
"Hati hati nak" ujar Rinjani saat Tara berjalan dengan gontai membawa beberapa paperback yang akan ia berikan kepada Rinjani.
"Ma.. ini oleh oleh untuk Mama" ucap Tara memberikan Paperbacks bewarna coklat dari brand ternama
Rinjani tersenyum "makasih sayang" jawab nya mengambil oleh oleh dari menantu nya.
"Gimana? Apa kamu senang disana?" Tanya Rinjani penasaran
Dengan semangat Tara mengangguk menceritakan pengalaman nya yang sangat indah.
Melihat Kebahagiaan di wajah Tara, Rain pun tersenyum sembari memandangi Tara bercerita kepada Rinjani.
"Kau terlihat sangat bahagia" batin Rain
Rain juga menyerahkan beberapa berkas yang ia bawa dari korea untuk dicek ulang oleh Rinjani.
Rinjani sangat bahagia melihat Tara dan juga Rain dan kebahagiaan yang terpancar dikeluarga mereka. Rinjani sangat bersyukur karna ia benar benar menemukan pasangan Untuk anak nya.
**
"Mama kenapa? Wajah mama sangat pucat" khawatir Tara
Rinjani menggeleng " kepala mama terasa sakit nak" jawab nya menenangkan Tara
Tara pun berjalan kebelakang membuatkan obat herbal untuk meredakan nyeri kepala.
Setelah minuman itu selesai Tara pun hendak mengantarkan nya kepada Rinjani.
"Mama.." Teriak Tara berlari kearah Rinjani yang hampir terpeleset Ditangga.. Tara menangkap Rinjani agar kepalanya tidak mengenai Sanding pagar dan hasilnya Tara lah yang terjatuh dengan kepala mengenai Pagar Tangga yang cukup runcing dan Perut yang terhempas akibat menahan Rinjani.
"Taraaa" Teriak Rinjani berbalik melihat menantunya yang sudah berlumur darah dikepala dan juga Bagian bawah menantunya.
Dengan isakan tangis Rinjani memanggil semua orang yang ada dirumah.
"Cepat hubungi Ambulan dan segera Telfon Rain!!!" Perintah Rinjani kepada satpam
__ADS_1
"Baik nyonyaa" jawab Udin.
"Tara.. kenapa kamu menolong mama nak" gumaman Rinjani disela Tangis nya.
Kini Tara sudah tidak sadarkan diri, ia dengan cepat mendapat pertolongan pertama oleh dokter.
Begitu juga dengan Rain yang langsung panik dan segera menemui Tara setelah mendengar kabar itu.
"Maa.. tara kenapa ma? Tolong bicaralah" panik Rain melihat rinjani hanya menangis dipelukannya.
"Tara berusaha menangkap mama yang hampir terpeleset di tangga. Ia menangkap mama agar kepala mama tidak terkena runcingan pagar Tangga namun Ia lah yang menjadi korban nya hikss hikss.. ia terpeleset dan Perut nya terhempas hikkss Rainn Tolong mama .. tolong.. bagaimana Tara Bagaimana Tara.. tolong selamatkan Tara" ujar Rinjani dengan keadaan Yang kacau.
Rain tak dapat menahan Air matanya nya lagi.
Ia hanya memeluk Rinjani dengan berdoa agar anak dan istrinya selamat.
Setelah setengah jam menunggu dokter pun membuka pintu ICU "Bagaimana dok keadaan istri dan anak saya?" Tanya Rain
Dokter menggeleng "Maafkan kami Tuan dan Nyonya, keadan istri anda sangat kritis begitu juga dengan detak jantung Bayi yang ada dikandungan Istri anda sangat lemah. Kami hanya bisa menyelamatkan salah satu diantara mereka. Dan Anda harus memutuskan nya saat ini juga Tuan" jelas Dokter kepada Rain
Mendengar Itu Rain terkulai lemas begitu juga Rinjani yang tak hentinnya menangis "Rain.. Anak mama.. cucu Mama hikkss hikss" tangis Rinjani
Rinjani mengangguk " Mama sangat menyayangi Tara dan juga cucu Mama. Namun Jika itu keputusan mu maka mama akan mendukungmu " ungkap Rinjani.
Rain mengangguk "Tolong selamatkan istri saya dokter" Ujar Rain dengan nada yang sangat lemah.
"Baiklah Tuan. Anda harus menandatangani berkas yang akan kami siapkan" ujar dokter. Rain hanya mengangguk pasrah.
"Anak Rain ma.. Baby B " gumam Rain mengadu kepada ibu nya.
Rinjani mengangguk merasakan kesakitan anak sematawayang nya.
"Maafkan Mama Rain.. maafkan Mama. Seharusnya Mama yang menjaga Tara bukan Sebalik nya hikss hikss" ujar Rinjani dengan penyesalannya.
Rain hanya diam dengan posisi yang sudah sangat kacau duduk dilantai.
__ADS_1
Setelah berkas dan semua nya selesai kini saat nya Tara dioperasi, berharap ada keajaiban yang akan menolong Tara. Dokter sudah menjelaskan kondisi Tara dan juga bayi nya. Jika Rain menyelamatkan Bayi Nya sangat kecil kemungkinan akan selamat dan jika Rain memilih menyelamat kan Tara kemungkinan Tara akan terselamatkan.
Rain dengan baju yang sudah lusuh mondar mandir Di pintu yang Sedang mengoperasi Tara didalam nya.
Begitu juga dengan Rinjani yang tak berhenti menangis merutuki dirinya yang lalai sebagai orang Tua.
Beberapa jam pun berlalu, Dokter pun keluar dari ruangan operasi "Operasi berjalan Lancar. Kondisi Pasien sangat kritis dan juga usia nya yang masih Muda. Kita bisa menunggu nya untuk melewati masa kritis nya" jelas dokter. Rain mengangguk mengerti. Rain juga melihat bayi Tara yang dibawa oleh dokter.
Rain mendekati anak nya yang masih berusia 5 bulan dikandungan Tara. Masih sangat kecil dan kondisi fisik nya sudah lengkap namun kulit yang masih sangat lembut. Rain tersenyum melihat Bayi nya yang sangat ia cintai.
"Baby B.. maafkan Papa yang lalai menjaga mu.. selamat jalan nak" salam perpisahan Rain dengan Baby B. Begitu juga dengan Rinjani melihat cucu berjenis perempuan nya yang sangat cantik. Pekik dan tangis menggema ruangan. Rain memeluk Rinjani dan menenangkan nya. Belum itu Rain harus mengazankan Putri nya. Dan segera menguburkan nya.
Dengan dibantu Rangga, Rain akhirnya menyelesaikan pemakaman putri pertama nya. Ia tak bisa membayangkan bagaimana sakit nya Tara jika sadar nanti.
"Rangga... Bantu aku berdiri" ujar Rain yang sudah terkulai lemas dipemakaman anak nya.
Dengan sigap Rangga membantu Tuan nya.
Sedangkan Rinjani sudah dibawa pulang untuk beristirahat karna ia pingsan saat melihat wajah Baby B pertama dan terakhir kalinya.
"Apa Tuan ingin pulang lebih dahulu?" Tanya Rangga
"Bawa aku kerumah sakit. Istriku sangat membutuhkan ku" perintah Rain.
Rain berfikir Sakit yang ada didada nya belum seberapa dibandingkan sakit nya Tara nanti. Ia tak bisa membayangkan jika Tara sadar dan melihat semua nya.
Rain sudah sampai Di rumah sakit dan sekarang ia sudah berdiri dihadapan Tara. Tara yang masih menutup mata dengan Pernafasannya dibantu oleh oksigen.
"Tadi pagi kau masih tertawa dan mengelus perut mu. Dan lihatlah sekarang kau terlihat sangat lemah berbaring disini " ujar Rain menggenggam Tangan istri nya.
"Bagun lah sayang. Dan kuat lah. Aku sangat membutuhkan mu. Kita sudah kehilangan baby B dan aku tidak ingin kehilangan mu" sambung nya lagi dengan tangis yang sudah membasahi Wajah Rain dan tangan Tara.
"Sayang.. bangun lah. Sudah hampir 8 jam kau tidak sadar" gumam nya lagi.
Tak ada jawaban Dari tara, namun mata nya yang tertutup mengeluarkan Air mata.
__ADS_1
"Aku sanga mencintai mu" ungkap Rain mencium pucuk kepala Tara dan mengucap perban yang melilit kepala Tara.
Note : terimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini 💜