Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
23


__ADS_3

Disana, ditoilet itu juga ada beberapa kariawan yang melihat Jesi terus saja muntah. Mereka terus saja berbisik, apa lagi yang tak menyukai Jesi, dan membuat gosip terbaru tentang Jesi.


"Jeije" panggil April, Jesi menoleh. "Lo kenapa? Sakit?" Tanya April.


"Gue juga nggak tahu nih, kepala gue sakit banget, kayaknya gue masuk angin deh". Balas Jesi.


"Ya udah, mending Lo istirahat aja dulu, Lo kan baru aja sembuh". Ucap April. Jesi mengangguk. "Nanti gue ngasih tahu mbak Retna." Sambungnya lagi.


"Makasih Ril". Balas Jesi.


"Iya, ya udah, kalo gitu Lo ketempat Lo dulu. Biar gue ngasih tahu mbak Retna". Ucap April.


April membantu Jesi berjalan, tubuh Jesi jadi lemas karena terus saja muntah.


"Lo tunggu bentar disini yah". Jesi mengangguk, April berlari keruangan mbak Retna.


'Tokk.. Tokk.. Tokk'.


Ketuk April. Merasa ada yang mengetuk pintu kerjanya, mbak Retna mempersilahkan orang itu masuk.


"Masuk". Ucap Mbak Retna dari dalam.


"Permisi Mbak". Ucap April.


"Ada apa?" Tanya Mbak Retna.


"Ini mbak, Jeije".


"Kenapa dengannya?"


"Jeije sakitnya kambuh mbak, dia terus aja mual dari tadi". Ucap April.


"Sakit lagi? Mengapa dia memaksa dirinya datang jika masih sakit? Ya sudah, kamu antar dia ke klinik terdekat, mengerti?" Ucap mbak Retna.


"Iya mbak, terima kasih mbak, kalo gitu saya permisi" pamit April, mbak Retna mengangguk.


"Kasihan dia, sakit tak ada yang merawat". Batin mbak Retna, mereka tahu Jesi hidup sendiri, pernah sekali dia sakit, mbak Retna dan April lah yang menjaganya hingga Mirae datang.


"Jeije". Panggil April, dia sudah membawa tas Jesi. Jesi mendongkak melihat wajah sahabatnya itu.


"Yuk, gue anterin ke klinik". Ucap April.


"Nggak, gue langsung balik aja, Ril. Gue nggak mau buat Lo repot, kerjaan Lo pasti masih banyak, gue nggak mau". Tolak Jesi.


"Tapi Jeije".


"I'm fine, ok" ucap Jesi meyakinkan. Untung saja misalnya sudah rendah, itupun mereka berdua berhasil mengusir Alex pergi.


"Ya udah, kalo gitu gue anterin Lo sampe naik taxi deh". Balas April pasrah, dia tahu Jesi memang keras kepala.


"Makasih Ril". Ucap Jesi tulus, April mengangguk sambil tersenyum kearah Jesi.


"Trus siapa yang rawat Lo lagi? Kalo nggak ada, gue bakal nginap di tempat Lo, biar ngerawat Lo". Ucap April.


"Ada Mirae, dia yang rawat gue" tolak Jesi.


"Ya udah, bagus deh ada sahabat Lo itu". Balas April.

__ADS_1


Mereka berdua tiba diparkiran.


"Lo bawa mobil sendiri?" Ucap April tak percaya. Dia melihat sendiri mobil yang dikendarai oleh Jesi. Mobil mewah ini, memang tak semahal mobil yang terparkir di VIP sebelah sana, namun lumayan mahal juga mobil ini.


"Iya Ril, kalo gitu gue duluan yah, makasih udah nganterin gue sampe sini". Balas Jesi.


"Tunggu Jeije" tahan April.


"Kenapa Ril?". Tanya Jesi.


"Ini mobil siapa.lo nggak nyolong kan?"


"Ya enggak lah, ini mobil punya Abang gue". Ucap Jesi berbohong, dia tak mungkin mengatakan jika Rian lah yang membelikan mobil ini.


"Ohh, punya Abang Lo yah, ya udah, hati-hati yah di jalan, kalau capek, berhenti sebentar, jangan maksain diri Lo, nanti nambah sakit lagi". Balas April.


"Iya". Jesi meninggalkan area kantor, dan pergi dari sana.


Dia kembali ke rumah. Sedangkan didalam sana, para kariawan mulai bergosip tentang Jesi.


"Gue nggak nyangka, si Jeije hamil diluar nikah" ucap salah seorang dari mereka.


"Gue juga, gue nggak nyangka, ternyata si Jeije itu cewek ja**ng". Balas yang lain.


Alex yang mendengar itu marah, dia tahu Jesi wanita baik-baik. Da lagi dia tahu, tadi April mengatakan bahwa Jesi sedang sakit. Tapi yang membuat nya tak tenang adalah, mengapa April dan Jesi mengusirnya tadi.


Telinganya semakin memanas mendengarkan gosip itu.


"Diam kalian semua!!". Bentak Alex. Semua hening, "jika kalian terus bergosip tentang Jesica, kalian akan berhadapan dengan ku!!" Ucapnya marah, April juga ikut mendengarkan Jesi menjadi bahan gosip kali ini.


"Apa salah Jesica? Dia itu sedang sakit. Dan kalian membicarakan sesuatu yang tak pasti tentangnya" ucap April marah.


Alex juga meninggalkan semua orang. Mbak Retna melihat kearah stafnya.


"Kalian semua". Panggil Mbak Retna. Mereka melihat kearah mbak Retna.


"Jeije sedang sakit saat ini, dan kalian menggosipkan nya hamil? Kalian tahu sendiri dia itu seperti apa, kalian membuat saya kecewa". Ucap mbak Retna, dia juga ikut pergi dari sana.


Beberapa kariawan menunduk, yah memang benar Jesi lah yang membuat mereka bisa bernafas lega. Namun ada juga yang bahkan ikut menggosipkan orang-orang yang berada di pihak Jesi.


"Si mbak Retna mah belain si ja**ng, dia selalu buat kita muak". Ucap yang lain.


"Iya, dia terlalu milih kasih, dia terlalu sayang sama si ja**Ng Jeije". Sambung yang lain.


Sedangkan diseberang sana, Jesi sudah memasuki area rumah mewah itu.


"Nona muda? Mengapa kembali, apa ada yang tertinggal?" Tanya salah satu Pelayan.


"Nggak kok Bik, aku cuma nggak enak badan aja". Balas Jesi sambil berjalan kedalam rumah mewah itu.


Dia lebih memilih tidur. Dia langsung mengabari Rian kalau dia pulang ke rumah, tak bisa menemani Rian makan siang nanti. Rian hanya mengiyakan. Apa yang dibilang istrinya dan tak banyak tanya.


🍁🍁🍁🍁🍁


Malamnya, Rian sudah kembali kerumahnya, hari ini dia sangat sibuk. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan, dan lagi harus meating dengan klien dari Jepang.


Bahkan makan malam saja, dia tidak pulang dan makan bersama keluarganya.

__ADS_1


"Sayang". Panggil Rian, dia melihat Jesi yang sudah tertidur di sofa, mungkin saja menunggunya pulang. Yah ini sudah sangat larut, sudah jam satu malam.


"Maaf aku sibuk hari ini". Ucap Rian, dia mengelus pipi dan rambut lembut Jesi. Wajah tenang itulah yang membuatnya selalu semangat, namun aneh.


Mengapa wajah Jesi sedikit berbeda, apa yang beda darinya. Pikir Rian.


Dia memindahkan tubuh mungil itu keatas tempat tidur, lalu menyelimuti Jesi dengan selimut lembut miliknya.


Rian membersihkan tubuhnya yang gerah, sangat capek. Setelah mengenakan piyama tidurnya, dia bergabung dengan Jesi, mulai memasuki alam bawah sadarnya sambil memeluk tubuh mungil istrinya.


🍁🍁🍁🍁🍁


'Owekkkkk... owekkkkk'


Pagi-pagi Jesi terbangun, dia merasa perutnya berputar, dia terus saja memuntahkan isi perutnya.


Rian tersadar dari tidurnya ketika merasa Jesi tak berada disampingnya.


"Sayang.." panggil Rian. Tapi tak ada sahutan.


'owekkkkk... owekkkkk'


Rian melihat kearah kamar mandi, lampu disana menyala, dan suara itu seperti milik istrinya.


'owekkkkk.... owekkkkk'


Lagi-lagi dia mendengar nya, dia segera bangkit gun dan membuka pintu kamar mandi yang memang tak dikunci dari dalam


Dia bisa melihat dengan jelas Jesi yang yang terduduk dilantai, wajahnya pucat, ditambah rambutnya berantakan.


"Sayang" Panggil nya, Jesi melihat kearah Rian. Rian langsung berlari kearah Jesi yang terduduk lemas.


"Kau kenapa? Apa sakit?" Rian mengangkat tubuh Jesi ala bridal style, membawanya kembali ketempat tidur.


Panik, itulah yang dirasakannya sekarang.


"Tunggu sebentar, aku akan memanggil Bibik Anna". Ucap Rian, Bik Anna adalah kepala pelayan di rumah itu.


Setelah mendapat panggilan dari tuan muda nya, Bik ana segera pergi ke kamar Rian.


"Sayang,, sudah ku bilang, aku baik-baik saja, hanya masuk angin saja". Ucap Jesi menenangkan suaminya yang terus saja khawatir sejak tadi.


"Tidak, kau sakit, aku tahu itu". Balas Rian. Dia dengan jelas melihat Jesi yang lemas dan pucat.


'Tokk..Tokk..Tokk..'.


Rian berjalan dan membuka pintu.


"Tuan muda memanggil saya" ucap Bik Anna.


"Hmmttt, panggil dokter kemari. Istriku sakit". Perintah Rian.


Bik Anna melihat kearah Nona mudanya. Dia baru saja akan menelpon dokter keluarga ini, namun dihentikan oleh Jesi.


"Bibik, hentikan!". Ucap Jesi.


"Sayang, aku baik-baik saja oke, aku hanya masuk angin saja, jangan sepanik itu" ucap Jesi meyakinkan Rian. Dia mengedip-ngedipkan matanya. "I'm fine". Ucapnya lagi.

__ADS_1


"Baiklah" Rian pasrah. "Bibik, tolong buatkan bubur untuk istriku". Ucap Rian.


"Baik tuan muda". Balas. Bik Anna.


__ADS_2