
"Kamu suka juga ternyata makan udang," cicit Abimana saat melihat Amanda yang melahap banyak makanan.
"Protein bagus untuk perkembangan otak. Aku minta kamu makan protein buang banyak demi anak kita. Bagaimana kalau setelah ini kita langsung saja ke dokter kandungan. Aku ingin melihatnya, apa tangan dan kakinya sudah ada?" tanya Abimana dengan sangat penasaran.
Amanda mengangguk pelan sembari menyelesaikan mengunyah udang yang ada di dalam mulutnya. Ia masih saja menunduk dan tidak berani menatap sang majikan yang merupakan ayah dari janin yang ia kandung. Amanda merasa tidak pantas bahkan untuk duduk berdua.
"Pelayan! Bungkuskan semua menu yang sama seperti apa yang kami makan ini," titah Abimana ketika pelayan menghampiri mejanya.
"Pak Abi, jangan. Itu terlalu berlebihan. Tidak usah, bagaimana juga nanti aku memberikannya ke pada ibu? Aku sedang hamil begini, sedangkan ibu tidak tahu dan dia pasti akan marah kalau mengetahui keadaanku."
"Tenang saja, ada kurir. Tidak usah terlalu mencemaskan hal itu," jawab Abimana dengan santainya.
"Hufh ...." Amanda mendesah kecil dan mengusap dadanya. Ia baru bisa kembali bernapas lega setelah sebelumnya ia panik bukan main.
Abimana terdiam mengamati Amanda yang pakaiannya hanya itu-itu saja. Kini ada getaran aneh yang membuatnya tidak mengijinkan wanitanya tampil buruk. Padahal saat ini Amanda bahkan belum menjadi istrinya, namun Abi sudah mencarikan rumah yang lengkap dengan satpam dan juga mobil beserta sopir. Hanya saja untuk urusan anak Abimana tidak ingin memperkerjakan baby sitter. Ia ingin menjaga anaknya sendiri.
"Hari ini jadwal kita padat sekali. Mumpung aku belum ada panggilan sidang, aku ingin mengantarmu ke rumah barumu. Em ... untuk baju gantimu, sebaiknya kamu pilih online saja. Aku tidak mau ada orang yang tahu tentang kita." Abimana mulai menjabarkan kegiatan mereka nantinya.
"Iya aku tahu memang aku tidak pantas untuk diketahui banyak orang. Setidaknya ada nama ayah di akta kelahiran anakku saja aku sudah senang. Aku tahu adanya nama ayah itu sangat berpengaruh terhadap pembentukan masa depan terlebih jenjang pendidikan anakku nantinya. Untuk hal ini aku tidak berharap banyak." batin Amanda sendu.
Agenda pertama setelah makan, mereka langsung menuju ke klinik kecil. Amanda dan Abimana melakukan USG, mereka memeriksakan kandungan Amanda. Ini adalah kali pertama bagi Abimana mengintip sang calon buah hati.
Klinik kecil yang mereka pilih itu rupanya mempunyai bangunan luas di belakangnya. Hanya bagian depannya saja yang nampak mungil. Untuk kualitas USG-nya saja sudah yang 3D.
Nampak begitu jelas hidung dan semua anggota tubuh calon buah hatinya yang merupakan bayi laki-laki. Abimana tak henti-hentinya mengembangkan senyuman. Pancaran kebahagiaan itu tercetak jelas di wajahnya.
"Anak pertama ya Pak?" tanya Dokter yang bertugas.
__ADS_1
"Iya Bu Dokter. Bagaimana sehat semua kan?" tanya Abimana.
"Panjangnya bagus, lingkar kepala juga bagus, detak jantung bagus, hanya saja berat tubuhnya kurang. Ibunya apa masih mengidam? Ini sudah 5 bulan loh, di kejar ya Bu, banyak makannya. Apa yang suka makan saja. Lumayan kurang banyak ini bayinya," kata Dokter yang memberikan nasihatnya.
"Baik Dok," jawab Amanda lirih dengan sesekali ia melemparkan tatapan canggung kepada Abimana.
"Benar dugaanku, selama ini aku terlalu jahat sama dia. Aku sudah salah dengan memintanya untuk mengugurkan calon anak ini. Sekarang aku menyesal pernah meminta dia melakukan itu. Harusnya dari awal aku bertanggungjawab. Tadinya aku sibuk menjaga perasaan Salma. Akan tetapi kenyataannya justru Salma sudah berselingkuh dariku sejak lama dan menggugurkan calon buah hatiku sebanyak dua kali. Aku menyesal melakukan semua kejahatan itu sama kamu Manda," kata hati Abimana yang meraung-raung menyesali perbuatannya.
...****************...
"Nih! Makan," kata Abimana sembari menyodorkan sebuah es krim.
"Pak Abi, Aku sudah kenyang. Masa iya harus makan lagi?" protes Amanda.
"Kamu tidak dengar tadi apa kata Dokter? Harus dikejar supaya berat badan bayinya normal. Ayolah, aku sudah cukup menyiksa kalian selama ini, jadi sekarang biarkan aku menebusnya." Abimana membujuk Amanda.
"Tapi setelah ini sudah ya?" ujar Amanda bernegosiasi. Ia memasang wajah memelasnya.
"Sekalinya perhatian sangat ketat sekali. Kalau di suruh makan terus aku bisa gemuk mendadak," gerutu Amanda dalam hatinya.
Mereka berdua terus saja melaju menuju ke sebuah rumah sederhana. Amanda hanya diam saja lantaran mengira Abimana ada urusan sendiri. Ia memilih cuek sembari terus melahap es krimnya.
Abimana melepaskan sabuk pengaman. Ia pun melepaskan sabuk pengaman Amanda. Sontak Amanda yang tengah makan es krim pun terheran. Ia mengamati ke sekitar namun tidak bertanya.
"Rumah itu bagus ya?" tanya Abimana yang ingin mengajak Amanda berbincang.
"Iya, bagus." Amanda menjawabnya sekedarnya saja.
"Dia sama sekali tidak terlihat menginginkan apa pun," batin Abimana.
__ADS_1
"Rumah itu buat kamu. Sudah ada mobil dan sopir di dalamnya. Rumah itu sudah ada isinya. Beberapa hari ini aku tidak akan ke sini mungkin sampai sidangku selesai."
"Rumah itu buatku? Pak, aku malu. Semua itu tidak pantas buatku. Sudahlah aku bisa tinggal di rumah Bapak saja sampai kita menikah nanti."
Abimana menggeleng. "Tidak, sebaiknya kita berpisah tempat dulu seperti apa yang sudah kita bicarakan. Aku tidak aku kamu dan calon anak kita ikut menuai masalah. Kamu tahu bagaimana sikap Markus dan juga keluarga Clarissa bukan?"
"Iya, aku tahu," pelan Amanda menyahut.
"Ayo turun, kita lihat isinya. Aku hanya membelinya secara online dan meminta jasa tukang bersih-bersih rumah untuk menatanya. Kalau kamu merasa ada yang kurang sebaiknya katakan ya, jangan sungkan," ucap Abimana yang terdengar begitu berwibawa di telinga Amanda.
"Kenapa saat berbicara begini dia terlihat sangat berwibawa? Kenapa juga aku tiba-tiba berdebar seperti ini?" pikirnya.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah dan memeriksa semuanya. Keadaan rumah masih sangat bagus dan memang rumah tersebut baru beberapa bulan ditempati oleh pemiliknya. Terpaksa dijual karena si pemilik terlilit hutang.
"Rumah ini baru Pak?" Amanda bertanya sembari mengendus aroma cat yang masih begitu menyeruak.
"Iya, baru. Pemiliknya terbelit hutang."
Abimana membuka satu pintu kamar utama yang ukurannya tidak begitu luas namun sudah ada kamar mandi di dalamnya.
"Ini nantinya adalah kamar kita," ucap Abimana tanpa rasa canggung sedikit pun.
"Ru ... rumah kita? Bukannya kita akan tinggal secara terpisah?" tanya Amanda yang ingin memperjelas maksud ucapan Abimana sebelumnya.
"Iya aku akan tinggal secara terpisah denganmu, tapi ... itu sebelum aku ketuk palu. Setelah itu ya kita akan tinggal bersama. Memangnya siapa yang akan membantumu menjaga bayi kita kalau bukan aku?"
Glek .... Amanda menelan ludahnya perlahan. Ia merasa kehabisan kata-kata saat ini.
"Tinggal bersama?" batinnya keheranan.
__ADS_1
~ Bersambung ☺️