Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
26. Makanan Untuk Manda


__ADS_3


Semburat kekuningan cahaya mentari merambah masuk. Menyapa dengan lembut semua mahluk. Amanda perlahan mengerjapkan matanya, ia mencoba untuk membiasakan cahaya yang masuk ke dalam mata.


Terasa berat sesuatu yang bertengger di atas perutnya. Sesuatu yang ia raba bertekstur lembut berbulu dengan urat-urat yang terasa menggurat. Perlahan ia menoleh dan merasakan lembut hembusan napas yang mengenai pucuk kepalanya.


Ia mendongak dan menatap rahang tegas seorang laki-laki yang mempunyai kenangan buruk bersamanya. Anehnya, bukannya marah atau mengumpat, justru yang hadir di dalam kalbu adalah sebuah pujian. Tatapan matanya tak mampu berdusta, ia menatap penuh damba pelaku pemerk0saan itu.


"Ah, kenapa aku sama sekali tidak ingin marah? Kenapa aku justru mengagumi ketampanannya? Dia mempunyai ketampanannya sendiri. Meskipun usia kami berbeda jauh, tapi ... tidak akan ada yang bisa menduga kalau usia kami berbeda jauh. Iya, aku rasa perawatan yang sering dia lakukan membuatnya selalu memesona. Tapi ... mengapa istrinya justru berselingkuh dengan lelaki yang lebih tua dari suaminya?" pikir Amanda terheran.


"Pak Abi, bangun Pak," kata Amanda dengan pelan, bahkan ia masih sangat serak dan tidak percaya diri untuk membuka mulutnya.


Iya, manusia mana yang bangun tidur mulutnya tidak bau. Bukankah hal itu terjadi secara alami? kadar gas dari lambung yang naik melalui kerongkongan dan berhenti di rongga mulut selama berjam-jam, sudah pasti menghasilkan aroma yang tidak sedap.


"Engh." Abimana hanya menggeliat dan mengeratkan pelukannya.


"Ah, harusnya aku langsung bangun saja. Tapi bagaimana? Tidak bisa satu kakinya saja menindih kakiku. Lalu tangan besarnya ini juga memelukku erat. Aku tahu ini akan menambah daftar dosaku. Tapi bagaimana? Bagaimana ini Tuhan ...?" Amanda menggerutu di dalam hatinya.


"Pak Abi ... bangun, ini sudah siang," lirih Amanda bersuara sembari menutup mulutnya.


Samar-samar telinga Abimana mulai mendengar suara Amanda. Ia mengerjapkan matanya dan mengendus pucuk kepala wanita yang ada dalam dekapannya. Ia pikir tubuh Amanda adalah bantal guling yang sering ia jadikan teman tidur semenjak ia berpisah ranjang dengan Clarissa.


"Engh ... sejak kapan bantal gulingku ada rambutnya?" gumam Abimana tanpa membuka matanya.


"Pak, ini aku Manda, bukan bantal. Tolong sisihkan kaki Bapak, kakiku kesemutan," ucap Amanda dengan malu-malu.


Mendengar apa yang Amanda katakan, seketika kesadaran Abimana terkumpul. Ia langsung membuka matanya lebar-lebar dan terhenyak hingga jatuh ke lantai. Bukan maksud Abimana untuk memeluk Amanda.


Semalam, entah siapa yang memulai duluan, Abimana pun tidak ingat. Dia hanya ingat setelah kenyang ia lalu duduk menemani Amanda dan seterusnya dia tidak tahu lagi. Pun demikian dengan Amanda yang hanya ingat saat menonton TV saja.


"Maaf, maaf. Aku tidak sengaja," ucap Abimana dengan perasaan bersalah bercampur rasa canggung.

__ADS_1


"Oh, iya." Manda menjawabnya pelan dan mulai berdiri mengakhiri sesi gugup dan malu itu.


Dengan kakinya yang masih kesemutan ia berjalan pincang menuju ke kamarnya. Amanda benar-benar malu, kedua pipinya merona saat itu. Hanya saja, dia membunyikan semua itu dari Abimana. Akan semakin malu rasanya jika majikannya itu tahu dia tengah tersipu malu.


"Manda, kenapa kamu jalannya pincang begitu?" tanya Abi cemas.


"Tidak apa-apa, hanya kesemutan. terlalu lama tertindih," jawab Manda dengan sopan.


"Ah iya. Aku yang sudah menindih kakinya tadi. Emh ... tanganku juga kesemutan. Semalaman berarti aku memeluknya erat, berbagi tempat yang sempit ini. Ah, kalau begini akan sangat aneh sekali rasanya kalau harus bertemu dia lagi. Sebaiknya aku menghindari pertemuan selama beberapa hari dulu," kata Abimana yang kemudian dia pergi sembari memijit lengannya yang kesemutan.


*


*


*


Selesai mandi dan membersihkan diri, Amanda berniat untuk membuat sarapan. Dia sudah berencana untuk menawari majikannya sarapan sebelum pergi. Akan tetapi ....


Ia kembali melangkah masuk setelah melihat mobil Abimana yang sudah tidak ada. Baru satu langkah, seorang sopir sudah memanggilnya. Sopir suruhan Abimana yang mendapatkan mandat penting pagi itu.


"Ibu Manda!" seru si sopir.


"Ya?" sahut Amanda menoleh.


"Kenalkan, saya Pak Ali. Selama Ini ada di sini maka saya yang bertanggungjawab sebagai sopir sekaligus kurir. Pagi ini sebelum Bapak Abi pergi beliau memerintahkan saya untuk membelikan bahan-bahan makanan untuk Ibu Manda. Saya permisi mau memasukannya ke dalam." Pak Ali meminta izin.


"Oh iya Pak, taruh saja di dapur nanti biar saya yang menata," jawab Manda.


"Iya Bu, terima kasih." Pak Ali segera melanjutkan tugasnya. Hingga ia mengusung beberapa kotak makanan.


Amanda yang semula hanya mengawasi kini mulai menata. Dia membuka kotak makanan yang tercium wangi aromanya. Secercah senyuman hadir menghiasi sudut bibirnya.

__ADS_1


"Makanan?" gumamnya sedikit heran.


"Oh itu? Iya itu Pak Abi yang order sendiri dan tadi Pak Dirga yang mengantarkan. Apa Ibu tidak tahu kalau Bapak pesan makanan?" tanya Pak Abi seraya mengangkat kantung belanjaan terakhir.


"Tidak Pak." Amanda tersipu menjawabnya.


"Oh mungkin ini semacam kejutan. Dari tadi Bapak banyak berpesan, saya bisa menangkap jika beliau begitu memprioritaskan Ibu dan juga calon anak kalian. Ibu ini sangat beruntung," ucap Pak Ali yang sebenarnya sudah mengenal Abimana sedari lama sebab dia dulunya adalah sopir di gudang yang naik pangkat jadi menyopiri istri majikan.


"Iya mungkin," jawab Amanda tersipu malu.


Melihat begitu banyak lauk dan nasi yang Abimana beli, Amanda berinisiatif untuk membagikan makanan tersebut. Nasi Padang yang dipisahkan lauknya itu pun ia bagi dengan Satpam dan sopirnya. Pak Ali agak sedikit terheran, dia mengira kalau Amanda adalah Clarissa itu pun terheran.


"Dari rumornya katanya istri Pak Abi galak. Tapi ini ramah, muda, cantik dan baik. Eh? Apa ada kesalahpahaman yang beredar?" pikir Pak Ali.


"Bapak sudah makan?" tanya Amanda tiba-tiba.


"Oh, belum. Belum sempat, ini lagi mau beli gado-gado," jawab Pak Ali.


"Tidak usah beli. Ambil piring saja ini saya bagi sekalian sama Pak Satpam ya," kata Amanda dengan ramahnya.


"Iya, baik Bu. Wah ... apa tidak apa-apa? Apa tidak di marah sama Bapak? Kata Bapak semua ini untuk ibu saja," kata Pak Ali dengan sungkan.


"Tidak akan habis Pak kalau sendirian. Bisa meledak perutku," jawab Amanda sembari tersenyum simpul. "Sudah ini dimakan ya. Saya minta doanya, supaya nanti sewaktu saya melahirkan bisa lancar dan sehat semuanya, selamat semuanya."


"Iya Bu, orang baik pasti juga akan dimudahkan segala urusannya, semoga lancar dan sehat saat waktunya ya Bu," balas Pak Ali.


Pa Ali meminta izin pergi dan Amanda mengangguk mengiyakan. Di saat itu juga ponselnya berdering. Sebuah panggilan dari seseorang yang semalaman memeluknya masuk.


"Kenapa dia menelpon?" gumam Amanda terheran.


~ Bersambung ☺️

__ADS_1


__ADS_2