Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
RPS.24


__ADS_3

"Yang.." panggil Jesi.


"Hmmt, kau membutuhkan sesuatu? Katakan" ucap Rian siaga. Jesi menggeleng.


Rian mendekat lalu memeluk istrinya. Jesi membenamkan wajahnya di dada bidang Rian.


"Apa yang kau mau? Katakan saja" ucap Rian.


Jesi mendongkak. "Janji tidak akan marah". Balas Jesi.


Rian mengangguk. "Memangnya apa yang kau inginkan?" Tanya Rian.


"Emmhhh". Jesi masih ragu.


"Katakan saja padaku, jangan seperti ini". Balas Rian kesal, sebenarnya apa yang di inginkan oleh istrinya ini.


"Baiklah, jangan marah yah". Rian mengangguk mantap. "Aku ingin,,, kau berlari atau apapun yang bisa membuatmu berkeringat. Aku ingin". Ucap Jesi, sambil mengedipkan matanya.


"Kenapa kau aneh sekali?" Balas Rian.


"Yah,, ayolah". Ucap Jesi memohon. Dia merapatkan kedua tangannya sambil matanya terus berkedip-kedip.


'Ohhh Lord, dia sangat imut jika seperti ini'. Batin Rian.


"Yahh,, sekalian kau berolahraga, yahh" ucap Jesi lagi.


"Baiklah". Rian setuju, hitung-hitungan dia juga menjaga kebugaran tubuhnya.


Sementaranya ketika Bik Anna turun dari lantai atas, mama sudah berada di dapur.


Mama melihat kearah Bik Anna.


"Anna". Panggil mama.


Bik Anna mendekat.


"Iya Nyonya". Balas Bik Anna.


"Ada apa? Mengapa kau dari atas? Apa Rian yang memanggil mu?" Tanya


"Iya Nyonya". Balas Bik Anna.


"Apa dia membutuhkan sesuatu?" Tanya mama lagi.


"Tuan muda memanggil saya memanggil dokter Julio. Tapi nona tak mau, dan tuan meminta saya membuatkan bubur untuk nona muda" jawab Bik Anna.


'Takkk'.


Mama menyimpan pisau dengan sangat keras.


"Apa Jeje sakit? Oh Tuhan, dia sakit apa Anna?" Tanya mama panik.


"Nonahanya masuk angin, jadi hanya ingin beristirahat". Ucap Bik Anna memberitahu.


"Anna, cepat buatkan menantuku bubur dan antarkan ke kamarnya, aku akan mengeceknya sendiri". Balas mama, lalu meninggalkan dapur.


Tepat ditangga, mama berpapasan dengan putra sulungnya.


"Rian". Panggil mama.


"Iya mah". Balas Rian.


"Mau kemana kau? Apa yang dikatakan Anna itu benar? Jeje sakit?" Tanya mama panik.


"Iya mah, dia muntah-muntah dari tadi, katanya masuk angin." Balas Rian


"Lalu mau kemana kau, bukannya menjaga istrimu yang sedang sakit malah pergi". Balas mama kesal.


"Mah, ini juga keinginan menantu kesayangan mama itu, dia menyuruhku berlari atau melakukan apapun yang bisa membuatmu berkeringat, aneh bukan?" Ucap Rian.

__ADS_1


Mama mengangguk. " Ya sudah, pergi sana, kamu juga belum berolahraga dari minggu lalu bukan?". Balas mama.


"Iya mah, kalo gitu aku ke ruang GYM dulu". Mama mengangguk dan melanjutkan langkahnya kekamar putra sulungnya, sedangkan Rian melangkah keruang GYM.


'Tokk..Tokk..Tokk...'


Jesi mendengar suara ketukan dari luar.


"Sayang, boleh mama masuk?" Tanya mama.


"Masuk aja mah, nggak dikunci". Balas Jesi dari dalam.


'Klekk'.


Pintu terbuka, mama melangkah mendekati ranjang, disana mama juga melihat wajah pucat Jesi.


"Kau sakit apa sayang?" Tanya mama.


"Nggak tau mah, aku mual sama muntah dari tadi, trus kepalaku juga pusing banget mah". Jawab Jesi.


"Mual sama muntah? Beneran?" Tanya mama. Jesi mengangguk.


"Bentar yah, mama panggil Rey". Balas mama. Mengambil Ponsel nya dan menelpon Rey.


"Halo Rey" ucap mama stelah nada tersambung.


"Iya mah, kenapa sih kok nelpon, kan kita satu rumah mah". Balas Rey.


"Kamu ke kamar kakakmu sekarang, bawa juga sama peralatan kamu, dan periksa kakak iparmu, cepat". Ucap mama.


"Iya mah" jawab Rey, dia menuruti ucapan mama, membawa peralatan yang dia butuhkan ke kamar kakaknya.


"Bentar sayang, biar Rey aja yang periksa kamu, dia kan calon dokter, lagi beberapa bulan lagi bakal jadi dokter beneran". Ucap mama.


'Tokk..Tokk..Tokk..'.


'klekk'.


"Kakak ipar, kau kenapa?" Tanya Rey bingung


"Entahlah, aku juga tak tahu Rey". Jawab Jesi.


"Cepat periksa kakak iparmu, jika kau salah, tak usah lanjutkan kuliahmu lagi NY". Balas mama.


"Mah, masa gitu sih". Ucap Rey cemberut


"Ya sudah, cepat periksa Jeje, jangan lakukan kesalahan apapun, mengerti!" Balas mama tegas.


"Hufft, baiklah" balas Rey. "Kakak ipar, beritahu aku keluhanmu" ucap Rey, dia mengambil stetoskop dan mulai memeriksa tubuh Jesi.


"Entahlah, aku mual dan terus saja muntah, perutku serasa diaduk-aduk. Kepalaku juga pusing". Ucap Jesi memberitahukan.


"Kakak ipar" panggil Rey. Dia selesai memeriksa Kakak iparnya.


"Apa Rey, Jesi sakit apa" tanya mama.


"Kakak ipar, apa kau sudah datang Bulan? Atau telat datang bulan?" Tanya Rey.


Jesi coba mengingat. "Emmhhh, entahlah, aku juga lupa Rey". Balas Jesi.


"Rey, jangan bilang Jeje hamil" ucap mama kegirangan, mama tahu ini pasti hamil, tentu saja mama tahu, dia adalah seorang ibu, tentu saja melewati fase ini.


"Iya mah, tapi aku takut aku yang salah memeriksa, jadi bisa mama suruh Bik Anna belikan taspack? Hanya untuk memastikan bahwa Kaka ipar benar hamil atau bukan". Ucap Rey menjelaskan.


"Baiklah, tunggu sebentar". Balas mama, dan segera menyuruh bik Anna membelikan taspack.


Sementara Jesika? Dia tak menyangka, 'beneran nih gue hamil?' batin Jesi.


Sementara itu Rian sudah selesai dengan olahraga nya, dia melangkah ke kamarnya dalam keadaan tubuh yang di penuhi kering.

__ADS_1


'klekk'.


Mama, Rey dan Jesi melihat kearah Rian yang melangkah masuk.


"Ada apa ini. Mengapa kalian disini?" Tanya Rian.


"Ehh, kakak". Ucap Rey


"Sayang". Jesi turun dari tempat tidur dan melangkah kearah Rian.


Memeluk Rian dan menghirup bau keringat milik suaminya.


"Sayang, aku berkeringat, Jagan Seperti ini, aku mandi dulu" Rian berusaha melepaskan pelukan Jesi.


"Tidak, aku suka wanginya seperti ini". Balas Jesi.


Rian melihat kearah mama dan adiknya meminta penjelasan.


"Emmhhh, Kakak, turuti saja keinginan kakak ipar". Ucap Rey santai, dia berjalan kearah sofa yang berada didalam kamar kakaknya. Mama juga menyusul Rey, mereka duduk sambil melihat kearah sepasang suami istri itu.


"Ahhkk kakak, kau membuatku iri, tidak bisakah kalian berhenti bermesraan, ada jomblo disini" ucap Rey mengalihkan pandangannya ke ponsel.


"Siapa yang menyuruhmu disini? Kalau tak mau melihat ku bermesraan, keluar sana" usir Rian.


"Mama, lihatlah kakak, dia mengusir ku". Rey mengadu, sambil cemberut, mama tertawa melihat kedua kakak beradik itu.


"Hahahaha". Mama tertawa lepas. Tiba-tiba pintu diketuk dari luar.


'Tokk...tok..tok..'


"Masuk". Ucap Mama.


Bik Anna masuk sambil membawa sesuatu ditangan.


"Ini nyonya". Bik Anna memberikannya pada Mama.


"Trimakasih, Kau boleh keluar Anna". Balas mama


"Baik nyonya, saya permisi". Pamit Bik Anna keluar dari kamar itu.


"Sayang" panggil mama, Jesi masih saja memeluk Rian.


"Iya mah". Balas Jesi.


"Ini, coba kamu tes dulu". Mama menyodorkan kresek.


"Iya mah" balas Jesi, mengambil kresek dari mama. Dia menjauh dan masuk kedalam kamar mandi.


"Mah, sebenarnya ada apa ini?" Tanya Rian semakin tak mengerti.


"Tadi mama manggil Rey buat periksa Jeje, lalu". Mama melihat kearah Rey minta Rey saja yang menjelaskan.


"Apa Rey, Jesi sakit apa" tanya Rian.


"Aku hanya ingin memastikan pemeriksaan ku saja kak, aku takut salah memeriksa kakak ipar" balas Rey.


"To the point, Rey!" Bentak Rian.


"Kakak ipar hamil, aku hanya ingin memastikan saja, pemeriksaan ku benar atau salah kakak" jawab Rey cepat. Dia tahu kakaknya ini seperti apa.


"Apa? Katakan sekali lagi" ucap Rian.


"Kaka ipar hamil, dan aku ingin memastikan benarkan kakak ipar hamil atau aku yang salah memeriksanya". Balas Rey sambil tertunduk.


Tiba-tiba pintu kamar mandi dibuka.


"Rey" panggil Jesi.


Semua melihat kearah nya.

__ADS_1


"Bagaimana hasilnya?" Tanya Rey mendekat.....


*****BERSAMBUNG🍁🍁🍁🍁🍁


__ADS_2