
Jesi menunduk. " Maaf, aku mengganggu mu, aku sudah selesai masak, mari makan bersama.".
Rian mengangguk. "Baik".
Tadi ketika Jesi membuka pintu, Rian langsung memutuskan panggilannya secara sepihak, Padahal itu masalah pekerjaan yangencapai jutaan bahkan miliaran rupiah.
Jesi membuat opor ayam, sup dan tumis kangkung . Jesi menaruh Nasi dan lauknya kedalam piring yang berada didepan Rian, yah apa lagi jika bukan melayani suaminya makan, sperti istri pada umumnya.
'lumayan juga masakannya. Enak'. Batin Rian.
Tak ada yang bicara, Selain bunyi dentingan sendok, garpu dan piring yang saling bergesekan.
"Ahkk, lelahnya". Gumam Jesi sambil mengguyur tubuhnya dgn air hangat. Selesai mandi, Jesi yang masih menggunakan jubah mandinya mengeringkan rambut hitamnya dengan hair dryer.
Jesi baru saja selesai mengganti bajunya dan dikejutkan dengan Rian yang masuk kedalam kamar, bahkan sudah duduk manis diatas ranjang.
sudah lengkap dengan piyama tidurnya, Merasa diperhatikan, Rian melihat kearah Jesi dengan wajah datarnya.
"Kau kenapa?" Tanya Rian
"nggak papa kok😊" Jesi tersenyum kecut. Rian seperti mengerti apa yang ada dipikiran Jesi.
"Tidurlah, aku tak akan mengganggumu" ucap Rian
"Hmm". Gumam Jesi sambil berjalan kearah meja rias dan memoles wajahnya dengan krim malam, lalu berjalan kearah ranjang langsung masuk kedalam selimut.
Perlahan Rian juga ikut berbaring disebelah Jesi, dan hal itu membuat Jesi semakin gelagapan. Jesi berbalik membelakangi Rian, hal itu membuat Rian tersenyum kecil, dia paham dengan Jesi.
'andai kau tahu, aku selalu mengejarmu'. Batin Rian.
___________
Paginya Jesi bangun terlambat, dia terbangun ketika silau dari sang Surya menembus tirai. Jesi tertegun melihat pandangan didepannya.
Pria tampan dengan pakaian formal, yang sedang fokus dengan laptopnya plus secangkir kopi.
Merasa diperhatikan, Rian mengalihkan pandangannya
"Kau sudah bangun?" Tanya Rian, Jesi langsung tersadar dan melihat keluar.
__ADS_1
"Jam berapa sekarang?" Tanya Jesi. Rian melihat arloji yang melekat ditangannya.
"07:08" jawab Rian dingin.
"Apaaa". Dengan cepat Jesi berlari kekamar mandi dan mulai dengan ritual mandinya, yang biasanya 20 menit, dia percepatkan 12 menit.
Sedangkan Rian terkekeh melihat istrinya. "Imutnya".
"Ahkk, kenapa sih gue bisa telat gini. Tuh alarm juga kenapa nggak bunyi sih." Jesi trus merutuki dirinya. Ketika keluar, Rian sudah tak ada dikamar.
"Kenapa tak bangunin sih? Kan aku bisa buat sarapan" Tanya Jesi. Rian yang sedang fokus dengan ponselnya melihat kearah Jesi
"Kau keliatannya capek sekali, tak tega saya banguninnya" jawab Rian
"Lalu kenapa alarmku takk bunyi?" Rutuknya.
"Aku yang mati'in. lagian kau kenapa sih? Aku kan bosnya". Tersenyum jahil
"Cihhh, sombong". Gumam Jesi.
"Sarapannya sudah siap" ucp Rian sambil berjalan kearah meja makan, Jesi mengikut dari belakang
"Tidak, tadi pelayan dari rumah yang mengantarkan". Ucapnya sambil mulai menggigit sandwich, Jesi yang melihat juga ikut
"Wahh, enak" Jesi tersenyum, dan menampilkan dua lubang lesung pipinya. Hal itu tak luput dari mata Rian. Wajahnya memerah seketika.
"Aku tak bisa menahannya lagi, kenapa wajahnya jadi imut begitu sih?" Batin Rian.
"Uhukk,,uhukk"
Rian tersedak, dengan cepat Jesi menuangkan air, Rian menerima dan meneguknya hingga kandas. Jesi terus menepuk punggung Rian, muka Rian semakin memerah dengan perlakuan Jesi.
"Kamu sakit? mengapa wajahmu merah?" tanya Jesi polos, tangan Jesi mendarat di kening Rian. Wajahnya smakin memerah.
"Suhu tubuhmu normal, tapi kenapa wajahmu merah?" Tanya Jesi dengan polos. Karena tak tahan lagi Rian melarikan diri, dia meninggalkan meja makan.
"Selesaikan sarapnmu. Saya tunggu dibawah" ucapnya sambil melangkah. Dengan cepat Jesi menyelesaikan sarapannya dan meneguk air.
"Pak, eh maksudnya Rian". Panggil Jesi
__ADS_1
"Ada apa?"
"tidak, aku pamit"
"Bareng" ucp Rian
"tidak, Aku bisa dengan Taxi" tolak Jesi lembut
"Kenapa? Malu satu mobil sama saya?"
"tidak kok, saya tak mau orang lain salah paham. Kalau begitu saya duluan" ucp Jesi, namun tangannya dicekal Rian.
"kamj pakai mobil yang satu, mobil saya yang lain" ucap Rian mnawarkan
"Tidak, saya sama taxi aja" tolaknya
"Kamu yakin?"
"Iya"
"Jangan terlambat, saya paling benci orang yang seperti itu!" Ucp Rian tegas.
Jesi mengangguk, dan keluar dari area apertemen
"Dasar keras kepala" menggeleng sambil tersenyum.
___________
Jesi baru saja tiba, Rian juga menyusul. Rian tersenyum pada Jesi, dibalas snyuman Rian.
Mereka bersama melangkah memasuki Kantor, hal itu tak luput dari pandangan kariawan yang lain. Mereka berpisah di pintu lift. Rian dengan lift khusus Presdir, sedangkan Jesi dengan lift umum.
Elyna yang menyukai Rian berusaha membuat Jesi malu didepan umum.
"Cihh, orang seperti kamu tak pantas untuk pak Adrian" ucap Elyna sinis. Jesi hanya memutar matanya jenuh.
'Tingg..'
pintu lift terbuka, Jesi dengan cepat keluar, Elyna berjalan cepat menyusul Jesi dan membuat Jesi hampir saja terjatuh, namun.....
__ADS_1