
*Keesokan harinya*
Para karyawan telah berkumpul dan kembali kerumah mereka. Tur weekend telah selesai.
"Sayang, yuk aku antar". Ucap kekasih April. Arga.
"Yuk, sama moge kamu kan?". Tanya April.
"Iya dong yang, biar lebih romantis". Balas Arga. dia mengantar kekasihnya kembali ke rumah dengan motor gedenya.
Sedangkan Elyna masih berdiri menunggu taxi, sejak kejadian kemarin dia terus tersenyum setelah tak melihat wajah Jesi lagi,.dia pikir Jesi menyembunyikan dirinya karena malu.
"Bagus deh kalo dia gak pulang bareng kita, tapi dia sama Bu Jenny lagi, aishh, menyebalkan". Umpatnya. Sedangkan dari kejauhan, seorang memperhatikannya..
"Lihat saja apa yang akan terjadi padamu. Beraninya menyakiti My Honey". Batin orang misterius itu.
Taxi berhenti tepat didepan Elyna, tanpa banyak bicara, dia pergi dengan taxi itu.
Ketika tiba di rumahnya, tanpa curiga dia melangkah memasuki rumah sederhana itu, dia tinggal bersama sepupunya. Seketika ruangan yg tadinya gelap terang, dia berjalan dengan santai kekamar.
Namun dia terkejut setelah melihat ada 3 orang pria ya g memakai topeng sedang duduk santai di sofa kamarnya.
"Siapa kalian?" Teriaknya.
"Siapapun kami, kau tak perlu tahu. Yang harus kau tahu adalah, mengapa kau menyakiti bos kami?". Ucap salah seorang dari mereka.
Elyna berbalik dan ingin berlari, namun dicegah oleh orang yang berada dibelakangnya.
"Hmmptt". Dia menyumbat mulut Elyna dengann kain, lalu menggendongnya seperti karung beras.
Mendudukkannya di sofa, lalu menyuntikan sesuatu persis di pembuluh darahnya. Menaruh serbuk putih diatas meja. Mulut Elyna mengeluarkan busa, seperti seorang yg keracunan.
Pekerjaan mereka slesai, mreka pergi dari rumah itu, tentu saja mereka melakukannya dengan sangat bersih, dan tak ada jejak yang tersisa.
__ADS_1
__________________
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rian yg masih menggenggam tangan Jesi yang lemah.
"Nona semakin membaik, kemungkinan saat dia sadar, dia tak mengingat apa yg terjadi" ucap Dokter. Rian mengangguk tanda mengerti.
Saat ini Rian sangat berantakan, sejak kemarin dia bahkan tak Menganti bajunya, hanya terus menemani Jesi.
"Tuan muda". Panggil Jenny.
"Hmmt".
"Saya sudah menemukan pelaku yang membuat nona tercebur". Ucap Jenny, Rian langsung melihat kearah Jenny dengan tajam.
"Siapa pelakunya?". Tanya Rian dengan aura mengintimidasi, membuat Jenny menelan Silvanya dengan susah.
'glekk'.
"Kok nih ruangan jadi seram yah?". Batin Jenny.
"Kalian tahu apa yg harus dilakukan bukan?". Ucap Rian dingin. Rian terkenal dengan pria dingin dan kejam, tak pernah tersenyum. Dia akan sangat kejam jika itu bersangkutan dengan orang tersayangnya, dia tak pernah pandang bulu.
"Maaf tuan muda, tapi dari kabar terbaru, Elyna overdosis narkotika dan menyebabkannya merenggang nyawa. Dia dikabarkan meninggal setelah dilaporkan oleh spupu-nya 2 jam yang lalu. Ditemukan narkoba dan sabu yang digunakannya". Ucap Hengky, dia mengambil remote Tv diatas meja lalu memencet tombol on. Memilih chenel tv yg menampilkan berita tentang Elyna.
Rian tersenyum sinis.
"Dasar wanita murahan". Gumam Rian.
Sedangkan ditempat yang berbeda.
"Hahahaha". Seorang pria duduk didalam kegelapan. Dia tertawa puas melihat orang yang sudah menyakiti orang yang disayanginya. Dia selalu mengawasi Jesica dari jauh, siapapun yang berani mengganggu Jesi, maka bisa dipastikan. Orang itu akan kehilangan nyawa.
Jari telunjuk Jesi bergerak, matanya perlahan terbuka. Indra penciuman nya bagai ditusuk-tusuk dengan bau alkohol.
__ADS_1
"Dimana ini? Ahh, pasti rumah sakit". Gumamnya, dia tahu ini bukan kamarnya, apa lagi kamar Adrian. Dia memutar matanya melihat sekitar. Dan terpaku dengan pandangan matanya yang menangkap sosok seorang pria.
Rian yang tertidur disamping Jesi merasakan ada yang menyentuh kepalanya. Ingin sekali ditepis, namun matanya menangkap sosok wanita yang tersenyum kearahnya.
"Kau sudah sadar? Apa ada yang sakit? Katakan sesuatu padaku" ucap Rian, dia senang dicampur khawatir. Dia segera menekan tombol disamping bangsal Jesi, memanggil Dokter.
Jesi terkekeh. "Aku baik-baik saja. Apa yang terjadi? Mengapa aku berada disini?" Tanya Jesi balik.
"Tidak, kemarin kau pingsan karena kelelahan stelah tur". Ucap Rian berbohong.
'Tokk..Tokk..'.
Seorang pria dengan Jas kebanggaan Dokter memasuki Ruang rawat Jesi.
"Syukurlah Nona telah sadar, biar saya periksa dulu". Ucapnya, Mengambil stetoskop dan menempelkannya di dada Jesi, memeriksa detak jantung dan lainnya.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rian. Hengky sudah berdiri disampingnya bosnya. Sedangkan Jenny diperintahkan Rian untuk kembali beristirahat.
"Keadaan Nona sudah membaik, hanya perlu istirahat dan jangan kelelahan. Kondisinya belum pulih, saya akan memberi vitamin dan antibiotik untuk nona, membantu pemulihannya". Ucap Dr sambil menulis resep obat untuk Jesi.
"Kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan muda, Nona." Pamit Dr dan meninggalkan Ruangannya.
"Apa kau lapar? Ingin makan sesuatu?" Tanya Rian sambil mengelus rambut Jesi.
Jesi menggeleng. "Tidak, aku haus". Ucap Jesi. Dengan cepat Hengky mengambilkan segelas air, Rian menerimanya lalu membantu Jesi minum.
.
.
.
.
__ADS_1
.
****** BERSAMBUNG******