Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
13. Apa yang Abimana Mau


__ADS_3

Setelah berbicara dengan sang ibu, Amanda lalu kembali masuk ke dalam kamar rawat inap Abimana. Baru saja dia mau duduk, pintu ruangan itu diketuk dan datang dua pembesuk yang merupakan bagian keluarga dari Abimana. Paman dan bibi Abimana seketika datang kala mendengar kabar tersebut dari Satpam yang bertugas.


Suara ketukan pintu membuat Amanda bangun dengan perlahan. Dia berjalan dengan lututnya yang lemas setelah melihat kejadian mengerikan tadi. Amanda adalah saksi kunci dari pertengkaran suami istri tadi.


"Pak, Bu," sapa Amanda kepada Paman dan tante majikannya.


"Manda, kamu yang menunggu?" tanya Tante Mila, adik dari mendiang ibu Abimana.


"Iya Bu, saya. Ibu saya sedang sakit, dia jatuh dari tangga waktu itu. Jadi saya yang menggantikannya bekerja di rumah tuan Abi." Amanda menjawab dengan sopan.


Tante Mila mendekati Abimana dan mengusap lembut kening keponakannya itu. Dia datang bersama suaminya, paman Rudi. Sampai detik ini masih tidak ada yang mengetahui jika Markus dan Clarissa berselingkuh. Abimana masih merahasiakan hal tersebut.


"Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa sampai seperti ini Manda, apa kamu melihat saat mereka bertengkar?" tanya Paman Rudi yang begitu kasihan melihat keponakannya.


Amanda menunduk, dia takut salah berucap dan lebih memilih untuk menutup mulutnya rapat-rapat. "Saya tidak begitu mengerti Bu, sebaiknya Ibu tanyakan langsung kepada Bapak Abimana."


"Pak, Bu. Saya pamit dulu ya, mau mencari makan dulu," pamit Amanda yang sebenarnya dia tidak mau banyak terlibat dalam permasalahan rumah tangga majikannya.


"Oh, iya silahkan. Gantian, nanti saat kami pulang, kamu bisa menjaganya lagi untuk kami," kata Tante Mila yang notabene memang perempuan berhati lembut.

__ADS_1


Amanda berpamitan dan keluar meninggalkan ruang rawat dengan perasaan berkecamuk. Separuh hatinya ingin berkata jujur. Namun separuh hatinya yang lain ingin dia tutup mulut demi keselamatan.


"Ah, Tuhan. Semoga sudah benar apa yang aku pilih ini. Aku tidak mau terlibat lebih jauh lagi dengan semua masalah yang terjadi." Amanda berbicara pelan dan terus berjalan menuju kantin dengan hatinya yang gelisah.


Bahkan sampai setelah dia selesai makan pun, pikirannya masih tertuju kepada Abimana. Ada kecemasan tersendiri di dalam hatinya. Setiap kali melihat keadaan Abimana yang tidak berdaya, dia merasakan desiran tersendiri. Hanya saja Amanda selalu berusaha untuk menepisnya.


"Aku hanya harus tahu diri. Ingat Amanda, dia itu pernah berkata dengan sangat jelas bahwa dia tidak ingin mengakui anak yang ada di dalam perutmu. Jadi kamu harus tahu diri, tidak akan bahagia seorang anak bila kehadirannya tidak diharapkan." kata hati Amanda dengan mengusap perutnya yang mulai berdenyut.


"Harus bagaimana ibu ini Nak? Kamu semakin besar ada di dalam sana. Sementara ibu tidak punya apa-apa. Sebenarnya ibu ingin pergi jauh membawamu, tapi ibu juga sadar semua itu butuh uang. Harus cari ke mana ibu uang untuk kehidupan kita nantinya? Kita tidak bisa menetap di rumah Pak Abi, kita harus pergi dari sana secepatnya," kata Amanda dengan berurai air mata.


Di saat ia bersedih dan bimbang seperti itu, ponselnya berdenting tanda sebuah pesan masuk. Betapa terkejutnya dia saat melihat nominal angka yang ada di ponselnya itu. Amanda ingat, dulu dia suka mengikuti kontes membuat novel online dan juga desain logo untuk sebuah lembaga besar yang berdiri di luar negeri.


"Ini rejekimu Nak, rejekimu Sayang. Ibu hanya harus lebih menyayangi kamu lagi rupanya. Kamu pembawa keberuntungan bagi ibu. Dengan uang ini kita bisa membayar hutang dan pergi dari rumah tuan Abimana. Iya, kita bisa melakukannya. Terima kasih Tuhan," kata Amanda dengan menangis terharu dan terus berucap syukur.


Saat hendak kembali ke ruang rawat, dia melihat wanita berpakaian muslim sangat rapat dan sampai lemak di perutnya tidak terlihat. Amanda menunduk, melihat perutnya yang semakin membesar. Ia lalu melangkah menuju ke sebuah toko pakaian wanita muslim.


Malam itu, entah hidayah seperti apa yang dia dapatkan, dia langsung berganti pakaian, dan menutup auratnya. Sebenarnya niat utamanya adalah untuk menyembunyikan perutnya yang semakin membesar. Amanda itu salah, tapi itu juga jauh lebih baik dari pada dia mengumbar aib. Itu pemikirannya.


Perlahan, dia kembali ke ruangan di mana Abimana di rawat. Lelaki itu rupanya sudah sadarkan diri. Begitu Amanda masuk, ia langsung menatapnya dengan tajam dan aneh, seperti Abimana tengah memindai penampilan Amanda.

__ADS_1


"Dari mana kamu? Kenapa berpakaian seperti itu?" tanya Abimana penuh selidik.


"Em, aku habis mencari makan. Bapak, saya mau bertanya soal hutang ibu saya. Masih berapa juta ya? Kalau saya tidak salah ingat, masih 10 juta? Apa bisa malam ini saya lunasi?" tanya Amanda yang membuat Abimana semakin membeliakan matanya.


"Dia mau membayar hutang ibunya? Uang dari mana? Sedangkan dia mau bayar kuliah dan membeli lauk aja tidak bisa. Apa benar dia ada lelaki lain yang menopang hidupnya selain aku? Apa benar itu? tanya Abimana dalam hatinya. Dia semakin curiga dan juga kesal akan apa yang Amanda lakukan.


"Uang dari mana kamu mau membayar itu?" tanya Abimana dengan sinisnya.


"Anak saya ini membawa rejeki. Juga pacar yang saya bilang waktu itu dia memberikan uang untuk biaya bersalin nantinya dan saya pikir uangnya akan sisa banyak kalau hanya untuk bersalin. Jadi saya memutuskan untuk melunasi hutang ibu saya dan dia memperbolehkannya. Seharusnya Bapak senang saya akan segera pergi dari hadapan Bapak sehingga Bapak tidak perlu mengusir saya saat saya melahirkan anak pacar saya ini," kata Amanda yang semuanya bertentangan dengan fakta.


Entah mengapa, ada perasaan aneh dalam diri Abimana. Darahnya berdesir dan mendidih setiap kali Amanda menyebutkan soal pacarnya. Seperti dia sedang merasakan kecemburuan.


Hal itu sangat aneh, sebelumnya dia sendiri yang meminta Amanda untuk menutup mulut dan menggugurkan kandungan. Sekarang ketika Amanda berbohong dan mengatakan kalau dia hamil anak orang lain, Abimana pun sakit hati. Sebenarnya apa yang Abimana mau?


"Sombong sekali kamu ini. Kamu banggakan sekali pacarmu itu. Mana orangnya, saya mau ketemu dengannya," tantang Abimana.


"Buat apa Bapak bertemu dengan dia? Saya hamil ini adalah urusan pribadi saya. Dia memberi uang kepada saya juga urusan pribadi saya. Bapak tidak bisa ikut campur. Saya hanya mau membayar hutang dan semuanya selesai termasuk hubungan kerja kita. Saya akan melahirkan dan tidak bisa bekerja. Ibu saya juga masih cacat dan juga tidak bisa bekerja. Jadi emang kami ini harus pergi," kata Amanda panjang lebar.


"Tidak!" sentak Abimana kuat-kuat hingga urat lehernya terlihat.

__ADS_1


__ADS_2