Mengejar Cinta Tuan Rain

Mengejar Cinta Tuan Rain
Kulkas sepuluh pintu


__ADS_3

"Bu,, Saya bersedia memenuhi syarat itu" ungkap Tara dengan menunduk. Ia sudah memikirkan nya matang matang. Mungkin ini adalah kesempatan emas dan peluang yang sangat bagus. Di zaman sekarang tamatan SMA sangat sulit mendapatkan pekerjaan. Ia akan melanjutkan kuliahnya dan mencari pekerjaan yang layak untuk masa depannya.


Rinjani tersenyum "Baiklah,, Tinggal lah disini. Dan buat Anak saya menerima perjodohan ini. Saya akan kasih waktu untukmu 1 bulan mendekatkan diri, setelah itu kalian akan menikah" ujar Rinjani


Tara mengangguk dengan Tangan terus menggenggam Inah. Inah sudah 10 tahun lebih bekerja disini. Itu membuat Rinjani yakin menjodohkan Rain dengan keponakan Inah. Selain itu Rinjani sudah beberapa kali melihat Tara saat Sedang berkomunikasi atau berkunjung Sekedar melihat inah dihalaman depan atau pun ditaman karna Inah tak berani membawa Tara masuk.


Tara sudah beberapa kali mengunjungi Inah dan ia baru sekali ini memasuki rumah besar Rinjani karna tara datang bukan hanya berkunjung melainkan mencari pekerjaan.


"Kamu boleh menggunakan kamar Tamu" ujar Rinjani lagi.


"Tapi bu, apa boleh saya dan Bi Inah sekamar saja?" Tawar Tara


Rinjani pun berfikir sesaat dan mengangguk setuju.


"Apa kau baik baik saja Inah?" Tanya Rinjani melihat Wajah inah pucat


Inah mengangguk "saya baik baik saja Nyonya" jawab Inah pelan. Tara tau jika Inah kurang enak badan.


"Beristirahatlah, Tak usah memasak makan malam. Nanti saya akan pesan Online" Ujar Rinjani sedikit khawatir melihat Asisten yang sangat ia percayai ini.


"Tidak perlu memesan makanan Online bu. Tara akan membuatkan makan malam" ucap Tara menawarkan diri


"Tapi.. apa kamu tak keberatan?"


Tara menggeleng sebagai jawaban Tidak.


"baiklah.. lakukan sesuka hati mu saja" ucap Rinjani dan segera pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


"Bibi istirahatlah. Tara saja yang mengerjakan pekerjaan Rumah" ujar Tara


"Apa kau tidak keberatan nak? Biar kan saja bibi yang mengerjakan"


"Bibi harus istirahat. Tara sudah terbiasa bi" jawab kekeh tara. Inah pun mengangguk dan meninggalkan Tara untuk beristirahat.


Tara mulai mencari bahan bahan yang ada dikulkas besar dapur. Setelah mengumpulkan semua bahan, Tara pun segera memulai Nya.


Tanpa tara sadari, Rinjani terus memperhatikannya dari jauh. Setelah melihat Tara dari dekat dan berbicara dengannya, ia yakin tara bisa merubah Anak nya yang seperti kulkas sepuluh pintu itu.


Tak masalah baginya status Tara, Ia hanya menginginkan kebahagiaan Anaknya. Ia berfikir sangat susah mencari gadis yang masih polos dan Lugu dizaman sekarang.


Tara dengan sigap menyelesaikan pekerjaannya dari mulai memasak, mencuci piring dan membersihkan sampah bekas memasak. Asisten dirumah ini Ada tiga orang dan masing masing mendapatkan tugas yang berbeda. Inah sebagai Juru Masak. Mirna bertugas menjaga Kebersihan dan Ratna bertugas Mengurus pakaian mulai dari mencuci hingga menggosok baju.


Ada satpam juga tukang kebun.


"Akhirnya selesai juga" gumam Tara dengan bangga nya. Tanpa ia sadari Rinjani tersenyum melihat nya.


Ia menatap Jam di dinding menunjukkan pukul 8 malam "tepat" ungkapnya lagi. Ia pun menyusun piring piring dan meletakkan masakannya kemeja.


"Sangat wangi" Puji Rinjani menghampiri Tara

__ADS_1


Tara tersenyum "silahkan duduk bu" ucap Tara memberikan tempat duduk untuk Rinjani


"Terimakasih" jawab Rinjani mengelus pipi Tara.


Tak beberapa saat Rain pun pulang " Maa" panggilnya


"Ya sayang. Ayo mari makan" ajak Rinjani melihat Rain yang baru saja masuk


"Rain Mandi dulu" jawab Rain tanpa menghiraukan Tara. Tara hanya menunduk melihat Rain. Ia tak menyangka jika Calon suami nya sangat tampan dan tinggi.


"Baiklah segera lah turun" ujar Rinjani melihat punggung Anaknya yang menaiki tangga.


"Ayo silahkan duduk Tara" ajak Rinjani


Tara menggeleng " Maaf bu, Tara bisa makan di dapur saja bu" tolak halus Tara merasa tidak enak jika makan bersama.


Rinjani menggeleng "tidak boleh. Kamu harus makan disini bersama kami" kekeh Rinjani


"Tapi Bi inah harus makan dan minum Obat Bu" ucap Tara mencari Alasan


"Mirna.. mirnaa" panggil Rinjani


"Ya nyonyaaa.." jawab Mirna menghampiri Rinjani


"Apa kau sudah makan?"


Mirna menggeleng " Makan lah dan juga bawakan Inah makanan dan obat untuknya" perintah Rinjani


"Sekarang duduklah" ajak rinjani.


Tara dengan berat hati pun menuruti Ucapan Rinjani.


Tak berapa lama pun Rain menuruni Tangga dan segera duduk dikursi nya.


Ia mengambil makanan nya sendiri tanpa menghiraukan Tara.


"Rain.. perkenalkan Tara keponakannya Bi inah" ujar Rinjani membuka pembicaraan dengan Anak sematawayangnya.


Rain menatap sekilas Tara dengan mimik muka yang datar dan kembali melanjutkan Makan nya.


"Rain.." panggil Rinjani melihat reaksi anaknya seperti itu.


Rain menghembuskan nafasnya dalam " semoga kau betah disini" ucapnya dengan Kalimat yang dingin.


"Ya Tuan" jawab Tara dengan suara yang gemeteran


"Aku bukan Tuan mu" protes Rain


"Baik Pak"

__ADS_1


"Apa aku setua itu hah?" Protesnya Lagi


Tara yang mendengar itu menelan saliva nya, Ia sangat takut melihat Rain "Ya Allah apa ini calon suami Tara" batin Tara.


"Rain.. tidak boleh seperti itu" kini Rinjani menengahi Pembicaraan yang terkesan judes itu.


Rain hanya menggeleng menanggapi Ucapan Ibu nya.


"Siapa yang memasak ini? Ini bukan masakan bi inah" tanya Rain memastikan


"Tara yang memasaknya. Bagaimana rasa enak kan?" Jawab Rinjani dengan antusias


Rain mengangguk sebagai jawaban Iya. Memang masakan Tara sangat enak dan sesuai di lidahnya.


Kini mereka Sudah selesai makan, Rinjani kembali kekamar nya dan juga Rain melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja nya.


"Apa kau tidak istirahat?" Tanya Rain melihat Tara yang sedang mencuci piring sehabis mereka makan tadi.


"Sebentar Lagi Tuan" jawab Tara


"Buatkan aku kopi panas" perintahnya


Tara pun mengangguk sebagai jawaban Iya. Ia pun segera membuat kopi panas untuk Rain.


"Tuan.. ini kopinya" ucap Tara meletakkan kopi dimeja kerja Rain.


Rain tak menghiraukannya, ia sedang fokus dengan Berkas berkasnya.


Tak mendapat jawaban, Tara memutuskan untuk keluar dari ruangan itu.


Ia memutuskan untuk kembali kekamar nya melihat keadaan inah.


"Bi.." panggil Tara saat melihat Inah membelakangi nya


Tara mendekat dan menggerakkan badan Inah "Bibi!!!!!!" Teriak Tara saat melihat kondisi Bibi nya sudah berlumuran darah dari hidung dan juga mulut.


Semua orang mendengar teriakan Dari tara langsung berlari kesumber Suara termasuk Rain juga Rinjani.


Rain berhenti dipintu yang sudah terbuka, ia melihat Tara sedang menangis memeluk Inah dengan darah yang mengalir dihidung dan mulutnya.


"Segera bawa kerumah sakit" perintah Rain kepada Dua satpam nya itu.


Inah pun dibawa kerumah sakit, Dengan di iringi Tara, Rinjani dan juga Rain. Tara tak henti hentinya menangis.


Rinjani menenangkan Tara dan memeluk Gadis malang itu.


Keajaiban dari Allah lah yang bisa menolong Inah.


"Bu..hikss hikss" panggil Lemah Tara. Ia tak tau kepada siapa lagi ia mengadu.

__ADS_1


Rinjani mengelus kepala Tara "Ibu ada disini bersama mu" tenang Rinjani.


Note: terimakasih sudah mampir dan membaca💜💜


__ADS_2