Mengejar Cinta Pembantuku

Mengejar Cinta Pembantuku
19. Amanda Bilang Ya


__ADS_3


Terdiam beberapa saat di dalam kamar tamu berdua. Amanda sama sekali tidak mempunyai pilihan lain selain menerima pertanggungjawaban dari Abimana. Tidak sekarang memang, tapi Abimana ingin Amanda menerima niat baiknya.


"Kalau aku menolaknya, lalu bagaimana aku akan menghadapi semua ini sendiri? Aku tidak akan bisa menghadapi kemarahan ibu sendirian. Belum lagi kalau penyakit ibu nanti kambuh karena itu. Ah, aku harus bagaimana? Kalau aku menerimanya, bagaimana bila setelah ini dia hanya akan mengambil anakku lalu membuangku?" pikir Amanda dengan segala kecemasannya.


"Manda, jangan keras kepala. Anak ini butuh sosok ayah dan aku akan bertanggung jawab penuh atas dia dan kamu. Aku tidak sejahat itu Amanda. Jika nanti kamu tidak ingin bersamaku setelah anak ini lahir, maka tidak apa-apa, yang terpenting dia sudah mendapatkan status dan mempunyai ayah." Abimana memaparkan fakta yang sebenarnya akan tujuannya.


"Jadi maksud Bapak, setelah anak ini lahir Bapak akan menceraikan aku?" tanya Amanda dengan matanya yang sudah berkaca-kaca. Entah mengapa membayangkan hal itu saja sudah membuat matanya terasa panas dan menggenang.


"Manda, jika kamu ingin aku pergi setelah bertanggungjawab, maka aku akan pergi meninggalkan kalian. Karena aku tahu, suatu hubungan yang dipaksakan itu tidak akan berjalan dengan baik." Abimana berbicara penuh dengan penekanan. Mimik wajahnya terlihat sekali bila dia berharap Amanda akan mengerti dengan semua maksudnya.


"Iya baiklah, tapi setidaknya nanti saja kalau urusan perceraian Bapak sudah selesai. Aku tidak mau dicap sebagai wanita perebut suami orang. sedangkan di sini aku hanya sebagai korban," kata Neta pelan.


"Kenapa aku senang sekali mendengar dia berkata seperti itu? Kenapa perasaannya seperti aku akan mendapatkan kebahagiaan baru? Hal ini begitu melegakan," batin Abimana.


"Baik, sekarang kamu makan ya. Ini sudah mau Magrib, dari tadi kamu belum makan," kata Abimana seraya berdiri dan berbalik.


Mata Amanda membulat saat melihat punggung Abimana yang mengeluarkan darah lagi dan membekas di bajunya, menempel meninggalkan jejak merah basah di bajunya yang berwarna biru toska. "Pak, punggung Bapak berdarah. Bapak tadi mengangkat saya ke sini?"


"Iya, oh ini bukan apa-apa. Aku bisa mengobatinya sendiri. Kamu makanlah aku akan berganti baju. Besok setelah dari pengadilan aku akan mengantarmu untuk memeriksakan kandungan."


Abimana berbicara dengan sangat tenang dan berlalu begitu saja. Ia masuk kembali ke dalam kamarnya meninggalkan Amanda yang hanya bisa terdiam menatapnya. Ada perasaan iba saat melihat pria yang sebenarnya baik itu berusaha untuk sembuh seorang diri.


"Sebenarnya Pak Abi itu baik. Baik sekali malah, hanya saja karena kesalahannya di malam itu ... aku ... ah, sudahlah sudah terlanjur terjadi. Aku bisa apa selain membesarkan kamu Nak," gumam Amanda yang tersenyum getir sembari mengusap perutnya.

__ADS_1


Amanda berjalan keluar dan langsung menuju ke meja makan. Dia tersenyum melihat masakan yang terbilang sangat enak baginya. Wajahnya seketika berbinar cerah mana kala melihat dua kotak makanan yang tertata rapi menantinya.


"Apa ini semuanya untukku? Tapi sepertinya Bapak Abi juga belum makan," batin Amanda. Ia mendongak menatap ke kamar Abimana.


"Ah, lupakan saja. Aku makan saja sendiri, aku tidak mau dinilai sebagai wanita yang suka memanfaatkan dan mencari keuntungan dari kebaikan orang lain. Cukuplah apa yang diberi maka aku akan terima." Amanda duduk dan menyantap makanan yang Abimana beli untuknya.


Setelah selesai makan, Amanda kembali menuju ke kamar pembantu yang memang biasanya ia singgahi. Betapa terkejutnya dia saat melihat barang-barang miliknya sudah tidak ada lagi. Bahkan laptopnya pun sudah tidak ada lagi di meja kecil yang ada di sana.


Ia beralih membuka lemari pakaian dan bajunya pun sudah tidak ada di sana lagi. Amanda kebingungan dia mau mandi tapi pakaiannya tidak ada. Segera dengan langkah lebarnya ia menuju ke kamar Abimana untuk menanyakan keberadaan barang-barang miliknya.


Tok!


Tok!


Tok!


"Bapak!" pekik Amanda terkejut.


"Apa? Jangan keras-keras ngomongnya, aku belum tuli," kata Abimana.


"Ke ... kenapa tidak pakai baju?" Amanda tertunduk dan bahkan menutupi matanya dari pemandangan yang mengingatkan dirinya akan kejadian pahit malam itu.


"Aku baru mengobati lukaku tadi, kenapa ada apa?"


"Em, barang-barang dari kamarku semuanya tidak ada. Apa Bapak tahu?" tanya Amanda yang masih tertunduk.

__ADS_1


"Oh, barang-barangmu aku pindahkan ke kamar sebelah."


"Ka-kamar sebelah itu bukannya kamar bayi? Maksud saya kamar yang Bapak persiapkan sebagai kamar calon anak Bapak," ralat Amanda.


Abimana berjalan menuju ke kamar yang tadinya dia persiapkan untuk calon anak mereka. Sementara Amanda mengekor di belakangnya. Pertama kali terbuka pintu tersebut, Amanda langsung terkesima.


"Wah ...! Pak, kamarnya sebagus ini? Pak saya pindah ke kamar saya saja ya, ini berlebihan dan tidak pantas buat saya."


Abimana masuk ke dalam kamar itu seakan dia ingin melakukan room tour. "Sudahlah, kamu itu mengandung anakku 'kan? Jadi apanya yang berlebihan? Kamar ini dan semua isinya layak untuk anakku. Kamu tinggal di kamar ini juga 'kan nantinya akan mempermudah saya. Kalau bayi menangis saya akan langsung dengar."


"Tapi, masih lama. Masih beberapa bulan lagi," kata Amanda pelan.


"Kandunganmu katanya sudah 5 bulan, berarti tinggal 4 bulan lagi. Aku mungkin selesai sidang sekitar 2 bulanan. Selesai sidang aku mau kita langsung menikah. Aku tidak mau terlalu lama menundanya."


Amanda menatap ragu Abimana. Dia tidak yakin dengan keputusan seorang Abimana. yang berbeda agama dengannya. "Tapi Bapak non muslim."


Abimana mengusap wajahnya kasar. Dia sampai lupa akan hal itu. Abimana adalah seorang Kristiani sementara Amanda adalah muslim.


"Aku yang akan masuk ke dalam agamamu demi anakku. Aku tahu kamu tidak akan mau pindah agama." Abimana menatap serius Amanda yang terkejut.


"Pak, jangan main-, ini tentang sesuatu yang serius. Ini soal agama loh," tegur Amanda mengingatkan.


"Aku sudah memilih dan memikirkan semua ini selama berbulan-bulan Amanda. Dari semenjak kamu mengatakan kamu hamil itu aku sudah memikirkan semuanya. Memang aku yang bersalah, jadi aku yang harus bertanggungjawab. Sudahlah, kamu tempati saja kamar ini. Aku akan pergi mengurus kebutuhan sidang besok." Abimana menyudahi rundingan mereka.


"Iya." Amanda menyahuti pelan tanpa mengangkat wajahnya. Jantungnya saat ini sedang tidak karuan karena keputusan Abimana untuk bertanggungjawab bukanlah sesuatu yang bisa dikatakan main-main sampai dia mau berpindah agama.

__ADS_1


"Oh, iya. Laporkan segala sesuatu yang terjadi ya. Kamu kunci pintu kamar ini," pesan Abimana sebelum berlalu pergi.


"Dia serius? Dia serius ingin bertanggungjawab? Sikapnya juga berubah menjadi sangat lembut. Oh, aku harus bagaimana ...?" batin Amanda.


__ADS_2