
...****************...
"Sebelumnya aku sempat mengutuk apa yang menimpaku ini. Tapi sekarang, mendengar dan melihat ibu dan Aska berkecukupan, agaknya aku berubah pikiran. Mereka duniaku. kebahagiaan mereka jauh lebih penting dari apa pun. Lalu sekarang ada calon anakku juga yang hidupnya bergantung padaku. Oh Tuhan, inikah caramu membuatku bertahan hidup? Engkau memberikan mereka sebagai pemacu semangatku. Terima kasih tidak membuatku mudah menyerah di awal permainan ini." Manda berbicara pelan sembari mengusap lembut perutnya.
Bulir beningnya jatuh begitu saja tanpa aba-aba. Sebenarnya, sosok wanita muda ini tengah rapuh. Dia menjadi lebih mudah menangis dan peka terhadap segala suatu hal.
Yang dia butuhkan di saat seperti ini adalah dukungan dari pasangan. Namun apalah daya, dia tidak memilikinya. Satu-satunya sumber kekuatannya saat ini ialah ibu, adik, dan calon buah hatinya. Melihat mereka bahagia juga membuat Manda lebih tegar menjalani semuanya.
"Apa pilihanku ini sudah benar dengan menyembunyikan kehamilan dan juga kelahiran dia nanti. Tapi ... aku juga tidak punya cukup keberanian untuk jujur pada ibu."
Manda mengusap lembut perutnya. Ada kesedihan yang menyeruak dalam dada mana kala pagi tadi dia melihat pasangan muda yang begitu harmonis saat dia membeli lauk. Sedangkan dia, sama sekali tidak ada. Dia hanya sedang menghadapi semua ini seorang diri dengan berpura-pura tangguh.
Suara ketukan pintu disusul dengan suara Pak Ali membuat Manda menoleh. Ia menyeka air matanya segera. Dia sama sekali tidak mau menunjukkan kesedihannya.
"Ibu, maaf ada paket dari Bapak," seru Pak Ali dari depan pintu besar.
"Paket, Paket apa?" gumam Manda pelan seraya mengatur langkahnya mendekati sumber suara.
"Paket apa?" tanya Manda setelah membuka pintu.
Wanita hamil itu lalu duduk di kursi teras depan dengan perut besarnya. Dia nampak terengah-engah saat bernapas. Nampak begitu kesusahan saat menghirup oksigen.
"Begah ya Bu?" tanya Pak Ali.
"Iya, Pak. Semalam udah sempat kontraksi. Eh tapi Bapak diam aja ya, ini belum tanggalnya masih kurang 5 hari lagi. Bapak jangan bilang Pak Abi ya," ujar Manda meminta Pak Ali bekerja sama.
"Loh, kenapa enggak boleh. Pak Abi kan suami Ibu," tanya Pak Ali.
"Bukan, belum Pak. Kami baru mau menikah," jawab Amanda dengan risih. Dia paling tidak nyaman bila sudah membahas tentang hal itu.
__ADS_1
Pak Ali sama sekali tidak bisa bertanya atau pun berkomentar. Dia hanya diam dengan ekspresi canggungnya. Ia lalu pamit undur diri lantaran merasa tidak enak setelah mengajukan pertanyaan seperti itu.
Beberapa menit setelah Amanda masuk, barulah ponselnya berdering. Ponsel itu hanya memiliki dua nomor yang tersimpan di dalamnya. Nomor Abimana Dipta dan yang satunya lagi adalah nomor bibik Ninik. Amanda sudah berganti ponsel dan dia belum berani menyalakan ponsel lamanya karena takut teman dan juga dosen akan menghubunginya.
[ "Halo Pak Abi," jawab Amanda di seberang panggilan.
"Hai Manda, apa kirimanku udah Sampek?" tanya Abimana yang kali ini menggunakan bahasa yang lebih santai dari sebelumnya.
"U ... udah kok," jawab Amanda meski dengan tergugup.
"Udah kamu cobain? Itu baju buat akad kita besok. Aku sengaja pilihkan gaun tanpa brokat aja karena kamu gampang gerah. Enggak apa-apa kan?"
"Enggak apa-apa Pak, dan terima kasih. Terima kasih udah peduli sama saya."
"Saya? Ayolah ngomongnya biasa aja sama aku Manda. Kita mau menikah, tidak usah formal kayak gitu. Putusan sidangku udah keluar. Aku sah bukan suami Clarissa lagi sekarang. Jadi enggak ada yang menunda akad kita lagi kali ini."
"Iya, enggak apa-apa. Aku paham, aku juga ngerti gimana posisi dan kondisi Bapak." Amanda menjawabnya pelan dan suaranya terdengar aneh dengan sedikit tertahan dan mendesis.
"Manda, kamu kenapa? Apa udah Kontraksi?" tanya Abimana dengan suara paniknya.
Amanda bukannya menjawab, dia hanya mendesis lagi. "Sshh ...."]
Tut!
"Auh ...!" desis Amanda menahan rasa sakit di perutnya.
Tidak berselang lama, Pak Ali segera mengetuk pintu. Lama mendapatkan respon, Pak Ali segera membuka pintu dan betapa terkejutnya dia ketika mendapati majikannya sudah tergeletak di lantai. Amanda pingsan.
"Ibu ...! Wah, gimana ini ...?" Pak Ali kebingungan setengah mati.
Dia sangat takut saat melihat keadaan Amanda. Baru saja Abimana memberikan perintah untuk memeriksa keadaan Amanda dan ternyata Abimana sudah tergeletak tak sadarkan diri. Di sekitar tubuh Amanda terdapat genangan air yang berwarna sedikit kekuningan.
__ADS_1
"Ketuban, ini pasti air ketuban," ujar Pak Ali sebelum dia menghubungi ambulans.
...****************...
3 jam berlalu dan Abimana baru saja tiba. Pak Ali menunggunya di depan ruang bersalin. Dia begitu cemas akan hal itu, bayi itu telah lahir namun ibunya belum ada kabar. Pak Ali hanya mendengar suara tangis bayi dari dalam ruang Operasi.
"Pak, gimana keadaannya? Apa baik?" tanya Abimana dengan terengah-engah setelah berlari beberapa puluh meter jauhnya.
Pak Ali menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak tahu saya Pak, ibu ditindak dengan operasi sesar. Sayantadi yang menjadi walinya. Kalau anak Bapak sudah lahir, baru saja ada suara tangisnya. Tapi kalau kabar ibu saya ndak tahu."
Abimana terduduk lemas. Kali ini rencananya untuk bertanggung jawab gagal lagi setelah yang pertama gagal karena putusan sidang yang meleset dari perkiraan, sekarang mungkin meleset lagi karena keadaan Manda. Dalam hatinya dia selalu berdoa untuk keselamatan dan kesehatan ibu dari anaknya itu.
20 menit setelah menunggu, barulah keluar sosok Amanda yang tak sadarkan diri. Dia masih setia menutup matanya dengan berbagai alat yang menempel di tubuhnya. Wajahnya nampak pucat dan entah mengapa Abimana menangis melihatnya.
"Antara aku dan dia sama sekali belum ada ikatan. Tapi melihatnya seperti ini, membuatku merasa bersalah. Seharusnya aku selalu ada di sampingnya. Seharusnya aku menemaninya, tapi aku terlalu pengecut untuk itu."
Abimana menyesali perbuatannya. Suster yang menggendong seorang bayi mungil itu langsung mendekat kepadanya. Ia tersenyum saat melihat Abimana.
"Bapak ini ayahnya 'kan? Enggak salah pasti ini ayahnya mukanya mirip sekali," cetus si suster yang memberikan bayi mungil itu kepada Abimana.
"Kenapa ibunya Dok?" tanya Abimana.
"Ibunya mengalami komplikasi karena tekanan darahnya yang sangat rendah sehingga tidak ada tenaga untuk melakukan proses persalinan secara normal, jadi kami terpaksa mengambil tindakan bedah sesar. Sementara biarkan dia tidur untuk memulihkan tenaganya, setelah 6 jam barulah kami akan memeriksanya kembali."
"Dia tidak koma kan Dok?" tanya Abimana dengan matanya yang sembab dan tangan yang bergetar.
"Semoga saja tidak. Kami akan berusaha melakukan yang terbaik Pak. Sekarang biarkan pasien memasuki ruangannya untuk istirahat. Bapak bisa ikut suster untuk melakukan beberapa tindakan bersama bayi. Perlu ada bounding antara ayah dan bayinya," ucap Dokter seraya tersenyum ramah.
"Anakku, kamu sudah lahir Sayang. Maafkan ayah ya, yang tidak bisa menemani ibumu dalam melahirkanmu. Maafkan ayah Sayang," ucap Abimana dengan suaranya yang bergetar pilu.
"Sabar Pak, kita doakan yang terbaik untuk ibu Manda." Pak Ali berusaha menguatkan Abimana.
__ADS_1