
Langit malam begitu pekat. Seorang wanita hamil tertidur di masjid rumah sakit sampai petugas kebersihan membangunkannya. Amanda terlelap masih dengan balutan mukenanya.
Semalaman dia mengadu, mengadu kepada sang pencipta tentang masalah yang dihadapinya. Begitu berat hingga membuatnya urung untuk melanjutkan hidup. Namun seketika itu juga dia ingat akan ibu dan Aska, adiknya.
Jika sampai dia mati, lalu bagaimana nasib keduanya? sedangkan ibunya justru dinyatakan mengalami gangguan keseimbangan karena benturan di tulang ekor. Tentunya sakit seperti itu membutuhkan penanganan ekstra. Juga pastinya akan sangat menguras kantong.
"Mbak, bangun. Kalau mau tidur jangan di masjid. Di kamar pasien saja Mbak," kata penjaga kebersihan dengan sopan membangunkannya.
"Oh, iya Pak. Maaf ya." Amanda dengan canggung dan perasaan malu langsung membuka mukena dan merapikannya.
Langkah kaki nan berat tetap ia arahkan ke kamar yang selalu membuatnya wajib menatap wajah laki-laki yang sudah memperkosanya.
"Aku harus kembali ke kamar itu dan melihat wajahnya."
Amanda kembali membuka pintu ruangan itu perlahan dan dengan sangat hati-hati dia masuk. Sesaat, dia memperhatikan dengan seksama wajah Abimana. Pria yang selama belasan tahun menjadi majikannya dari semenjak Abimana masih di rumah Tante Kartika.
"Jika diperhatikan jauh lebih dalam. Dia ini adalah sosok yang baik yang penyayang. Hanya saja perasaan sayangnya itu hanya dia tunjukan kepada orang-orang terdekatnya saja. Sementara untuk orang luar seperti aku, tidak akan mungkin dia tunjukkan. Belum lagi soal status sosial kami yang jauh berbeda. Aku tidak akan melewati batasan itu dan aku bisa membesarkan anakku sendiri. Aku yakin itu." Amanda memikirkan rencana kedepannya.
"Semoga saja anakku ini nanti tidak mewarisi apa yang ada di wajah pria ini. Buat dia semirip mungkin dengan aku ya Tuhan," pinta Amanda dalam hati.
Perlahan, dia kembali menempati sofa dan dengan selimut tipis yang dibawanya, dia mulai berbaring lalu menutupi sebagian tubuhnya. Hanya wajahnya saja yang terlihat. Selebihnya, semuanya tertutup rapat.
Batu beberapa menit ia mencoba untuk menggapai indahnya mimipi. Suara rintihan terdengar dari seorang laki-laki. Bahunya bergerak turun naik. Dengan posisinya yang hanya bisa miring itu Amanda melihat jelas getaran tangisnya.
__ADS_1
"Sakit, sakit Cla!" rintih Abimana dengan bulir bening yang menghiasi ujung matanya.
"Cla ... sudah! Hentikan ...." rintih Abimana yang kali ini lebih terdengar menyayat hati.
Suara tersebut menuntun langkah kaki Amanda. Dia bangkit sejenak dan melihat sosok pria itu menangis. Tidak berhenti di situ, Abimana tiba-tiba langsung terduduk dan menatap ke arah Amanda.
Entah mimpi apa yang di alaminya, ia langsung turun dengan hati-hati membawa tiang penyangga infus. Dia langsung duduk di samping Amanda dan menatapnya penuh arti. Kemudian bulir air matanya jatuh lagi dan kali ini jauh lebih deras dari sebelumnya.
Kesediaan itu menguasai setiap sudut hatinya.
"Amanda, kamu dan anak kita baik-baik saja? Cla tidak melukaimu 'kan?" tanya Abimana dengan tatapan sendunya. Netra yang basah itu membuat Amanda terhanyut dan tanpa sadar ikut menitikkan air mata.
"Bapak kenapa? Dia ini bukan anak kita. Bukan, dia anakku dengan pria lain" kata Amanda dengan tatapan bingung.
Janin yang ada di dalam perut Amanda pun ikut bergerak. Ia seolah ikut senang. Namun tidak dengan hati Amanda yang justru mempunyai pemikiran lain.
"Jangan tertipu olehnya lagi Amanda. Dia ini pasti hanya menginginkan anak ini saja. Selebihnya mungkin dia akan membuangmu seperti sampah dan kamu akan terpisah dengan anakmu sendiri. Bapak Abi, jangan harap hal itu bisa terjadi." batin Amanda
"Manda, aku mohon. Selagi kita di sini, dengarkan aku baik-baik. Dengarkan aku. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Aku tahu aku salah karena pernah memintamu untuk menggugurkan dia dan juga pernah menolak untuk mengakuinya. Aku sangat minta maaf Manda."
"Untuk malam itu, aku akui aku mabuk dan aku khilaf. aku tidak ingin melakukannya. Hanya saja ... ah! Jangan dibahas lagi. Intinya adalah kemarin aku melakukan semua itu karena istriku ada mata-mata. Aku merasa berapa bulan ini kami seperti adu skill."
"Adu skill?" ulang Amanda.
__ADS_1
"Iya, adu skill. Aku tahu dia berselingkuh di luar. Sebenarnya dia tidak ingin aku mempunyai apa yang harus kami punyai. Jadi kami mempunyai kontrak perjanjian pranikah. Isinya adalah, aku tidak mencampur adukan hartaku dan hartanya. semuanya pure sendiri-sendiri kecuali kebutuhan rumah aku yang memenuhi semuanya. Tapi ...."
"Tapi apa Bapak, jangan buat aku penasaran," ujar Amanda dengan rasa kepo tingkat tinggi.
"Tapi semakin ke sini, aku merasa dia hanya ingin hartaku saja. Aku sudah memeriksa data dia menggugurkan calon anak kami. Kamu benar Amanda, kamu benar. Dia tidak mau punya anak karena pada saat itu setelah aku ingat-ingat, saat itu dia mendapatkan kontrak dari sebuah brand. Dia mengorbankan calon anak kami demi pekerjaan. Oh, sial!" Abimana mengusap kasar wajahnya dia menangis frustasi.
"Apa kaitannya semua yang bapak katakan tadi denganku? Tidak ada Bapak, kembalilah tidur, aku rasa bapak mengigau." pupus Amnada.
Abimana menggeleng cepat. "Tidak aku tidak mengigau. Aku kemarin melakukan itu karena aku takut ada orang-orang yang akan mencelakaimu. Pesanku padamu, terus jaga rahasia ini. Jangan sampai ada yang tahu sebelum kasus ku dnegan dia selesai. aku tidak mau kalian dalam bahaya Manda. Apa kamu mengerti? Aku hanya ingin calon anakku dan ibunya baik-baik saja." Abimana menatap perut Amanda yang bergerak.
"Apa boleh aku menyapa anakku?" tanya Abimana dengan tatapan penuh harap.
"Dia bukan anakmu Bapak. Dia anak pacarku," tampik Amanda.
"Manda, jangan bohong kamu!"
"Aku tidak bohong Bapak Abi. Bapak sendiri yang bilang kalau aku ini murahan dan suka berganti-ganti pria. Sekarang aku katakan, iya aku memang suka begitu. Kenapa? Seharusnya Bapak puas bukan?" celetuk Amanda dengan nada mempermainkan.
"Amanda, dengarkan aku. Berhenti berbohong dan berpikiran kalau aku akan merebut anakmu darimu. Tidak, aku tidak akan melakukan itu dia akan tumbuh bersama ayah dan ibunya. Iya, dia akan tumbuh menjadi anak sulungku," ucap Abimana dengan begitu yakinnya bahkan berbalik 180°.
"Candaan macam apa ini Bapak? Kamu yang menuduhku, sekarang kamu juga yang memintaku untuk terus denganku. Sudahlah jangan berperan menjadi korban padahal kamu adalah pelakunya!" Amanda menyinggung perasaan Abimana.
"Ini bukan candaan, ini adalah upayaku supaya kamu tidak mengganggu satu rencanaku dalam membongkar siapa Clarissa kedepannya. Mengertilah Manda. Aku akan bertanggung jawab tapi nanti, kalau semua ini sudah selesai." Abimana menebar janji.
__ADS_1
"Apa dia sungguh-sungguh?" pikir Amanda.