Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
14. Pesan Keluarga


__ADS_3

Amanda masih setia menunggui majikannya di dalam kamar rawat. Dia sesekali menguap lantaran mengantuk. Berkali-kali juga dia menatap majikannya yang tidak berdaya dengan bantal yang mengganjal bagian punggungnya lantaran dia tidak bisa berbaring sempurna karena luka di punggungnya.


"Kalau melihat dia seperti ini aku kasihan juga. Tapi kalau dia membuka matanya rasanya aku ingin sekali memukul kepalanya," batin Manda.


Lama menunggu hingga ia merasa kelaparan, barulah datang paman dan bibi Abi yang begitu Manda kenal. Ini pasti karena ibunya yang memberi kabar kepada Paman dan bibi Abi sehingga keduanya langsung datang. Paman Bramono dan Tante Kartika datang menjenguk keponakannya.


"Amanda, apa kabar?" sapa Tante Kartika setelah Amanda membukakan pintu untuknya.


"Tante, Om, kabar Manda baik. Itu Pak Abi," Manda mengarahkan kedua tamunya untuk melihat keadaan Abi.


Mata Tante Kartika seketika berair dan basah. Dia menangis melihat keadaan keponakannya yang mengenaskan. Apa lagi sebelum datang ke sana dia juga sudah mampir ke kantor polisi untuk menanyakan perihal laporan tersebut. Kabar itu ia dapatkan dari bibik Ninik.


"Astaga, Abi ... kenapa bisa kamu menikahi wanita gila seperti ini. Dia tega melakukan ini sama suaminya?"


"Manda, apa kamu melihat kejadian ini tadi?" tanya Tante Kartika.


"Iya, Tan. Kebetulan aku sedang mengelap kaca tadi. Aku melihat mereka bertengkar. Karena aku merasa tidak enak, aku bersembunyi tapi tetap melakukan pekerjaanku. Kata Pak Abi, jika dia melihatku, mungkin Ibu Clarissa juga akan menghajarku tadi," ucap Manda.


"Kenapa Abi tidak melawan?" tanya Om Bramono. Ia terlihat marah saat itu.


Amanda menggeleng, "Saya tidak tahu, Om bisa tanyakan langsung kepada Pak Abi. Saya permisi dulu, mau cari makan."


Amanda berkata demikian lantaran melihat Abimana yang mulai membuka mata. Majikannya itu mulai tersadar. Melihat Amanda yang hendak mencari makan, Abimana pun berpesan, "Manda, aku bungkuskan juga apa yang kamu beli ya. Aku lapar."


"Kenapa tiba-tiba dia meminta bungkuskan? Aku itu tidak ada banyak uang. Ah! Mana ada saudaranya lagi. Kalau begini, aku yang tidak jadi makan," kesal Amanda dalam hatinya.


"Iya Bapak," jawab Amanda meski dengan berat hati.


Ia lalu meninggalkan ruangan itu dengan hawa kesal. Sepanjang perjalanan menuju ke restoran Padang, ia terus saja mendumel. Dia mengutuk dan bahkan mencaci lelaki yang telah memperkosanya itu.


"Dasar! Argh ...! Kenapa aku malah terjebak di sini dengan dia si menyebalkan itu? Kenapa! Mana uang tinggal 40 ribu lagi dan dia minta bungkuskan. Bungkuskan kepalanya! Kalau dia kubungkuskan terus aku makan apa? Mau mintanuang juga malu ada Om Sam Tantenya. Sial!"

__ADS_1


Sementara itu di dalam kamar rawat.


"Om, Tante, aku mau minta bantuan kalian untuk terus mengawal kasus ini sampai selesai. Aku tidak mau berdamai, dia sudah sering melakukan hal seperti ini dan ini sudah mengancam nyawaku. Dulu aku bertahan karena mengira dia akan berubah. Tapi ...." Abimana menggantungkan ucapannya.


"Tapi apa Abi?" tanya Tante Kartika yang merupakan saudara terdekat dengan Abimana.


Dahulu sebelum Abimana menikah, Om dan tantenya inilah yang mengasuhnya sampai Abi menikah. Sementara Markus adalah suami dari adik Tante Kartika. Om Markus adalah suami dari Tante Kinar, adik Tante Kartika.


"Tante tentu tahu sikap Om Markus bukan?" tanya Abimana menggantung.


"Tunggu Abi, apa benar Markus dan istrimu ...." Om Bramono menyeletuk.


"Om, Om tahu?" tanya Abi dengan sorot matanya yang berkaca-kaca. Ia merasa dikhianati.


"Bukan, kamu jangan salah paham. Dulu, Om pernah tidak sengaja melihat mereka pergi dengan satu mobil. Tapi Om tidak enak hati dan takut ini hanya salah paham dan menjadi fitnah. Iya kan Bu, kita pernah melihatnya di Bali waktu itu?" Om Bramono ingin Istrinya membuka suara.


Tante Kartika mengangguk. "Iya, saat itu Tante langsung tanya istrimu. Dia bilang ada urusan kerja dan tidak sengaja bertemu dengan Markus. Aku tidak bisa main tuduh dan lapor begitu saja sedangkan aku belum ada bukti yang kuat Abi. Kalau sekarang sampai kejadian seperti ini, kami mendukungmu untuk melakukan ketegasan."


"Banyak hal yang membuat hubungan kami tidak baik. Dia juga telah menggugurkan kandungannya, calon anakku sebanyak 2 kali. Aku sudah mengumpulkan bukti dan entah apa motifnya, aku ingin mengetahui semuanya nanti dipersidangan. Pengacaraku telah memegang banyak bukti," kata Abimana dengan perasaan sedihnya.


Lama mereka berbincang tentang hal serius itu hingga keduanya berpamitan. Amanda sebenarnya sudah datang dari tadi namun dia mematuhi peraturan dari pihak rumah sakit bahwa hanya diperbolehkan untuk 2 orang yang menjenguk. Sampai Om dan Tante Kartika datang menghampirinya, dia belum berani masuk.


"Manda, dari tadi?" tanya Tante Kartika.


"Lumayan Tante," jawab Amanda dengan sopannya.


"Manda, Om dan Tante titip Abi ya. Kamu jaga dia, Om dan Tante tidak bisa menunggu lama. Tante punya anak bayi dan Om Bram dia harus mengurus pekerjaannya juga. Semua ini begitu mendadak dan iya, Tante akan mengusahakan waktu supaya bisa mengunjungi Abi lagi. Kamu jaga dia ya," pesan Tante Kartika sebelum pergi.


"Iya Tan, aku akan menjaga Bapak." Amanda menyanggupi lantaran tidak enak hati untuk menolak.


Setelahnya, mereka pergi dan Amanda masuk ke dalam kamar rawat lagi. Amanda melihat Abimana yang tersenyum ke arahnya. Senyuman yang jarang ia jumpai selama ini, selama ia bekerja setelah malam itu.

__ADS_1


"Ini makananmu," kata Amanda dengan nada dingin dan ketus. Ia bahkan tidak mau melihat wajah majikannya.


"Kenapa kasar seperti itu? Tidak bisa halus sedikit? Aku sudah memberi senyuman tadi," ucap Abimana.


"Bapak memberikan senyuman tapi bukan uang! Aku hanya punya uang 40 ribu di kantong dan Bapak minta belikan nasi juga. Ah, aku jadi tidak bisa makan. Ini makanlah, aku minum saja," kata Amanda dengan kesalnya, dia meletakkan nasi bungkus dan membukanya lalu meletakkan di samping Abimana.


"Kita makan bersama ya, kamu lapar kan pasti? Kamu sedang hamil Manda, kamu butuh makan yang baik. Em, kita bagi dua saja. Tapi bantu aku buat duduk dulu," pinta Abimana yang terdengar begitu rewel di telinga Amanda.


"Iyalah, iyalah," Amanda pasrah dan menurut. Dia langsung membantu Abimana untuk duduk.


"Ini kamu yang bagi nasinya. Bagi sama rata saja, itu ada piring di rak kecil itu," tunjuk Abimana pada rak di samping lemari pendingin kecil.


Selesai membagi nasi, Amanda lalu kembali dan memberikan nasinya kepada Abimana. Abimana terlihat kesusahan dan lagi-lagi Amanda yang tidak tega pun membantunya. Ia memanglah wanita berhati lembut dan baik, sehingga dia tidak akan pernah tega dengan melihat orang disekitarnya kesusahan.


"Ke sini aku suapi saja. Nanti darahnya malah naik," kata Amanda yang meminta piring nasi dari tangan Abimana.


Di setiap suapan yang ia terima, Abimana merasa begitu senang. Hatinya menghangat mana kala wanita yang ada di hadapannya kini sudah berani untuk lebih dekat. Namun, meski begitu, Amanda tetap menjaga jarak.


"Manda, apa boleh aku memegang perutmu?" tanya Abimana ketika tanpa sengaja melihat perut Amanda bergerak.


"Buat apa? Memegangnya tidak akan membuatmu sembuh. Dia hanya anak di luar nikah. Dia juga bukan anak Bapak, Bapak tahu hal itu. Jadi jangan sentuh dia, nanti tangan Bapak kotor." Amanda berbicara tanpa menatap Abimana.


Jauh di dalam lubuk hatinya dia merasakan sakit yang amat sangat lantaran sudah menghina buah hatinya sendiri yang sudah ia bulatkan tekad untuk merawat dan membesarkannya.


"Kamu bohong." Abimana menolak semua yang Amanda katakan.


"Bohong apa? Seharusnya Bapak senang dia ini adalah apa yang Bapak tuduhkan. Dia anakku hasil hubungan gelapku. Bukan hasil dari malam itu. Sudahlah jangan mengurusi hidupku lagi. Bapak punya urusan sendiri dan itu jauh lebih berat aku rasa," ujar Amanda yang membuat Abimana terkatup rapat-rapat kedua bibirnya.


"Apa aku sudah keterlaluan saat menekannya dulu? Manda, aku melakukan itu suapaya kamu aman. Supaya Cla tidak mencurigai sesuatu yang terjadi diantara kita," kata Abimana di dalam hatinya. Ia menyesal pernah menekan Amanda untuk mengatakan bahwa itu bukanlah hasil perbuatannya.


"Permisi," kata Amanda yang tiba-tiba menitikkan air matanya. Dia pergi begitu saja tanpa menunggu perkataan Abimana.

__ADS_1


__ADS_2