Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS. 22


__ADS_3

Paginya seperti biasa, Jesi bangun lebih dulu dari pada suaminya. Selangkangnya sedikit sakit, akibat ulah Rian semalam.


Yah, karena cemburu semalam, Jesi harus bertanggung jawab. Dengan sedikit tertatih, dia melangkah ke kamar mandi, merendam tubuhnya yang lengket.


"Sayang,,, sayang ayo bangun". Panggil Jesi sambil menepuk pipi Rian.


"Sayang, ayo bangun. Sudah pagi". Ulang Jesi. Namun tak ada reaksi dari suaminya, Jesi berjalan kearah jendela, lalu menarik gorden yang menghalangi cahaya matahari masuk kedalam kamar


Rian membuka sedikit matanya, silau yang dirasakan nya.


"Sayang, ayo bangun". Panggil Jesi lagi, dia berjalan kesisi tempat tidur, lalu menepuk pipi Rian lagi.


"Ahkk, kau tidak mau bangun. Baiklah, silahkan tidur". Ucap Jesi ngambek, dia tahu Rian sudah membuka matanya, namun malas untuk bangun.


Ketika Jesi beranjak, tangan Rian dengan cepat menarik pinggul Jesi, dan alhasil, Jesi menumbru tubuh Rian. Dengan cepat Rian membalikkan tubuhnya, hingga menindih tubuh mungil istrinya.


"Kau belum memberiku morning kiss". Ucap Rian. "Mana morning kiss ku?"


"Nggak mau,,, kau bau". Ngelas Jesi. Dia harus memenuhi keinginan Rian yang satu ini. Yah semalam Rian ngambek karena panggilan Jesi padanya adalah 'Kakak' dan bukan 'sayang'.


Jesi harus memanggil Rian dengan sebutan sayang lalu harus memberinya morning kiss setiap pagi.


"Apa perjanjiannya semalam, hmm?" Ucap Rian mengingatkan.


"Ahhkk, aku nggak mau". Balas Jesi.


"Kalau begitu aku juga tak mau bangun" Rian kembali memeluk Jesi lalu menutup matanya, dalam posisi tetap menindih tubuh istrinya.


"Bangun, kau berat". Jesi berusaha mendorong tubuh kekar itu. Namun usahanya tak berujung juga. Rian terlalu berat baginya.


"Kau membuatku tak bisa bernafas". Ucap Jesi lagi.


"Morning kiss". Rian tetap pada keinginan nya.


'Cup'.


Jesi mengecup bibir Rian sekilas.


"Sudah, sekarang bangun, kau berat".


Rian tersenyum. "Aku tak merasakan apapun". Balas Rian.


"Ahkk,, kau mau aku mati kesulitan bernafas?!"


"Baiklah". Rian menggeser tubuhnya kesamping.


"Hufft...". Jesi bernafas lega. "Ayo mandi, kau bau". Sambil menarik tangan Rian.


"Mandi bareng". Pinta Rian.


"Nggak, aku sudah mandi". Tolak Jesi. Dia berjalan kearah walk in closed dan bersiap Seperti biasanya.


Wajah Rian murung, dia mengikuti keinginan istrinya. Mengguyur tubuhnya dengan air hangat, lalu keluar dan melihat Jesi sedang memakai make-up yang dibelinya bersama mama.


"Kau sudah selesai?". Tanya Rian, Jesi menatap Rian dari pantulan cermin.


"Belum, duduk. Biar ku keringkan rambutmu". Ucap Jesi, Rian menyodorkan handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut nya.


Setelah Rian duduk, Jesi berputar lalu mulai mengeringkan rambut hitam Rian.

__ADS_1


_________________


"Pagi semua". Sapa Jesi.


Mereka melihat kearah asal suara. "Pagi nak/sayang/kakak ipar". Jawab Papa, mama dan Rey bersama.


Rian menarik kursi untuk istrinya, lalu menarik kursi nya sendiri.


Jesi mengambilkan sarapan untuk Rian, inilah kewajiban nya. Mama dan papa hanya tersenyum melihat keharmonisan putra sulungnya dengan menantu mereka.


"Wah,, kelihatan enak". Ucap Jesi, melihat kearah ayam kecap didepan Rey.


"Kakak ipar, kau mau ini?" Tanya Rey, Jesi mengangguk.


Rey menatap kearah kakaknya, hanya dengan kode dari Rian. Rey menggeser piring ayam kecap kearah kakaknya, lalu Rian lah yang mengambilkan ayam kecap untuk istrinya.


"Ini sayang, kau mau kan?" Jesi tersenyum manis. Lalu mengangguk.


"Tapi, kau harus mencicipinya dulu". Ucap Jesi, Rian menatap heran kearan istrinya.


"Aku mau makan ayam bekas kamu". Pinta Jesi, Rian menurut, dia menggigit sedikit ayam kecap itu, lalu memberikannya pada Jesi.


Dengan lahap, Jesi menghabiskan ayam kecap bekas Rian.


Mama dan yang lain hanya menggeleng kepala mereka, mengapa Jesi sangat aneh pagi ini.


Rian dan Jesi berangkat bekerja, mereka satu arah, namun berbeda kendaraan.


Mobil Rian yang berada didepan mobil Jesi, mereka tiba di kantor bersamaan.


Jesi melempar senyum kearah suaminya. Dari belakang April menghampirinya ketika berada diparkiran.


"Morning Ril". Sapa Jesi. April berlari dan memeluk Jesi erat.


"Lo kenapa sih suka banget buat orang khawatir?" Tanya April.


"Khawatir? Emangnya kenapa sih?" Tanya Jesi bingung.


"Yah kalo Lo lagi sakit kan bisa nelpon gue, biar gue ngerawat Lo. Lo pasti sendiri aja, gak ada yang ngurus Lo ketika sakit". Celoteh April.


"Lo nggak papa kan? Mana yang masih sakit?" Tanya April lagi.


"Gue udah baikan Ril, gue baik-baik aja". Balas Jesi. Dia heran, dari mana April tahu dia sakit.


"Ril, Lo tau dari mana kalo gue sakit?" Tanya Jesi.


"Ya ampun Jeije, gue tahu lah, kan gak biasanya Lo bolos kerja. Gue tau Lo pasti sakit, hp Lo juga gak aktif, jadi gue tebak aja, Lo pasti lagi sakit". Jelas April. Mereka mengobrol sambil melangkah memasuki kantor.


"Trus yang lain gimana?" Tanya Jesi.


"Mbak Retna, dia nanyain Lo ke gue, kenapa gak masuk". Balas April.


"Trus Lo bilang apa?"


"Lo pasti nggak masuk karna sakit" balas April.


"Trus mbak Retna percaya?" Tanya Jesi.


April mengangguk. "Mbak Retna juga bilang, Lo pasti sakit atau ada urusan, makanya Lo bolos kerja". Balas April.

__ADS_1


Dan benar saja, ketika Mbak Retna melihatnya di lobi, mbak Retna langsung menghampirinya.


"Jeije". Panggilnya. Jesi dan April menghentikan langkah mereka.


"Pagi mbak". Sapa Jesi dan April bersamaan.


"Pagi". Balasnya. "Kamu kenapa kemarin nggak masuk? Kamu sakit?" Tanya Mbak Retna.


"Maaf mbak, saya kemarin gak enak badan, jadi saya ke dokter". Balas Jesi, memang dia diperiksa dan dirawat. Namun bukan dirumah sakit, tapi di klinik mini kakaknya.


"Trus Dokter bilang apa?" Sambungbak Retna.


"Saya kelelahan aja mbak, jadi harus istirahat". Balas Jesi.


"Ya sudah kalau begitu, kamu jangan kelelahan jago yah". Jesi mengangguk paham. Mbak Retna memang selalu baik kepada semua bawahannya.


Ketika Jesi sibuk dengan pekerjaannya, ada yang masuk kedalam ruangan itu, harum parfumnya membuat kepala Jesi pusing, rasanya ingin muntah saja.


Jesi berlari kearah toilet, menabrak orang yang baru saja masuk, namun tak sampai jatuh. Dia adalah Alex.


"Dia kenapa? Apa dia sakit?" Tanya Alex ke kariawan yang lain. Mereka hanya mengangkat bahu nya, tanda tak tahu.


'Owekkkkk...owekkkkk'.


Jesi terus saja mengeluarkan isi perutnya. Lalu membersihkan mulutnya dengan air.


"Gue kenapa sih?" Bantin Jesi. Setelah merasa baikan, dia kembali ketempat nya.


Namun Alex sudah menunggunya disana, saat langkanya semakin dekat, lagi-lagi dia merasa mual. Dan begitu seterusnya.


Alex mencari April, dia tahu April pasti tahu mengapa Jesi terus saja bolak-balik toilet.


"Ril" panggil Alex.


"Kenapa?" Tanya April, dia tetap fokus dengan tugasnya.


"Si Jeje kenapa sih? Kok bolak balik toilet dari tadi? Dia lagi sakit yah" sambung Alex.


April langsung menghentikan pekerjaannya."Apa? Dia lagi sakit Lex dari kemaren". Balas April, dia mendorong tubuh Alex, berlari kearah toilet wanita.


"Jeje sakit? Pantes aja kemaren nggak masuk". Dia juga mengikuti langkah April kearah toilet wanita.


.


.


.


.


.


.


*****NOTE*****


Minta dukungan nya kak.


jangan lupa like, komen dan Vote-nya.

__ADS_1


__ADS_2