Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
35. 2 bulan tak bertemu


__ADS_3


"Kenapa bicaranya seperti itu?" tanya Manda pelan.


Abimana tersenyum menatap Amanda. "Tidak apa-apa, dia laki-laki, dia harus bisa bela diri seperti ayahnya. Em ... untuk ibumu, aku sudah mengirimkan uang. Aku juga sudah memerintahkan Pak Endro untuk datang dan mengecek keadaan ibumu dan Aska."


Manda yang mendengarnya pun langsung merasakan ada kesejukan yang menerpanya. Begitu dingin dan membuatnya menampilkan senyuman lebarnya. Ia tak mampu menutupi raut kebahagiaannya.


"Benarkah?" tanyanya dengan mata yang berbinar.


"Iya, Pak Ali mengadu kemarin. Katanya kamu sempat mengamati rumah dari jauh. Aku tahu kamu rindu sama mereka Manda. Kalau tidak karena kebodohanmu maka kamu tidak akan berada di dalam kesusahan seperti ini. Jadi jangan ucapkan terima kasih karena ini adalah tugasku."


Manda mengangguk pelan, hatinya begitu tentram mendengarnya. Abimana benar-benar menyentuh tepat di hatinya. Dia benar-benar mempunyai niat yang tulus untuk menebus segala kesalahannya.


"Ya sudah aku akan pergi dulu. Masih banyak urusanku. Setidaknya Markus sudah tertangkap dan kamu bisa lebih tenang sampai nanti putusan sidang aku dapatkan dan setelahnya kita akan menikah. Paham Manda?" tanya Abimana memperjelas maksudnya.


"Dia bahkan tidak membiarkan aku banyak bicara. Dia hanya ingin berada di dekat anaknya. Hmh ... begitu dekat hingga membuatku tersingkir secara perlahan. Aku tahu dia ingin menikah dan mempertanggungjawabkan semuanya hanya untuk anak ini dan bukan untukku. Tapi kenapa hatiku merasa tersisih?"


Abimana pergi meninggalkan rumah. Ia kembali menemui pengacaranya dan juga beberapa pihak terkait. Tidak mudah menyelesaikan hal ini terlebih ada konflik keluarga juga. Ditambah lagi beban mental dan moral yang berefek pada kesehatan tantenya, Tante Kinar.


~ Di sebuah rumah sakit.


Menguar aroma karbol dari lantai putih yang masih basah. Jejaknya baru saja dibersihkan. Abimana berjalan dengan menenteng bunga dan juga buah untuk ia bawa ke kamar sang Tante yang masih terbaring lemah.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Senyuman manis dari wajah pucat seketika menyambutnya. Tante Kirana langsung menitikkan air matanya saat melihat sosok keponakan yang juga tidak dalam keadaan baik-baik saja. Abimana datang dengan wajah lebamnya juga perban yang menghiasi kepalanya.


"Abi ... apa kabar kamu? Aku mendengar tentang kabar perkelahian itu. Dia benar-benar sudah gila. Aku tidak menyangka kalau semuanya akan menjadi parah seperti ini." Tante Kirana mengungkapkan isi hatinya.


"Aku baik-baik saja Tante. Namanya juga laki-laki. Maafkan aku yang memasukkan suamimu ke dalam penjara." Abimana berkata dengan tulus. Masih ada rasa bersalah di dalam hatinya karena peristiwa tersebut.


Tante Kirana malah tertawa namun dengan sudut matanya yang meneteskan air mata. "Sudah seharusnya dia di sana. Aku sebenarnya menahan rasa sakit ini sudah dari lama Abi. Hanya saja aku tidak ada keberanian untuk mengungkap siapa wanita itu. Tidak aku sangka dia adalah Clarissa. Sungguh semua ini di luar dugaan."


"Kalau diingat lagi, betapa bodohnya aku yang bahkan tidak curiga meskipun sebenarnya aku pernah memergoki mereka yang pulang bersama saat lari pagi. Suamiku bilang hanya kebetulan. Huh ... aku terlalu mengalah dalam segala hal demi keutuhan rumah tangga kami. Sayangnya itu semua tetap tidak dihargai." Tante Kirana menunduk lesu.


"Tante ibu yang baik, ibu yang rela berkorban demi anak-anak. Keluarga yang utuh itu memang berperan besar dalam tumbuh kembang anak Tan. Tapi kalau anak tidak merasakan kehangatan dan keharmonisan, aku rasa itu juga akan menimbulkan banyak trauma. Ibunya tersakiti si anak juga akan merasa tidak nyaman, mereka juga akan merasa sakit jiwanya."


"Iya, itu benar. Dia juga sudah menggugurkan anak kami sebanyak 2 kali hanya karena pemikiran gilanya yang berpikiran kalau anak adalah penghalang kemajuan karirnya. Aku benar-benar sakit hati atas itu," aku Abimana.


"Tante doakan semoga Tuhan mengganti semua ini dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan istri dan anak yang baik." Tante Kirana mengusap lembut punggung tangan keponakannya.


"Iya Tan, terima kasih atas doanya. Tante juga cepat sembuh. Aku sudah mengurus tentang perceraian itu. Dia tidak mendapatkan gono-gini karena Om Markus memang tidak menanamkan modal dan hampir semuanya modal berasal dari uang Tante."


Lagi-lagi Tante Kirana hanya bisa mengulum senyumnya. Ia kembali mengingat masa-masa di mana mereka berjuang bersama, membangun bisnis. Tidak mudah dan sempat jatuh bangun beberapa kali. Namun rupanya hal tersebut sama sekali tidak memberikan pelajaran berarti untuk Markus.


"Semua keluarga besar kita sudah tahu itu. Jadi pengacara pun akan dengan mudah membuktikan semuanya. Semua masih atas namaku Abi. Terima kasih sudah banyak membantu Tante selama Tante berbaring di sini."

__ADS_1


"Sudah seharusnya Tan, Tante Kirana dan Kartika adalah pengganti orang tuaku juga, jadi sudah sepatutnya aku membantu kalian." Abimana berbicara dengan begitu tulusnya.


...****************...


Dia bulan berlalu dan selama itu, Abimana sama sekali tidak pernah muncul dia fokus menyelesaikan semua urusannya, termasuk sunat. Dua bulan berlalu dan lukanya sudah pulih.


"Sudah yakin banget. Lo udah pesan penghulu?" tanya Novan yang kali ini mengantarkan Abimana pulang ke rumah sederhana yang Manda tempati.


"Ye ...! Kalau enggak yakin ngapain gue Van harus sunat segala, menurut Lo buat apa?" ketus Abimana sewot.


"Ya gue sih dukung aja Bi. Cuman basic Manda itu dari orang biasa. Kuliah aja belum tamat, gimana nanti dia bisa masuk ke lingkungan kita? Lo tahu sendiri anak-anak gimana mulutnya."


Abimana memijat pelipisnya. Ia menghela napasnya pelan seolah melepaskan beban beratnya. "Hhh ... gampang soal itu, aku bisa masukkan dia ke beberapa kelas nantinya. Kuliahnya juga harus terus dia selesaikan setelah melahirkan."


"Terus soal anak?" tanya Novan.


"Gampang, gue bisa bawa anak gue ke kantor."


"Apa! Seriusan lo? Ribet loh bawa anak ke kantor." Novan tak percaya.


"Gampang lah, nanti gue atur. Orang dia juga ngelahirin aja belom." Abimana mengulum senyumnya.


Novan berhenti di garasi rumah Amanda. Rumah sederhana yang sama sekali tidak terlihat bila penghuninya adalah calon anak dan istri seorang CEO. Novan sampai celingukan mengamati rumah tersebut.


"Mau Manda lo tarik di tempat kayak gini?" tanya Novan tidak percaya.

__ADS_1


"Mau, malah dia yang minta. Rumah sederhana aja, dia itu sangat rendah diri Van. Jadi gue semakin hari semakin merasakan ada yang aneh dalam diri gue buat dia. Apa gue mulai suka ya?" ujar Abimana yang membuat Novan tercengang.


__ADS_2