Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS. 16


__ADS_3

Sementara di bandara internasional pesawat mendarat dengan mulus. Semua penumpang bersiap-siap turun dengan berurutan. Sampai pada gilirannya untuk turun.


Langkah tegap dan gagahnya membuat semua orang menatapnya kagum. Bagaimana tidak, wajah tampannya membuat para wanita mimisan.


Terlihat seorang wanita paruh baya yang sedang menunggunya.


"Mama". Panggilnya.


"Oh, my son". Balas mamanya. Mereka adalah mamanya Rian dan adik bungsunya, Reyhan Rios.


"Mama, I Miss you So much". Ucapnya.


"I Miss you too, my son". Balas mama.


Mereka berpelukan melepas rindu. Lalu berjalan sambil Rey menarik kopernya. Mereka berhenti didepan sebuah mobil mewah berwarna silver milik mama.


"Mah". Panggil Rey.


"Ada apa nak?" Tanya Mama


"Kata mama kak Ian udah nikah, beneran?" Tanya Rey penasaran.


"Iya nak, kakakmu itu emang udah nikah, emang kenapa?" Tanya mama balik.


"Aku pikir kak Ian gak bakal nikah". Balas Rey


"Kok kamu bisa mikir seperti itu? Kenapa?" Tanya mama


"Yah soalnya kakak selalu nolak cewek yang aku kenalin buat dia, aku sampe mikir kalo dia itu 'Gay'. Tapi mah, kenapa mama gak nyuruh aku pulang sih? Itu hari penting nya kakak, aku mau lihat pernikahan mereka mah". Keluh Rey sambil memajukan bibirnya.


"Ya ampun nak, kakakmu itu pria normal, buktinya sekarang dia sudah menjadi seorang suami. Dan jangankan kamu, mama sama papa aja enggak ada yang melihat mereka mengucapkan janji suci itu". Ucap mama kecewa. Tapi mama juga bersyukur, akhirnya putra sulungnya memilih seorang wanita menjadi istrinya.


"Tapi kamu jangan kecewa, pesta pernikahan mereka belum dilaksanakan, rencananya dua Minggu lagi pesta pernikahan kakakmu itu". Ucap mama menghibur putra bungsunya.


"Yang bener mah?" Ucap Rey semangat.


"Iya nak, mana bisa mama bohong sama anak mama". Ucap mama.


Keduanya larut dalam cerita, sedangkan pak Joko, sopir Mamanya hanya tersenyum mendengar percakapan kedua ibu dan anak itu.


Hingga tiba-tiba ada beberapa mobil yang mengejar mereka dari belakang. Pak Joko menambah kecepatan mobil.


"Kenapa pak?" Tanya mama.


"Ada yang mengejar kita Nyonya". Jawab pak Joko, lalu menambah kecepatan.


"Rey, gimana ini?" Tanya Mama.


"Tenang mah, Pak bisa dipercepat lagi tidak?". Ucap Rey


"Bisa Tuan muda". Balas Pak Joko. Namun ketika berada dijalanan yang sepi, salah satu mobil mendului, lalu berhenti tepat didepan mobil mama. Pak Joko menginjak pedal rem, mobil berhenti mendadak. Sedangkan dua mobil lainnya juga ikut berhenti.


Beberapa orang dengan tubuh kekar mereka keluar, mendatangi mobil mama.


"Keluar kalian". Ucap mereka sambil menggedor-gedor kaca mobil, mereka mengelilingi mobil mama.

__ADS_1


"Gimana dong nih pak?" Tanya mama Panik.


"Mama yang tenang dulu. Aku sama pak Joko keluar dan lawan mereka. Mama jangan ninggalin mobil oke? Langsung kunci mobil dari dalam, oke?" Ucap Rey.


"Nggak, mama nggak mau kamu kenapa-kenapa". Mama panik.


"Mah, mama jangan khawatir, aku anak laki-laki, aku kuat mah". Ucapnya menenangkan. Mama tetap tak ingin putranya sampai kenapa-kenapa.


Rey memberikan kode pada pak Joko, lalu mereka keluar dari mobil, mama semakin panik.


"Maaf, ada apa ini?" Tanya Pak Joko.


Namun bukannya menjawab, mereka malah menyerang pak Joko dan Rey.


Perkelahian tak dapat dihindari lagi, untung saja pak Joko menguasai ilmu bela diri, sama seperti Rey.


'BRAKK'


'Bruggg'


'Krakkk'


Rey berhasil menghindar lalu membalas pukulan mereka, namun saat dia melihat Pak Joko yang akan dipukul dengan kayu balok, dia melindunginya pak Joko, sehingga terkena tengkuknya.


'Bruggg'


Rey terjatuh dan pingsan.


Mata mama yang sejak tadi berair tak bisa terbendung lagi. Tangisnya pecah.


________________


Hari sudah mulai petang, artinya jam kantor sudah usai. Semua kariawan bergegas meninggalkan kantor A&Q SWEET GRUP, menuju rumah mereka. Begitupun dengan Adrian dan Jesicha, mereka bergegas kembali kerumah utama.


"Sore Pah". Sapa Jesi.


"Sore nak". Balas Papa, Adrian menyusul istrinya ditaman belakang.


"Sore Pah".


"Sore Son". Balas papa.


Mereka bercanda lalu tertawa bersama, sambil menikmati kue dan teh yang disajikan oleh pelayan.


"Pah, mama kemana? Kok gak keliatan?". Tanya Jesi yang sejak tadi tak melihat ibu mertuanya.


"Mama kamu lagi jemput si bungsu". Jawab papa. Jesus berohria.


"Emang kamu punya adek, kak". Tanya Jesi pada Rian yang duduk disampingnya.


"Punya sayang, dia lagi kuliah di New York". Jawab Rian sambil terus bermain rambut Istrinya.


"NY? Jurusan apa?" Tanya Jesi lagi.


"Kedokter, dia pingin jadi dokter bedah". Balas Rian. "Memangnya kenapa sih?". Sambung nya.

__ADS_1


"Gak kenapa-kenapa kok, Kak". Balas Jesi sambil tersenyum dan menampilkan dua lubang lesung Pipit yang dalam.


Hari semakin gelap, namun tanda-tanda kepulangan adik ipar dan mertuanya tak kunjung datang. Bahkan makan malam pun tak sampai-sampai, membuat Papa khawatir.


Sejak tadi perasaannya tak tenang, namun ditepisnya positif thinking saja, pikir Papa.


"Son, coba telpon mama mu". Ucap papa ketika mereka diruang keluarga sedang bersantai.


Rian menurut, namun sebelum telponnya tersambung, sebuah nomor asing memanggil.


Rian menjawab, tapi tak bicara. Sampai orang diseberang sana yang bicara.


"Apa kalian tak mengkhawatirkan dua anggota keluarga yang tak kembali?" Tanya orang itu.


"Siapa kau?!" Bentak Rian. Papa dan Jesi langsung melihat kearah nya.


"Aku tunggu satu jam lagi di jalan Madura blok 11. Jika kau tak datang membawa separuh saham dan 2 miliar, maka jangan harap bisa melihatnya lagi". Ancamnya, "oh, dan yang terakhir, jika kau membawa polisi, jangan harap mereka selamat lalu mengakiri panggilan secara sepihak.


"Siapa Son?" Tanya Papa panik, dia mendengar sedikit ucapan pria itu. "Apa yang terjadi pada mama dan adikmu?!" Tanya papa.


"Pah, mereka menculik mama dan Rey, aku akan membawa apa yang mereka inginkan. Untuk menebus mama dan Rey". Ucap Rian dingin, dia dengan segera berlari meninggalkan Papa dan Jesi.


Menaiki anak tangga dengan cepat, lalu menyiapkan apa yang diminta oleh penculik. Dia tak pedulu dengan uang, yang ada di otaknya saat ini adalah menghabisi orang yang sudah menculik mama dan saudaranya. Lalu menelpon Hengky, menyuruhnya menyiapkan orang-orang kepercayaannya dan pergi dengannya.


"Kak". Panggil Jesi, dia juga tak kalah panik. "Aku ikut!" Pintanya.


"Tidak, aku tak mau kau ikut, disana berbahaya". Tolaknya. "Kamu disini saja yah sayang, aku mohon, yah". Pintanya.


Jesi menggeleng. "Aku takut terjadi sesuatu sama kamu, Kak". Ucapnya diiringi air mata.


"Sayang, dengar aku. Disana banyak bahaya, aku tak bisa lindungan kamu kalau kamu ikut, jadi aku mohon yah, kau disini saja". Rian memeluk istrinya. Lalu berlari meninggalkan Jesi yang menangis.


"Ayo Son". Ucap papa yang sudah selesai bersiap.


Mereka meninggalkan rumah utama diiringi beberapa mobil pengawal kepercayaan Rian. Jesi memandang dari balkon kamarnya.


Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang..


"Aku perlu bantuan kalian". Ucapnya dingin. Baru kali ini Jesi terlihat seperti ini sejak bertahun-tahun yang lalu.


.


.


.


.


.


****NOTE****


Jamgan lupa like, komen dan Vote-nya


arigataoušŸ˜‰

__ADS_1


__ADS_2