Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
27. Merasa Selalu Diawasi


__ADS_3


Berdering sebuah ponsel di dalam kamar seorang gadis. Ia seolah menyanyi sendirian tanpa pendengar. Si empunya tengah asyik menyantap makan siangnya.


Sementara itu seseorang menjadi tidak sabaran lantaran panggilannya diabaikan. Abimana sudah melakukan panggilan yang kesekian kalinya. Namun tetap saja Manda tidak memberikan responnya.


Hingga ....


"Bu Manda! Ini Pak Abi mau bicara," kata Pak Ali seraya menyodorkan ponselnya. Ia berlari tergopoh-gopoh setelah mengangkat panggilan.


"Ada apa?" gumam Amanda sebelum mengangkat panggilannya.


"Iya halo Pak?" tanya Amanda untuk pertama kalinya.


Pak Ali langsung mengerutkan keningnya. Ini terlalu aneh untuknya, bukankah terlalu canggung bila suami istri menggunakan panggilan seperti itu? Ini bukan jaman mereka untuk memanggil suami istri dengan sebutan Pak/Bu.


"Aneh, biasanya pada manggil Beb, Sayang dan semacamnya, ini manggil Pak? Bukan jamannya," batin Pak Ali.


Abimana berbicara panjang lebar di seberang sana, sementara Amanda hanya mengangguk dan menjawabnya iya, iya, dan iya.


"Sudah Pak, makasih ya. Ponsel saya di kamar lupa dikasih suara. Dia mengomel deh jadinya." Manda mengembalikan ponsel Pak Ali seraya tersenyum ramah.


"Beda, sangat berbeda. Dia ini penyabar, tapi dari kabar yang beredar, istri Pak Abi itu judes dan galak. Tapi dia ini? Baik dan lemah lembut. Ah, aku jadi pusing," batin Pak Ali seraya pergi dari hadapan Manda.


Selesai dengan makannya, Manda segera kembali ke kamarnya dan membuka beberapa pesan yang masuk. Rupanya tadi Abimana menghubungi hanya untuk memastikan bahwa makanan yang ia beli telah di makan oleh ibu dari calon anaknya itu. Abimana juga meminta bukti foto dari makanan tersebut.


"Hanya makanan saja sampai minta foto saat aku makan. Aku merasa diawasi terus," cibir Manda seraya melakukan apa yang Abimana minta.


Untunglah tadi dia membagikan makanannya dengan Pak Ali dan Pak Dirga. Coba kalau tidak, dia akan kekenyangan. Pasalnya Abimana membelikan porsi jumbo yang bisa di makan orang dewasa dua orang. Terkesan berlebihan memang, tapi Abimana melakukan itu untuk calon buah hatinya.

__ADS_1


Sore hari, saat Manda baru saja selesai mandi dan melengkapi tulisannya di sebuah platform penyedia novel online, dia menuju dapur dengan rencana ingin memasak untuk makan malam. Betapa terkejutnya dia ketika sudah ada Abimana yang duduk di meja makan sembari menghadap secangkir teh yang agaknya buatannya sendiri. Manda segera menghampiri dengan wajah bingung.


"Pak, kenapa ke sini? Katanya mau tinggal sendiri-sendiri?" tanya Manda penasaran. Ia menarik kursi dan duduk di samping Abimana.


"Kalau sendiri-sendiri apa kamu bisa menambah berat bobot anak kita? Kamu ini susah kalau di suruh makan. Itu aku sudah belikan makanan, kamu makan dulu baru aku pulang," jawab Abimana dengan santainya.


"Dia jauh-jauh ke sini hanya untuk membelikan makanan? Satu setengah jam jarak dari sini ke rumahnya. Seberharga itukah calon anak ini baginya?" pikir Manda menduga-duga.


"Pak, aku bisa makan sendiri. Apa gunanya tadi menyuruh Pak Ali beli banyak bahan masakan kalau aku tidak boleh masak?" tanya Manda balik.


"Ah iya. Alasanku salah rupanya. Ini tidak tepat sama sekali. Pagi tadi Pak Ali sudah ku suruh belanja. Hemh ... dia ini cerdik juga. Apa aku harus mengatakan yang sejujurnya kalau aku ingin makan bersama? Ah tidak, itu terkesan tidak tahu malu sekali aku. Alasan apa ya?" pikir Abimana.


"I ... iya kamu boleh masak tapi sayurannya saja. Lauknya sudah ada ini. Begitu maksudku. Lagian tidak enak aku makan sendirian di rumah yang besar itu. Jadi kemungkinan aku akan makan di sini terus sama kamu," jawab Abimana tanpa mau menatap wajah Manda.


"Jadi itu alasannya, oh oke. Tidak apa-apa, aku tidak keberatan sama sekali. Toh dia sendiri juga yang membelikan semua ini," ujar Manda dalam hati.


"Hemh, terserah kamu. Aku mau mandi dulu," pamit Abimana yang tak ditanya lagi oleh Manda. Padahal Abi sangat ingin ditanya.


Abimana masuk ke dalam kamar mandi yang berada di luar. Di sana rupanya juga sudah terdapat beberapa bajunya. Saat membuka lemari untuk mengambil ganti, Abimana terdiam, ia kembali mencoba untuk mengingat sesuatu. Seperti ada yang terlupakan.


"Ada yang aku lupakan. Manda sepertinya belum jadi membeli baju. Kenapa bajunya masih itu saja?" pikirnya.


"Apa dia belum jadi beli baju?" imbuhnya.


Abimana membawa pertanyaan itu sampai ia selesai mandi. Saat hendak keluar dari kamar tamu, dia melihat Manda yang sibuk memasak dengan perut besarnya. Tanpa sadar, Abimana tersenyum lebar saat melihatnya.


"Gayanya yang seperti itu sangat keibuan. Selama ini aku sama sekali tidak pernah memerhatikan dia. Hanya seperti angin saja aku memperlakukan dia saat membantu ibunya di rumah," gumam Abimana di ambang pintu.


"Pak, sudah selesai mandinya? Kebetulan tumis kangkungnya juga sudah matang." Manda tersenyum sembari menyuguhkan semangkuk kecil tumis kangkung.

__ADS_1


Abimana menarik kursi dan duduk di tempatnya semula. Manda lalu menata piring dan juga mulai membuka lauk yang Abimana bawa. Manda seperti celingukan mencari sesuatu.


"Cari apa kamu?" tanya Abimana.


"Tidak ada tempe goreng? Aku kira Bapak beli sama seperti tadi pagi "


"Tempe mendoan?" tanya Abimana.


"Iya, aku suka makan itu. Tidak ada lauk lain pun pakai tempe goreng sudah sangat enak bagiku," jawab Manda yang justru membuat hati Abimana tersentil.


"Pantas saja saat aku larang dia masak di rumah dia masih bisa tersenyum sewaktu makan nasi dengan tempe goreng saja. Dia begitu sederhana, tapi karena itu juga calon anakku jadi kurang bobot. Mengingatnya selalu membuat hatiku sakit," batin Abimana menaruh sesal.


"Besok aku belikan. Sekarang kamu makan saja ini. Aku belikan ikan laut supaya anak kita cerdas nantinya. Kamu makan yang banyak ya," ucap Abimana seraya mengambilkan ikan bakar untuk Manda.


Di sela-sela makan, Abi mulai bertanya. "Apa kamu belum membeli baju?"


"Aku mau beli tapi tidak ada yang, juga waktu itu Bapak buru-buru meminta ponselnya. Jadi aku tidak jadi," ucap Manda yang membuat Abimana menghela napasnya.


"Hemh ... kenapa tidak bilang?" Abimana lalu merogoh dompetnya dan memberikan uang cash 2 juta kepada Manda.


"Sementara itu dulu buat pegangan, aku sudah tidak ada cash lagi. Kamu kenapa diam saja kalau tidak jadi?"


"Aku merasa aku bukan siapa-siapa yang keperluanku harus Bapak penuhi," jawab Manda dengan polosnya.


"Aku sudah bilang kepadamu. Apa pun itu yang kamu butuhkan bilang sama aku. Aku ini ayah dari anak yang kamu kandung. Aku ini calon suamimu," tandas Abimana gemas.


"Tapi kamu juga masih suami orang kan?" cetus Manda yang kali ini sembari menatap kedua manik Abimana.


~ Bersambung ☺️

__ADS_1


__ADS_2