
"Rain.. mari makan nak" bujuk Rinjani kepada Anak sematawayangnya
"Rain tidak lapar ma" jawab Rain yang masih setia memandangi Wajah pucat istrinya.
"Rain.. Dari kemarin kamu belum makan. Ayo lah sayang makan lah sedikit. Kau harus kuat demi istrimu" bujuk Rinjani dengan kekeh nya
Rain beralih memandang wajah ibu nya dan mengangguk. Rain pun disuapkan oleh Rinjani dengan mata yang berkaca kaca. Begitu pun rinjani yang sesekali memandang wajah menantunya yang sudah 5 hari tak sadarkan diri.
Ia sungguh menyesal dan merasa bersalah namun penyesalan itu tiada guna nya, yang hilang tak akan kembali Lagi.
Setelah menghabis kan makanan, Rinjani pun berpamitan untuk pulang karna ia belum beristirahat dari semalam menemani Rain menjaga Tara.
"Sayang.. Bangun lah aku sangat membutuhkan mu" lirih Rain kembali meneteskan Air matanya.
Kesakitan nya saat ini bukan lah apa apa dibandingkan kesakitannya melepas Cinta pertama nya dulu.
Ia terus berharap Tara akan segera sadar dari masa kritis nya.
Tak putus Asa, Jari lentik Tara pun bergerak dengan pelan " Sayang.. ini Akuuu" teriak Rain sangat bahagia saat Mata tara terbuka.
"Dokter.. dokter..." panggil Rain dengan cepat menekan tombol disamping nya.
Tak beberapa lama dokter pun datang, memeriksa kondisi Tara.
"Syukurlah Nona sudah melewati masa kristis nya " ujar dokter menyampaikan berita gembira itu.
Rain menghapus air mata bahagia nya dan mencium kening sang istri. Alat bantu pernafasan pun dibuka dan kondisi tara sudah selesai dalam pemeriksaan.
Dokter dan suster pun berpamitan keluar membiarkan pasangan suami istri ini berbicara.
Tara tersenyum kepada Rain yang tampak lusuh dengan bulu bulu tipis yang tumbuh diwajah nan tampan itu.
Kemudian tangan nya bergerak kearah perut dengan lambat, Rain yang melihat itu memasang wajah yang sangat sedih diiringi dengan Air mata yang sudah mengalir tak hentinya.
Tara meraba raba perut nya yang sudah rata dengan senyum masih terukir diwajahnya dilengkapi dengan buliran air mata yang terus mengalir disudut bata.
Tak ada sepatah kata pun terucap dimulut nya, ia hanya menangis dengan diiringi senyum kepada suaminya.
"Sayang.. bicaralah" Ujar Rain takut melihat Reaksi Sang istri.
Tara menggeleng " Maafkan Tara Tuan" ujarnya meminta maaf. ia merasa sangat bersalah kepada Rain karna gagal menjaga Bayinya.
__ADS_1
Rain menggeleng "ini bukan salah kamu, Ini adalah ujian untuk kita" ucap Rain menenangkan Tara.
Kemudian Tara langsung menangis sejadi jadinya. Ia tak kuat menahan Tangis nya dan senyuman yang indah itu sudah berganti dengan tangisan kepedihannya.
Rain dan Tara sama sama menangis saat itu juga, Bayi yang sudah mereka tunggu selama ini telah hilang dan tak akan pernah kembali lagi.
"Maafkan aku" lirih Rain disela sela tangis Tara.
Tara tak menjawab ucapan Rain namun ia menggenggam tangan Rain dengan sangat kuat. Berusaha menguatkan Rain dan juga dirinya.
Setelah meluapkan kesedihan nya, Tara sudah terlihat tenang dipelukan Rain. Bankar yang cukup besar dan lebar mampu menampung Rain dan juga tara berbaring disana.
Mereka tengah sibuk dalam pemikiran masing masing sambil Rain membelai Rambut tara.
"Tuan.." panggi Tara dengan lembut
"Ya sayang?"
"Apa Mama baik baik saja?" Tanya Tara
Mata Rain kembali berkaca kaca sambil mengangguk " Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa Mama" ucap Rain penuh bergetar.
Tara Tau jika ia ingin menyelamatkan Rinjani ia akan kehilangan Anak nya dan membahayakan dirinya. Namun ia tak berfikir panjang lagi dan segera mengambil keputusan menyelamatkan Rinjani.
Sementara Itu Rinjani yang mendengar kabar bahwa Tara telah sadar dari Koma, Tak hentinya berucap syukur dan segera bersiap kerumah sakit. Walaupun badan nya sangat lelah kekurangan istirahat namun ia tak memperdulikan kondisi nya yang terpenting baginya Adalah Tara.
Dengan semangat Rinjani segera menuju rumah sakit.
**
"Sayang.." panggil Rinjani menghampiri Tara
"Mama" teriak Tara dengan penuh Rindu dan juga kesedihan.
"Maafkan mama nak.. maafkan Mama" ucap Rinjani memeluk Tara dengan tangis nya. Lagi lagi perasaan bersalah Rinjani kembali lagi.
"Mama tidak perlu meminta maaf.. mungkin ini adalah ujian untuk Tara dan juga Tuan" ujar Tara menenangkan Rinjani. Walaupun sebenarnya ia sangat sakit.
Rinjani terus saja meminta maaf kepada Tara walaupun itu bukan kesalahannya.
Rinjani menyuapi Tara makan dan memberikan obat yang sudah diberikan dokter.
__ADS_1
Tak banyak kata yang Tara ucapkan, ia hanya tersenyum dan menjawab pertanyaan Rinjani seada nya saja. Walaupun Ia menutup rapat rapat perasaannya saat ini agar orang lain tak khawatir padanya, namun tetap saja Wajahnya tidak bisa berbohong.
Rinjani sangat mengerti Apa yang dialami dan dirasakan oleh menantu nya ini, Ia pun berpamitan untuk pulang dan mengurus keperluan Tara selama berada dirumah sakit ini. Tentu saja Rinjani memberikan waktu untuk sendiri kepada Tara. Ia sangat hafal bagaimana Tara.
Gadis yang sangat ceria ketika bersama orang dan selalu menutup luka nya dengan senyuman yang indah itu.
Melihat punggung Rinjani yang menjauh dibalik pintu, Pecah lah tangis yang Ia tahan selama ini.
Tara menangis sejadi jadinya menumpahkan perasaan yang sangat sedih. Ia mengelus perutnya yang sudah Rata dengan rasa sakit yang luar biasa.
Ia menepuk nepuk pelan dada nya berharap rasa sakit ini akan segera pergi.
"Sayang.." teriak Rain yang baru saja masuk keruangan Tara terkejut melihat tara histeris seperti itu.
"Tuan... hikkss hikkss hikss" gumam Tara melihat Rain yang berlari kearahnya
"Ada apa?? Kenapaa???" Panik Rain
Tara memeluk Rain dengan erat nyaa "Baby B" lirih nya..
Rain mengusap Kasar Wajah nya melihat keadaan Tara yang seperti ini.
"Sayang.. ikhlas kan anak kita ya.. dia akan sangat sedih melihat mama nya seperti ini" tenang Rain dengan mata yang memerah menahan tangis.
Tara tak menjawab ia hanya menangis sambil memeluk Rain.
Rain mengelus rambut istrinya "Aku tau ini pasti sangat sakit bagimu"batin Rain.
Ia membiarkan tara terus menangis dipelukannya. Ia takut jika Tara menahan perasaan nya sendiri itu akan memperburuk penyembuhan nya.
Terlalu lelah menangis, Tara pun tertidur dipelukan Rain. Rain yang menyadari itu memindahkan Tara dengan sangat pelan dan hati hati.
Ia menyelimuti Tara dan mencium kening sang istri.
Rain beralih kesofa dengan laptop didepan nya. Ia akan mengecek semua pekerjaan yang sudah Ia tumpuk kan beberapa hari ini.
Dan juga mengurus kepidahan nya bersama tara ke apartment nya yang Dulu agar tara tidak sedih dengan kenangan nya dulu. Ia juga mengurus beberapa berkas kematian putri mereka dan juga kuliah Tara.
Rain akan mengizinkan tara untuk kuliah lagi agar tara sedikit melupakan kesedihannya.
Note: terimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini 💜💜
__ADS_1