
Tiga bulan berlalu dan keadaan Manda sudah jauh lebih baik. Semua pengobatan digunakan dengan kualitas terbaik hingga membuat wanita muda itu kini sudah bisa beraktivitas seperti biasa. Juga si mungil Akbar yang pada saat ini sudah bisa tengkurap.
"Akbar, sini yok sama Bunda Nak. Ayah biar selesaikan dulu kerjanya," kata Manda yang baru saja selesai mandi dan mencuci rambutnya.
Abimana melihat pemandangan itu pun sebenarnya sudah berkali-kali menalan ludahnya. Ia berusaha bersikap tenang untuk tidak menyergap wanita itu dan memuaskan dirinya atas napsu yang menggebu.
"Enggak apa-apa kalian berdua di sini saja temani ayah kerja ya. Aku akan lebih bersemangat jika ada kalian," kata Abimana sembari menciumi wajah putranya.
"Kesenangan dia nanti jadi kebiasaan. Lama kelamaan nanti dia akan membuat berantakan isi ruangan kerjamu ini Yah, udahlah aku bawa dia ke kamar ya, kamu kerja aja," kata Manda yang kemudian membawa si kecil Akbar dan pergi meninggalkan ruangan kerja Abimana.
Abimana terdiam meresapi indah kehidupannya saat ini. Apa yang dia miliki saat ini tidak akan pernah ia miliki jika tidak melewati badai terlebih dahulu.
Beberapa jam Abimana habiskan di depan monitor, hingga pada akhirnya dia menyusul istrinya ke kamar. Ini merupakan kali pertamanya ia berani masuk ke kamar Manda lantaran kamar itu tidak terkunci. Ada sedikit celah yang memicu rasa penasaran Abimana.
"Apa mereka belum tidur, kenapa pintunya tidak dikunci. Biasanya selalu terkunci rapat," gumam Abimana yang memang selama 3 bulan ini tidurnya selalu terpisah. Ia tidur di kamar tamu, sedangkan istri dan anaknya ada di kamar utama.
Perlahan, Abimana mulai melangkah masuk. Tanpa sengaja ia melihat pemandangan seru di mana putranya sudah terlelap dengan bibir yang basah terkena susu, sementara pay*dara Manda ia pamerkan ke mana-mana.
__ADS_1
"Astaga, apa dia sengaja seperti ini?" gumam Abimana pada awalnya.
Semula Abimana berniat untuk pergi. Berkali-kali ia menarik langkahnya maju dan mundur. Ia ragu.
Akan tetapi setelah beberapa kali itu justru ia menutup rapat pintu kamar utama, lalu mematikan lampunya dan menempatkan diri di samping Manda. Ia memeluk erat tubuh Manda dan tangannya meraba sesuatu yang menyembul tadi.
Manda mulai merasakan sentuhan-sentuhan yang Abimana berikan dan ia menggeliat. Perlahan Manda membuka mata dan ia nyaris berteriak, namun sebelum itu semua terjadi, Abimana lebih dahulu berkata ....
"Sudah 3 bulan berlalu, malam ini aku datang untuk mengambil hakku istriku. Apa boleh?" bisik Abimana.
"Iya, sudah 3 bulan saja. Dulu aku mengajukan syarat itu memang untuk menghindari hal ini. Namun, sekarang waktuku menghindar sudah habis. Mau ke mana lagi aku. Ini sudah menjadi kewajiban ku. Juga, selama ini dia selalu menunjukkan bahwa dia benar-benar menjadi ayah dan suami yang baik. Apa lagi yang bisa dijadikan alasan untuk menghindar? Tidak ada, sama sekali tidak ada." batin Manda.
Mendengar jawaban Manda membuat Abimana menjadi sangat bersemangat. Lampu hijau telah ia dapatkan. Dengan penuh cinta ia mulai melakukan penyatuan.
Tidak ada sejengkal pun kulit Manda yang terlewat dari kecupan lembut bibir Abimana. Laki-laki tampan itu begitu berpengalaman dalam hal ini. Dia paham di mana letak titik kepuasan seorang wanita.
"Akh .... Mas," rintihan manja Manda menambah semangat Abimana.
__ADS_1
"Sebut namaku terus Sayang, jangan malu," bisik Abimana sembari mendaratkan kecupan di pipi Manda.
Begitu menggebu setelah beberapa bulan menahan nap*u. Keduanya begitu bergairah dan seolah memamerkan bakatnya. Hingga lenguhan terdengar dan derit ranjang berhenti setelah keduanya sampai pada puncak kenikmatan.
"Makasih ya, sudah memberi kesempatan dan menjadikan aku suamimu sepenuhnya," kata Abimana dengan mengecup pundak Manda.
"Makasih juga Mas, selama ini udah sabar sama aku," balas Manda pelan.
"Sudah seharusnya, besok ada tamu spesial buatmu. Dia sangat merindukanmu," kata Abimana.
"Siapa? Siapa yang merindukanku? Apa itu ibu?" tanya Manda.
"Iya, ibu akan datang. Aku sudah menceritakan semuanya pada ibu dan mengakuinya, serta meminta maafnya. Dia sama sepertimu, berhati baik. Dia memafkanku dan berkata ingin melihat cucunya," kata Abimana dengan jujur.
"Benarkah Mas? Enggak bohong?" tanya Manda dengan mata yang berbinar-binar.
"Benar, tidak perlu cemas lagi. Semuanya sudah membaik, aku minta ibu dan Aska untuk tinggal di sini bersama kita," kata Abimana yang membuat Amanda langsung memeluknya dan menciumnya berkali-kali.
__ADS_1
"Makasih, makasih banyak Mas,.aku enggak pernah nyangka kalau kamu ternyata memperhatikan kecemasanku selama ini," kata Manda dalam kebahagiaannya.
End.