
Ex membuka pintu untuk Rian dan Jesi. Mengapa Jesi pingsan?. Itu karena dia kelelahan menghadapi para penculik, ditambah kepalanya yang sakit.
Yang lain juga ikut keluar dari mobil, mereka mengikuti Kaito dan Danil yang menuntun mereka memasuki mansions Ex.
"Lewat sini". Ucap Ex, Rian mengikuti Ex sambil membawa istrinya yang sedang pingsan, Mereka memasuki lift yang berada disana, Bukan lewat tangga, karna menurut Ex, adiknya harus segera ditangani.
Rian masih bingung, bagaimana istrinya yang terlihat lemah dan biasa saja melawan begitu banyak penjaga, kejadian tadi masih berputar di pikirannya layaknya kaset. Namun ditepisnya untuk sementara waktu, dia tahu Jesi pasti mempunyai alasan.
'Lalu pria ini?. Siapa dia'. Batin Rian sepanjang jalan.
Ketika lift berhenti, mereka Rian dan Ex kembali melangkah kan kaki mereka. Sepanjang mata memandang, hanya tempat GYM yang tembus pandang, dengan kaca bening yang membatasi. Sampai pada suatu ruangan.
Disana terlihat seperti klinik kecil. Semua peralatan yang seharusnya berada di rumah sakit, lengkap disini. Dan juga ada seorang pria dengan jas putih kebanggan dokter.
"Kau sudah sampai, baguslah". Ucap Ex. Dokter itu mengangguk.
"Baringkan dia, biarkan dokter memeriksanya". Sambung Ex Lagi.
"Dimana ini?" Tanya Rian.
"Mansion ku, rumahku dan juga rumah Queen". Jawab Ex. Dia lebih memilih melihat kearah Leon. Dokter yang menangani Jesi saat ini.
Mama dan yang lainnya juga tiba, disana mereka melihat Rian yang sedang berdiri dengan mengusap wajahnya kasar.
"Nak". Panggil mama. Rian menoleh. "Gimana keadaan Jesica? Apa terjadi sesuatu padanya? Mama khawatir". Ucap mama sambil menangis. Mama bahkan tak mempedulikan dirinya yang berantakan.
Danil masuk kedalam klinik mini, mengambil sesuatu, lalu keluar kembali
"Nyonya, tuan". Panggil Danil. Mereka menoleh. "Ikuti saya, luka kalian harus diobati. Itu perintah Nona muda sebelum dia menolong kalian". Sambung Danil.
"Tapi bagaimana keadaannya?". Tanya papa.
"Nona akan baik-baik saja. Nona kami orang yang kuat" balas Danil.
Papa, Mama, Rey dan Hengky mengikuti langkah Danil keruang sebelah. Disana juga hanya dibatasi oleh kaca tebal, namun dilengkapi pengredam suara. Sehingga tak ada orang yang mendengar ucapan mereka.
Disana sudah ada beberapa orang wanita, rupanya mereka perawat yang datang bersama dokter Leon. Mereka mengobati luka dan lebam keluarga itu.
Tak terkecuali Rian. Dia terus menatap kearah bangsal tempat Jesi berbaring.
"Ahkk.. ini salahku, mengapa aku tak bisa melindunginya". Pekik Rian sambil memukul kaca. Beruntung kaca tebal itu tak langsung pecah.
Ex melihat kearah adik iparnya.
"Jangan khawatir, dia akan baik-baik saja". Ucapnya menenangkan. Namun malah mendapat teriakan dari Rian
"Siapa kau?! Mengapa kau selalu menyuruh ku terus?!" Bentak Rian.
"Wohh, santai bro, lebih baik kau lepaskan tangan kotormu itu dari bajuku". Ucap Ex. Sejak tadi Rian juga penasaran dengan wajah dibalik topeng itu. Topeng yang sama dikenakan oleh istrinya.
Rian menghempas tangannya. Berteriak seperti orang yang sudah tak waras lagi. Dia sudah berjanji tak akan membuat Jesi dalam bahaya, namun sekarang apa? Dia malah membawa Jesi kedalam bahaya, bahkan nyawanya hampir melayang.
Tiba-tiba Leon keluar.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya Rian.
"Nona baik-baik saja tuan muda, hanya perlu beristirahat. Nona hanya kelelahan, dan untungnya nona mengenakan baju Anti peluru, jadi tak melukainya". Jelas Dokter Leon. " Saya juga sudah memberikan nona infus, jika sudah habis, panggil perawat yang berada disana". Tunjuk Leon.
"Terima kasih Leon". Ucap Ex. Leon mengangguk.
"Sama-sama bos, kalau begitu saya permisi dulu. Saya masih harus melakukan operasi jantung salah satu pasien, satu jam lagi". Pamit dokter Leon. Ex mengangguk, lalu Leon meninggalkan semua orang.
__ADS_1
Papa dan yang lainnya datang, kecuali mama yang harus diinfus.
"Bagaimana keadaannya?" Tanya papa.
"Dia baik-baik saja, hanya perlu beristirahat". Ucap Ex, namun beda lagi dengan Rian. Saat Leon berbalik, dia la langsung berhamburan kedalam klinik mini.
Papa dan yang lain memasuki ruangan, melihat wajah pucat Jesi yang terbaring diatas bangsal.
"Sudah kubilang, jangan khawatir. Dia baik-baik saja". Ucap Ex menenangkan, padahal dalam hatinya, dia sangat khawatir, melebihi Rian dan yang lain. Bagaimana tidak khawatir melihat adiknya yang dalam keadaaan yang tak bisa dibilang baik-baik saja.
Namun tak bertahan lama, Ex juga mendekati bangsal dan menyentuh tangan Jesi, lalu berpindah ke kepalanya. Mencium kening Jesi sayang.
Mata Rian memerah melihat itu, dia segera berputar lalu menarik Ex dengan paksa.
"Apa yang kau lakukan pada istri ku?!" Bentak Rian. Lalu melayangkan pukulan diperut Ex. Namun sebelum tangan itu mencapai target, tangan Ex dengan cepat menahan tangan Rian.
"Cihhh, memangnya apa yang kulakukan, huhhh". Bentak Ex balik. "Apa yang salah jika aku mengkhawatirkan adikku juga, aku selalu menenangkanmu, tapi aku tak bisa menenangkan diriku sendiri!". Sambung Ex.
"Adik?". Ulang Rian. 'Jadi dia kakaknya Jesi? Yang artinya adalah kakak iparku, begitu?' batin Rian. Sedangkan papa dan yang lainnya sudah tahu dari Danil. Dia mengatakan jika Jesi adalah adik bos mereka.
Ex membuka topengnya, wajah tampan dan dingin itu muncul begitu saja. Sangat tampan, seperti artis-artis Hollywood.
"Kau". Ucapan Rian terhenti, dia mengingat wajah itu, familiar. Mereka seperti pernah bertemu.
"Kita bertemu lagi, adik ipar". Ucap Ex dingin. "Apa ini sambutan untukku? Sebuah pukulan?" Sambungan lagi.
Rian masih mengingat wajah familiar ini, matanya membulat sempurna. Dia pernah meminta bantuan orang ini untuk mencari Jesi lima tahun yang lalu, namun dengan santainya pria dingin ini menolaknya, dan tak mau membantunya.
Ternyata dia tak mau orang lain menemukan adiknya.
"Aku, Exsel Admalja, pria yang pernah menolak mu mencari adikku. Jesica Admalja". Ucap Ex santai, dia lebih memilih kembali kebangsal dan menemani adiknya. Papa dan yang lain hanya melongo tak percaya. Pria kejam dan dingin ini adalah kakak dari istri putranya.
Itulah mengapa Jesi sangat lincah dalam pertarungannya tadi.
Pagi-pagi Mansions itu sudah ribut dengan suara perdebatan dua orang pria. Mansions yang selalu tenang seakan sangat mencekam saat kedua pria ini berdebat dibawah. Tak ada yang berani melarang atau pun menengah diantara mereka.
"Ahhkkkk, sangat berisik". Ucap Jesi, dia terganggu dengan suara perdebatan para pria. Jesus turun dari tempat tidurnya, berjalan sempoyongan kearah tangga, melihat kebawah siapa yang berani mengganggu tidurnya.
"Sudah kubilang kakak ipar, aku mau membawa istriku kembali kerumah". Ucap Rian.
"Tak bisa, Queen masih membutuhkan perawatan, dia harus tinggal disini". Balas Ex.
"Kakak ipar, kumohon. Biarkan istriku bersama denganku. Aku akan merawat nya dengan baik". Pinta Rian.
"Aku kakaknya, aku yang akan merawat nya disini". Balas Ex.
"Tapi aku suaminya, aku juga berhak atas dirinya". Balas Rian.
Mama, papa, Rey, Hengky, Kaito dan Danil hanya duduk menonton perdebatan kedua pria itu. Apa lagi Rey dan Kaito. Mereka malah saling berbisik.
"Tuan kecil, menurutmu siapa yang menang?" Bisik Kai.
"Aku tak tahu". Balas Rey. Dia sibuk dengan popcorn yang berada di pangkuannya. Seakan dia sedang menonton film secara live. "Siapa menurutmu?" Tanya Rey balas.
"Aku juga tak tahu,, kita lihat saja siapa yang menang". Balas Kai.
Namun semakin lama, semakin memanas. Kedua pria itu bahkan saling melempar tatapan membunuh. Bahkan Rian dan Ex sudah berdiri dan saling memegang kerah baju.
"Aku yang merawatnya". Ucap Rian.
"Aku yang akan merawat Queen". Balas Ex. Oh, kedua nya bahkan hampir saja saling memukul jika Jesi tak cepat turun tangan.
__ADS_1
"Diammmm!!" Teriak Jesi dari atas tangga. Tapi, dia hampir sampai ditanggapi terakhir.
Dua pria tampan itu langsung tak bergeming. Hening yang terasa. Mama, papa dan yang lain langsung menahan tawa mereka, dua pria itu menuruti keinginan seorang gadis. Namun tangan mereka masih berada dikerah baju masing-masing
"Sedang apa kalian? Mengapa sangat berisik" tanya Jesi. Dia berjalan dengan mata yang masih setengah tertutup, kearah semuanya.
"Sayang, kau sudah bangun?" Tanya Rian sambil melepaskan tangannya dari kerah baju Ex.
'Cihhh, dasar bucinnn'. Batin Ex.
"Tidak, aku masih tidur". Balas Jesi cuek, dia berjalan kearah mama.
"Mah, Jeje ngantuk". Ucapnya manja.
"Sini sayang". Mama merentangkan kedua tangannya, Jesi berjalan kearah mama dan langsung memeluk mama. Menenggelamkan wajahnya diceluk leher mama.
"Sayang, sini sama aku saja. Mama pasti kesulitan" ucap Rian. Dia menyentuh bahu Jesi. Namun dengan cepat Jesi menepis tangan Rian.
"Aku mau sama mama, kau sudah membangunkan ku". Ucap Jesi cuek
'apa? Aku ditolak istriku?' batin Rian.
Ex dan yang lain hanya menahan tawanya. Ex lalu berjalan kearah adiknya.
"Kakak punya cokelat, kau mau?" Ucap Ex sambil mengeluarkan sebatang cokelat dari saku jasnya.
Jesi mengintip, dia membuka sedikit matanya.
"Cuma satu, aku maunya banyak". Ucapnya, sambil kembali menenggelamkan wajahnya lagi.
Ex mengambil paparbag diatas meja.
"Ini" Ex menyodorkan satu paparbag penuh cokelat.
Jesi membuka matanya lagi. Lalu melompat kearah Ex. Dengan sigap Ex menangkap adiknya.
"Kakak yang terbaik". Ucapnya. Sambil merebut paparbag cokelat.
Semua orang melongo tak percaya. Jesi benar-benar seperti anak kecil yang sangat mudah dirayu. Hanya dengan makanan manis yang bernama Cokelat saja.
Sedangkan Rian, wajahnya masam. Bagaimana mungkin, istrinya menolaknya dan malah memilih bersama dengan kakak iparnya hanya karena cokelat.
'kalau hanya cokelat, aku akan membelikan pabriknya sekalian hanya untukmu'. Batin Rian.
Dia tambah kesal saat matanya berpapasan dengan Ex. Lalu Ex mengedipkan matanya.
'Cihhh'.
Sedangkan yang lain, mereka terhibur dengan aksi ketiga orang ini.
Suami posesif VS kakak over protective.
Benar-benar pertunjukan yang seru. Pikir Rey dan Danil. Mereka melempar pandang dan tersenyum menahan tawa.
*
*
*
*
__ADS_1
*****NOTE*****
JANGAN LUPA LIKE KOMEN DAN VOTE-NYA