
"Tidak ada pembelaan dari mereka sebab semua bukti itu valid dan memberatkan. Orang tuanya juga tidak banyak bicarabicara," kata pengacara Abimana.
"Kalau begini artinya kita bisa menang dan dia bisa di hukum 3 tahun?"
"Iya, kita bisa menang dengan mudah, tapi dia meminta keringanan. Apa sebaiknya kita kabulkan atau ...?" tanya pengacara dengan menggantungkan pertanyaannya.
"Sudah, 3 tahun aku rasa cukup. Aku tidak mau menjadi manusia buang kejam. Setelah ini aku ingin pindah ke apartemen dan menjual rumah itu," kata Abimana yang membuat pengacara tercengang.
"Menjual? Tapi kenapa?" tanya si pengacara sampai mulutnya menganga.
"Aku tidak mau mencampur kenangan buruk itu dengan hidup baruku. Biarlah semua musnah seiring waktu. terlalu menyakitkan itu semua bagiku. Apa lagi setelah ini aku akan segera menikah dan aku akan menjadi seorang ayah," aku Abimana pada Pak pengacara yang masih berkerabat dengannya.
"Ayah? Bagaimana bisa seseorang akan menjadi ayah sedangkan dia baru saja bercerai dan itu pun tanpa adanya anak di antara kalian. Ada-ada saja kamu ini. Sudahlah jangan menjadi gila hanya karena baru bercerai. Wanita itu ada banyak dan bukan Clarissa saja," kata Herman si pengacara sekaligus kerabat Abimana. Dia menggeleng tidak percaya dengan apa yang Abimana katakan.
"Aku serius Bang Herman. Aku tidak sengaja menghamili Amanda," aku Abimana yang membuat Herman mendelik seketika.
Herman langsung menoleh dan dia menelisik lebih jauh ekspresi wajah saudaranya itu. "Serius kamu Abi? Amanda, itu bukannya anaknya Bibik Ninik? Dia yang dulu suka ikut Bibik Ninik setiap bekerja? Dan apa tadi katamu tidak sengaja menghamili? Bagiamana konsepnya bisa seperti itu?"
Abimana menghela napasnya dan memijit keningnya perlahan. Dia terlihat pusing dengan setumpuk masalah yang mengantri untuk ia urai satu persatu. Terlihat sekali banyak beban yang bertumpu berusaha untuk melumpuhkannya.
"Aku serius Abang, waktu itu tidak sengaja aku mabuk setelah aku dan Cla bertengkar. Saat aku pulang, aku melihat dia. Di pandanganku itu Amanda adalah Clarissa. Karena lama aku dan Clarissa tidak melakukan hubungan, jadi malam itu tidak terhindarkan," papar Abimana dengan gurat penyesalan di wajahnya.
__ADS_1
"Clarissa sama sekali tidak tahu tentang hal ini?" tanya Herman.
Abimana menggeleng. "Tidak, dia sama sekali tidak tahu dan aku sengaja menyembunyikan semua ini. Setelah semua ini selesai, aku akan segera menikahinya Bang."
Herman menggeleng. "Tidak, aku tahu niatmu mau bertanggungjawab itu baik. Tapi sebaiknya kamu segerakan mengingat dia yang sudah hamil. Sudah berapa bulan kandungannya?"
"Sudah 5 bulan Bang, tadinya aku minta dia gugurkan. Awalnya aku tidak menginginkan anak itu. Tapi, saat sekali aku menyentuh perut Manda dan bayiku bergerak di dalamnya, aku luluh Bang. Aku sadar yang salah itu aku dan bukan bayiku."
"Segerakan saja Abi, jangan ditunda-tunda lagi. Bayimu semakin membesar. Kalau menunggu sampai persidangan selesai, aku takutnya keburu bayi itu lahir. Dan, akan lebih baik bila setelah menikahinya kamu ungsikan saja Manda. Jangan kamu taruh dia di rumah itu atau tinggal bersamamu. Kalian sebaiknya berpisah tempat dan menikah hanya untuk status bayi terlebih dahulu."
"Nanti setelah bayi itu lahir, kalau menurut Islam juga kalian harus menikah lagi. Eh, kamu masuk agamanya atau dia yang masuk agamamu?" tanya Herman.
"Aku yang masuk agamanya Abang, beberapa tahun ini aku juga sudah tidak pernah ke gereja. Apa ini termasuk hukuman dari Tuhan?"
...****************...
"Hari ini dia sedang duduk di persidangan. Semoga semuanya berjalan lancar," kata Amanda seorang diri di mana kini dia tengah berada di dalam kamar anak.
"Melihat dari apa yang dia lakukan belakangan ini, dia terlihat ingin bertanggungjawab. Dia terlihat bersungguh-sungguh. Nak, ibu minta kamu nanti jangan jadi anak yang bandel ya, ibu merasa ... ini hanyalah suatu awalan saja. Jadi bekerja sama yang baik dengan ibu ya. Jadi anak yang pintar yang tidak rewel," kata Amanda sembari mengusap perutnya yang membesar.
Tidak lama dari itu, deru mesin mobil terdengar dan Amanda memutuskan untuk keluar. Ia menuruni tangga dan bersamaan dengan itu Abimana masuk bersama dengan Herman. Sudah lama sekali Amanda tidak melihat Herman, jarang sekali memang pengacara sibuk itu datang mengunjungi sepupu jauhnya.
"Pak, sudah pulang," sapa Amanda dengan lembutnya.
__ADS_1
"Iya, kamu sudah makan?" tanya Abi balik seraya menatap sekilas Amanda yang terlihat gugup dan canggung. Ia sesekali berusaha untuk menutupi perutnya.
"Santai saja, tidak usah kamu tutupi begitu. Aku sudah tahu. Abimana sudah bercerita semuanya kepadaku. Tenang saja Amanda, kedatanganku ke sini adalah untuk membicarakan hal ini," kata Herman dengan begitu tenang dan teduh.
Amanda hanya diam, dan tanpa ia duga, Abimana tiba-tiba meraih pergelangan tangannya dan membawanya untuk duduk bersama di ruang tengah. Mereka duduk saling berjauhan, terutama Amanda yang terlihat menjaga jarak dan masih saja menutupi perutnya dengan bantal sofa. Gadis lugu itu sangat malu saat ini.
"Bagaimana keadaanmu, sehat? Bayinya sehat?" tanya Herman kepada Amanda dan Amanda mengangguk pelan.
"Kami belum periksa Abang, besok rencananya," kata Abimana.
"Ikuti saja saranku, kalian pindah dari sini, cari apartemen lain dan bersembunyi di sana untuk beberapa tahu. Karena bila sampai orang tua Amanda tahu soal ini, maka mereka akan mengungkitnya dan akan menjadikannya suatu kasus lalu menggugatmu. Makanya, upayakan sampai sidang ini selesai paling tidak sampai putusan cerai sah," ujar Herman memberikan saran.
"Ya, aku juga sudah membicarakan itu sama dia Abang, cuman dia belum bicara apa-apa entah bagaimana maunya," beber Abimana.
"Aku ikut saja bagaimana baiknya, aku tidak berpengalaman soal urusan seperti itu," ujar Amanda yang dengan pasrah mengikuti usulan Herman.
"Mulai saat ini, kamu jangan berpikiran yang bukan-bukan. Aku serius ingin bertanggungjawab. Setelah menikah kamu tidak akan tinggal di sini sampai proses perceraianku selesai," kata Abimana yang membuat Amanda melongo.
"Setelah menikah Bapak mau membuangku begitu?" tanya Amanda dengan polosnya.
"Tidak, akan aku penuhi semua kebutuhan kalian. Kamu akan aku tempatkan di rumah yang lain. Aku juga akan menemui ibumu untuk memberitahukan ini tapi nanti setelah kita sah menjadi suami istri." Abimana menebar janji.
"Benarkah? Tapi aku takut kalau terjadi apa-apa dengan ibu. Begini saja, kita rahasiakan pernikahan ini dan semuanya, sampai anak ini lahir." Amanda menyatakan idenya.
__ADS_1
Herman dan Abimana saling tatap. Hari ini baru persidangan pertama dan masih banyak season lagi yang harus Abimana lewati. Lantas Amanda justru menginginkan syarat seperti itu. Bukankah syarat itu seperti keberuntungan bagi Abimana?