
"Siapa yang bilang ini tidak sakit? Ah, bohong sekali! sial sekali aku menanggung sakit sendiri."
Abimana terus mengoceh sepanjang hari. Selama dia melakukan segala aktivitasnya dia tidak henti-hentinya mengeluh sakit. Ingin sekali rasanya dia mengadu kepada Manda atau siapa pun mengenai kondisinya, namun ia urungkan niat itu.
"Ah, bisa jatuh harga diriku kalau begitu. Malu sekali kalau sampai dia tahu. Katanya kalau sudah lebih dari 3 hari maka akan lebih baik. Ini apa? Gatel dan nyeri menjadi satu. Mau aku garuk juga takut akan semakin terluka. Ah! Apa aku sudah masuk jebakan Batman? Tapi pesan ibuku dulu adalah tidak boleh menelantarkan anak."
Abimana mengingat kembali masa di mana dia hanya dibesarkan oleh sang ibu sementara ayahnya menelantarkan mereka berdua. Karena pesan tersebut, Abimana pun mempunyai impian tersendiri akan keluarga kecilnya di masa depan. Setelah kepergian orang tuanya, ia diasuh oleh paman dan bibinya. Sayangnya, salah satu pamannya justru merenggut kebahagiaan itu.
Satu Minggu sudah berlalu, dan Abimana memutuskan untuk kembali mengunjungi Amanda. Selama paska sunat itu ia mengisolasi diri. Ia bersembunyi dari khalayak ramai dan tidak mau memberitahukan keberadaannya termasuk kepada Novan, orang yang ia percayai mengurus perusahaan selama dia dalam masa penyembuhan.
Hatinya begitu menggebu. Orang pertama yang ingin ia temui adalah Manda. Bukan ingin melihat wajah Manda, tapi dia ingin menyentuh dan melakukan interaksi dengan calon buah hatinya.
Malam hari saat Manda baru selesai makan malam, Abimana datang. Dia tanpa mengetuk pintu masuk begitu saja dan mengejutkan Manda yang tengah bersantai dengan berbaring di sofa dengan daster yang bertali spaghetti. Tentu saja malu, Manda kala itu melepaskan outer lantaran merasa kepanasan. Maklumlah, karena hormonal yang berubah drastis saat hamil mempengaruhinya.
"A ...!" teriak Manda terkejut.
"Heik!" Abimana pun sama terkejutnya dan dia langsung menutup pintu dan kembali keluar.
"Ada apa Bapak?" tanya Pak Ali yang juga ikut panik. Pasalnya Abimana datang tidak dengan tangan kosong. Ia membawa beberapa makanan dan pakaian untuk Amanda.
"Em ... e ... bukan apa-apa. Tidak ada apa-apa, eh kalian mau ngopi?" tanya Abimana menawarkan.
"Belum Pak, ini baru mau minta air panas sama Bu Manda. Tapi beliau pernah bilang sih, kalau mau minta air panas suruh langsung ke dapur saja. Ini kunci dapurnya ada sama saya. Bapak mau kopi?" tanya Pak Ali balik.
"Lah, aku niatnya cuman basa-basi eh malah aku ganti yang ditawarinya," batin Abimana.
"Ya sudah, boleh." Abimana mengangguk, lumayan untuk membuang kegugupan pikirnya.
__ADS_1
Namun, belum sempat ia melangkahkan kakinya, pintu sudah terbuka dari dalam menampilkan Manda yang berdiri dengan mimik wajah canggung. Dia nampak tak nyaman namun memaksakan diri. Pun demikian dengan Abimana yang membuang pandangannya.
"Apa mereka ini bertengkar?" terka Pak Ali dalam hatinya.
"Pak Abi? Kenapa tidak bilang kalau mau datang?" tanya Amanda.
"O ... oh, tadinya cuman mau mampir sambil ngopi aja," jawab Abimana penuh kebohongan. Apa yang dia katakan bertolak belakang dengan kenyataan yang mana dia sudah sangat tergiur untuk mengusap perut buncit Amanda.
"Mari masuk, saya buatkan kopi. Pak Ali bawa apa?" tanya Amanda yang kali ini dia sudah banyak mengalami perubahan. Sikapnya sudah lebih santai dari sebelumnya.
Pak Ali hanya celingukan, dia bingung kenapa pasangan suami istri ini nampak aneh? Apalagi bahasanya yang terdengar begitu formal untuk sepasang suami istri. Namun, Pak Ali hanya bisa diam akan kondisi itu.
"Oh ini? Ini dari Pak Abi," jawab Pak Ali dengan sangat jujur.
"Katanya hanya mau mampir ngopi, tapi kenapa bawa belanjaan sebanyak ini?" pikir Amanda.
"Mari masuk!" ajak Amanda yang tidak ada pilihan lain selain menawarkan karena ia sadar benar rumah itu pun milik Abimana.
"Aneh, ini benar-benar pasangan suami istri yang aneh." batin Pak Ali sembari menggeleng dan bergegas masuk, mengekor di belakang Abimana.
Amanda menepati ucapannya, dia mempersilakan masuk dan langsung membuatkan kopi untuk ketiga lelaki yang ada di sana.
"Pak taruh situ saja nanti kalau kopinya jadi biar aku panggil," titah Abimana yang agaknya ada hal penting yang ingin dia katakan dengan Amanda.
"Oh, baik Pak!" jawab Pak Ali yang segera pergi dari dapur tersebut.
Amanda terlihat semakin keibuan dengan perut buncitnya. Dia begitu anteng saat membuat kopi bahkan sepatah kata pun tidak keluar dari mulutnya. Entah karena malu atau dia memang malas berbincang dengan Abimana.
"Kamu tidak tanya aku ke sini ada tujuan apa?" cetus Abimana tiba-tiba.
__ADS_1
Amanda menoleh sembari membawa nampan yang berisi 3 cangkir kopi. Ia lalu meletakkannya di hadapan Abimana. Baru saja ia mau duduk dan Abimana langsung menarikan kursi untuk Amanda.
"Aku bisa sendiri Pak."
"Stop! Jangan banyak bicara, nanti dulu. Aku mau antarkan kopi ini dulu."
Abimana dengan cepat mengambil nampan kopi dan mengantarkan kopi-kopi itu untuk Pak Ali dan Pak Dirga. Ia hanya berseru dari ambang pintu dan Pak Ali segera menghampirinya. Tidak begitu lama ia pun kembali duduk di hadapan Amanda meski dengan gaya berjalan yang aneh.
"Kenapa dia jalannya seperti itu?" tanya Amanda di dalam hati.
"Ayo jawab!" pinta Abimana atas pertanyaannya yang tadi.
"Em, Bapak ke sini mau apa? Begitu mau Bapak?" tanya Amanda dan Abimana mengangguk sambil tersenyum.
"Jadi aku ke sini itu mau mengunjungi calon anakku. Apa boleh aku menyentuhnya lagi?" tanya Abimana.
"Memangnya apa bisa aku melarangnya? Kamu kan ayahnya. Kenapa senang sekali menyentuhnya? Memangnya apa yang Bapak rasakan saat dia bergerak?" berondong Amanda dengan sejumlah pertanyaan.
"Bahagia, saat menyentuhnya aku merasa bahagia. Dia terasa nyata dan membawa kebahagiaan bagiku. Benar kamu tidak keberatan kalau setiap aku datang selalu begini?"
"Sebenarnya aku risih dan malu, tapi mau bagaimana? Kamu juga punya hak. Dalam agamaku sebenarnya paling tidak boleh memutuskan silaturahmi. Terlebih saat ini Bapak punya niat baik untuk bertanggungjawab. Ya ... meskipun aku tidak tahu itu sungguh-sungguh atau tidak."
Abimana tetap mengusap lembut perut Amanda sembari merasakan setiap gerakan dari dalam sana. Namun, pertanyaan Amanda barusan membuat Abimana ingin sekali mengungkapkan suatu fakta penting. Dengan menarik napas sebelum ia berbicara, ia mempersiapkan mentalnya.
"Apanya yang tidak sungguh-sungguh? Aku bahkan sudah masuk Islam dan melakukan sunat." Abimana berbicara dengan nada ketus.
"Eh, serius?" tanya Amanda yang masih sulit mempercayai hal tersebut. "Tidak mungkin." tampiknya.
"Apanya yang tidak mungkin hah? Pucuknya saja sudah aku kubur dalam-dalam!" Abimana menjawabnya asal dan membuat Amanda membayangkan sesuatu.
__ADS_1
"Maksudnya itu pucuk, kulit pucuknya begitu?"