Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
28. 7 Hari tak bersua


__ADS_3


"Iya, aku tahu aku masih suami orang. Ah sudahlah aku malas berdebat dengan ibu hamil. Aku hanya mau makan dan pergi. Oh iya, satu Minggu aku tidak akan ke sini. Aku ada pekerjaan penting yang tidak bisa aku tinggalkan," kata Abimana seraya menghabiskan makanannya dan menenggak air putih sesudahnya.


"Oh, oke." Manda menyahuti dengan santainya. Ia begitu acuh tak acuh kepada Abimana.


Jelas Amanda bersikap seperti itu sebab saya ini Abimana bukanlah siapa-siapanya. Amanda hanya bersikap sewajarnya dan berusaha santai menyikapi Abimana. Sementara Abimana ia justru merasa kacau dengan sikap acuh Manda.

__ADS_1


"Acuh sekali dia ini. Hemh ... aku harus bersabar. Bukankah pantas bisa dia membenciku karena aku yang sudah merusak masa depannya. Kuliahnya tak jelas kedepannya bagaimana. Sekarang ambil cuti, tapi nanti setelah melahirkan apa masih bisa cuti satu tahun lagi? Tapi kalau mengulangi lagi juga akan terlalu lama. Tetap saja nantinya anakku yang terabaikan."


Abimana menyadari bila dia merupakan sumber dari kekacauan tersebut. Karena itulah dia berniat untuk memperbaikinya. Namum agaknya semua itu tak mudah mengingat sikap Manda yang begitu acuh dan dingin. Hanya saja tidak ada pilihan lain selain menikah dan mengakui bahwa calon anak mereka itu merupakan keturunan biologisnya.


Abimana melenggang pergi membawa rasa kecewanya akan sikap Manda yang begitu acuh. Setidaknya ada basa-basi yang ditujukan untuknya. Akan tetapi ini? Jangankan basa-basi, melirik saja tidak.


Manda langsung merapikan meja makan dan kembali masuk ke kamar tanpa banyak bertanya lagi. Sedangkan Abimana masih menunggu pertanyaan basa-basi dari Manda di dekat tangga. Sama sekali tidak ada hingga Abimana pergi dengan meremas kuat jas setelan kerjanya yang ia genggam.

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar, Amanda tidak ambil pusing dan dia lebih memilih untuk melakukan pekerjaannya yang terbilang masih begitu awam di kepenulisan. Sebenarnya apa yang ia tekuni sekarang ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan kepenulisan. Tapi, entah mengapa dia begitu menyukai menulis Carita fiksi.


"Ah, Alhamdulillah kenyang. Ini waktunya untuk menulis. Nak jangan ajak ibu tidur ya. Ibu sepertinya sudah bisa menghasilkan dari menulis ini meski tidak banyak tapi lumayan bisa buat pegangan ibu untuk menyambutmu lahir ke dunia ini," kata Manda sembari mengusap perutnya dan kembali duduk di atas kasur empuk yang menghampar.


Setengah jam masih aman hingga semua karbohidrat yang ia konsumsi berubah menjadi glukosa dan membuatnya ngantuk. Manda begitu mengantuk, beberapa kali menguap dan berusaha untuk menahannya. Akan tetapi ... di menit ke 50 dia sudah terlelap dengan laptop yang ia biarkan menyala.


Manda benar-benar makan banyak. Ia sampai tidak bisa mengendalikan rasa kantuknya padahal hari belum terlalu malam dan masih pukul 21 tapi dia sama sekali tidak peduli. Manda jatuh terlelap dan tertimbun mimpi indahnya. Sampai pagi harinya pun ia menjadi kesiangan.

__ADS_1


Pukul 10 pagi wanita hamil itu baru membuka mata. Ia baru terbangun saat Pak Ali mengetuk heboh pintu kamarnya. Tentu Pak Ali berani masuk melalui pintu belakang atas perintah Pak Abimana Dipta karena si calon suami yang begitu mencemaskan calon istri dan buah hatinya.


"Bu Manda! Bu ...! Ini Bapak telpon, Ibu ngapain kok belum keluar kamar?" Pak Ali begitu panik.


__ADS_2