
Rumah baru dan juga suasana baru membuat seorang wanita yang tengah mengandung itu justru kesulitan untuk memejamkan mata. Amanda hanya berbalik badan berkali-kali bergeser ke kanan dan kiri. Ia gelimpungan tak menentu.
Semua perhatian yang Abimana berikan justru membuatnya tidak bisa terlelap. Ia terus memikirkan segala kemungkinan yang ada mulai dari diketahui rahasianya oleh media dan bahkan sampai pembullyan. Semua itu hinggap di kepala Amanda.
Belum lagi soal cara memberi tahukan hal tersebut kepada sang ibu. Pilihan Amanda hanyalah satu. Ia akan menyembunyikan semua status dan juga keadaannya sampai melahirkan nanti.
3 bulan ini sudah mampu ia lewati dengan santai. Ibunya masih cedera dan belum bisa mengunjunginya. Tapi nanti bila sudah sembuh? Semua bangkai itu tetap akan tercium baunya. Pun dengan rahasia yang coba Amanda sembunyikan.
"Ah, sial! Aku malah tidak bisa tidur. Rumah baru ini membuatku merasa sedikit ngeri. Oh apa lagi daun-daun di pohon belakang yang bergerak bergesekan itu. Em ... apa aku minta temani Pak Abi saja ya? Ah tapi itu tidak etis," kata Amanda bermonolog.
Ia lalu menuju ke dapur dan membuat teh hangat. Ia membuat minuman hangat untuk menemaninya duduk di depan laptop. Ia termangu memikirkan ide baru untuk membuat cerita barunya disebuah platform.
"Ah! Otakku juga ikut buntu. Apa aku kurang kenyang ya? Kalau kekenyangan itu otomatis akan cepat tertidur," gumam Amanda dengan pemikirannya.
Amanda mengira bahwa Abimana akan langsung pulang begitu saja. Padahal malam itu Abimana berencana untuk kembali. Ia hanya pulang sebentar untuk mengambil sebuah berkas kantor yang tertinggal.
Merasa tidak ada yang mengawasi, Amanda lalu kembali ke dapur dan membuat dua bungkus mi instan dengan 2 telur. Iya, ibu hamil itu agaknya memang kelaparan. Sedangkan laki-laki yang tidak sengaja menghamilinya itu baru saja tiba bertepatan dengan suapan pertama Amanda.
Jeglek!
Pintu terbuka lebar menampilkan sosok Abimana yang tentunya membuat Amanda terkejut. Ia tersedak dan terbatuk-batuk. Dengan refleks Abimana langsung menghampiri dan menepuk-nepuk tengkuk Amanda.
"Uhuk! Uhuk! Uhuk!" Amanda terbatuk sampai pipinya memerah.
Abimana langsung memberikan air minum kepada Amanda. "Hati-hati kalau makan. Aku tidak akan minta. Ini sudah malam jam 1 malam dan kamu belum tidur dan malah membuat mi begini?"
"Pak, aku tidak bisa tidur."
__ADS_1
"Tidak bisa tidur? Apa hubungannya tidak bisa tidur dengan makan mi? Tidak nyambung sama sekali." Abimana mencibir dan duduk di samping Amanda.
"Bukan begitu Bapak, aku masih belum terbiasa tinggal dan tidur sendirian di suatu rumah seperti ini. Karena itu aku berinisiatif untuk makan sampai kenyang supaya cepat mengantuk," terang Amanda menjabarkan ide cemerlangnya.
Abimana tersenyum miring. Begitu lucu di matanya melihat Amanda yang polos seperti ini. Namun, lagi-lagi ia teringat akan malam di mana Amanda meringis menangis meminta tolong.
"Ah, kenapa malam itu aku begitu dibutakan dengan memandangnya sebagai Clarissa? Ah, aku menyesal sudah menyakiti gadis sebaik dan selembut dia. Tapi ... sudah ada benihku di dalam rahimnya. Penyesalanku tidak akan menyembuhkan dan mengembalikan nama baik dan masa depannya. Yang bisa aku lakukan hanyalah mempertanggungjawabkan itu semua." pikir Abimana dengan segala sesalnya.
"Ya sudah makanlah, aku akan menemanimu sampai kamu tertidur. Tidak bagus ibu hamil begadang," tutur Abimana dengan menatap teduh wajah Amanda.
Abimana memerhatikan suapan demi suapan yang Amanda lakukan. Ia terus menatapnya seperti menginginkannya. Amanda yang sadar akan hal itu pun menawarkan.
"Bapak mau makan juga? Kalau mau saya buatkan," kata Amanda dengan canggungnya.
"Tidak, aku minta satu sendok saja ya, satu suap saja."
Tanpa izin, Abimana langsung melahap satu suapan mi instan buatan Amanda. Setelah menelannya, senyuman kecil pun hadir. Ia menatap damba mi instan tersebut.
"Saat seperti itu dia terlihat seperti anak kecil. Bukan terlihat seperti lelaki yang 11 tahun lebih tua dariku. Hemh ... aku merasa dia mengalami perubahan. Tapi apa ya ... apa yang berbeda dari dirinya?" kata Amanda di dalam hatinya.
"Bapak, apa tidak merasa jijik makan satu mangkuk, satu sendok dengan saya?"
"Jijik? Buat apa? Sebentar lagi kita menikah. Mau tidak mau, siap tidak siap, nantinya kita akan sering berbagi seperti ini. Lalu kenapa harus jijik?" tanya balik Abimana dan Amanda hanya bisa mengunci mulutnya.
"Kalau begitu biar aku yang ambil mangkuk dan sendok. Aku merasa canggung. Tidak enak dengan Bapak, saya hanya pembantu. Tidak etis rasanya jika harus seperti ini."
"Manda, aku minta biasakan dirimu."
Abimana beranjak dari duduknya dan tidak jadi meminta mi instan. Ia lalu duduk di sofa dan lebih tepatnya ia terlihat merajuk. Lelaki yang sudah tidak pantas merajuk itu justru merajuk seperti anak kecil.
__ADS_1
Amanda yang tidak enak hati pun menurunkan egonya. Tentunya bagi seorang plegmatis seperti Amanda, hal ini bisa saja memicu konflik dan dia adalah sosok yang tidak menyukai adanya konflik. Lebih cendrung mengalah dan menghindari pertengkaran.
Amanda langsung mengambil mangkuk mi tadi dan menyusul Abimana. Dengan takut dan hati-hati, ia lalu duduk di samping majikannya itu.
"Pak, saya minta maaf kalau menyinggung perasaan Bapak. Kita makan bersama ya? Bapak lapar kan?"
"Aku sudah tidak lapar," tolak Abimana yang hanya ingin mengetes sejauh mana sikap lembut Amanda.
"Kalau begitu aku juga tidak jadi makan. Biar kita sama-sama kelaparan. Aku minta maaf, aku hanya tidak terbiasa dan merasa jika aku tidak pantas mendapatkan semua ini termasuk makan dengan satu peralatan yang sama dengan Bapak."
Abimana mengulum senyumnya. Ia mendapatkan kriterianya, gadis yang lemah lembut dan baik hati. Secercah senyuman langsung ia terbitkan.
"Ayo kita makan bersama," ajak Abimana seraya tersenyum. Ia lalu refleks mengusap pucuk kepala Amanda.
Seketika itu, jantung Amanda berdebar-debar. Ia terdiam dan merasakan kehangatan yang berbeda. Seperti hujan si akhir kemarau.
Malam itu selesai makan, Abimana mengajak Amanda untuk bersantai sejenak menonton televisi. Dia tidak memperbolehkan Amanda untuk langsung tidur. Menurutnya tidur setelah makan akan menimbulkan berbagai macam penyakit.
"Aku langsung ke kamar ya Pak," pamit Amanda.
"Jangan! Enak saja, tunggu satu jam lagi. Setidaknya biarkan ususmu mencerna makanan dengan baik. Kasihan nanti anak kita kalau ibunya penyakitan dia juga akan ikut penyakitan."
"Hemh ... iyalah, aku duduk saja," ucap Amanda pasrah. Ia sudah mengantuk dan malas berdebat.
Baru 10 menit Amanda duduk sembari menonton TV, tiba-tiba saja Abimana merasakan hangat di pundaknya. Amanda tertidur dan bersandar di pundak Abimana. Bukannya mengalihkan, Abimana malah tersenyum senang.
"Percuma melarangmu untuk tidak cepat tidur, baru 10 menit dan kamu sudah bermimpi," gumam Abimana yang kemudian secara perlahan pun ikut memejamkan matanya.
Malam itu mereka nampak seperti sepasang pengantin baru. Begitu dekat dan hangat duduk bersama.
__ADS_1
~ Bersambung ☺️