
"Siapa Aura?" tanya Abimana kepada si resepsionis yang bertugas waktu itu.
"Pak Markus, beliau datang sambil terus marah-marah. Saya tidak mengerti mengapa seperti itu tapi kelihatannya ada hal penting." Aura takut menyinggung soal perceraian atasannya sehingga dia sama sekali tidak menyinggung soal kemarahan Markus yang terlibat dalam masalah pelik tersebut.
Abimana menghela napasnya dan dia mengendurkan dasinya. Langkahnya semakin lebar dan terlihat tidak sabaran. Ia melepaskan jasnya dan Novan sangat paham tindakan apa yang akan Abimana lakukan.
"Bi! Jangan amuk dia di kantor. Lo kalau mau hajar dia di luar aja. Jaga wibawa lo di depan karyawan." Novan mencegah Abimana bertindak yang tidak-tidak.
"Iya gue tahu. Aura, suruh dia masuk ke ruangan saya. Oh iya, sediakan ambulans. Sepertinya saya tidak bisa menahan semua ini lagi." Abimana melenggang dan berjalan mendahului Aura dan Novan yang hanya bisa tercengang.
"Pak apa saya harus panggil ambulans? Apa itu tidak akan membuat kekacauan dan kepanikan di tengah karyawan?" tanya Aura kepada Novan.
"Nanti saja, tahan dulu. Jangan dulu. Kita lihat saja nanti, saya akan berjaga di dekat pintu dan kamu tolong panggil satpam satu untuk berjaga di sana juga."
Novan begitu hapal akan sikap Abimana yang selalu mencari celah untuk membalaskan rasa sakit hatinya. Bila kemarin dia terluka karena Markus. Maka bisa dipastikan hari ini adalah hari sial bagi Markus.
Abimana masuk ke dalam ruangannya dan bersiap dengan duduk santai di sofa. Ia sudah menggulung lengan bajunya sampai ke siku dan beberapa kali mengepalkan tangannya. Buku-buku tangannya nampak memutih dan sesekali rahangnya mengeras.
"Ayo sekarang aku sudah sangat siap bahkan alibiku pun sudah aku siapkan Om Markus. Datanglah segera, aku sudah tidak sabar untuk menghajarmu. Kamu menghancurkan masa depan keponakanku dan juga tanteku yang jadi sakit-sakitan setelah kabar ini. Kamu pikir aku akan diam saja?" gumam Abimana dalam kemarahan.
Beberapa detik kemudian Markus benar-benar masuk ke dalam ruangan. Dia seorang diri dan datang dengan raut kemarahan yang juga tak kalah tajam. Markus ingin meluapkan amarahnya karena pada hari ini saat dia ingin menemui anaknya secara sembunyi-sembunyi dari sepengatahuan Kinar, justru diketahui oleh mertuanya dan terjadi perebutan anak.
"Puas kamu sudah bisa memisahkan ayah dan anaknya? Aku sudah cukup diam selama ini. Aku sudah cukup mengalah dan kamu malah membuatku semakin jauh dari anakku!" bentak Markus yang sebenarnya menjadi buronan polisi.
"Apa itu urusanku? Bukannya kamu harusnya sudah sadar dengan segala konsekuensinya? Kamu bermain curang dengan istriku menungganginya sesukamu tanpa memikirkan perasaan istri dan anakmu. Lalu sekarang datang menyalahkan aku? Hahahaha!" Abimana tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Kamu pikir aku bisa kamu tekan lagi? Tidak akan, aku justru yang berhak sekarang di sini!" bentak Abimana seraya tertawa getir.
"Aku seharusnya yang menuntut atas semua perbuatan buruk yang kamu lakukan!"
"Tidak usah berteriak padaku! Aku tidak tuli, aku bisa mendengarkan semuanya! Aku tidak bersalah. Aku hanya membantu istrimu untuk memuaskannya. Dia sama sekali tidak terpuaskan denganmu. Hahaha!"
Tawa Markus memicu ledakan besar dalam diri Abimana. Sontak hal itu membuat Abimana berdiri dan langsung melayangkan tinjunya. Darah langsung mengucur dari hidung Markus si buronan.
"Bukan karena tidak terpuaskan, tapi memang sudah takdirnya kalau pelacur itu akan bertemu bajingan sepertimu!" sembur Abimana sudah dekat dengan emosi yang menggebu menguasai jiwanya.
Saat terdengar kegaduhan dari dalam ruangan Abimana. Novan langsung memerintahkan Aura untuk menghubungi polisi dan mengabarkan tentang keberadaan Abimana. Sementara itu Novan bukannya melerai, dia malah membiarkan temannya itu mencari kepuasan untuk menumpahkan segala amarahnya.
"Luapkan saja Abi, tidak apa-apa, sekarang inilah waktu yang tepat," kata hati Novan.
Brak!
"Pak, itu ada yang gelut," kata Aura sudah dengan begitu cemas dan panik.
"Ah, biarkan sajalah. Namanya juga laki-laki, santai sajalah. Tunggu polisi datang. Kamu sudah hubungi?"
"Sudah si Pak, tapi apa tidak apa-apa itu?" Aura semakin cemas.
Novan terkekeh geli. "Santai saja, kalau aku buka nanti malah di buronan itu kabur. Kamu pasti sudah mendengarkan kabar soal Pak Markus yang berseteru dengan Pak Abi bukan? Ini kesempatan bagi kita buat bantu polisi buat tangkap dia," terang Novan dengan entengnya.
Aura yang ketakutan tapi juga penasaran kemudian hanya bisa ikut menguping semua yang terjadi di dalam. Tanpa terasa, polisi pun tiba di lokasi dan langsung Novan tunjukkan ruangannya. Saat membuka ruangan Markus sudah terkapar lemah tak berdaya dengan mulut berdarah.
Nampaknya Abimana menghajarnya habis-habisan. Napasnya terengah-engah dan dia memuntahkan segala emosinya. Terlihat sekali ada kepuasan dalam setiap hembusan napasnya.
__ADS_1
"Bapak Markus, anda harus ikut kami." Polisi segera meringkus buronan tersebut.
"Pak, bukan saya yang mulai. Dia duluan yang mulai, saya hanya membela diri," sanggah Markus.
"Semuanya bisa Bapak jelaskan saat kita di kantor polisi." Polisi tersebut menolak argumentasi Markus.
"Dia yang mulai, bahkan dia datang sengaja ingin membuat keributan." tunjuk Abimana dengan begitu meluap emosinya.
Novan mengedipkan sebelah matanya dan mengacungkan ibu jarinya tanpa sepengetahuan polisi kepada sahabatnya. Abimana tersenyum tipis melihat itu. Sementara Aura dia gemetaran tidak karuan dengan kaki yang terasa begitu lemas.
Polisi meringkus Markus dan membawanya pergi sementara Abimana mengekor untuk memberikan keterangan. Hari itu dia benar-benar puas menghajar Markus. Rupanya hari itu Marlus juga sudah merencanakan pembunuhan terhadap Abimana. Dia datang dengan membawa belati.
Namun, nasib baik masih menyelimuti Abimana. Dia bisa melumpuhkan Markus dengan ilmu bela diri yang ia miliki. Pisau belati itu terlempar jauh saat mereka berduel.
Hingga jam 10 malam, semua urusan itu selesai dan Markus yang ditetapkan sebagai tersangka. Abimana kembali merasakan kehampaan setelah keluar dari rumah sakit dengan luka di kepala. Ia pun babak belur tapi dia merasa begitu lega.
"Aku kenapa jadi ingin berada di dekat calon anakku? Lagi-lagi aku ingin menyentuh perutnya." Abimana menggumam.
Perlahan, dia melajukan mobilnya dan memasuki garasi rumah sederhana yang Amanda tempati. Malam itu dia langsung membuka pintu dengan kunci serepnya. Berapa terkejutnya dia ketika melihat Amanda 6angnia kira sudah tidur ternyata masih terjaga di depan TV.
"Manda, aku pikir kamu sudah tidur," kata Abimana saat Amanda melihat kedatangannya.
"Pak Abi, aku sedang memikirkan ibu. Eh, Bapak kenapa itu mukanya?" tanya Amanda setelah Abimana mendekat.
Bukannya menjawab Abimana langsung duduk di sofa dan menempatkan kepalanya di atas pangkuan Amanda. Kepalanya ia benamkan menghadap ke perut buncit Amanda yang terasa bergerak menyentuh wajahnya. Di saat seperti itu, Amanda yang terkejut mematung dan sama sekali tidak bergerak.
"Nak, kamu nanti dari SD sudah harus bisa bela diri ya? Supaya bisa jagain ibumu," kata Abimana yang membuat Amanda tertegun.
__ADS_1
"Apa maksudnya?" batin Amanda.