Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS. 15


__ADS_3

Mentari sudah menampakan dirinya, aktifitas diluar sana sudah mulai berjalan seperti biasanya. Para siswa yang mulai berangkat sekolah, para kariawan yang juga mulai berangkat, pedagang-pedagang kaki lima yang sudah berangkat membawa dagangan mereka memutari ibukota, kendaraan yang mulai padat dijalanan, dan masih banyak lagi.


Sama seperti sepasang suami istri yang juga sudah bersiap kembali beraktifitas seperti biasa.


"Yang..sayang". Panggil Rian.


"Iya, bentar". Balas Jesi, dia keluar dari closed membawa arloji dan dasi, berjalan cepat kearah Suaminya.


"Ayo dong". Rian menata rambutnya dengan jemarinya. Jesi memberikan arloji padanya, Rian menerimanya


"Dasi yangk". Ucapnya, Jesi mendekat lalu membantu Rian mengenakan dasi. Akibat tubuhnya yang sebatas bahu Rian, dia menggunakan bangku kecil untuk menyamakan tingginya dengan Rian.


"Makanya jangan terlalu pendek". Ucap Rian mengejek sambil menarik pipi tembem Jesi.


"Sakit ahhk". Keluhnya.


"Hehehe, habisnya gemes yangk".


"Terserah". Jesi memutar bola matanya malas.


"Kamu sudah selesai?". Tanya Rian.


"Bentar lagi, kamu duluan gih". Balas Jesi, dia kembali kedepan meja riasnya dan menyisir rambutnya.


"Buruan, mama pasti sudah nunggu dibawah". Jesi mengangguk.


"Iya, ini hampir selesai Iyan". Balas Jesi. Dengan cepat dia meraih tas dan beberapa berkas yang harus dibawanya.


Mereka berdua segera turun menemui mertuanya.


"Pagi mah, Pah". Sapa mereka berbarengan.


"Pagi nak/sayang". Balas papa dan mama bersamaan


"Yuk sarapan". Ucap mama. Rian menarik kursi untuk istrinya, lalu ketampatnya.


"Kau kok pucat sayang". Ucap mama memperhatikan wajah menantunya.

__ADS_1


"Kecapean aja mah, kak Rian ngasih banyak kerjaan sih". Ucap Jesi sambil cemberut. Memang akhir-akhir ini kerjaannya semakin menumpuk, istirahat nya juga kurang, akibat aktivitas Rian di malam hari.


"Ya ampun Rian, kamu ini. Mau buat menantu mama sakit apa?". Marah mama. Rian menengok ke Istrinya.


"Sudah aku bilang mah, kalo dia berhenti saja bekerja, tapi dia menolaknya. Inilah resikonya kalau bekerja di perusahaan ku". Bantah Rian.


Jesi cemberut. "Aku kan cuma ingin mandiri, kak". Balas Jesi.


"Sudah-sudah, jangan berdebat lagi. Habiskan sarapan kalian lalu berangkat". Ucap papa Menengah.


Semua diam. Menghabiskan sarapan dengan tenang, jika papa sudah angkat bicara, maka harus dituruti.


"Jeje". Panggil mama


"Iya mah". Balas Jesi.


"Mama setuju sama pendapat Rian, mending kamu berhenti kerja di perusahaan saja sayang, sama mama dirumah aja". Pinta Mama.


"Gak bisa mah, aku gak mau berhenti. Dan kalaupun aku berhenti berkerja di perusahaan maka aku akan. Membuka boutique seperti keinginan ku dulu". Balas Jesi.


"Yang, berangkat". Ucapnya.


"Ahh, iya. Mah, Pah, kita berangkat dulu". Pamitnya. Mertuanya hanya mengangguk.


"Hati-hati Nak/sayang". Ucap mereka bareng.


"Iya mah, Pah". Balas mereka.


Rian dan Jesi berjalan bersama, mereka bergandeng tangan. Sampai didepan pintu, disana Hengky sudah menunggu tuannya.


"Selamat pagi Tuan muda, Nona". Sapanya.


"Hmmt/pagi". Balas mereka.


Hengky membuka pintu penumpang lalu Rian memasukinya, sedangkan Jesi berjalan kebelakang, disana sudah ada mobilnya yang diberikan Rian, dia tak mau Jesi terus menaiki Taxi. Mobil mereka berjalan bersamaan.


Usia pernikahan mereka sudah berjalan sebulan, Rian dan Jesi semakin dekat, bahkan Jesi sesekali bersikap manja pada suaminya atau malah kebalikannya. Rian yang akan bersikap manja pada istrinya.

__ADS_1


Papa dan mama Rian menerimanya dengan tangan terbuka. Mereka sudah mengenal Jesi sejak kecil, Rian selalu menceritakan Jesica pada orangtuanya, karna kepo dengan siapa yang dibicarakan oleh putra mereka. Diam-diam mereka pernah mengikutinya Rian dari belakang dan mengawasi Rian.


'Angel dan Angelo'. Itulah nama kecil mereka.


Hubungan mereka belum diketahui oleh orang-orang kantor maupun publik. Rian hanya mengatakan jika dia sudah menikah, namun tak pernah wajah istrinya muncul di media.


"Pagi Ril". Sapa Jesi ketika melihat April.


"Pagi juga Jeije, yuk masuk". Ajak April. "Lo udah sarapan kan?" Sambungnya.


"Udah kok, kalo Lo?". Balas Jesi


"Udah dong". Mereka tertawa bersamaan.


Memasuki lift dan keluar di departemen sekretaris. Lalu mulai fokus dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Jeije, mana dokumen yang mbak minta kemarin? Udah selesai?". Tanya Mbak Retna.


"Udah mbak, Bentar". Jenis mencari dokumen yang diminta Mbak Retna lalu memberikannya..


"Ini mbak"


"Makasih yah Jeije, kalo gitu mbak Ketempat mbak dulu". Ucap mbak Retna, Jesi mengangguk.


Dia kembali fokus dengan tugasnya, Jari-jarinya dengan lihai berlarian diatas keyboard komputer.


Karna terlalu fokus, jam makan siang pun dilewatkan olehnya. Tiba-tiba


'Drutt..Druttt'. ponselnya bergetar.


'Husband memanggil'.


"Halo kak". Jawab Jesi.


"Makan siang yang". Ucap Rian diseberang sana. Jesi melihat kearloji nya yang melekat indah dipergelangan tangannya.


"Ahkk, Baiklah". Balas Jesi.

__ADS_1


__ADS_2