
Jesi baru saja selesai dengan pekerjaannya. Tiba-tiba Mbk Retna menghampirinya.
"Yuk Jeije, bentar lagi Meeting sama pak Presiden akan dimulai". Ajaknya.
Jesi memang selalu dipanggil Jeije oleh teman atau atasan sedepartemennya.
Mereka tiba diruang meating dan menunggu kehadiran Rian.
'Tak..Tak..Tak'.
langkah kaki itu menggema disuruh ruangan. Segera semua berdiri dan memberi salam dengan menundukkan kepala mreka.
Rian hanya mengangguk dan duduk ditempatnya.
"Mari kita Mulai" ucapnya dingin. Tentu saja para bawahannya dengan cepat mengerti. Mereka mulai melaporkan hasil pekerjaannya.
A&Q Sweet Grup yang memang mengambil berbagai jenis bidang bisnis dalam prusahaan itu. membuat para kariawan nya juga sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
Jesi masih duduk dan membolak-balik bekas yang ada, jangan sampai dia membuat kesalahan. Jesi yang diminta Mbak Retna untuk bertanggung jawab untuk sebuah proyek.
Dia segera maju mmbrikan bekas pada Rian lalu mengendalikan komputer. Untuk menjelaskan perincian datanya tentang proyek shangchuan.
Shangchuan Company sendiri adalah anak cabang dari perusahaan Xia, salah satu perusahaan terbesar Di Tiaongkok, dan bekerja sama dengan perusahaan Adrian.
Perusahaan hiburan seperti Novel, komik, dan lainnya, meski begitu Prusahaan A&Q Sweet Grup menjalin kerja sama.
"Pak Presdir, masalah diatas adalah masalah penawaran perusahaan Shangchuan". Ucap Jesi.
Rian mengangguk.
Rian tampak fokus dengan apa yang disampaikan Jesi. Dia mengangguk, ketika Jesi selesai dengan presentasinya. Rian melempar senyuman tipis pada Jesi, dan sukses membuat Jesi merona.
Jesi juga membalas snyuman Rian, namun tak ada yg menyadari hal itu, hanya ada seseorang yang dengan tatapan benci mengarah pd Jesi.
'ja**ng itu... Liat aja gue bakal buat perhitungan sama dia, beraninya dia menggoda pak Adrian' batinnya.
Dengan berakhirnya presentasi Jesi, Meeting dengan para staf juga berakhir, smua bubar. tinggal Jesi yang masih membereskan berkasnya dibantu Alex, tentu tak luput dari pandangan Rian yang masih berada disana.
__ADS_1
"lo keren banget tadi, buat gue makin cinta aja" ucap Alex.
Tentu mendapat plototan dari Rian.
"Thank's, tapi Lo masih waras kan? Lo nggak inget gue Bilang apa kemaren?" Balas Jesi.
Alex mengangguk. mereka tertawa bersama. Dan hal itu menimbulkan aura mencekam dri ssorang.
"Jesicha!". Mata Rian seakan mau lepas melihat Alex yang memegang tangan Jesi. Namun dengan cepat ditepis Jesi.
"Iya pak". Melihat ekspresi Rian yang tak lagi bersahabat, Jenny dengan cepat menyela.
"Nona Jesicha sebaiknya tunggu sebentar. Ada beberapa hal penting yang ingin dibicarakan Tuan Muda soal yang tadi". Ucp Jenny cpat. Jesi mengangguk paham.
"gue tunggu dibawa yah, semangat". Alex bahkan mengacak rambut Jesi. Dan membuat Rian semakin emosi. Dia bhkan tak pernah melakukan hal itu pada Jesi, namun dengan beraninya Alex....
Rian mengepal tangannya kesal. Stelah Alex meninggalkan mereka, Rian menarik Jesi.
Dgn cpat Jenny menurunkan tirai agar orang di luar sana tak melihat adegan keduanya. Untung sj ruang meeting itu dilengkapi peredam suara.
"Kenapa?" Tanya Rian. Jesi tak mengerti apa yg dimaksud Rian.
"Apa maksudmu pak presdir?" tanya Jesi polos.
"Presdir?. Aku ini suamimu dan kau memanggilku Presdir?". Tekan Rian. Jesi semakin tak mengerti jln pikiran Rian.
"Ini di kantor pak". sela Jesi.
"Aku tahu.. lalu Kenapa jika ini di kantor?. Aku tetap suamimu!!". Bentak Rian.
"Hufft". Jesi membuang nafasnya kasar. "Yah, kau mmng suamiku. Tapi saat ini kita sedang di kantor, dan aku ingin bekerja, lagi pula kau ini bosku bukan?. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan olehku!!". Ucap Jesi.
Rian sdikit mnahan emosinya yg hampir meledak
"Baiklah. Tapi ingat!"
"Apa?" Tanya Jesi.
__ADS_1
"Jangan dekati lelaki manapun. Jika mereka mendekat, jauhi mreka. Aku tak suka". Stelah mengatakan itu, Rian keluar dengann wajahnya yang masih memerah. Tanda bahwa dia masih marah.
'jadi ceritanya dia cemburu? Masa sih dia cemburu?. Eh tpi diakan suami gue.. Ahhk,,, mnding gue balik aja'. Batin Jesi.
Dia kembali ke departemen sekretaris dan mlanjtkan pekerjaannya. Sedangkan diruangan Rian.
'prakkk..prakkk..prakk'.
ruangannya berantakan seperti kapal pecah, banyak berkas penting yang berhamburan, pecahan gelas dimana-mana dan msih banyak lagi. Jenny yang diluar hanya menahan diri agar tak masuk. Setelah dia rasa sedikit membaik, jenny segera masuk. Namun yg dilihatnya.
"Tuan Muda". Teriak Jenny. Dia langsung memanggil Hengky membantunya membopong Rian kesofa. Jenny langsung menelpon seseorang, siapa lgi jika bukan Jesica.
Saat ini Jesi yang sedang berkutik dengan pekerjaannya.
'drutt..drutt'
"Halo..... Baik bu". dengan cepat Jesi berlari. Memasuki lift dan mnekan tombol 25
'Tingg'.
Pintu lift terbuka, dengan cepat Jesi berlari kesatu ruangan.
'Brakk..'
pintu didorong dengan kasar
"Apa yg terjadi?" Jesi melihat kearah sofa dan menemukan Rian yang terbaring
"Riian!"
Jesi mendekat, meski Rian terbaring, namun dia tak pingsan. Jesi melihat tangan Rian yang berdarah, dia menyentuh, namun ditepis oleh Rian.
Jesi melihat kesamping, Jenny sudah memegang kotak P3K. Diraihnya tangan Rian, namun Rian mnepisnya lagi. Rasa khawatir ditambah kesal SDH menjalar pada Jesi.
"Berikan tanganmu!!". Bentak Jesi, Rian sedikit Menoleh, memastikan apakah ini Istrinya atau bukan.
Jesi tak pduli Rian akan menepis, marah atau apapun, dia tak peduli lagi.
__ADS_1
"Berikan tanganmu biar kuobati". Ucap Jesi lembut, lalu mengambil ulang tangan Rian yang berdarah, tak ada perlawanan dari sang empunya kali ini....