Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS.27


__ADS_3

Jesi menggigit kuku jarinya, 'tak mungkin, itu hanya mimpi'. Batin Jesi.


Anak itu bangkit, lalu berjalan keluar dari area taman. Jesi diam-diam mengikutinya, dia mempercepat langkahnya


'nggak, dia nggak boleh celaka" batin Jesi.


Anak itu terus berjalan sampai di persimpangan jalan yang sepi.


Jesi melihat ke kiri dan kanan, memastikan tak ada kendaraan yang lewat.


Namun ternyata tidak, ada truk yang melaju kencang kearah mereka, sopir truk mengantuk dan tak memperhatikan jalanan.


Sedangkan di rumah, Rian baru saja pulang, dia ingin memeluk Jesi saat ini. Entah mengapa dia sangat merindukanmu istrinya.


"Sayang" panggilan.


"sayang...kau dimana?" Panggil Rian lagi. Namun tak ada sahutan dari istrinya. Dia mengecek kamar mandi, mungkin saja Jesi sedang mandi.


Namun kosong, Jesi tak ada disana, memeriksa Closed juga tak ada.


"Dimana dia?" Gumam Rian. Dia keluar dan menanyakan. Pada pelayan yang baru saja lewat.


"Dimana nona kalian?" Tanya Rian.


"Maaf tuan, Saya tidak tahu, terakhir kali saya lihat bersama Nyonya dan tuan muda Rey ditaman belakang" jawab pelayan.


Rian mengangguk. " Kau boleh pergi". Pelayan itu meninggalkan Rian dan melanjutkannya tugasnya.


Rian melangkah ketaman belakang. Disana dia melihat papa, mama dan adiknya. Tapi tak ada Jesi.


"Mama, dimana istriku?" Tanya Rian.


"Nak kau sudah pulang?" Ucap Papa.


Rian mengangguk. "Dimana istriku? Mengapa aku tak melihatnya".


"Tadi kakak ipar bilang dia ketaman, dia ingin makan es krim disana" jawab Rey. "Apa kakak ipar tak memberitahukannya pada kakak? Aku sudah menyuruhnya tadi" Sambungnya


Rian mengecek ponselnya, namun tak ada pesan dari istrinya.


"Oh Lord, dimana dia?" Rian langsung coba menelpon Istrinya, dia sudah merasakan firasat buruk sejak tadi.


"Nomor yang anda tuju, sedang tidak aktif atau ber..." Jawab operator.


Rian mulai panik, dia coba menelpon lagi, tapi sama saja.


"Kemana dia?" Gumam Rian.


"Rey, bantu aku mencari kakak iparmu!" Ucap Rian, dia berbalik dan berlari kekamar nya.


Rey yang juga mulai khawatir terjadi sesuatu pada Jesi sejak tadi, melangkah meninggalkan orang tuanya. Dia berlari kekamar nya, mengambil jaket sembarang.


"Mengapa dengan bodohnya aku membiarkan kakak ipar pergi sendirian. kakAl pasti akan membunuhku nanti" gumam Rey.


Kedua kakak beradik itu segeralah meluncur membawa kendaraan mereka masing-masing. Rian membawa mobil sport nya, sedangkan Rey membawa motor gedenya. (Moge)


Mereka meluncur ketaman terdekat.


Sedangkan dilain tempat...


Anak itu juga berjalan menyebrang kearah berlawanan.


Jesi melihat kearah truk yang semakin mendekat.


"Awasss" teriaknya. Namun anak itu tak mendengar nya, dia terus melangkah kakinya menyebrang jalan.


Dengan cepat Jesi berlari dan memeluk anak itu, dia mendorong tubuhnya kedepan.


Mereka berdua seperti bola yang berguling, kepala Jesi membentur trotoar, sedangkan anak itu baik-baik saja.


"Bibi... bibi banun...hikss...hikss..bibi buta atamu.." Panggilnya sambil menangis.


Jesi membuka matanya, kabur,, itulah yang dia rasakan.. ada tangan mungil yang sedang memegang wajahnya.


"Bibi..tau banun?" Ucapnya, suaranya sangat lembut.


Jesi mengangguk. Kepalanya pusing, pandangan mengabur, dia mengedip-ngedipkan matanya, menggeleng kepalanya...


"Bibi.. kepalamu beldalah" ucapnya lagi.


"Syukurlah kau baik-baik saja" balas Jesi, 'hampir saja' batinnya.


"Atu bait-bait sata, tati tepalamu beldalah" balasnya.


"Bibi baik-baik saja, dimana orang tuamu, sayang?" Tanya Jesi. "Mengapa kau sendiri ditaman?" Sambungnya.


Dia menggeleng.


"Lalu siapa yang membawamu ke taman? Wanita itu, siapa?" Tanya Jesi,


'bagaimana bisa anak ini mengatakan tidak mempunyai siapapun, lalu wanita yang meninggalkan nya di taman itu siapa?'. Batin jesi.


"Atu tat menenalna, dia hana menantalku ke taman sata, apa bibi yan membelitan atu es klim dan loti?" Tanyanya. Jesi mengangguk.


"Dimana kau tinggal sayang? Bibi akan mengantarmu" ucap Jesi.


Dia menggeleng. "Atu diusil dali luma, itu butan luma tu ladi" jawabnya.


Jesi langsung memeluk anak kecil dan lucu ini, 'dia masih terlalu kecil dan dibuang keluarganya. Tuhan, mengapa dunia ini terlalu kejam untuk anak sekecil dia?' batin Jesi. Dia menangis.


Anak itu melihat kewajah cantik dan mulus Jesi. "bibi janan nanis, nanti atu juda nanis..hikss..hiksss" ucapnya, dia memegang wajah Jesi dan menghapus air mata yang jatuh dari mata indah Jesi.


"Sayang, siapa namamu?" Tanya Jesi.

__ADS_1


Dia menggeleng. "meleta selalu memandilku anat halam, atu tat Puna nama" ucapnya sambil tertunduk.


'Tuhan...mengapa ini bisa terjadi padanya, dia tak tahu apapun tentang dunia yang kejam ini' batin Jesi. Air matanya semakin deras turun.


"Josua, namamu Josua, bibi sekarang adalah ibumu, panggil mom..ayo coba" ucap Jesi.


Dia menurut. "Mom..."


"Lagi"


"Hikss..hikss..Mom.." dia langsung memeluk erat leher Jesi, Jesi juga membalasnya...


'Dia putraku, siapapun yang mengganggunya akan berhadapan denganku' batin Jesi.


Tiba-tiba dia teringat suaminya, Rian pasti panik saat ini. Dia melonggarkan pelukannya, mengambil ponselnya dari kantong celananya.


'Oh Lord, Mengapa aku bisa melupakan hal ini.' batinnya.


Ponselnya tadi dia nonaktif, Rian pasti panik saat menelpon nya, tapi ponselnya mati. Dengan cepat Jesi mengaktifkan kembali ponselnya.


Dan benar saja, deretan panggilan tak terjawab dari suaminya.


Satu panggilan masuk, dengan cepat Jesi menggeser layar ponselnya.


"Sayang, dimana kau? Jangan membuatku panik seperti ini, dimana kau sekarang" tanya Rian dengan suara legah, dicampur khawatir. Lengah karna kali ini bisa tersambung, dan khawatir dimana istrinya saat ini.


Jesi melihat ke sekitar, dia tak mengenali tempat ini.


"Hiksss..hiksss..aku tak tahu, aku tak tahu dimana aku berada sekarang" jawab Jesi.


Rian semakin panik. "Aktifkan GPS mu, jangan kemana-mana sampai aku tiba, mengerti?" Ucap Rian. Dia segera berlari kemobilnya.


"Baiklah, aku mengerti" balas Jesi. Dia mengakiri panggilan itu, mengaktifkan GPS di ponselnya.


"Sayang, tenanglah, Dad akan menjemputnya kita" ucap Jesi sambil mengelus rambut Josua.


Josua mengangguk. Dia tak tahu siapa 'Dad' yang dimaksud Jesi namun dia percaya pada Jesi.


Rian langsung mengabari Rey, dia akan menjemput istrinya, dia menyuruh Rey pulang saja ke rumah, dan memberitahu orang-orang rumah kalau Jesi sudah ditemukan. Dan tentu saja Rumah itu gempar, nona muda mereka menghilang.


Rian tiba ditempat Jesi saat ini, mengapa istrinya bisa sampai kesini? Ini sudah berada dijalan menuju pinggiran kota.


Rian terus mengikuti arah yang ditunjukan oleh GPS, dari kejauhan Rian bisa melihat istrinya, dia sedang duduk di trotoar, namun tak memperhatikan dengan siapa istrinya saat itu.


Rian menghentikan mobilnya. Membuka pintu dan berlari kearah Jesi.


"Sayang" panggilnya, Jesi mendongkak. Dia berdiri, di ikuti oleh Josua. Rian langsung memeluk istrinya.


"Dari mana saja kau huhh? Mengapa suka sekali membuatku khawatir" ucap Rian, dia mengecup kening Jesi berkali-kali.


"Hikss..hikss...Maaf,, maafkan aku..hikss.. hikss" balas Jesi. Dia tahu kali ini dia salah, dia akan menerima hukumannya.


Dari belakang, Josua melihat mommy nya dipeluk seseorang, mommy nya menangis, dan dia tak suka itu.


Josua langsung memisahkan Jesi dan Rian, lalu mendorong tubuh kekar Rian agar menjauh dari mommy nya.


"janan satiti mom tu, peldi!!" Bentaknya. Josua langsung memeluk Jesi, yang hanya sebatas pahanya.


Tentu saja Rian terkejut, siapa anak ini. Mengapa dia memanggil Jesi mom. Pikir Rian.


"Peldiii!!!" Bentaknya lagi.


"Sayang?" Rian menatap istrinya tak mengerti. Jesi hanya meletakan jari telunjuknya di bibirnya, menyuruh Rian tenang.


"Sayang, itu Dad, dia Dad mu, mengapa kau kasar pada Dad mu?" Ucap Jesi lembut. Rian semakin tak mengerti, dia hanya diam. Pasti Jesi mempunyai penjelasan.


"Dad?" Uvalng Josua.


Jesi mengangguk. "Dad" balas Jesi lagi. "Ayo minta maaf sama Dad" sambung Jesi.


Josua menunduk, dia takut melihat wajah Rian.


"Maaf Dad, Jojo minta maaf" ucapnya, bisa dibilang dia berbisik. Hanya Dia saja yang mendengarnya, namun Rian bisa membaca gerakan bibir Josua.


"Tak apa" jawab Rian. Dia mendekat lalu berjongkok, menyamakan tingginya dengan Josua.


Namun Josua malah melihat kearah Jesi, menjulur tangannya minta digendong.


Jesi menunduk lalu menggendong Josua.


"Mom, Jojo nantut" ucapnya.


Jesi mengangguk. "Tidurlah" balas Jesi.


Jojo menyandarkan kepalanya di celuk leher Jesi, memeluk Jesi erat, dan mulai menutup matanya.


"Sayang, kau berhutang penjelasan padaku" ucap Rian.


Jesi mengangguk. "Nanti setelah di rumah," balas Jesi.


Rian dan Jesi berjalan kearah mobil, Masuk dan mulai meluncur kembali ke rumah.


🍁🍁🍁🍁🍁


Mobil sport Rian berhenti tepat dihalaman rumah mewah itu, Rian membuka pintu untuk istrinya, dia ingin mengambil Josua dari Jesi yang terlihat kelelahan.


"Sayang, berikan dia padaku" ucap Rian. Ketika Josua sudah berada dalam gendongan Rian, Josua membuka matanya dan menangis.


"Mom..mom..." Panggilnya, Rian panik, ada apa memangnya? Mengapa anak ini langsung bangun ketika berpindah pada Rian, sedangkan dalam perjalanan dia tampak terlelap dalam pelukan Jesi.


Jesi langsung mengambil Josua kembali, mungkin Josua belum terbiasa dengan Rian. Padahal dia juga baru saja bertemu Josua beberapa menit yang lalu.


Mama dan yang lainnya sudah menunggu di pintu, namun mereka terkejut saat melihat Jesi menggendong seorang anak laki-laki.

__ADS_1


"Itu..??" Ucap mama bingung, Rian memberikan kode pada semuanya agar tetap tenang, suara tangis Josua masih sedikit terdengar.


"Akan ku jelaskan, tapi aku membawanya dulu keatas." Ucap Jesi. Dia melangkah menaiki tangga, ke kamarnya dengan Rian.


"Siapa dia nak?" Tanya mama.


"Aku juga tak tahu mah, sat aku tiba disana, dia bersama Jesi,dan juga memanggil Jesi 'mom'. " Balas Rian.


"Tenang saja, dia tampak nyaman dengan Jesi, saat aku mengambilnya dari Jesi, dia tiba-tiba terbangun dan menangis, namun ketika Jesi mengambilnya lagi dariku, dia kembali tenang, entahlah mengapa" ucap Rian.


"Kita tunggu saja sampai Jeje turun" ucap mama.. "Rey" panggil mama.


"Iya mah" jawab Rey.


"Siapkan peralatan mu, setelah Jesi selesai menjelaskan semuanya pada kita, periksa dia. Mama takut, anak itu sampai kenapa-kenapa" balas mama. Mama memang selalu lembut pada anak kecil.


"Iya mah, aku mengerti" ucap Rey.


Beberapa menit kemudian, Jesi turun dan bergabung dengan semuanya.


"Sayang, bisa kau jelaskan siapa dia?" Tanya Rian.


"Baiklah, akan ku jelaskan" balas Jesi.


"Waktu aku tertidur tadi, aku bermimpi bertemu dengan seorang anak laki-laki.....". Jesi menceritakan mimpinya.


"Itulah mengapa kau berteriak tadi, benarkan?" Tanya mama. Jesi mengangguk.


"Aku nggak bisa tenang, dadaku rasanya sangat sesak, aku ingin menghirup udara segar diluar, jadi aku keluar dan melarang Rey mengikutiku" sambungnya.


"Lanjutkan" ucap papa.


"Saat aku tiba ditaman, aku melihat seorang wanita yang meninggalkannya sendiri di sana, aku teringat mimpiku" sambung Jesi lagi.


"Aku ingin meninggalkan taman, tapi aku tak bisa. Aku terus menunggu, aku pikir nanti wanita itu akan datang dan menjemputnya lagi.


Namun duga'an ku salah, wanita itu tak kembali. Jojo ditinggalkannya taman, saat Jojo pergi, aku mengikutinya dari belakang, hanya ingin memastikan dia pulang sampai ke rumahnya saja" ucap Jesi.


"Jojo. Namanya Jojo?" Tanya Mama. Air matanya mulai menetes, bagaimana mungkin ada wanita kejam yang meninggalkan anak sekecil itu ditaman sendirian.


Jesi mengangguk. "Dia hampir ditabrak truk, sama seperti dalam mimpiku, namun aku bisa menyelamatkannya disana, tidak seperti dalam mimpiku. Aku tak bisa menyelamatkan nya, mah" tangis Jesi mulai terdengar, air matanya saja yang keluar. Rian mengambil tissue dan menghapus air matanya.


Rey mengambilkan segelas air untuk kakak iparnya.


"Terima kasih, Rey" ucap Jesi tulus.


"Lanjutkan Nak" ucap Papa. Dia ingin mendengar semuanya. Papa juga menenangkan mama disampingnya yang juga mulai mengeluarkan Ari matanya.


"Iya Pah" balas Jesi.


"Aku menyelamatkannya, kami terguling hingga kepalaku terbentur trotoar, namun aku baik-baik saja, Jojo juga selamat.


Aku bertanya dimana orang tuanya, dimana dia tinggal, mengapa wanita itu meninggalkan nya sendiri, dan siapa namanya" sambung Jesi.


"Lalu apa jawabannya sayang?" Tanya mama.


"Apa kalian tahu jawabannya? Dia menjawab bahkan dengan tersenyum mah, dia bilang tak mengenal wanita itu dan hanya mengantarnya ke taman saja, dia tak mempunyai orang tua, dan bahkan diusir dari rumahnya.


Dia bahkan tak mempunyai nama, mereka selalu memanggilnya anak haram. Apa salahnya mah?, mengapa dunia ini begitu kejam pada anak sekecil itu?, mengapa" tanya Jesi. "Hikss...hikss... Mengapa?" Ucap Jesi.


Rian menarik istrinya kedalam pelukannya, disitu Jesi menangis sejadi-jadinya.


"Tenang sayang, tenanglah.." ucap Rian menenangkan


Mama juga langsung memeluk Papa disampaikan, menangis sejadi-jadinya sama seperti Jesi. Hatinya benar-benar sakitnya, betapa kejamnya dunia ini pada anak itu.


"Kakak ipar, tadi siapa namanya? Apa kau yang memberikan nya nama?" Tanya Rey.


Jesi mengangguk. "Josua, namanya Josua" ucap Jesi.


"Baiklah, tenang sayang, dia putra kita, dia anak kita, tadi dia memanggilku 'Dad' kan, tenanglah" Rian berusaha menenangkan istrinya. Bagaimanapun saat ini Jesi juga sedang mengandung. Dia tak ingin Jesi tertekan, itu bisa mempengaruhi calon anaknya.


Jesi tak percaya, Rian mengijinkan Josua menjadi anaknya.


"Sungguh? Jojo anak kita?" Ucap Jesi.


"Iya sayang, Josua Ravel Rios. Namanya Josua Ravel Rios" sambung Rian. Entak mengapa namun nama 'Ravel' tiba-tiba terlintas dalam pikirannya.


"Terima kasih sayang, terima kasih" ucap Jesi tulus, dia tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Yah, dia adalah cucu mama, Pah, mama udah tua, mama udah jadi oma, Pah" ucap mama. Papa mengangguk.


"Kita sudah menjadi opa dan Oma Jojo, dia cucu kita" balas papa.


"Bagus,, aku sudah punya ponakan. Terima kasih kakak ipar" ucap Rey.


Mama teringat sesuatu.


"Rey, sudah kau persiapkan apa yang tadi mama suruh?" Ucap mama.


"Bentar mah" balas Rey, dia lari ke kamar nya yang juga berada dilantai dua.


"Yuk sayang, Rey akan memeriksa kesehatan Josua" ajak Rian. Jesi mengangguk.


🍁🍁🍁🍁🍁


Semua menatap kearah Rey yang sedang memeriksa Josua yang tertidur pulas diatas tempat tidur king size itu.


"Bagaimana keadaannya,Rey?" Tanya semua orang.


*****BERSAMBUNG***😉


Jangan lupa like komen dan Vote-nya, buat dukungannya dari kalian semua

__ADS_1


__ADS_2