Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS. 9


__ADS_3

Semua sudah menunggu dibelakang penginapan yang terdapat taman. Acara Barbeque, saat ini sangat ramai apa lagi semua kariawan berkumpul.


Mreka semua tertawa bersama, namun dikejauhan seorang memperhatikan mereka. Yah dia adalah Jesicha.


Emosinya yang tadi sudah ditelan, sekarang kembali karena melihat Elyna dengan tatapan membunuhnya. Awalnya dia tak peduli, namun dengan sengaja Elyna menumpahkan minumannya.


"Je, are you ok?" Tanya April.


"Hmm" balas Jesi.


"Mau minum?" tawar April.


"Boleh"


April pergi mengambil jus untuk Jesi, dia tahu Jesi memang tak suka dengan minuman beralkohol.


Dari jauh Alex melihat Jesi yang menyendiri, dia mendekat kearah Jesi.


"Lo kenapa Jes? Kok menyendiri". tanya Alex lembut.


"nggak pa-pa kok" balas Jesi dingin.


"nggak pa-pa tapi mukanya kusam gitu" ejek Alex,.dia ingin membuat Jesi kembali ceria.


"Udah ah, males gw liat muka Lo" balas Jesi dingin, mood nya lagi tak baik.


"Lah kok gue yang kena semprot sih?". ujar Alex bingung.


Karena kesal dan kakinya mulai pegal akibat berdiri sejak tadi, Jesi berjalan kearah deretan bangku.


Yang berarti harus melewati kolam renang.


Elyna yang berada di sana menuang minuman kelantai yang akan dilewati Jesi. Rencananya berhasil, Jesi terpeleset dan jatuh kedalam kolam.


'Byuurr'.


Semua orng mlihat kearah kolam,


"Ahkk.." teriak Jesi.


Saat yang tepat. Rian yang baru saja sampai melihatnya. Dia langsung berlari melepas jasnya dan mencebur kedalam kolam, dirinya menolong Jesi. Alex juga melakukan hal yang sama.


'Byuurrr..'.


'Byuurrr'....

__ADS_1


Rian berenang kearah Jesi, memeluk Jesi yang sedikit kesusahan renang, mengangkatnya ala bridal style. Sedangkan Alex melongo melihat Jesi yang sudah berada dalam pelukan Rian. Dia baru masuk kedalam kolam, namun Jesi malah,,,.sudahlah..


Rian berenang ketepi kolam lalu mengangkat Jesi keatas, lalu beranjak naik jg. Hengky dan yang lain langsung mengerubungi mreka berdua. Rian membantu Jesi berdiri.


Jenny mengambilkan handuk dan memberikannya pada Rian, dan langsung dikenakannya pada Jesi yabg mulai kedinginan bahkan kakinya bergetar menahan dingin.


Rian menggendong nya ala bridal style dan meninggalkan taman belakang diikuti Jenny dan Hengky.


April dan yang lain melongo tak percaya dengan apa yang dilihat mreka. Dengan kesal Alex berenang ketepi dan meninggalkan semuanya, dia kembali ke kamarnya mengganti pakaian yang sudah basah.


Rian mendudukkan Jesi dengan lembut di kursi penumpang. Hengky langsung menekan pedal gas meninggalkan penginapan kariawan.


Acara yang tadinya penuh dengan tawa, sekarang sedikit sunyi.


Rian menarik Jesi kedalam dekapannya, menyandarkan kepala Jesi di dada bidangnya, menggenggam tangan Jesi yg dingin dengan tangannya yang hangat.


"Tenanglah. Aku disini". Ucap Rian menenangkan. Mobil mewah itu berhenti tepat didepan penginapan Rian....


Dengan cepat mobil yg dikendari Hengky tiba dipenginapan. Rian menggendong tubuh Jesi, dengan cepat melangkahkan kakinya kekamar mereka lalu Membawanya kekamar mandi.


"Rendam tubuhmu dengan air hangat". Ucap Rian. Namun kini dia baru sadar, jika baju Jesi yang basah jadi transparan.


'Bluss'.


"Hmm, aku mengerti". jawab Jesi cepat, dia sudah melihat wajah Rian yang sedikit memerah.


Rian meninggalkannya sendiri, Jesi merendam tubuh mungilnya di dalam bath-up. Kepalanya sakit seperti ditusuk-tusuk jarum, Jesi hanya memegang kepalanya dengan kedua tangannya.


Sedangkan Rian didalam kamar tak bisa tenang, rasa takut dan khawatir bercampur menjadi satu, namun wajahnya juga masih memerah setelah melihat baju Jesi yang transparan dan melihat bra berwarna hitam.


'Ahkk, Kenapa aku jadi begini? Padahal banyak wanita yang merangkak naik keranjangku dengan suka rela'. Batin Rian. dia terus mengendalikan pikirannya agar tetap bersih dan tak menyerang Jesi.


Sudah sekian menit tapi Jesi belum keluar juga, membuat Rian smakin khawatir.


'Tok..Tok..Tok..'.


"Jesica..Jesi..."


Rian terus memanggil Jesi, namun tak ada jawaban.


'klekk'.


Pintu terbuka dan menampilkan wajah pucat Jesi.


"Kenapa wajahmu pucat?" Tanya Rian khawatir.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja". Jawabnya, namun tubuh Jesi oleng, dan...


'Brukk'.


Jesi kehilangan ksadarannya.


"Jesi.. Jesi" Rian menepuk pipi Jesi, namun tak ada jawaban. Jesi bahkan masih mengenakan handuk.


Rian mengangkat Jesi ke ranjang, melepas handuknya agar mengganti pakaian Jesi.


'Glekk'.


Rian menelan silfanya dengan susah payah, dia masih bisa mngendalikan dirinya. menahan hasrat yang hampir memuncak.


Mengambil pakaian Jesi yang berada di dalam lemari dan mngenakannya pada Jesi. Sebenarnya bisa saja dia memanggil Jenny, namun dia tak mau ada yang melihat tubuh istrinya.


"Hen, panggil Arman kemari. gunakan Heli saja. CEPAT!!" Ucap Rian, dia benar-benar panik. Dia tahu jika hal ini terjadi maka...


15 menit kemudian helikopter mendarat dihalaman penginapan yang luas. Seorang Dokter tampan berjalan tergesa-gesa setelah turun dari helikopter sambil menenteng tasnya, Hengky sudah menunggunya dilantai dasar.


"Kesini Dokter". Ucap Hengky sambil menuntun Arman kekamar Tuannya.


"Cepat periksa dia". perintah Rian, wajahnya benar-benar panik dan khawatir.


Ini pertama kalinya Arman melihat Rian sepanik ini, selain kepada keluarganya.


Arman mengeluarkan peralatannya dan memeriksa Jesi dengan hati-hati, bgaimana tidak, mata elang Rian menatapnya dengan tatapan mmbunuh.


"Ar, dia harus diinfus. Dia kekurangan cairan, dan kelelahan ditambah sepertinya dia mengalami trauma yang panjang" ucap Arman setelah Rian menceritakan smuanya.


Rian mngangguk setuju, Arman mulai memasang Infused pada pergelangan tangan kiri Jesi, sedangkan Rian duduk disampingnya Jesi, mengusap kepala Jesi lembut.


.


.


.


.


.


.


*****Bersambung******

__ADS_1


__ADS_2