Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS. 12


__ADS_3

Sejak Jesi terbangun dari pingsannya dan mendapatkan dirinya berbaring di bangsal rumah sakit, Rian selalu berada di sampingnya.


'Drutt...Drutt..'.


ponsel Rian bergetar.


"Ada apa?" Tanya Rian.


"......"


"Kau saja yang datang, aku malas kesana". Ucap Rian.


"......"


"Tidak, kau mewakili saja, katakan pada mereka, aku tak bisa hadir, istriku sedang sakit saat ini". Ucap Rian lagi, sambil melihat kearah Jesi yang asik dengan ponselnya.


"Hmmm". Rian mengakiri telponnya. Dia memandang Jesi yang tersenyum melihat kearah ponselnya. Tiba-tiba..


'Drutt...Druttt'.


ponsel bergetar. 'Mirae'.


Rian mendekat.


"Halo Mir". Ucap Jesi..


"JESICHAAAAAA". Teriak Mirae, Jesi menjauhkan ponselnya dari telinganya, sambil mengusap pelan telinganya stelah mendengar suara 5 oktaf milik Mirae.


"Ada apa?". Tanya Jesi. Sedangkan Rian penasaran dengan orang yang menelpon istrinya.


"Siapa?" Ucap Rian tanpa bersuara, hanya bibirnya saja yang bergerak.


"Mirae, temanku". Jawab Jesi.


"Ohh". Rian beroh ria. Dari namanya saja sudah dipastikan jika yang menelpon istrinya itu seorang wanita.


"Jeije... Kenapa Lo gak di rumah? Apa terjadi sesuatu? Kenapa gak ngabarin gue?" Tanya Mirae bertubi-tubi. "Waktu gue ke rumah lo ada yg bilang, Lo udah nggak pulang berhari-hari. Lo kemana sih? Jangan buat gue khawatir dong.. hikss.. hikss" Mirae menangis setelah mengucapkan banyak pertanyaan.


Mirae dan Jesicha sudah bersahabat sejak masih duduk di bangku kuliah, Jesi menolongnya saat dibully oleh anak-anak yang lain. Sejak saat itu mereka bersahabat, suka duka mereka lalui bersama, bahkan waktu Mirae kekurangan uang untuk membayar registrasi semester waktu kuliah, Jesi lah yang memberikan uang jajannya pada Mirae dan membayar uang Regis semesternya.


Itulah mengapa saat Jesi dalam masalah atau membutuhkan bantuan, Mirae lah orang pertama yang akan membantunya.


"Gue baik-baik aja kok Mir, gue udah gak tinggal lagi disana, tapi gue gak jual kok tuh apertemen". Ucap Jesi sambil melirik kearah Rian.


"Trus lo tinggal dimana sekarang? Gue kesana yah?".


"Jangan Mir, nanti gue aja yang kerumah lo, yah". Ucap Jesi hati-hati


"Kenapa? Lo pasti sembunyikan sesuatu sama gue, bener kan? Jangan ngeles lagi deh. Lo dimana sekarang?". Ucap Mirae menakan setiap katanya.


'gak mungkin gue bilang gue udah nikah, trus tinggal diapertemen suami gue, plus sekarang gue dirawat di Rumah sakit, bisa-bisa dia tambah khawatir lagi'. Batin Jesi sambil melamun, Rian mengambil Ponsel Jesi yang masih dalam genggamannya.


Melihat kelayar ponsel yang masih terhubung.


"Jes, Lo kenapa gak ngomong sih? Jangan buat gue tambah panik dong". Ucap Mirae. Rian melirik kearah Jesi yang menggeleng.


"Rumah sakit Darma". Ucap Rian, lalu mengakiri panggilan itu.


"Kenapa ngasih tau dia sih?" Tanya Jesi kesal, dia berusaha menyembunyikan keadaan nya saat ini.


"Kenapa?" Tanya Rian polos. Membuat Jesi gelagapan, tak tahu harus bilang apa lagi.


"Gak kok". Ucap Jesi menyembunyikan ekspresi wajah nya yang kesal.


Sedangkan ditempat Mirae, Dia panik. Satu kalimat yang diucapkan seorang pria.


"Ngapain tuh anak di sana? Tapi tadi tuh orang bilang nya "RS. DARMA". Apa Jesi sakit yah? Jangan-jangan bener lagi, dia lagi sakit". Dengan panik Mirae mengambil kunci mobilnya, berlari keluar dari Apertemen. Menaiki lift dan berakhir di besamen apertemen, mengambil salah satu dari mobil yang berjejer, lalu mengendarainya dengan kecepatan tinggi kearah RS. Darma.


____________________


Saat ini Jesi dan Mirae duduk berhadapan, disudut ruangan duduk seorang pria tampan.


"Sekarang jawab pertanyaan gue". Ucap Mirae. Jesi menggigit bibir bawahnya dan meremas selimut.


"Kenapa Lo bisa ada di sini, kenapa gak nelpon gue dan bila g kalo Lo lagi sakit". Tambah Mirae.


"Sorry Mir, gue sakit gara-gara kecapean, tur kemarin, Lo ingat kan gue udah ngasih tau kalo gue ikut tur". Ucap Jesi menjelaskan. Mirae mengangguk tanda mengerti.


"Trus kenapa Lo gak ada dirumah berhari-hari?" Tanyanya lagi.


'apa gue jujur aja, kalo gue udah nikah?' batin Jesi.


"Mir". Panggil Jesi.


"Hmm, gue udah disini sejak tadi Je".


"Gue mau ngomong".


"Ya udah ngomong aja"


"Gue mau jujur Mir, sebenarnya"


"Sebenarnya apa? Jangan berbelit-belit deh, To The point' aja". Ucap Mirae kesal.


"Sebenarnya, gue udah nikah, dan gue pindah ketempat suami gue, Mir". Ucap Jesi tertunduk. Dia tak mampu menatap wajah terkejut sahabatnya.


"Apa? Lo udah nikah dan Lo gak ngundang gue?" Ucap Mirae sambil memukul Kepala Jesi.


'Ptakk'.


"Auhh, sakit Mir". Pekik Jesi. Rian yang sejak tadi hanya menguping segera berdiri dan berjalan kearah kedua wanita itu.


"Apa yang kau lakukan?". Bentak Rian. Mencengkram erat bahu Mirae.


"Ahh, maaf tuan". Ucap Mirae tertunduk. Jesi memberi kode, tanda dia baik-baik saja. Rian segera melepaskan tangannya dari bahu Mirae. Rian mengelus bekas sentilan Mirae.


"Gue masih kepo, Lo nikah sama siapa sih? Kok ada nih orang disini" Bisik Mirae, namun masih bisa didengar oleh Rian.


"Sama tuh". Jesi memeriksa kode dengan ujung matanya.


"Namanya?".


"Adrian. Panggil saja Rian" ucap Rian yang sejak tadi melihat kearah keduanya. "Apakah anda lupa nona? Anda yang mengenalkan saya dengan istri saya dalam kencan buta beberapa Minggu yang lalu". Tambah Rian.


Mirae mengerutkan keningnya.


'Perasaan gue gak atur kencan butanya Jeije sama nih cowok deh'. Batin Mirae.


Jesi juga menatap Mirae, dia tahu apa arti ekspresi Mirae saat ini.

__ADS_1


'jangan bilang dia gak tahu tantang ini, apa jangan-jangan gue yg salah orang? Tapi waktu itu Rian kan yg nemuin gue'. Batin Jesi.


"Je, kapan Lo nikahnya?". Bisik Mirae.


"Seminggu yang lalu". Jawab Jesi.


'Seminggu yang lalu yah, kan ada cowok yang minta tolong sama gue buat nyari'in dia cewek, makanya gue ngasih si Jeje. Tapi ini bukan cowok waktu itu deh'. Batin Mirae sambil menatap kearah Rian.


"Ehemm". Dehem Rian melihat kedua wanita dihadapannya asik dengan pikiran mereka. Jesi dan Mirae langsung tersadar dari lamunan mereka.


"Emm, Jeje, maaf tapi ini bukan cowok yang waktu itu gue maksud". Bisik Mirae. Mata Jesi membulat sempurna.


"Jangan becanda deh Lo". Pekik Jesi. Rian melihat kearah Jesi yang menatap Mirae tajam. "Becanda Lo gak lucu Mir". Ucap Jesi. Mirae mengangguk.


"Maaf Jeje, tapi udah lah, lagian Lo udah nikah juga". Ucap Mirae. Rian semakin tak mengerti dengan kedua wanita ini.


"Sebenarnya ada apa? Mengapa kalian berdua terus berbisik?!" Ucap Rian dengan sedikit membentak.


"Gak kenapa-kenapa kok. Iya kan Je". Mirae mengedipkan sebelah matanya.


Jesi mengangguk. "Iya, gak kenapa-kenapa kok". Sambung Jesi.


"Ya sudah". Rian kembali duduk di sofa, membiarkan istrinya bicara dengan sahabatnya.


"Mir, Lo jangan becanda deh, gak lucu tau". Ucap Jesi.


"Maaf Jeje, tapi waktu itu ada cowok yang minta gue buat nyari'in cewek buat dia, dan yang terlintas di pikiran gue itu cuma Lo, tapi dia juga bilangnya buat temannya juga sih". Ucap Mirae. Jesi mengangguk.


'Mungkin dia nyari cewek buat temennya, dan temennya itu Rian'. Batin Jesi.


"Ehh, Tapi Jeje, suami Lo ganteng banget". Ucap Mirae sambil melihat kearah Rian yang tampak serius dengan Laptop dipangkuan nya.


"Siapa namanya tadi?".


"ADRIAN RIOS". Ucap Jesi menekan nama Rian.


"Tunggu bentar, kayak gak asing tuh nama". Mirae mengingat kembali masa yang disebutkan Jesi. Matanya membulat sempurna. "Jeje, jangan bilang dia". Jesi mengangguk.


"Iya, dia Presiden A&Q SWEET GRUP". Ucap Jesi.


"Jangan becanda deh Lo Jeje". Mirae segera mencari Nama Rian dia Internet


"Adrian Rios, pengusaha muda yang berhasil dalam dunia bisnis. Presiden A&Q SWEET GRUP yang misterius". Ucap Mirae. Dia mencocokkan foto Adrian yang berada di internet dengan Rian yang sedang fokus disudut ruangan.


"Ya ampun Jeje, itu beneran dia?". Ucap Mirae. Jesi mengangguk. "Dan dia sekarang suami Lo?" Jesi mengangguk lagi.


"Gue gak percaya, ini pasti mimpi kan Jeje?" Tanya Mirae dengan polos.


Jesi menarik pipi gembul sahabatnya yang bersikap bodoh saat ini.


"Sakit Jee". Ucap Mirae Mengelus pipinya yang memerah dicubit Jesi.


"Itu tandanya Lo gak mimpi, dan ini nyata". Ucap Jesi.


"Ya udah deh". Mirae pasrah dengan apa yang terjadi saat ini, dia bahkan tak menyangka, sahabatnya menikah dengan pria tampan dan mapan seperti Adrian.


Mereka berdua larut dalam cerita mereka, hingga seseorang mengetuk pintu.


'Tokk..Tokk..Tok..'.


"Masuk". Ucap Rian, dia mengalihkan pandangannya kearah pintu yang bergeser.


"Tak apa. Ada apa?" Tanya Mirae.


"Ini nona, saya membawa makan malam nona muda". Ucap si perawat.


"Bawa masuk". Ucap Rian dingin, membuat siperawat menunduk ketakutan. Dia tahu siapa yang dia layani kali ini.


Perawat itu membawa makanan yang ditaruh diatas nampan. Mirae menerimanya.


"Terima kasih". Ucap Mirae tulus sambil tersenyum.


"Sama-sama Nona, ini sudah menjadi tugas saya." Balas perawat lalu pergi dari ruang rawat inap Jesi.


"Jeje, kamu makan gih. Gue mau balik dulu, udah malem. Si Doggy dirumah sendirian". Doggy itu anjing kesayangan Mirae.


"Lo udah mo balik?". Mirae mengangguk.


"Kasian si doggy sendirian".


"Ya udah, hati-hati yah dijalan. Jangan kebut-kebutan". Nasihat Jesi.


"Asiap bosque". Mirae mengecup pipi Jesi sebelum pergi.


"Tuan Adrian, saya permisi dulu". Pamit Mirae.


"Hmm". Balas Rian.


'Gila, nih cowok kok dingin amat sih. Dari tadi juga gak ada ekspresi dimukanya. Gimana Jeje bisa bertahan yah sama cowok kayak dia'. Batin Mirae sambil melangkah keluar dari ruang rawat Jesi.


"Kenapa tidak dimakan?" Tanya Rian.


"Gak enak, aku gak suka, hambar". Balas Jesi. Rian terkekeh.


"Hahahaha...Yang namanya makanan rumah sakit mana ada yang enak?" Tawa Rian.


"Hufft". Jesi mengerutkan bibirnya. Rian semakin gemas dengan tingkah Jesi saat ini.


"Sudahlah, dimakan saja". Ucap Rian, dia ingin melihat ekspresi wajah Jesi ketika makan makanan rumah sakit


"Boleh minta sesuatu?" Tanya Jesi. Rian mengangguk. Sejak Jesi sakit, dia merasa sikap Rian sedikit lembut padanya. Itulah mengapa dia bisa bersikap seperti saat ini.


"Apa yang kau mau?" Tanya Rian sambil mengelus kepala Jesi sayang.


"Aku mau makan ayam geprek aja, yah please". Jesi merapatkan kedua tangannya sambil mengedipkan kedua matanya.


Wajah Rian merah seketika, dia membuang wajahnya kesamping menghindari tatapan memohon Jesi yang imut.


'Oh Lord. Aku tak tahan lagi, dia sangat imut'. Batin Rian.


"Baiklah". Rian kalah, dia tak bisa melakukan apapun lagi selain menuruti kemauan istrinya.


'asalkan dia mau makan'. Pikir Rian.


"Tapi". Sambung Rian.


"Tapi???" Tanya Jesi.


"Kau harus makan buburnya. Jika tak mau, aku tak akan menyuruh Hengky membelikannya". Ucap Rian smbil tersenyum miring.

__ADS_1


"Baiklah, tapi sedikit saja, yah". Ucap Jesi sambil mengedipkan matanya.


"Hmmt, dan juga.." Rian Melihat kearah Jesi.


"Dan juga?" Tanya Jesi.


Rian menunjuk pipinya.


"Apa?" Tanya Jesi.


"Ini". Rian menunjuk pipinya lagi. Wajah Jesi memerah. Dia tahu apa yang dimaksud Rian.


"Gak, aku gak mau". Jesi membuang wajahnya kesamping.


"Gak mau yah, ok kalau begitu. Ayam geprek nya juga batal". Ucap Rian dengan kembali menyimpan benda pipih itu kedalam kantong jasnya. Mata Jesi menangkap aktifitas Rian.


"Hahh?? Kok batal sih". Rengek Jesi.


"Kamu kan tak mau, jadi ayam geprek nya juga batal".


"Tapi permintaan kamu aneh sih". Bibir Jesi kembali manyun. Membuat Rian ingin tertawa melihat ekspresi istrinya, namun ditahan tawanya.


"Aneh gimana? Aku kan cuma minta kiss saja, masa minta istri sendiri tak mau ngasih sih, tapi tadi Mira kiss malah dibalas".


"Itu kan beda, kan kissnya cuma di pipi doang". Balas Jesi, wajahnya semakin memerah.


"Memangnya tadi aku mintanya dimana?" Goda Rian. Wajah Jesi memakinya memerah, bahkan telinganya juga ikut memerah.


Rian terus menggoda istrinya.


"Di pipi". Ucap Jesi.


"Lalu?"


"Gak mau". Tolak Jesi.


"Ya sudah, ayam geprek nya batal, padahal Hengky sudah membelinya. Ya sudah, biar Hengky saja yang menerimanya". Ucap Rian sambil mengambil ponselnya.


"Hen, Ayam geprek nya kamu dapat saja, sepertinya Jesi tak mau lagi". Ucap Rian, dia melirik kearah Jesi.


'Aduh,, udah laper lagi, tapi kalo makan nih makanan gak enak, apa gue cium aja si Rian. Dia kan juga suami gue, lagian cuma di pipi doang juga'. Batin Jesi. Dia melirik kearah Rian yang sedang menelpon.


'Demi ayam geprek'.


'Cup'.


Mata rian membulat. Dia melirik kearah Jesi yang wajahnya memerah.


"Ayam geprek". Ucap Jesi. Namun wajahnya ditutupi dengan tangannya.


"Aku tak merasakan apapun tadi, lagi". Rian menepuk ulang pipinya dengan jari telunjuknya.


'apa?'. Mata Jesi membulat tak percaya.


"Ya sudah, ayam geprek nya batal". Ucap Rian, mendekatkan kembali ponsel yang tadi sedikit dijauhkan.


"Ya udah". Jesi kembali mendekatkan wajahnya ke Rian.


'Lagian pipi doang'. Pikirnya. Namun beda lagi dengan Rian. Rencananya berhasil.


Sebelum bibir Jesi mendarat di pipi Rian, Rian dengan cepat membalikan jawabnya kearah Jesi dan..


'Cupp'


Jesi merasa ada yang salah, mengapa rasanya beda. Dia membuka matanya dan melihat wajah Rian yang berdekatan dengannya. Dia ingin menarik kembali kepalanya, namun kalah cepat dengan tangan Rian yang sudah menekan tengkuk Jesi. Me****t bibir raumnya.


Jesi memukul dada Rian, Nafasnya tak beraturan.


"Kau mau mati?!" Bentak Rian. "bernafas!". Ucap Rian.


Wajah Jesi memerah, apa yang tadi dia lakukan?. Jesi menghirup oksigen dengan sangat banyak.


Pintu diketuk, lalu bergeser dan muncullah sosok yang tak asing lagi. Jesi merapikan rambutnya yang sedikit berantakan akibat ulah Rian.


Hengky datang, namun dia membawa sesuatu ditangannya.


"Selamat malah tuan muda".sapa Hengky.


"Hmm". Balas Rian.


"Saya membawa pesanan Anda". Hengky meletakan bawaannya diatas nangkas samping Rian.


'Sial. Gue dikerjain' umpat Jesi.


"Permintaanmu sudah ada. Sekarang makan Buburnya sebelum kau menghabiskan Ayam ini" ucap Rian.


"Baiklah". Jawab Jesi pasrah. Dia dengan sangat terpaksa memakan bubur yang disediakan pihak Rumah sakit.


Sedangkan Rian tersenyum menang, dia berhasil mendapatkan apa ya g dia mau, ditambah melihat ekspresi Jesi yang tak suka dengan buburnya.


"Sudah, mana ayamnya?". Pinta Jesi. Rian mengambilkan Ayam disampingnya.


"Kok gak sesuai sih sama pesenanku". Jesi kecewa dengan ayam yang dibawa Hengky. Dia tak membelikan ayam geprek sesuai permintaan Jesi, namun membeli ayam krispi.


"Ayam geprek itu banyak rawitnya, dan saat ini kau sedang sakit, mana boleh makan yang pedas-pedas". Ucap Rian.


"Tapikan".


"Yang penting ayam bukan? Jika sudah sembuh kau boleh makan apa yang tadi kau mau". Ucap Rian. Mata Jesi berbinar.


"Baiklah". Balas Jesi. 'gak papa lah bukan ayam geprek, yang penting gue makan ayam dulu'. Batin Jesi.


.


.


.


.


.


*****NOTE*****


Aku minta dukungan nya donk kak,, cuma di like, komen dan Vote-nya..


itu menjadi penyemangat ku buat terus nulis.


jadi jangan lupa like, komen dan Vote-nya.

__ADS_1


arigataou 😉


__ADS_2