-ubah terus kemauannya. Hemh! Menyebalkan, tapi aku kasihan," ujar hati Manda.

__ADS_1


Amanda tertunduk dan terlihat tidak ingin ikut. Tapi, bibirnya justru mengatakan hal yang sebaliknya. Kali ini tidak ada kekompakan antara otak, hati, dan tubuhnya.


"Baiklah," ucapnya dengan ragu.


"Kamu lesu begitu seperti terpaksa saja ikut denganku." Abimana memutar badan dan mulai melangkah. Sementara Amanda mengekor di belakangnya.


"Ka-karena aku juga takut sendirian berada di rumah. Nanti kalau mertua Bapak datang lalu mengamuk lagi bagaimana? Apa lagi melihat saya sedang hamil begini. Wah, saya tidak bisa membayangkannya Pak. Apa Bapak tahu kalau membayangkannya saja sudah membuat saya lemas?"


"Kali ini dia sudah mau berbicara panjang lebar lagi denganku. Maafkan aku Manda yang karena kebodohanku membuatmu kesulitan seperti ini. Kamu bahkan ketakutan, itu semua karena aku," batin Abimana, ia berjalan menuruni anak tangga.


Setelahnya, Abimana terlihat sibuk menghubungi Bang Herman. Ia mereka mengadakan janji untuk bertemu membahas soal laporan yang kali ini ditujukan untuk Markus atas kasus penyerangan dan pemukulan. Kali ini Abimana membalas semuanya dengan setimpal. Sudah lama dia hanya diam menunggu saat yang tepat.


...****************...


Sesampainya di rumah sakit, benar saja Amanda tertidur. Ia terlelap Abi beberapa menit mengamati wajah polos Amanda yang tanpa makeup. Terlihat pucat dan tidak terawat.


"Nda, bangun dulu kita sudah sampai," Abimana melepaskan seat belt yang terpasang pada Amanda. Di saat itu Abi melihat perut buncit Amanda yang lagi-lagi bergerak.


"Ah, anakku ada di dalam sana. Itu artinya selama ini dia juga dalam keadaan kurang baik. Ibunya saja hanya makan seadanya. Apa lagi aku waktu itu sempat melarangnya untuk makan makanan ku dan dia memakan makanan yang sekedarnya. Ah aku merasa sangat bersalah terhadap mereka berdua," kata hati Abimana menyesali perbuatannya.


"Engh? Kita sudah sampai?" Amanda perlahan membuka mata.


"Iya, kamu mau turun atau aku tinggal di dalam mobil?" Abimana bertanya namun dirinya juga sibuk menata beberapa barang bawaannya yang mungkin saja dibutuhkan.


"Aku di dalam mobil saja. Tapi matikan saja mesinnya," pinta Amanda yang tidak mau bila sampai bahan bakar mobil majikannya berkurang banyak hanya karena menyalakan AC terlalu lama.


"Kenapa?" tanya Abimana terheran.

__ADS_1


"Iya, aku merasa tidak pantas saja. Aku tidak seharusnya sampai duduk di dalam mobil mahal ini. Oh iya, untuk soal makanan yang Bapak belikan tadi saya ucapkan terima kasih," kata Amanda masih dengan wajah yang tertunduk.


Abimana tersenyum dan tiba-tiba saja dia mengusik pucuk kepala Amanda. Ia mengusap lembut dan senyuman manisnya membuat Amanda perlahan berani mengangkat wajahnya hingga menatap manik yang begitu indah. Saat itu, mereka berdua larut dalam diam.


"Tidak apa-apa, kamu ibu dari anakku. Sudah seharusnya kamu juga merasakan apa yang akan berikan untuk anakku. Jadi jangan sungkan ya. Nanti setelah menikah, kamu juga akan kuberikan rumah dan mobil untuk keperluan kalian. Seperti yang sudah kita bicarakan, sampai putusan sidang benar-benar tuntas, sampai kepada aman, kita harus tinggal di lain tempat."


Entah mengapa, akhir-akhir ini setiap kali Abimana bicara, selalu saja bisa menyentuh hatinya. Amanda bisa merasakan ketulusan dari setiap untaian kata yang Abimana tuturkan. Bahkan saat ini, ingin sekali rasanya ia menghambur ke dalam pelukan laki-laki bertubuh tinggi gagah beda 11 tahun dengannya itu.


"Em!" deham Amanda disertai anggukan kepala.


"Bagus, aku keluar, kamu tunggu sebentar."


Abimana turun untuk melakukan visum. Nampak Bang Herman yang sudah menunggunya dan mereka masuk bersama. Di saat itulah Amanda merenungi nasibnya.


"Ya Rabb, selama ini aku selalu berusaha menjadi anak yang berbakti. Aku juga selalu melaksanakan perintahmu tanpa terlambat. Tapi ... tapi mengapa Engkau memberikanku ujian seperti ini? Zina, hamil karena diperk0sa, tidakkah ini berlebihan Ya Rabb? Bagaimana perhitunganku nanti?" Amanda menangis tergugu mengingat dosa yang bahkan dia sendiri saja sama sekali tidak berniat dan tidak menginginkan hal buruk itu terjadi.


* Di dalam ruang tunggu.


"Kamu kenapa mengajaknya? Ini sangat berbahaya, bagaimana kalau ada wartawan yang melihat?"


"Bang, kasihan dia. Di rumahku juga sekarang tidak begitu aman. Dia takut kalau mertuaku datang dan mengobrak-abrik rumahku. Mana kondisinya sedang hamil. Aku tidak bisa membiarkan dia menanggung semuanya sendiri." Abimana menjelaskan kondisinya.


Herman menghela napasnya. " Hemh ... Apa kamu suka sama anak itu Abi?"


"Suka? Apa iya aku sudah mulai menyukainya sejauh itu? Aku rasa tidak. Tapi ... aku memang merasakan sesuatu yang aneh akhir-akhir ini. Aku bahkan tidak bisa tidur memikirkannya. Apa aku ...."


~ Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2