
“Tampan sekali anakku ini, wajahnya sangat mirip denganku,” kata Abimana seraya mengelus lembut punggung bayi mungil yang pada saat itu masih memejamkan matanya dan sedikit bergerak seperti sedang mencari ASI.
Pada saat itu Abimana berada satu ruangan dengan Manda yang masih tertidur pasca operasi. Suster pun masih berada di sana untuk menunggu jalannya masa observasi. Semua Abimana minta untuk dilakukan dengan pelayanan terbaik, di dengan terang-terangan meminta pelayanan VVIP.
“Sus ini anak saya, kenapa gerak-gerak seperti ini?” tanya Abimana yang masih nihil pengalaman tentang bayi.
“Oh, ini sudah dua jam, dia haus Pak. Ini waktunya untuk menyusu, sebentar saya coba bangunkan ibunya dulu,” kata Suster yang kemudian dengan perlahan membangunkan Amanda.
Beberapa kali mencoba dan Amanda masih saja setia menutup matanya. Abimana mulai menjadi panik saat Suster yang berjaga memanggil Dokter yang tadi menanganinya.
“Ada apa ini, kenapa wajah kalian panik begini?” tanya Abimana dengan nada suara yang mulai meninggi dia pun tak kalah panik.
“Ada sesuatu yang harus kami tangani Pak, istri Bapak ini ….”
“Kenapa, kenapa dia?” bentak Abimana hingga membuat bayinya menangis.
Tangisan sang putra membuat Abimana langsung mendekapnya dengan tangan kekar itu dia berusaha untuk menenangkan sang anak. Dengan suara rendah, yang bergetar ia berbicara sembari menempelkan wajah si kecil di dada bidangnya tanpa suatu alas apa pun. Kulit bertemu kulit.
“Kaget ya Nak? Maafin ayah ya,” ucapnya pelan dengan lembut dan sayang.
Serangkaian upaya Dokter dan tim lakukan untuk membangunkan Amanda, namun sama sekali tidak ada reaksi. Akan tetapi semua tanda-tanda vitalnya normal. Jantung dan juga napasnya berjalan normal.
“Kenapa ini? Ini aneh sekali, pasien seperti tidak merespon apa pun yang kami lakukan atau dia ini koma? Kita harus bawa dia ke ruangan ICU!” putus Dokter.
Bayi Amanda menjerit semakin kencang, suaranya melengking seperti sedang kesakitan. Entah karena apa atau mungkin karena dia yang sangat kehausan. Namun suara tangisannya itu menyayat hati.
“Manda! Bangun kamu! Aku enggak akan pernah maafin kamu kalau kamu tinggalin kita!” bentak Abimana dalam keadaan panik tepat di samping Amanda.
“Pak, jangan seperti ini, sebaikny Bapak keluar. Kalau begini Bapak hanya akan menghalangi jalannya penanganan kami,” kata salah seorang anggota tim medis.
__ADS_1
“Saya tidak mau tahu! Dia harus bangun! Manda! Bangun kamu! Tega kamu mau meninggalkan kami berdua!” Abimana terus berteriak dan kali ini semakin kencang diikuti dengan tagannya yang mengguncang kuat lengan Amanda.
Keadaan menajdi semakin kacau saat bayi mereka juga semakin keras suara tangisnya. Seolah bayimungil itu bisa merasakan kesedihan ayahnya. Ia pun seolah tak rela bila sang ibu pergi begitu saja.
“Pak, jangan seperti ini,” larang tim medis dengan kerasnya, mereka menarik tubuh Abimana supaya menjauh dari Manda.
Tiba-tiba ….
“Uhuk!” Amanda terbatuk seolah ia mengeluarkan sesuatu yang menyumbat jalan napasnya.
“Bangun, pasien bangun!” ujar salah seorang Suster dan Dokter langsung memeriksanya.
“Manda ….” Panggil Abimana dengan suaranya yang bergetar.
Abimana spontan memeluk dan menciumi wajah wanita yang baru saja kembali dari kematian itu. Selama ini dia selalu menjaga jarak, namun pada kesempatan ini dia yang nyaris kehilangan seolah sama sekali tidak mau
menyia-nyiakan waktu dengan percuma. Abimana menangis di samping telinga Amanda, dua laki-laki berbeda generasi itu seperti sedang berlomba untuk menyadarkan wanita kesayangannya.
“Iya, dia anak kita,” jawab Abimana dengan mengecup kening Amanda dan entah berapa kali dia mengusap dengan penuh perasaan.
*
*
*
Suasana begitu tenang, dalam ruangan kamar rawat terdapat sebuah pemandangan yang begitu hangat. Seorang ibu muda tengah bersenandung sembari menyusui buah hatinya. Ia terduduk di atas kursi roda dengan menatap wajah mungil bermandikan cahaya kekuningan sang senja.
Klek! Pintu terbuka dan Amanda segera menutup buah dadanya dengan kain. Ia nampak gugup kala menyadari siapa yang baru saja masuk tersebut. Wajahnya tertunduk dan begitu malu menatap balik laki-laki yang tiba-tiba mengusap lembut pucuk kepalanya.
__ADS_1
“Kenapa gugup seperti itu Manda, aku sudah pernah menyentuh dan melihatnya,” celetuk Abimana tanpa rasa risih.
“Ya, itu dulu. Dalam ingatan Bapak juga saat itu bukan aku, melainkan istri Bapak. Jadi anggap saja tidak pernah melihatnya,” kilah Amanda.
“Bagaimana tidak pernah lihat, sampai ada dia juga kenapa harus dilupakan. Aku mau meminta maaf untuk semua itu dan mau bertanggung jawab sekarang. Aku ayahnya dan harus merawat dan membesarkannya juga. Hari ini aku
mau kita menikah,” kata Abimana yang membuat wajah pucat Amanda menoleh seketika.
“Sekarang?” tanya Amanda terkejut.
“Pak, apa enggak bisa agak nanti atau besok saja. Tubuhku saja belum fit,” tolak Amanda yang seolah mengulur waktu.
Abimana berjongkok di hadapan Amanda. Ia lalu mengusap lembut pipi mungil yang belum selesai menyusu itu. Dengan tiba-tiba ia mencium pipi si kecil hingga membuat hidung mancungnya mengenai buah dada Amanda.
Ada rasa risih di sana yang membuat Amada ingin menyudahi sesi menyusi. Namun si kecil masih menghisapnya dengan begitu kencang.
“Kita menikah malam ini, aku sudah mengurus semuanya. Aku tidak mau berlama-lama membiarkanmu kesusahan mengurus dia sendiri. Ada suster juga nanti yang akan membantumu tapi aku tidak mau melewatkan momen indah ini, mengurus anakku sendiri,” kata Abimana dengan tatapan mata yang tak beralih dari wajah mungil si bayi tampan.
“Dia mirip aku ya bentuk mukanya,” kata Abimana yang membelokan topik dan tidak ingin mendengarkan penolakan lagi.
“Kamu yang melakukannya, sudha jelas dia mirip kamu Pak,” jawab Amanda dengan kesal. “Padahal aku yang hamil, tapi kenapa mukanya kayak kamu? Kata orang anak laki-laki akan mirip ibunya. Ini kenapa kayak kamu semuanya?”
“Sengaja kali Tuhan kasih begini biar kamu enggak ngeyel buat pergi lagi,” ujar Abimana sambil tertawa dan mengulang mencium pipi si kecil dan lagi-lagi hidungnya menyentuh buah dada Amanda.
“Sengaja ya? Aku risih tahu enggak? Awas dulu, biarkan dia minum sampai kenyang,” usir Amanda dengan mendorong pelan bahu Abimana.
Tanpa ia duga, Abimana malah langsung mebungkuk dan memeluknya. “Tadi, aku udah takut banget kalau kamu pergi ninggalin kami. Aku enggak bisa membayangkan bagaimana jadinya anak kita kalau kamu enggak ada. Jangan pergi lagi ya?”
“Apa memang dia sangat takut kehilangan aku sampai seperti ini? Apa ini semua tulus?” batin Amanda.
__ADS_1
~ Bersambung ….