
"Semuanya sudah aku lengkapi, kita tinggal menunggu panggilan saja." Om Herman merapikan berkas visum Abimana.
"Lalu kamu mau ke mana? langsung pulang atau ...."
"Aku sepertinya butuh refreshing sebentar. Aku ingin pergi dan menghirup udara pantai." Abimana menghela napasnya perlahan.
"Dengan Amanda?" tanya Om Herman yang ingin menegaskan.
"Iya, dengan dia. Mau dengan siapa lagi, dia sekarang adalah calon ibu dari calon anakku." Abimana tersenyum menatap wajah Amanda yang masih terlelap di dalam mobil.
"Aku tahu kamu mulai mencintai gadis itu. Aku bisa memahami itu Abi. Hanya saja kamu masih terlalu gengsi untuk mengakui," batin Abimana.
"Aku duluan Om," pamit Abimana yang kemudian pergi meninggalkan Om Herman.
Abimana masuk ke dalam mobil dan sejenak ia memperhatikan wajah Amanda. Ia terhipnotis dan memutuskan untuk terdiam menikmati wajah ayu Amanda. Sesaat, ia merasakan ketenangan yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata-kata.
Setelah puas mengamati wajah Amanda, barulah Abimana melajukan mobilnya. Ia membelah jalanan kota yang lumayan padat. Masih saja sesekali ia mengamati wajah Amanda.
"Dia tidak jelek, dia punya kecantikannya sendiri. Ah ... entahlah, malam ini aku hanya ingin menghirup udara pantai. Aku tidak bisa berada di rumah," kata Abimana pelan.
Satu jam Abimana berkendara, hingga akhirnya dia sampai di sebuah resort yang berada di tepi pantai. Ia sengaja mengambil resort terbagus dan termahal di sana. Ia meminta izin kepada penjaga untuk membiarkannya tetap berada di dalam mobil.
"Hemh ... akhirnya, malam ini aku bisa tidur dengan tenang," gumam Abimana yang mulai menyelimuti tubuh Amanda dengan jasnya yang berada di dalam mobil.
Malam itu Abimana habiskan dengan menatap pemandangan dan menyejukkan mata. Ia begitu menikmati pemandangan itu sejenak menguap semua masalah yang menimpanya. Dia tidak menyadari bahwa ketenangannya adalah berasal dari calon istri dan juga calon anaknya yang saat ini berada di sampingnya.
...****************...
__ADS_1
Semerbak aroma angin laut dengan khas kelembaban udara paginya bercampur dengan hangat sinar mentari. Menyeruak lembut aroma pantai mengusik indera penciuman seorang lelaki yang terlelap. Perlahan matanya mengerjap dan melihat ke sekelilingnya, tidak ada lagi sosok wanita lugu di sampingnya.
"Oh, ke mana dia? Apa dia pulang?" pikir Abimana.
Abimana turun dari mobilnya, ia memindai ke sekeliling garis pantai dan menemukan seorang wanita yang tengah duduk seorang diri di tepi pantai. Ia terlihat tersenyum manis bermandikan cahaya mentari. Kilau kekuningan menambah ayu parasnya.
"Aku cari kamu, ternyata di sini," cetus Abimana yang tiba-tiba duduk di samping Amanda.
"Eh Bapak sudah bangun? Aku bangun duluan dan melihat matahari terbit. Itu sangat indah. Oh iya, Bapak tadi pagi kedinginan, makanya jasnya aku pulangkan," kata Amanda.
"Oh, jadi kamu yang menyelimutiku? Hem, aku senang bisa menghabiskan waktu di sini." Abimana menunduk dan tersenyum simpul.
Keduanya lalu terdiam seolah kehabisan kata. Mereka duduk bersama dengan pengikat yang tak kasat mata yang pada saat itu juga mungkin tersenyum senang melihat kebersamaan ayah dan ibu kandungnya. Di sata hening seperti itu, terdengar suara yang membuat Abimana tertawa.
Kruuk ... kruuk ....
Perut Amanda berbunyi ia mengusapnya dan meringis. Amanda malu semalu- malunya. Ia menunduk dan tidak berani menatap Abimana.
"Kamu mau makan apa?" tawar Abimana dengan menatap Amanda yang sebagian wajahnya sudah menjadi kekuningan akibat sinar mentari pagi dan gadis itu menjadi begitu sulit membuka mata karena silau.
Abimana menggunakan tangannya untuk menutupi sinar mentari tersebut dan Amanda mendongak menatapnya.
"Dia jadi perhatian seperti ini," kata Amanda dalam hatinya yang tersenyum senang mendapatkan perlakuan manis tersebut.
"Mau makan apa hum?" Abimana mengulang lagi pertanyaannya.
"Ikan saja, aku ingin ikan bakar," ucap Amanda yang terkesan begitu canggung dan malu-malu.
"Hanya ikan? Udang, Lobster, atau kepiting tidak mau? Cumi juga ada, atau kamu mau makan baby gurita?" tawar Abimana. "Bilang saja apa yang kamu mau selagi kita di sini. Aku tidak mau anakku sampai ileran nantinya."
__ADS_1
"Sebenarnya banyak sekali yang mau aku makan, tapi aku malu mengatakannya. aku merasa tidak pantas," pikir Amanda.
"Oh, aku tidak terbiasa dengan menu seperti itu Pak, terlalu mahal buatku dan tidak pantas juga rasanya kalau aku makan makanan yang mahal sedangkan ibu dan adikku hanya makan sekedarnya." Amanda menjawabnya dengan wajah tertunduk.
"Pantas saja, biasakan dirimu Manda. Sebentar lagi statusmu akan berubah menjadi nyonya Abimana, untuk ibu dan juga adikmu, aku juga akan tetap memberikan tunjangan kepada mereka. Mereka juga akan hidup layak, jadi jangan cemaskan mereka," ujar Abimana dengan ketulusannya.
"Dia terdengar tulus, tapi aku merasa kita ini berbeda. Banyak sekali perbedaan status diantara kita. Dia orang kaya dan aku hanya apa? Aku hanya kalangan rendah," kata hati Amanda.
"Em ... aku rasa itu berlebihan. Keluargaku adalah tanggungjawabku. Jadi aku rasa Bapak tidak usah ikut mengurusnya," kata Amanda.
"Kalau kita sudah menikah maka kamu menjadi tanggungjawabku juga dengan keluargamu. Jadi sudahlah jangan diambil pusing. Denganku hidupmu terjamin karena aku tidak mau ibu dari anak-anakku menderita. Mau kamu suka atau tidak denganku, aku akan terima itu karena memang aku bersalah," kata Abimana yang pasrah dengan segala konsekuensinya.
"Apa ini tidak berlebihan?" tanya Amanda.
Abimana tersenyum manis dan menatap teduh Amanda. Ia mendekati Amanda dan merangkul pingganya. Berdebat hebat jantung Amanda saat itu.
"Jangan terlalu dekat, kita belum menikah," sergah Amanda.
"Okay, kalau sudah menikah berarti boleh?" tanya Abimana yang sengaja ingin menggoda Amanda.
"Ya, ya tidak juga. Kita menikah hanya karena anak ini saja," elak Amanda.
Lagi dan lagi Abimana tersenyum dan menganggukkan kepalanya. "Oke, kalau begitu hari ini apa boleh aku berbicara dan menyapanya?"
Amanda menarik napasnya dan menghembuskannya perlahan. Ia seolah tengah mengurai kegugupan. Degup jantungnya masih begitu kencang dan seolah ingin melompat dari tempatnya.
"Mau tidak boleh juga kamu itu memang ayahnya," gumam Amanda tanpa mau menatap wajah Abimana.
Abimana tersenyum senang, satu tangannya lalu memegang perut Amanda yang selalu saja memberikan responnya ketika sang ayah biologis menyentuhnya. "Dia selalu suka kalau aku menyentuhnya. Memang selalu bergerak aktif begini? Apa perutmu tidak sakit?"
__ADS_1
"Belum, belum sampai terasa sakit Pak. Entahlah aku juga belum punya pengalaman untuk itu. Mau bertanya kepada siapa? Aku saja hamil tanpa suami, aku sadar diri dan malu dengan keadaanku ini."
"Iya dia benar, dia tidak tahu banyak soal itu. Dia bahkan tidak berani bertukar pengalaman ini kepada siapa pun. Hemh ... tenang Sayang, ayahmu ini tidak akan membiarkanmu kekurangan mulai sekarang, baik itu Perhatian atau pun materi." Abimana berbicara dari hatinya yang terdalam.