Mengejar Cinta Tuan Rain

Mengejar Cinta Tuan Rain
Gadis yang malang


__ADS_3

Sesak didada Tara tak bisa diungkapkan lagi. Tangis nya tak terdengar lagi saat mendengar berita duka dari dokter tentang Bibi satu satunya. Inah meninggal dunia dikarena pembuluh darah nya yang pecah.


Tara menagis tanpa suara menyaksikan mayit yang sangat ia sayangi.


"Tara sendiri Bi" gumam nya pelan dihadapan Mayit inah yang sudah pucat pasih.


Rinjani ikut menangis melepas kepergian asisten rumah tangga yang lebih dari 10 tahun setia dengannya.


"Aku akan menjaga Tara" janji Rinjani kepada Mayit Inah dihadapan Tara dan juga Rain. Rain hanya terdiam tak tau harus berbuat apa lagi. Ia tak tau cara nya menenangkan Tara maupun ibu nya.


"Tara ikut bibi aja ya" gumam pelan tara lagi


Seketika itu Rinjani membawa Tara kepelukannya. Setelah bercerita tentang tara dan nasib nya Rinjani benar tak salah pilih menjadikan Tara menantunya.


Rangga pun datang karna Rain menelfon dirinya.


"Segeralah urus pemakamannya" perintah Rain kepada Rangga


"Baik Tuan" jawab Rangga. Ia melirik Tara sekilas. Merasa kasihan mendengar tangisan begitu lirih.


"Tenang ya sayang.. Ibu akan selalu bersama mu" tenang Rinjani begitu tulus mengelus punggung Tara.


"Bu.. hikss hikss Tara tidak punya siapa siapa lagi" gumam nya dipelukan Rinjani


"Tara punya Ibu dan juga Rain" jawab Rinjani ikut merasakan Kesedihan dari Gadis yang sedang ia peluk erat.


"Bu.." lirihnya lagi seketika Tara tak sadarkan diri.


Begitu sakit hingga ia tak kuat menahannya "tara.." teriak Rinjani


Seketika itu Rain langsung menggendong tara dan menidurkannya dibankar yang sudah ia pesan.


"Tara.." panggil Rinjani


Namun tak ada jawaban dari Sang pemilik Nama.


Dokter pun memeriksa Kondisi Tara.


"Kondisinya sangat lemah nyonya, sebaiknya ia beristirahat disini dulu" ujar Dokter yang memeriksa Kondisi Tara.


Rinjani pun mengangguk paham, ia duduk dikursi Samping bankar sambil menggenggam tangan Tara.


***


Pemakaman telah selesai, kini mereka pun kembali pulang kerumah nya masing masing.


Begitu pun dengan tara yang ikut bersama Rain dan Juga Rinjani.


"Kamu tidak sendiri Nak, Ibu ada disini untuk mu" ucap Rinjani menguatkan Tara


Tara tersenyum "terimakasih Bu" jawab Tara sambil memeluk Rinjani.

__ADS_1


Melihat Itu Rain tersenyum Tipis, Sudah lama ia tak melihat senyum dan Semangat Ibu nya.


Semenjak kedatangan Tara, Rinjani tampak lebih semangat dari biasanya.


"Rain.." Panggil Rinjani setelah keluar dari kamar Baru Tara yang berdampingan dengan kamar Rain.


"Ada apa ma?" Jawab Rain


"Mama ingin berbicara dengan mu"


Rain pun mengangguk dan Mempersilahkan ibu nya memasuki kamarnya yang masih terpajang Foto foto Dari sang gadis pujaan hatinya.


"Mama ingin Kamu menikah dengan Tara" to the poin Rinjani


Rain hanya diam mencerna ucapan Ibu nya "Rain tidak mencintainya Ma, Rain juga belum mengenalnya" Tolak Rain


"Cinta itu akan tumbuh jika selalu bersama. Rain kamu sudah janji dengan Mama jika mama sudah menemukan Gadis yang akan menjadi istrimu, kamu akan menerimanya"


Rain pun menunduk karna apa yang diucapkan ibu nya adalah Janji nya sebagai penenang untuk Ibu nya.


"Mama kasih waktu 1 bulan untuk pendekatan kalian. Setelah itu kalian akan menikah. Tidak ada penolakan" ucap tegas Rinjani dan berlalu pergi. Sebelum pergi ia menatap foto gadis itu dengan sedih.


Rain terduduk di ranjangnya "apa ini waktunya aku akan benar benar menikah?" Tanya Nya pada dirinya sendiri


Ia menatap foto gadis yang sedang memakai jas kedokteran dengan cantik dan anggunnya. Lalu Rain tersenyum mengingat kenangan mereka.


Sementara Itu, Tara menghapus Air matanya dan menatap dirinya dipantulan cermin. Orang tua ia tidak punya, kerabat dekan pun tiada. Bibi dan nenek yang menjaga nya sudah pergi sangat jauh.


Menangis terus menerus tak ada gunanya, ia harus melanjutkan Kehidupannya. Ia akan menjalankan keinginan dan nasehat dari bibi nya. Ia akan menjadi gadis yang sukses dimasa depannya. Itulah tekat tara saat ini.


Ia melangkahkan kaki nya keluar Kamar nya, sebentar lagi waktu Makan malam, ia akan memasak untuk Tuan rumahnya.


"Tuan" sapa Tara menunduk saat berhadapan dengan Rain didepan pintu kamar mereka masing masing.


Rain tak menjawab Sapaan Tara, ia pun berlalu pergi meninggalkan Tara yang masih diam mematung.


"Mama Kemana bi?" Tanya Rain kepada mirna


"Nyonya izin keluar sebentar Tuan. Ia akan bertemu teman nya di sebuah restaurant" jawab Mirna.


Rinjani sengaja meninggalkan Rain dan Juga Tara berdua, Agar mereka saling bertegur sapa.


"Kenapa tidak bilang kepadaku"


"Nyonya buru buru Tuan" jawab Mirna dan langsung berpamitan kepada Rain.


Tara sedang membantu mirna menyiapkan makanan pun tersentak. Ia pikir Rinjani sedang istirahat dikamar nya.


Rain langsung duduk dikursinya tanpa berbasa basi lagi ia makan masakan Tara. Tara yang melihat itu hanya berdiam diri seperti patung.


"Kenapa hanya Berdiri. Duduklah" ujar Rain tanpa melihat Tara

__ADS_1


Tara pun mengangguk kecil dan duduk berjauhan dengan Rain karna ia sangat takut.


Mereka makan tanpa suara, Melihat Rain makan dengan Lahap Tara tersenyum tipis.


Setelah selesai Makan, Rain pun beralih ke ruangan kerja nya. Ia menghabiskan waktu nya untuk bekerja dan bekerja.


"Permisi Tuan" Ucap Tara masuk keruangan kerja Rain dengan membawakan Rain cemilan dan juga Kopi hangat untuk nya.


Rain tidak menolak ataupun menerimanya. Ia hanya melihat Tara meletakkan nampan itu di meja.


lalu Tara izin pamit kekamarnya.


"Sabar.. ini demi masa depan dan kuliah ku" batin tara sekilas melihat Rain masih terpaku dengan laptop di meja nya.


Tara memasuki kamar baru nya, ia memandangi semua sisi kamar dengan perlahan.


Sekarang ia punya semua nya tapi tidak dengan hati nya. Hatinya sudah hancur saat bibi yang ia sayangi telah pergi meninggalkannya.


Setelah puas memandangi kamar nya, ia pun menuju kamar mandi nya.


"Kamar mandi nya saja mungkin lebih besar daripada rumahku dikampung" gumam Tara.


Ia ingin menyalakan Air untuk mandi namun ia bingung ada dua Shower.


"Mungkin ini" ucap Nya menekan tombol bewarna merah. Seketika ia celup kan tangannya dan terasa sangat panas.


"Ahhhhhhwwww" teriak nya. Tangannya melepuh akibat Air panas di bathtub.


Rain yang ingin menuju kamar nya pun terkejut mendengar teriakan Tara. Pintu kamar nya tak ia tutup dan juga pintu kamar mandinya masih terbuka


Seketika itu Rain berlari kearah sumber suara


"Kenapa" tanya Rain melihat Tara duduk dilantai kamarnya dan memandangi tangannya yang memerah.


"Kenapa bisa seperti ini?" Tanya Rain dengan nada ketus nya


Tara melirik pria dengan tubuh tinggi dan dada bidang disampingnya.


Tara menggeleng "aku hanya ingin mandi. Dan menekan tombol merah" jawan Polos Tara


Rain mengusap wajah nya tak percaya dengan jawaban polos Tara "Apa kau bisa membedakan nya. Tombol merah untuk air panas dan tombol Biru untuk Air dingin" jawab Rain memberitahu Tara


"Terimakasih Tuan" jawab Tara mengangguk mengerti


Rain menekan tombol Warna biru dan air pun mengalir dari kran itu.


"Lain kali tutup lah pintu kamar mu" ucap Rain beralih pergi.


"Ba..aik Tuan" jawab Tara mengangguk.


"Benar kata mama, dia sangat Lugu dan polos" batin Rain meninggalkan kamar Tara.

__ADS_1


Note : terimakasih sudah membaca💜💜


__ADS_2