
"Entahlah, malah ada saja yang terjadi di luar dugaan. Hemh ... aku harus menghubungi Novan supaya dia putar arah," kata Abimana pelan seraya mengotak-atik ponselnya.
"Aku tidak bisa membayangkan kalau ibu yang baru sembuh sampai mengetahui keadaanku yang sebenarnya. Ah ... semua ini gara-gara Bapak!" tukas Amanda kesal.
Abimana menoleh dan menatap kes Amanda. "Aku tahu aku salah tapi tidak usah dibahas lagi. lagian aku juga sedang berusaha untuk mempertanggungjawabkan semua yang aku lakukan."
Pada akhirnya Abimana dan Amanda hanya bisa menghela napasnya bersama. Mereka saling bertukar pandang dan kembali membuang pandangan. Keduanya saling menyalahkan dan terus saja begitu.
"Seharusnya tidak usah repot-repot bertanggungjawab. Aku sudah bilang mau pergi." Amanda kembali membahasnya.
"Hentikan Manda, itu semua sudah menjadi pilihanku. Pesan dari mendiang ibuku yang memintaku untuk bertanggungjawab terhadap anak dan istriku supaya tidak seperti ayahku. Jadi kamu jangan membahas ini. Kita hanya harus terus bersembunyi dan menunggu aku mendapatkan putusan perceraian itu. Sudahlah aku harus menemui Novan di luar. Aku tidak mau ada yang tahu tentang kamu di rumah ini."
Amanda hanya diam dan memberikan anggukan kecil. Abimana sudah melangkah beberapa langkah dan ia kembali lagi. Ia melupakan sesuatu.
"Ah ada yang lupa," gumamnya.
"Apa?" tanya Amanda terheran.
"Kopi, aku belum minum kopiku." Abi kembali dan menyesap kopinya. Ia melirik sekilas ke arah perut buncit Amanda.
"Manda, sebenarnya mantra apa yang kamu baca?"
"Mantra?" tanya Amanda terheran.
"Iya, aku jadi sering ingat dan memikirkan kalian. Terlebih dia. Oh iya, satu bulan lagi kita harus memeriksakannya. Kamu makan yang banyak ya biar anak kita sehat," kata Abimana dengan penuh makna.
"Iya, tapi mau bagaimana juga perutku sudah terasa penuh walau makan sedikit saja. Ini karena lambungku sudah tertekan dengan janin dan juga air ketuban." Amanda mengusap perutnya dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Apa boleh aku mengusapnya lagi?" tanya Abimana sebelum menyentuh perut calon istrinya.
"Boleh, ah aku sudah bilang, kamu punya hal untuk menyapanya. Jadi lain kali tidak usah minta izin lagi. Kamu ayahnya.
"Oh, bagus sekali. Aku akan sangat mengingat kata-katanya yang satu ini. Aku tidak perlu meminta izin karena aku adalah ayahnya," pikir Abimana dengan begitu senang. Dia mendapat kata-kata keramat yang akan ia gunakan sebagai password di kemudian hari.
Abimana langsung mendekat dan mengusap lembut perut Amanda. Sedangkan Amanda bersandar pada sofa dan membuang pandangannya. Dia tidak mau ikut terbawa suasana dan dinilai mencari kesempatan untuk meraup keuntungan.
"Hai anak ayah, ayah sudah sunat. Sebentar lagi mungkin ayah dan kamu akan bersama-sama belajar sholat. Em, nanti kalau kita ada yang tidak tahu, kita tanyakan pada ibu ya? Ayahmu ini tidak mengerti apa-apa tentang agama ini. Ibumu justru sudah sangat tahu. Jadi nanti jangan ejek ayah ya, kalau ayah tidak pas dalam menasehatimu," kata Abimana pelan yang membuat Amanda perlahan tergerak untuk turut serta dalam percakapan tak berbalas itu.
"Pak, dia ini masih sangat kecil. Mana tahu dia soal seperti itu?"
Abimana tersenyum. "Manda, apa kamu tidak tahu betapa ajaibnya tangan seorang ayah terhadap tumbuh kembang anaknya bahkan sejak dalam kandungan?"
Manda menggeleng pelan dengan tatapan matanya yang begitu polos.
"Punya hape mangkanya buat baca-baca, cari informasi yang penting, bukan cuman joget-joget doang. Oh iya, kamu juga harus rajin membaca ya, supaya anak kita nantinya juga punya minat yang sama."
"Kamu mengomel seperti ini seolah kita mau hidup bersama terus. Lagian pintar atau tidak anak ini juga kan hanya akan menjadi urusanku saja. Aku sadar posisi Bapak, jadi sudahlah jangan terlalu berlebihan," tepis Amanda.
"Aku tidak berlebihan Manda, tidak. Aku sampai mati pun akan tetap menjadi ayahnya, entah kamu suka atau tidak, kamu kasih izin atau tidak, aku tetaplah ayahnya," kata Abimana yang menggetarkan hati Amanda.
"Ah, sudahlah aku mau kembali bekerja," putus Amanda menyudahi percakapan itu dan dia berdiri begitu saja.
"Bekerja? Memangnya bekerja apa kamu selain membersihkan rumah?" tanya Abimana namun Amanda sama sekali tidak menjawabnya.
...****************...
Di rumah kecil Manda.
__ADS_1
"Bagaimana Bu, ketemu sama Mbak?" tanya Aska saat malam hari di mana mereka berdua tengah berbincang di dalam kegelapan.
Sebenarnya kedatangan bik Ninik hari itu ke rumah Abimana adalah untuk membicarakan soal listrik di rumahnya. Ia datang dengan maksud untuk meminjam uang kepada Abimana untuk menebus listrik yang tertahan oleh pihak PLN lantaran ia menunggak selama beberapa bulan. Akan tetapi dia sama sekali tidak mendapatkan apa-apa hari itu.
"Tidak Le," jawab Bik Ninik menggeleng pelan dengan tatapan lesu.
"Kata pak Hendro mbakmu pergi bersama dengan pak Abi. Pak Abi mengajaknya sama seperti dia yang dulu terkadang mengajak ibu saat bepergian hanya untuk membuatkan beberapa menu masakan. Perutnya sangat sensitif dengan makanan luar."
"Lalu apa nomornya Mbak tetap tidak bisa dihubungi Bu? kita tidak bisa terus-terusan membiarkan rumah kita gelap-gelapan seperti ini. aku juga butuh penerangan untuk belajar dan mengecas hp-ku. Kalau tidak aku akan banyak ketinggalan informasi dari guru dan teman-temanku," keluh Aska.
"Iya ibu tahu akan hal itu ibu harap kamu bersabar dulu ya? Besok ibu akan mencari pinjaman dulu untuk menebus listrik di rumah kita ini. Yang penting kamu hanya fokus belajar saja," ucap Bik Ninik dengan lembutnya sembari mengusap pucuk kepala Aska.
"Iya Bu," jawab Aska si anak penurut.
"Kamu sedang apa Nduk? Kamu biasanya tidak bisa selama ini jauh dari ibu dan adikmu. Tapi kenapa semenjak bekerja menggantikan ibu malah kamu tidak pernah pulang seolah tidak merindukan kami lagi? Ada apa Nduk? Perasaan ibu kok jadi tidak enak begini," batin Bik Ninik dengan kegelisahannya.
Sampai malam hari, Amanda terus saja kepikiran soal ibunya. Dia merasa ada yang aneh dengan ibunya. Biasanya bik Ninik hanya akan bicara atau melakukan sesuatu bila perlu, lalu kalau dia datang ke kediaman Abimana apa keperluannya?
Amanda keluar dari rumah di jam 9 malam. Ia lalu menemui Pak Ali sopirnya. Amanda ingin Pak Ali mengantarkannya menuju ke kediamannya.
"Pak Ali!" seru Amanda sembari memegangi perutnya.
"Iya ibu, apa ibu mau melahirkan?" tanya Pak Ali yang sedikit bingung bercampur heran.
"Belum, antarkan saya ke suatu tempat," jawab Amanda seraya tersenyum tipis.
"Siap! Sekarang kan?" tanya Pak Ali yang begitu bersemangat.
"Iya, masak 5 tahun lagi, kayak pilpres aja," ketus Amanda menjawabnya.
__ADS_1