
Rian tiba² berdiri. Berjalan diantara para kariawannya. Smua orang terkejut dengan apa yg dilakukan oleh bos,.hingga dia berhenti tepat didepan Jesi
'Deggg'.
Jantungnya seakan berhenti. Semua orang tak menyangka Rian akan memilih Jesi.
Dengan terpaksa Alex melangkah mundur, dia tak mungkin tetap memilih Jesi. Jika itu bukan Rian, Alex pasti sdah menghajarnya.
Panetia segera meniup peluit, tanda game dimulai. Pasangan yg lain sudah bekerja sama untuk menghabiskan apel yg menggantung. Sedangkan Rian dan Jesi masih diam.
"Kaj sungguh ingin kalah dalam game ini? Lihatlah pasangan yg lain". Jesi mlihat ke psangan game yg lain
"nggak, aku nggak mau kalah". Ucap Jesi yakin, Rian tersenyum.
"Kau gigit saja buahnya.agar tak bergerak. biar aku yg makan". Ucap Rian, Jesi mengangguk.
Ketika Rian mulai makan apel, jantung Jesi bedetak cepat.
'Degg..Degg..Degg..'.
sangat cepat.
Sedangkan Rian? Dia trsenyum dalam.
'Cupp'.
Mata Jesi terbelalak, para penonton berjerit histeris. Benda kenyal dan manis itu msih menempel dibibirnya. Wajah Jesi mmerah sketika.
Bahkan sampai mereka tak sadar jika mreka berdua kalah dalam game, yg artinya mereka harus menerima hukuman.
Dan hukumannya adalah disiram dengan air es seember penuh.
"Sesuai dengan tantangan game tadi, sekarang yg kalah harus mnerima hukumannya. tapi....Siapa yg akan mlakukannya?".ucap.panetia
Mana ada yg berani melakukannya pada Rian dan Jesi, namun karena Alex yg sudah terbakar emosi, dia trsenyum misterius. Hingga seseorng mengangkat tangannya, siapa lagi jika bukan Alex.
"gue aja gimana?". Ucap Alex. Rian mengangguk, Alex berjalan mengambil ember plastik yg sudah berisi air es. dia menaiki satu bangku yang berada dibelakang Rian dan Jesi.
'Byurr'.
Dengan cepat Rian melindungi Jesi agar tak terkena air es. Seperti dalam drama korea. sang Aktor melindungi pasangannya dari cepretan air. Jeritan penonton tentu saja terdengar.
Jenny langsung bertindak. Dia mengambil handuk dan memberikannya pada si bos. Sedangkan Jesi masih melongo tak percaya dengan apa yang terjadi.
Rian sudah meninggalkan lapangan dimana game tadi berlangsung. Masih ada beberapa game lagi yang akan berlangsung.
Dengan cepat Jesi meninggalkan lapangan juga, dia pergi ke toilet, disana tempat ya g cukup aman, karena semua orang sedang berada di lapangan. dan dengan cepat juga mencari kontak Rian.
**HUSBAND**
> Cepat hangatkan tubuhmu. Mandi air hangat dan istirahat. jangan sampai sakit. √√
__ADS_1
'Drutt.. Drutt..'. ponsel Rian bergetar.
Rian tersenyum tipis.
**My Queen**.
< Baiklah,, aku tahu. √√
Hufft.. baguslah jika dia melakukan.nya
Tiba-tiba pintu toilet didorong dengan paksa. Terlihat Elyna berjalan dengan wajah merah padam. Jesi memutar bola matanya malas.
"Heh Lo". Panggilnya, Jesi melirik dengan ujung matanya. "Kenapa pak Adrian sampe milih Lo tadi?!" Bentaknya. Jesi benar-benar sangat malas berhadapan dengan wanita seperti Elyna ini.
"Emangnya kenapa kalo pak Adrian milih gue tadi? Masbulo?". Elyna meremas ponsel yang berada ditangannya dengan kuat. Matanya melotot pada Jesi
"Yah masalah buat gue, karna gue suka sama pak Adrian".
"Ohh, apa Lo lupa. Kalo pak Adrian itu udah nikah? Masa Lo mau rebut dia dari istrinya juga, dasar Ja**Ng". Balas Jesi sinis.
"Gue bukan ja**Ng!!" Teriak Elyna.
"Ohh, kalo Lo bukan ******, lantas disebut apa buat cewek yang relain masa depannya buat laki-laki hidung belang cuma buat ego nya?" Balas Jesi tak kalah berteriak juga.
Elyna maju dengan tatapan membunuh nya. Mendorong Jesi sampai ke sudut toilet.
"Asal Lo tau aja, gue juga bakal rebut pak Adrian dari istrinya" bisik Elyna tepat ditelinga Jesi.
Emosi Jesi yang sejak tadi ditahan seakan mau meledak bagai bom waktu. Jesi membalas tatapan Elyna, wajahnya berubah dingin bahkan suasana didalam toilet itu sangat mencekam. Nyali Elyna yang tadi berkobar kini menciut melihat reaksi Jesi. Tangannya hampir mendarat di pipi mulus Jesi jika tak ada yang menahan tangan itu.
'plakk'.
Tangan kekar itu menampar wajahnya
"Dia milikku!!. Pergi kau dari sini!!" Teriaknya. Yah saat ini yang berada disana adalah Adrian.
Badan Elyna seakan membeku, dengan tergesa-gesa dia keluar dari sana.
Rian langsung menarik Jesi kedalam dekapannya. Badan Jesi bergetar hebat, Jesi menahan semua emosinya.
"Rian lepas!!" Jesi merontah minta dilepas
"Tidak!!"
"Lepas Rian!!"
"Tidak!! Aku tak akan melepasmu!!"
"Rian kau tak tahu, aku sangat buruk, aku mau melepas emosiku padanya! Aku ingin memukulnya saat ini! Tapi aku takut melukai nya" Ucap Jesi diiringi cairan bening yg keluar dari mata indahnya. Inilah yang akan. Terjadi jika dia berusaha menahan emosinya.
"Tenang.. tenanglah.. aku disini, jangan takut" ucap Rian menenangkan Jesi, sambil menepuk pelan kepala Jesi.
__ADS_1
Jesi mulai sedikit tenang, Rian membawanya kesebuah taman. Tak mungkin dia membiarkan Jesi pergi dengan keadaan kacau seperti ini.
Mata Jesi langsung berbinar melihat pemandangan didepannya saat ini, Rian membawanya ke taman bunga lavender. Kebetulan sekali saat ini bunga lavender sedang mekar.
"Apa aku boleh kesana? Aku janji tak akan merusaknya" mata Jesi terus berbinar menatap lurus ke depan. Rian mengangguk
"Hmmt". Setelah mendapat ijin dari Rian, Jesi berlari seperti anak kecil kearah lautan bunga lavender.
Dia tersenyum melihat tingkah lucu Jesi yang berlarian seperti anak kecil, diam-diam dia mengambil potret Jesi yang tersenyum lebar dan bahagia.
"Aku janji, akan selalu membuatmu tersenyum" gumam Rian sambil matanya terus menatap kearah Jesi..
__________________________
Rian mengantar Jesi kembali ke tempatnya tadi. Mereka berpisah ditempat yang sedikit sepi.
"Jeije" panggil seseorang. "Dari mana aja Lo? Gue khawatir tahu" ucap April sambil menangis. "Hikss.. hikss...Gue takut terjadi sesuatu sama Lo".
"Gue baik-baik aja kok, makasih yah udah khawatirin gue". Balas Jesi.
Alex menghampiri keduanya. "Lo dari mana aja sih Je? Kita nyari lo dari tadi". Ucap Alex
"Hehehe, maaf yah, tadi gue sakit perut jadi kembali ke penginapan.." Jesi terpaksa berbohong.
Key datang menghampiri ketiganya.
"Yang, udah ketemu sama Jeije?" Tanyanya. April mengangguk
"Lo dari mana aja Je? Kita nyariin Lo dari tadi"
"Sorry". Ucap Jesi sambil tersenyum.
"Iya deh, yaudah yang, kita kembali yuk" ajaknya pada April. Mereka berdua berjalan terlebih dahulu.
Saat Jesi dan Alex berjalan bersama, ada batu didepan Jesi dan dia tak melihatnya. Jesi tersangkut dan hampir saja terjatuh jika Alex tak dengan cepat menahannya.
Mata mereka bertatapan, namun langsung dilepas Jesi saat mengingat Rian.
"Makasih". Ucapnya tulus, sambil berjalan terlebih dahulu. Dia merasa canggung.
"Iya" balas Alex dengan ekspresi kecewa.
Dari jauh ada seseorang yang terus menatap mereka. Dia tersenyum saat Jesi dengan cepat melepas diri dari Alex.
"Yang ku tahu, banyak kaum Adam yang menyukainya. Dia tipekal yang sangat ceria, dan semangat". Ucap seseorang didepannya.
"Kau benar, dialah tipeku" ucapnya setuju, namun mengerutkan keningnya mengingat ucapan Jenny yang lain.
"Apa sudah kau atasi perempuan Ja**ng itu?"
"Sudah, dia akan langsung dikeluarkan saat tur ini selesai. Apa perlu kuhabisi orang yang bersama nona saat ini juga?" Tanyanya.
__ADS_1
"Tidak, aku yang menjadi lawannya".
Mobil yang terparkir dalam kegelapan itu segera meleset pergi dari posisi mereka saat ini.