
Mentari sudah mulai menghilang, langit sudah mulai gelap, keadaan diluar sana semakin padat dengan kendaraan yang memenuhi jalanan ibukota dan menyebabkan kemacetan yang panjang.
Namun didalam sebuah kamar yang luas bernuansa mewah itu masih terbaring dua insan yang masih terlelap dan larut dalam mimpi indah mereka.
Posisi Jesi yang kepalanya berada di dada bidang Rian sambil memeluknya, serta kepala Rian berada diatas kepalanya dengan tangannya yang memeluk pinggang ramping Jesi.
Jesi tersadar dari tidur lelapnya, nyaman yang dia rasakan membuatnya tersenyum. Namun ada yang aneh, kenapa bantal ini rasanya berbeda, dan guling ini juga. Dan perutnya seakan menahan beban yang sedikit berat.
Jesi membuka matanya perlahan, hal pertama yang dia lihat adalah dada bidang seseorang.
"Kiyakkkkk". Jesi mendorong tubuh itu dan terjatuh kelantai.
'Bruggg'.
Rian yang masih berada didalam mimpinya seakan ditarik paksa. Sedangkan Jesi menarik selimut menutupi dirinya hingga leher menyisahkan kepalanya.
"Ada apa?" Tanya Rian panik ditambah rasa sakit akibat didorong istrinya.
"Apa yang kau lakukan?!" Teriak Jesi.
"Memangnya apa yang kulakukan?". Tanya Rian. "Aku tak melakukan apapun padamu". Sambungnya.
Jesi mengangkat sedikit selimut dan mengintip kedalam, memastikan pakaiannya yang masih melekat ditubuhnya.
'Hufftt, syukurlah'. Batin Jesi.
Rian melihat istrinya yang melamun, muncul ide yang terlintas dipikirannya.
"Memangnya apa yang kau pikirkan? Hmm" goda Rian, sambil berdiri dihadapan Jesi.
'Bluss'.
Wajah Jesi memerah menahan malu. "Tidak, aku tak memikirkan apapun". Ucap Jesi.
"Wahh, ternyata kau mesum yah". Goda Rian, Wajah Jesi semakin memerah.
"Tidak!"
"Kau tak mau mengaku yah". Rian sudah menahan tawanya sejak tadi, saat dia mulai menggoda Jesi.
"Kiyakkkkk". Jesi melempar bantal pada Rian, lalu menyembunyikan wajahnya yang semakin memerah dibawah selimut. Dengan sigap Rian menangkap bantal yang dilempar Istrinya.
"Hei,, beritahu aku, apa yang kau pikirkan". Ucap Rian sambil menarik selimut, tapi Jesi menahannya.
__ADS_1
Sedangkan Jesi malah menggerutu dirinya. 'Bodoh, mengapa aku bisa berpikiran seperti itu, bodohnya kau Jesica'. Batin Jesi, dia menggigit bibir bawahnya, sambil terus menahan selimut yang ditarik Rian.
"Heii, ayo mengaku, apa yang kau pikirkan tadi". Ucap Rian sambil tertawa. "Ayo mengaku".
Aktifitas mereka terhenti saat pintu kamar Rian diketuk.
"Adrian,,,, nak, kau sudah bangun? Adrian" panggil mama dibalik pintu.
"Sudah mah". Balas Rian, dia berjalan membuka pintu.
'Hufft, selamat'. Batin Jesi
"Kenapa mah?" Tanya Rian.
"Udah malem, kamu sama istrimu gak makan? Makan malam udah siap nak, atau mama suruh pelayan nganterin kekamar kamu?" Tanya Mama.
"Gak mah, aku sama Jesi siap-siap dulu". Balas Rian, mama mengangguk sambil tersenyum.
"Ya udah, mama turun dulu yah". Balas Mama, Rian mengangguk. Mama berbalik dan meninggalkan kamar putra sulungnya.
Rian kembali kedalam kamarnya, melihat Jesi yang sudah duduk sambil melihat kearah nya.
"Ini dimana? Ini bukan diapertemen kan? Ini kamar siapa?" Tanya Jesi bertubi-tubi. Rian terkekeh melihat wajah bingung istrinya.
"Ini dirumahku, dan ini kamarku". Balas Rian.
"Hmmt". Balas Rian. "Sudah malam, aku akan mandi terlebih dulu". Ucap Rian, Jesi mengangguk.
Rian berlalu kekamar mandi, setelah beberapa menit dia kembali kekamar dan masuk kedalam walk in closed miliknya, disana sudah tersusun rapi pakaian nya, ditambah pakaian Jesi yang sudah dibereskan pelayan dan dibelikan oleh mamanya beberapa hari yang lalu, saat Rian mengabarkan akan pulang bersama seorang wanita.
"Kau tak mandi?" Tanya Rian saat melihat Jesi yang asik dengan ponselnya.
"Ahh, kau sudah selesai?" Tanya Jesi, dia mendongkak melihat Rian yang sudah rapi dengan pakaian santainya. Terkesan lebih tampan.
'Ahhkk, tampannya'. Batin Jesi sambil menatap wajah tampan suaminya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlalu tampan Hmm?" Goda Rian.
'Bluss'. Wajahnya memerah, tertangkap basah saat mengagumi wajah tampan suaminya.
"Kata siapa? Kau terlalu percaya diri". Ucap Jesi, dia bangkit dari duduknya dan berlalu kekamar mandi.
'lihat wajahnya, sangat imut'. Batin Rian sambil tertawa mengingat wajah Jesi yang selalu memerah saat digodanya.
__ADS_1
________________
"Malam mah, pah" sapa Rian. Kedua orang tuanya melihat kearah mereka berdua, Jesi dan Rian.
"Malam nak". Jawab mereka bersamaan
"Ahkk, mama sama papa emang slalu kompak yah". Goda Rian.
"Yan,, jangan goda mamamu". Ucap papa Rian.
"Iya deh". Balas Rian.
"Malam sayang". Ucap mama bangkit dari kursinya dan berjalan kearah Jesi.
"Malam Tante". Balas Jesi.
"Kok Tante sih? Mama dong, kamu kan menantu mama". Ucap mama.
"I..iya ma" balas Jesi gugup.
"Yuk duduk dikirim kamu, tuh yang disamping Rian". Ucap mama. "Yan, kamu kenapa gak ngajak istrimu duduk sih? Kasihan menantu mama berdiri terus". Mama menjewer telinga Rian.
"Aduh mah, sakit mah". Rian mengaduh kesakitan.
"Udah mah, gak papa kok". Ucap Jesi, dia kasihan melihat Rian yang kesakitan
"Tuh, dia juga gak papa, iya kan sayang?" Tanya Rian.
"I..iya". Balas Jesi.
"Tuh, mama dengar sendiri kan?".
"Ya udah nak, kenapa masih berdiri sih? Duduk gih". Ucap Papa, dia hanya mengamati kelakuan anak dan istrinya sambil tersenyum.
Rian bangun dan menarik kursi Jesi yang berada disampingnya. Jesi menurut dan duduk dikursinya.
Rian yang selalu terkesan dingin diluar, ternyata orang yang hangat bila bersama keluarganya. Yah hanya keluarganya saja dia akan bersikap hangat.
"Jadi, kapan nih mama dapet cucu Yang?" Tanya mama disela makan mereka.
'Uhukkk,, uhukkk'. Rian dengan cepat menuangkan air untuk Jesi, dan menyodorkan pada Jesi. Dengan cepat Jesi meneguk air hingga habis.
"Pelan pelan yang". Ucap Rian sambil menepuk pundak Jesi pelan.
__ADS_1
"Kamu gak papa kan nak?" Tanya papa dan mama khawatir.
"Gak papa kok, Pah". Balas Jesi.