Mengejar Cinta Tuan Rain

Mengejar Cinta Tuan Rain
Kewajiban


__ADS_3

"Tara.." panggil Rinjani


Rinjani mengejar Tara yang sedang menaiki Tangga dengan cepat


"Nak.." panggil Lembut Rinjani


Tara menghapus Air mata nya dan tersenyum "Maaf ma tara Tidak sengaja menjatuhkan Gelas. Tara ..Tara akan membersihkan nya sebentar Lagi" ucap Tara dengan Nada yang sudah menahan sesak


"Maafkan Mama maafkan Rain Nak hikss hikss" Kini Rinjani memohon Maaf atas apa yang telah diucap kan Rain tadi.


Tara menggeleng "Tidak perlu meminta maaf Ma. Tara paham dan mengerti. Maafkan Tara selama sebulan ini Tara belum bisa merubah sikap Tuan " ungkap nya dengan tenang


"Bukan Tara ingin menguping obrolan mama dan Tuan, Tara hanya mengantarkan minuman untuk Mama dan Tuan"jelasnya lagi


Rinjani mengelus rambut Tara dengan lembut meratapi betapa malang nya nasib Gadis yang sangat cantik dan tulus dihadapannya ini.


"Mama tidak perlu merasa bersalah. Ini adalah takdir Tara Ma. Insyaallah Tara ikhlas. Jika mama menginginkan Cucu dari Tara. Maaf Kan Tara tidak bisa memberikannya" ujar Tara dengan mata yang masih berkaca kaca. Ia berusaha sekuat tenaga tidak meneteskan Air matanya didepan Mertua nya.


Rinjani menggeleng "Mama Tidak perlu cucu. Mama hanya ingin kamu disamping mama" ucap rinjani.


"Jadilah Anak Mama bukan menantu mama hikkss hikss" pinta nya Lagi


Mendengar Itu Tara tak bisa lagi membendung Air mata nya. Ia dan Rinjani berpelukan dengan tangis kedua wanita itu.


Sementara Rain yang mendengar Itu pun menunduk. Ia sangat bersalah telah melontarkan kalimat yang sangat menyakit kan itu. Melihat itu Rain melangkahkan kaki nya menjauhi Kamar itu. Ia akan menenangkan Diri nya dan juga membiarkan Rinjani dan Tara untuk menenangkan Hati mereka.


**


Kini Waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam. Rain yang baru saja memasuki Rumah tidak menemukan Rinjani dirumah.


"Mama Kemana bi?" Tanya Rain kepada mirna


"Nyonya hari ini tidak pulang Tuan. Ia ada pekerjaan diluar kota" ucap Mirna.


Rain pun mengangguk mengerti, ia baru saja mengingat bahwa hari ini adalah peresmian cabang Hotel diluar kota.


Kini Ia menaiki Tangga menuju kamar nya namun langkahnya terhenti dikamar Tara yang masih terbuka itu.


Rain memasuki kamar itu Namun tak ada siapapun dikamar.


Ia melirik Lampu Kamar mandi Tara yang mati Lalu ia mengidupkan nya. Ia sangat terkejut melihat Tara yang masih Berendam dibathtub dijam segini dengan keadaan lampu yang ia matikan.

__ADS_1


"Tara.." panggil nya menyadarkan Tara namun Tara tak kunjung membuka matanya


Seketika itu Rain langsung mengendong Tara mengeluarkan nya didalam Bathtub, terlihat Tangan nya yang pucat dan mengerut. Juga bibir yang biasanya bewarna Pink berubah menjadi pucat.


Ia menidurkan Tara di tepi Ranjang " Tara!! Taraa bangun" panggil nya namun Tara tak kunjung membuka mata nya


Rain memeriksa Nadi Tara "sangat lemah dan badannya panas sekali" gumam nya


Seketika itu Ia memanggil Mirna dan menyuruh menghubungi dokter irvan yaitu Dokter keluarga Rain.


"Dari jam berapa ia berendam seperti ini?" Tanya Rain kepada Mirna


"Saya tidak tau Tuan.. Tara tidak makan siang dan juga tidak keluar kamar sedari Nyonya pergi" jawab Mirna dengan penuh khawatir dan takut


"Keluarlah Aku akan mengganti baju nya" perintah Rain menyuruh Mirna keluar.


Dengan cepat Mirna pun keluar.


"Kenapa kau seperti ini!" Gumam Rain melepaskan baju Tara yang menyisakan Bra bewarna hitam. Kulit putih dan mulus Tara terpampang dihadapan Rain namun kulit nya kali ini putih pucat karna terlalu lama berendam Di didalam bathtub


Rain menelan saliva nya saat menyaksikan Gundukan kenyal Tara dihadapannya. Ia langsung menggelengkan kepalanya menyadarkan Diri nya. Dengan segera ia memasang baju yang tertutup bagitu pun dengan pemasangan celana Tara.


Walaupun Ia belum mencintai Tara namun tetap saja adik nya akan berdiri dibawah sana melihat pemandangan yang sangat indah ini.


"Bagaimana dok keadaannya?" Tanya Rain khawatir


"Kondisi nya lemah karna tidak ada cairan yang masuk ketubuh nya. Dan juga ia sedang demam tinggi" jelas nya


"Saya sudah menyiapkan obat dan menyuntikkan vitamin ketubuh nya. Setelah ia sadar tolong segera diberi asupan" sambung nya lagi.


Rain mengangguk mengerti "Terimakasih Dokter " ucap Rain mengantarkan Dokter irvan keluar


"Sama sama Tuan. Jika kondisi nya belum membaik tuan bisa hubungi saya lagi" ujarnya


Rain pun mengangguk.


Rain memandangi Tara yang tengah tertidur pulas "apa kata kata ku sangat menyakitkan buat mu? Maaf kan aku" ujar nya


Ia merasa kasihan kepada Tara atas apa yang ia lakukan.


Tadi semasa Rain keluar untuk menenangkan dirinya, Ia mendengar suara azan dan segera menuju mesjid. Ia menunaikan sholat berjamaah. Setelah sholat selesai, Ustad memulai ceramah nya.

__ADS_1


Dan membuat nya tersadar, bahwa setelah menikah ia bukan hanya memikirkan dirinya sendiri namun ia sudah memiliki tanggung jawab dengan Allah dan istri didepan para saksi. apalagi Istri nya Yatim Piatu tidak mempunyai saudara lainnya.


Rain tersentak mendengar ceramah Ustad itu. Walaupun ia terpaksa menikahi Tara. Namun Tara sudah menjadi tanggung jawab nya yang harus ia penuhi nafkah lahir dan batin nya.


"Tuan" panggil lemah Tara yang melihat Rain tengah termenung


Dengan cepat Rain melihat ke sumber Suara "apa kau sudah sadar. Sebentar Aku akan mengambilkan mu makan" ucap Rain


Tara hanya Diam. Ia masih heran kenapa Ia bisa berada di atas Ranjang dengan Pakaian yang sudah tertukar. Seingat nya ia sedang berendam dibathtub dengan Maksud melakukan percobaan bunuh diri namun gagal.


Tak berapa Lama Tiba lah Rain dengan membawa nampan berisi makanan dan juga Minuman.


Ia menghampiri Tara "makan lah" ucap Nya sambil menyuapkan Tara. Ini adalah bentuk permintaan maaf nya kepada Tara atas sikap nya yang kasar tadi.


"Saya bisa sendiri Tuan" ujar Tara mengambil paksa sendok ditangan nya. Ia sudah memikirkan dan mempertimbangkan bahwa ia akan menjaga jarak dan tidak bergantung kepada Rain. Ia tidak ingin lagi merasakan Sakit akibat perlakuan yang kadang kadang cukup manis oleh Rain selama beberapa minggu ini.


Rain yang melihat Itu hanya pasrah. Ia sudah menduga Tara akan marah besar kepadanya.


Rain terus memperhatikan Tara menyendok bubur dipangkuannya. Sangat tidak enak namun harus ia paksakan. Karna ia tak ingin menyusahkan Rain ataupun Ibu mertua nya.


Setelah semua nya selesai, Rain mengambil Obat disamping meja tara. Dengan cepat Tara mengambil Alih Obat itu dan meminum nya sesuai petunjuk Dokter.


"Apa kau sangat marah kepadaku sampai Aku tidak boleh merawat mu" protes Rain melihat sikap Tara


Tara hanya Diam tak ingin menanggapi Rain. Ia melirik Jam di dinding menunjukkan pukul 10 malam.


"Apa Tuan sudah makan?" Tanya nya to the point


Dengan spontan Rain menggeleng. Tara langsung membuka selimut yang membalut nya dan segera mencari sendal nya.


"Kau ingin kemana? Kau masih sakit" teriak Rain melirik punggung Tara


Tara lagi lagi tak menjawab, ia keluar kamar menuju Dapur. Walaupun ia dalam keadaan sakit, ia akan berusaha memasak dan menyiapkan makanan Untuk Rain.


Ia menuruni tangga dan menuju dapur. Mengambil bahan dari kulkas untuk dimasak.


"Aku bisa memesan makanan nanti. Kau harus beristirahat" ucap Rain mengikuti Langkah Tara


"Duduk Lah tuan. Akan aku buat kan makanan untuk mu. Ini kewajiban ku" jawab tara


Mendengar Itu Rain terdiam saat Tara berbicara seperti itu. Ia merasa Malu karna disaat sakit seperti Ini Tara masih berusaha menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri.

__ADS_1


Note : terimakasih sudah membaca💜💜


__ADS_2