
"Ahh, mf mbak". Ucp Jesicha. Mbak Retna, atasan Jesi yg baik.
"Jes, mbak tau km gugup kan? Mbak juga sama Jes, tapi kamu udah mbak percayakan buat tugas ini, untuk departemen ini, kamu gak bakal buat mbak sama yanh lain kecewa kan, Jes? Please yah, kamu orang kepercayaan Mbk".
"Tpi Mbk".
"Jes, kita bahkan gak tahu siapa Presiden baru ini, Jes. Km yang semangat yah, jangan membuat kesalahan apapun, ok". Setelah mengucapkan itu, Retna kmbali sibuk dgn tugasnya.
Sedangkan Jesi sndri sangat gugup, tapi dia harus melakukan yang terbaik untuk semua orang di departemennya saat ini.
"Presiden direktur sudah masuk keLift". Smua orng langsung mengambil tmpt mereka masing-masing.
Bukan hanya Jesi Saja yang gugup, smua orng sm spertix.
'Tinggg..'
pintu lift terbuka, nampak aura yg sangat tajam melangkah, smua orng menundukkan kepala mmbri hormat, smua penasaran. Ketika jesi mengikat wajahnya.
'Degg...'.
"Tunggu, wajahnya mirip dgn Rian. Apa dia Rian? Atau da malah mempunyai kembaran?" Batin Jesi.
smua orng mengikutinya kedalam aula. Orng yang berada disisinya salah satu Jesi, ketika jesi mmbri berkas untuk bosnya. Sepucuk kertas menerobos keluar map dan jatuh tepat dikaki Bosx.
"Bodoh, apa yg kulakukan?".batin Jesi.
Smua orng mnatap tak prcya jka Jesi melakukan kslahan. Ketika dia brjongkok memungut keras, presiden langsung menahannya.
"Rok kerjamu tak pantas utk brjongkok!" Ucapx dingin. Smua orng was-was. Namun Bos mereka seperti biasa saja, dia malah menghilangkan sendiri kertas itu, lalu menggerakkan jarinya, tanda melanjutkan acara.
_____________
"Jesi, apa yang kau lakukan hahh? Kau bisa mmbuat kta smua disini dipecat krna kesalahan kecil itu". Retna mmrahi Jesi ketika smua orng meninggalkan aula.
"Maaf Mbak, saya gak sengaja". Jesi menyadari ksalahannya. Tiba-tiba Retna mendapat telepon, Presiden ingin mengunjungi setiap departemen yg ada di kantor. Mreka lngsung kembali ketempat masing-masing menyambut Bosnya.
"mengapa aku jadi bodoh gini sih?" gerutu Jesi..dia mengikuti langkah Mbak Retna dari belakang.
__ADS_1
Terlihat Bos mereka yg berwajah dingin memasuki departemen mereka, semua was-was. jangan sampai membuat kesalahan apapun.
"Tolong kerja sama kalian semua" matanya melihat kesekeliling dan tepat bertatapan dengan Jesi. Kemudian pergi.
"Huhft". Semua bernafas legah.
Kini yg terdengar bisikan
Stelah Bos mreka keluar, smua orng semakin ribut, terlebih kaum hawa.
"Pak bos benar tampan yah, cocok sekali buat di jadi'in suami" ucap salah satu.
"Mna udha ganteng plus kaya lagi, idaman. Gue banget". Ucp mreka begantian.
Sedangkan Jesi malah menutup telinga dan membayangkan.
'apa dia benar-benar Rian suami gue? Atau dia punya kembaran? Ahkk, buat pusing aja' batin Jesi.
________
"Masuk!!". Dia menurunkan kaca, Jesi bisa melihat wajah itu. Wajah tampan sama persis seperti orng yg brstatus suamix.
"Knpa kau melamun? Saya bilang masuk!" Ucapnya lgi.
"Ehh, tak usah pak, saya dengan taxi saja". Tolak Jesi lembut, dia takut salah orng.
Tepat dari blkang ada taxi yg mau lewat, Jesi menghentikan taxi dan meninggalkan bosnya. Sangkan orng yg ditinggal geram. Yah dialah Adrian, suami Jesicha.
Sebelum sampai di apertemen, Jesi mampir ke mini market dan membeli beberapa bahan masak. Setelah selesai, dia kembali ke Apertemen suaminya. Tak mungkin bagix bisa kmbli ke aprtmen mlikx.
'Klekk'..
Baru saja Jesi akan masuk, sudah berdiri di depannya sosok lelaki dengan wajah tampannya. Rian
"Ehh, aku pulang". Sapanya.
Rian mengangguk. "mengapa tadi tak mau naik mobil?"
__ADS_1
"Ehh, maaf pak, saya cuma tak.mau orang lain salah paham tadi" Jesi tak bisa menjwb pertanyaan itu lebih lagi, dia sndri tak menyangka jika bosnya adalah suaminya. Yg saat ini sedang berdiri di depannya.
Jesi melewati Rian begitu saja, namun tangannya langsung dicekal oleh Rian.
"jelaskan padaku!" ucapnya.
"Saya tak mau semua orang mengetahui hubungan kita. Jadi bisa tolong lepas tangan saya pak Presdir?" Ucp Jesi.
"Pak Presdir?" Ucp Rian dgn ditekan setiap kalimatnya. " Saya suami kamu, tapi kau panggil saya dengan Presdir?!".
"Ehh, maaf" Jesi tertunduk. Dia bahkan tidak tahu apapun tentang suaminya ini, apa lagi jalan pikiran Rian yang sangat misterius.
Dengan terpaksa Rian mlepas tangan Jesi. Merasa canggung, Jesi mulai mencairkan suasana.
"Saya masak dulu". Rian mengangguk. Jesi tak ganti pakaiannya lagi, hanya melepas sepatu heels dan menyimpan tas lalu mulai bekutip di dapur.
karena bosan Rian malangkah kedapur dan melihat Jesi yang sibuk sendiri.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Rian, dia berniat membantu Jesi memasak.
Jesi tetap fokus namun bibirnya juga bekerja.
"Tak usah, kamu duduk saja sana,.atau istirahat. Bentar lagi slesai kok, nanti saya Panggil". Tolaknya lembut, tapi tak melihat kearah Rian.
Rian trsenyum melihat Jesi. Padahal dia berpikir bisa masak berdua dengan istrinya. Tapi tak apa lah, dia kmbli kekamar dan memeriksa pekerjaan nya.
Jesi slesai dgn masakannya, dia brjln mncari Rian di ruang tamu, mungkin dia sedang nonton.
'tak ada disini'. Gumamx.
Jesi ke kamar dan mendengar Rian sedang menelpon.
'Tok..tok..tok.., Klekk'
Rian menoleh "saya percayakan semuanya padamu!". ucapnya lalu mengakiri panggilan.
"ada apa? apakah sudah selesai?" tanyanya.
__ADS_1