
"Benar-benar sudah dipotong?" tanya Amanda yang seakan tak percaya. Ia bahkan membulatkan matanya dan nyaris melotot.
"Biasa saja matanya. Aku sudah pindah agama dan juga sudah sunat. Oh iya, aku kemarin juga sudah cerita semua sama ustadz. Katanya aku harus melakukan nikah ulang kalau anak kita sudah lahir, dan selama kita menikah dan kamu masih hamil, aku tidak boleh menyentuhmu."
Abimana mengatakan semua yang baru saja dia ketahui sari sang ustadz.
"Iya, itu benar Pak. Tapi bukannya setelah dia lahir kita akan bercerai? Aku rasa tidak perlu sampai nikah ulang. Satu kali saja sudah cukup," kata Amanda.
"Kenapa dengar dia bicara seperti ini aku jadi sakit hati? Aku keberatan dengan itu semua. Sangat keberatan. Aku sudah merelakan milikku dipotong, lalu berpindah agama. Eh, kamu malah hanya fokus dengan misimu? Lihat saja aku akan buat kamu menarik kata-kata ini." pikir Abimana.
Abimana hanya terdiam dan tersenyum simpul. Ia lalu bangkit dan meninggalkan meja makan. Dia pergi menuju ke kamar tamu yang berada dekat dengan ruang tamu.
"Apa Bapak tidak pulang?" tanya Amanda.
"Apa kamu mengusirku? Aku hanya akan tiduran sebentar, apa tidak boleh?" tanya Abimana ketika tangannya sudah menegang handle pintu. Tatapan matanya datar namun sangat dingin.
"Iya boleh Pak, dan jangan marah juga. Aku hanya bertanya, Bapak kenapa jadi mudah marah sih? Enggak suka sama aku?" tanya Amanda.
"Ya kalau enggak suka ngapain aku mau bertanggungjawab!" pekik Abimana sebelum menutup pintu depan dengan kasarnya.
Dibalik pintu.
"Apa aku salah bicara? Apa tadi aku bilang aku suka? Apa maksudnya?" batin Abimana yang masih tidak menyangka dia sendiri yang mengatakan hal tersebut.
"Emh! Emh! Emh!" Abimana mengetuk pelan bibirnya sendiri yang baru saja salah berucap.
Sementara Amanda yang berdiri di dekat meja makan pun terbengong dalam beberapa menit. "Apa tadi maksud ucapannya? Pak Abi suka sama aku begitu? Ah, tidak mungkin semudah itu hatinya sembuh. Ibu Cla saja jelas-jelas menyakitinya. Berselingkuh dan membunuh anaknya. Apa itu bisa dengan mudah dimaafkan?"
Sementara itu di sebuah diskotik.
Novan si sekretaris pribadi Abimana tengah bersantai dan menikmati setiap teguk minumannya tanpa mau diganggu oleh siapa pun. Dia berada di tengah keramaian namun hatinya merasa sepi. Ini adalah dampak menjadi jomblo menahun.
__ADS_1
"Aku kalau ketemu sama kamu Abi, bakal aku tonjok wajahmu itu. Aku bekerja dengan gaji standar tapi kesibukanku mengalahkan kesibukan dewan DPR. Argh ...! Kalau ketemu habis kamu Abi. Kemana kamu hampir sebulan ini menghilang dan hanya menghubungiku lewat telepon hah!" sentak Novan seorang diri di tengah keramaian.
Hingga di saat seperti itu, Abimana justru menghubunginya dan hal itu membuat emosinya kembali memuncak. "Yak! Bajingan! Bedebah! Kenapa menelponku? Apa tidak tahu aku ini ingin bersantai?"
"Biarkan saja aku tidak akan mengangkatnya. Biar saja!" teriak Novan marah-marah.
Namun, beberapa detik setelahnya ....
"Sial! Kalau tidak aku angkat dia bisa memotong gajiku lagi. Padahal ini di luar jam kerja!" geram Novan yang bahkan sampai meninju-ninju udara.
"Ehem!" Novan menyetel suaranya agar terdengar merdu dan tak ada jejak mendumel.
"Selamat malam Abi, ada apa?" tanya Novan dengan senyuman palsunya.
"Oh, Novan. Besok pagi tolong bawa berkas yang butuh aku tanda tangani ke rumah ya. Aku belum bisa ke kantor, kali ini aku sedang sakit," kata Abimana.
"Apa! Kamu sakit Abi? Sakit apa!" seru Novan yang begitu terkejut. Kali ini dia berbicara dengan nada sebagai kawan.
"Ah hanya sakit yang membuatku susah berjalan. Pokoknya kamu datang besok, aku tunggu." Abimana memberikan perintah.
"Makanya ke rumah biar kamu tahu. Sudah aku mau tidur dulu," kata Abimana seraya menyudahi panggilannya.
Setelah menghubungi Abimana, hanya berbaring dan menatap langit-langit kamar yang tak begitu luas seperti di rumah besarnya. Kepalanya berdenyut hebat bila sudah memikirkan soal pekerjaan. Pasalnya perusahaan miliknya sudah mendekati garis kebangkrutan. Itu sebabnya, jabatan mereka merangkap.
Seperti Novan yang menjadi sekretaris dan juga sebagai manager pemasaran. Oh sungguh suatu hal yang rumit dan hal itu juga yang membuatnya stres. Akan tetapi, Novan yang juga punya saham di dalamnya.
"Perusahaan sepertinya tidak bisa bertahan lama. Ini bukan jamannya lagi produk tersebut. Aku akui produkku kalah saing secara tampilan maupun komposisi bahan. Ah, kepalaku seperti mau pecah saja."
"Kalau semua itu runtuh, lalu apa yang akan aku lakukan? Saham kami merosot tajam. Dijual juga sama sekali tidak ada penawaran. Apa sebaiknya aku melakukan pelelangan saja, lumayan uangnya bisa aku gunakan untuk memberikan gaji kepada karyawan untuk yang terakhir kalinya." Abimana berpikir sendirian di tengah ancaman kehancuran.
*
*
__ADS_1
*
Sementara itu di kediaman Abimana, di rumah besarnya. Ibu Ninik datang dengan maksud ingin menjenguk anak sulungnya yaitu Amanda. Keadaannya sudah jauh lebih baik dan sudah bisa berjalan lagi meski dengan bantuan tongkat.
"Pak Endro, assalamualaikum, apa kabar?" sapa bibik Ninik.
"Walaikumsallam Bik, eh tumben ke sini?" tanya Pak Endro dengan jantungnya yang berdetak kencang. Ia takut kelepasan mengatakan keberadaan Abimana yang sesungguhnya.
"Iya ini Bibik kangen sama Manda, jadi jenguk dia. Apa ada?" tanya Bik Ninik.
"Tidak ada, sedang pergi bersama Bapak katanya. Bapak ada urusan di luar kota, tapi Bibik tahu kan kalau Bapak tidak bisa makan masakan orang asing? Jadinya Manda dibawa," jawab Endro.
"Owalah, tapi kok enggak pamit sama aku ya Pak Abinya," tanya Bik Ninik dengan tatapan kecewa menatap ke arah dalam sisi rumah.
"Lupa paling Bu sangking sibuknya. Maklumlah, Bapak banyak sekali yang akan diurus. Jadi ya ... kita yang harus memaklumi," kata satpam Endro.
Bibik Ninik mengangguk pasrah. "Ya sudah kalau begitu saya permisi."
"Iya Bu," balas satpam Endro.
Satpam Endro langsung mengabarkan perihal kunjungan Bibik Ninik. Dia yang sudah mendapatkan mandat pun sama sekali tidak mau melewatkan momen tersebut. Hingga Abimana yang sebelumnya ingin melangkahkan kakinya menuju ke luar rumah tiba-tiba terbuka.
"Ah, tidak jadi. Masih ada kemungkinan kalau dia akan mencariku lagi," batin Abimana yang pada akhirnya membatalkan niatnya untuk pulang.
"Aku tidak jadi pulang, buatkan aku kopi!" seru Abimana seraya duduk di ruang tamu dengan mengunci pintu.
"Kenapa tidak jadi?" tanya Amanda sembari menyuguhkan kopi dan membungkuk dengan perut besarnya. Melihat kondisi Amanda, Abimana merasa iba dan dia langsung menepuk sisi kosong di sebelahnya.
"Sini, duduk dulu."
"Ada apa Pak?" tanya Amanda pemasaran.
"Ibumu datang ke rumah."
__ADS_1
"Apa! Ibu?" pekik Amanda. "Bagaimana dong?" raut wajahnya berubah panik.