
Hari di mana Abimana mengurus segala keperluannya telah tiba termasuk dia yang tengah mempersiapkan diri untuk berpindah agama. Dia merahasiakan kepindahan agamanya dari Amanda sebab ia merasa sangat malu terlebih saat sesi sunat itu tiba. Semuanya telah ia bicarakan dengan Om Herman.
Dukungan penuh ia dapatkan dari Om Herman dan betapa beruntungnya dia sebab keluarga besarnya tidak ada yang melarang. Dalam keluarga besarnya itu ada beberapa agama yang dianut oleh beberapa orang. Iya, bisa dikatakan kalau keluarga Abimana bersikap terbuka soal agama.
Hari itu tiba, dia mendatangi Masjid dan menemui Kyai yang sudah membuat janji dengannya. Perasaannya bercampur aduk saat perpindahan agama itu terjadi. Ada tangisan haru yang mewarnai. Entah perasaan sedih karena meninggalkan agama yang lama. Atau perasaan bahagia menyambut yang baru entahlah.
Sejauh ini, semenjak prahara yang menerpa keluarganya dan bukti kongkret yang begitu menyesakkan dada, Abimana memendam kegelisahan. Berhari-hari lelaki tampan itu kesulitan tidur. Perasaan tenang seolah memuai perlahan dari relung kalbu.
Satu hal yang ia sadari adalah hari di mana ia tertidur begitu nyenyak bersama Amanda. Perasaan tenang dan lega juga dengan perut yang kenyang membuatnya terlelap tanpa gangguan. Lalu bagaimana setelah perpindahan agama dan keharusan untuk bersunat ia tunaikan?
"Om, berarti tinggal sunat ya?" tanyanya sembari mengemudi.
"Iya, ini Om bawakan sarung. Karena kamu sudah besar maka tidak ada ****** ***** sunat seukuranmu. Jadi ya manual saja kamu pegang sendiri." Om Herman mengambil paper bag dan menunjukkan sarung baru yang ia beli untuk Abimana.
"Wah, makasih banyak Om. Apa nanti itu tidak sakit Om?" tanya Abimana.
Om Herman menggeleng pelan sembari menghela napasnya. "Hemh ... ini. lihat ini, yang jelas setelah sunat nanti bentuknya akan seperti ini. Akan dibuang sedikit pucuknya. Jadi kamu jangan takut ya. Santai saja. Lagian juga dibius. Masa iya kamu kalah sama anak Om, Ibrahim."
"Om, Ibra itu kan sunat dari umur 2 bulan. Tengkurap saja belum bisa apa lagi mengeluh," sahut Abimana.
__ADS_1
"Hahaha tidak sakit kok. Ah, namanya juga mau ganteng itunya. Biar ada motifnya, biar enggak polosan. Masak iya hari gini polosan. Enggak keren dong," ledek Om Herman seraya tersenyum kecil.
Abimana hanya bisa menelan ludahnya perlahan. Ia merasa ketar-ketir sendiri dan otaknya sudah kacau membayangkan barang kesayangannya akan tergores benda tajam. Membayangkannya membuat Abimana ngeri.
"Nanti Om temani masuk ya?"
"Iya, kamu ini merengek saja seperti anak kecil," ejek Om Herman dengan senyuman meledek.
Rasa takut Abimana bertambah banyak, ketika baru sampai dia mendengar anak kecil menangis setelah keluar dari ruang tindakan. Keringat dingin bertambah banyak yang menyembul di keningnya. Tatapan matanya nampak ragu dan kakinya berjalan kembali ke mobil.
Om Herman yang menyadari akan tingkah Abimana itu pun segera mengamit lengan Abimana dan memaksanya untuk masuk. Sempat ada sedikit pemberontakan. Abimana berusaha untuk kabur dan Om Herman berbisik.
"Tapi Om, itu terdengar menyakitkan. Lihat anak itu menangis sampai seperti itu. Keras sekali suaranya, itu pasti sakit. Atau jangan-jangan dia hampir mati karena menahan rasa sakitnya?" tanya Abimana yang terdengar seperti anak kecil yang ketakutan.
"Sudahlah, ayo! Malu itu dilihat banyak orang," desis Om Herman yang merasa sangat malu lantaran menjadi pusat perhatian atas tindakan Abimana yang justru memeluk tiang teras.
"Ayo ... argh ...!" Om Herman mulai berusaha keras.
"Oh, ini yang mualaf itu? Ayo masuk. sebentar saja dan tidak sakit Kok," kata Dokter yang akan mengeksekusi barang kesayangan Abimana.
"Tidak sakit apanya. Kalau sakit kenapa berdarah? Ah kalian semua ini komplotan pembohong. Aku sangat ketakutan saat ini. Rasanya pasti seperti digigit piranha," batin Abimana yang berseteru dengan si Dokter.
__ADS_1
Pada akhirnya, Abimana tetap kalah karena rasa malu, ia akhirnya menuruti Om Herman yang kepalang kesal dan keluar sisi galaknya. Dia membentak Abimana yang terus merengek. Sekali bentak dan Abimana langsung mengkerut.
"Kamu mau sunat atau semua ini bisa diperkarakan karena Amanda lapor?" tanya Om Herman tetapi penuh dengan penekanan.
Mendengar kalimat menakutkan itu Abimana langsung melepaskan tangannya yang semula berpegang erat pada tiang. Ia langsung mengikuti sang Dokter masuk meskipun dengan setengah hati dan lesu. Beruntungnya semuanya berjalan lancar meski diiringi dengan teriakan lantang dan keluhan tidak tahu malu dari seorang laki-laki bertubuh tinggi gempal tersebut.
"Tidak malu kamu teriak-teriak?"
"Yah Om. Namanya sakit, ya kalau enak aku mendesah Om bukan kayak gitu." Abimana menjawabnya malas. Ia masih kesal karena miliknya ia anggap semakin mengecil.
"Ntar juga mendesah kalau kalian sudah menikah," ledek Om Herman seraya tersenyum jahil sedangkan Abimana berbaring di samping bangku kemudi.
"Kayaknya tidak, dia itu lebih pintar dari kelihatannya. Dari sekarang saja dia sudah mengatakan semuanya hanya demi status anak. Itu artinya setelah ini kita akan berpisah." Abimana berbicara dengan menutupi matanya menggunakan lengannya yang hinggap di keningnya.
"Eh, urusan hati siapa yang tahu. Bisa saja berkata begitu saat ini tapi nanti kalau kamu sudah baik dengannya. Apa bisa dia menolak?" Om Herman menghela napasnya.
"Wanita itu pembiasan diri kita. Kalau kita baik sama dia maka mereka akan jauh lebih baik dengan kita. Pun sebaliknya."
"Begitu ya Om? Lantas kenapa sikap Clarissa seperti itu kepadaku padahal aku sudah memenuhi semua di kebutuhannya," sanggah Abimana.
"Kalau untuk dia sepertinya adalah tepatnya kamu melakukan kebaikan untuk orang yang salah. Jangan khawatir, nasib baik masih ada meski sebelumnya kita sempat salah arah," ucap Om Herman.
__ADS_1