
"Ahhkk,,, kakak ipar, kau benar-benar sialan". Umpat Rian.
Ex terkekeh melihat wajah adik iparnya yang kesal.
"Dan yang terakhir, Queen masih membutuhkan perawatan, dia akan tinggal disini beberapa hari sampai dia pulih". Ucap Ex, namun Rian tak terima.
"Tidak bisa, aku yang akan merawat istriku". Balas Rian.
Dan begitulah kejadiannya sampai suara perdebatan mereka didengar oleh sang Jesi yang masih nyaman dengan dunia mimpinya.
*FLASHBACK END*.
_________________
"Queen, apa kau yakin?" Tanya Ex.
Jesi mengangguk. "Iya kakak, aku akan ikut dengan suamiku". Balas Jesi.
Rian tersenyum menang, Ex melihat kearah nya dengan tatapan sinis, Rian tersenyum mengejek.
'Dasar adik ipar sialan'. Umpat Ex. 'awas dia'.
Sedangkan Rian, dia merangkul pinggang Jesi posesif, seakan ingin menunjukkan bahwa dialah pemilik Jesi.
Jesi mengarahkan pandangan pada Rian, lalu kearah sang kakak tercinta.
Jesi memutar matanya malas. "Kak Ex, kak Rian". Panggilnya. Kedua pria tampan itu melihat kearahnya.
"Ada apa sayang/Queen?". Ucap mereka bersamaan.
"Jika kalian bertengkar lagi seperti tadi, lebih baik aku pergi saja kerumah Mirae. Biar dia saja yang merawat ku". Ucapnya dingin.
"Tidak/jangan". Ucap mereka kompak lagi.
"Hufft. Okeyy, baguslah jika begitu". Ucap Jesi lalu masuk kedalam mobil Rian yang sudah terparkir di sana.
'Brakk..'.
Jesi membanting pintu dengan begitu keras.
"Kakak ipar". Rian mendekati Ex.
"Apa?" Balas Ex.
"Apa dia akan marah?" Tanya Rian.
"Aku tak tahu, tapi yang jelas, jangan pernah membuatnya marah, sangat menyeramkan". Ucap Ex sambil mengelus tangannya yang merinding.
"jika kau tak ingin peluru revolver nya bersarang di kepalamu". Sambungan nya lagi.
"Apa?!". Rian menatap tak percaya pada Jesi yang sudah duduk manis didalam mobil.
'apa dia percaya?' batin Ex, dia menahan tawanya. Berhasil mengerjai adik iparnya.
"Lebih baik kau pergilah, jika kau tak mau melihatnya mengamuk, bahkan lebih menyeramkan jika Queen mengamuk, seperti singa betina yang kelaparan dan ingin memangsa musuhnya". Ucap Ex menakut-nakuti Rian.
Dengan cepat Rian mengikuti ucapan kakak iparnya. Dia tak ingin melihat amukan dari Istrinya.
Ketika mobil Rian dan yang lain sudah tak kelihatan, Ex melepaskan tawanya yang sudah ditahan sejak tadi. 'lihat wajahnya yang pucat itu, sangat lucu'. Tawa Ex.
Sedangkan diatas sana, Kaito dan Danil juga ikut tertawa melihat wajah pucat tuan muda yang arogan itu. Mereka tak tahu apa yang dikatakan oleh bos mereka, tapi bisa ditebak. Bos mereka baru saja menjahili Tuan arogan itu.
_____________________
"Sayang" panggil Rian.
"Ada apa?" Tanya Jesi. Saat ini mereka masih berada dalam perjalanan bersama anggota keluarga yang lain, namun berbeda mobil yang ditumpangi papa dan yang lain. Ada juga dua mobil yang mengawal para anggota keluarga Rios itu.
"Aku masih heran, bagaimana bisa kau beraksi seperti kemarin" ucap Rian, aksi Jesi masih berputar dalam ingatan nya, seperti kaset yang diputar lagi.
"Aksi? Yang mana?" Tanya Jesi polos.
Rian memijit kepalanya. "Saat kau menyelamatkan kami, bagaimana bisa seperti itu?" Ucapnya lagi.
"Ohh, yang itu.." balas Jesi. Rian mengangguk. "Entahlah, aku hanya refleks saja". Jawabnya santai.
"Apa?" Rian tak percaya. Bisa-bisa nya Jesi menjawab pertanyaan itu dengan 'hanya refleks saja'.
__ADS_1
Jesi sebenarnya malas menjawab pertanyaan Rian. Jadi hanya itu yang terlintas di pikiran nya. Dia menguap lalu menyandarkan kepalanya di bahu Rian.
"Aku mengantuk". Ucapnya santai.
"Tidurlah, akan ku bangunkan nanti". Balas Rian. Jesi mengangguk paham. Lalu menutup matanya, tak lama, hanya membutuhkan waktu beberapa menit saja dia sudah terlelap dan memasuki dunia mimpinya.
Rian memperhatikan wajah Jesi intens.
"Aku sangat beruntung bisa mendapatkan mu disisi ku. Aku sangat berterima, dan juga menyesal. Aku tak bisa melindungi mu seperti kemarin". Gumam Rian.
Dia mengambil ponselnya lalu memeriksa Email yang dikirim oleh jenny.
Saat mobil mewah itu memasuki pekarangan rumah, Rian masih fokus dengan laporan-laporan yang dikirimkan Jenny.
"Tuan muda, kita sudah sampai". Ucap Hengky.
"Hmmt" balas Rian. Dia menyimpan ponselnya dibalik saku jas mahalnya.
Hengky membuka pintu penumpang dan mempersilahkan tuannya untuk keluar.
Rian keluar, lalu mengangkat tubuh Jesi seperti biasanya.
Mobil yang ditumpangi anggota keluarga yang lain juga tiba, diikuti para pengawal Ex. Setelah memastikan mereka tiba dengan selamat, mereka bergegas kembali ke Mansions Ex.
Sedangkan Rian sudah membaringkan tubuh Jesi diatas tempat tidurnya, menarik selimut dan metupi tubuh mungil istrinya. Dan Membiarkan Jesi semakin larut dalam mimpinya.
Sedangkan Rian memilih ke ruang kerja miliknya. Lalu berkutik dengan pekerjaannya yang selalu menanti, minta diselesaikan.
*****
Malam tiba, Jesi merenggangkan otot nya yang mulai kaku, melihat kearah Rian yang juga terlelap setelah menyelesaikan separuh pekerjaanya.
Jesi melihat kearah jam yang menggantung disudut kamar. Pukul 18:46 WIB. Dia turun dari tempat tidur dan membersihkan dirinya.
Rian tersadar ketika ingin memeluk istrinya, namun yang dipeluk tak ada disampingnya. Rian membuka sedikit matanya memastikan, namun yang ditemukannya kasur yang kosong.
"Sayang...yang..sayang". Panggil Rian. Namun tak mendapat jawaban, dia malah mendengar suara gemericik air yang berasal dari kamar mandi.
'Hufftttt'.
Rian bernafas lega. Tak lama kemudian Jesi keluar dengan handuk yang melilit tubuhnya dan kepalanya.
Rian mengangguk. "Aku pikir kau tak ada". Balasnya.
"Ohh". Jesi berlalu kedalam Closed, dan bergantian dengan Rian. Dia juga ikut membersihkan tubuhnya.
"Malam mah, Pah" sapa Jesi.
"Malam juga Nak/sayang". Balas mereka.
"Cuma ada mama sama papa aja nih, gak ada yang lain apa disini?" Ucap Rey cemberut.
"Hahahaha..." Jesus tertawa. "Selamat malam adik ipar ku yang super tampan" ucap Jesi.
Rey tersenyum. "Selamat malam kakak ipar yang super keren". Balas Rey.
Membuat semua orang tertawa, bahkan para pelayan yang berada disana juga ikut tersenyum mendengar keakraban tuan muda mereka dengan kakak iparnya.
"Nona orang yang sangat ramah yah, langsung cepat akrap dengan Tuan muda Rey". Ucap salah satu Pelayan.
Yang lain mengangguk setuju. Jesi memang selalu bersikap baik dan sopan pada mereka, awalnya mereka pikir Jesi orang yang sombong, namun ternyata tidak.
" Kakak ipar" panggil Rey.
"Ada apa?" Tanya Jesi.
"Emm...". Rey tahu ingin bicara.
"Ada apa?" Tanya Rian.
"Tidak kak". Balas Rey.
"Bicaralah, aku akan mendengarkan mu". Sambung Jesi.
"Baiklah,,, emm.. apa aku boleh belajar beladiri darimu? Aku mohon boleh yah". Pinta Rey.
"Mengapa kau ingin belajar beladiri?" Tanya Rian. Yang lain mengangguk.
__ADS_1
"Aku hanya ingin melindungi diriku saja kak, lagipula kakak ipar sangat keren kemarin. Apa lagi saat turun dengan tali itu, Wahhh... Aku bahkan seperti menonton film action secara live". Celoteh Rey.
"Yah kakak ipar, kumohon". Sambil merapatkan kedua tangannya, dan mengedip-ngedipkan matanya.
'Ohhh Lord, dia sangat imut, aku tak tega melihatnya'. Batin Jesi.
"Baiklah, kau boleh belajar beladiri". Ucap Jesi setuju. "Namun.."
"Namun?" Tanya Rey.
"Bukan denganku, melainkan dengan kak Ex". Sambung Jesi.
"Kau benar sayang, Rey lebih baik belajar dengan Ex". Sambung Mama setuju.
"Baiklah, terima kasih kakak ipar, kau yang terbalik". Rey mengangkat tangannya, membuat simbol love dengan jarinya.
Jesi membalas Rey dengan tersenyum lalu melakukan hal yang sama pada Rey.
Semua itu tak luput dari tatapan tajam Rian. Dia mengepalkan tangannya kesal. Jesi tak pernah melakukan hal itu padanya, dia juga tentu saja tahu apa arti simbol itu.
Wajahnya masam, dengan cepat dia pergi dari sana.
'Sreetttt'.
Bunyi kursi didorong dengan kasar. Semua melihat kearah Rian yang pergi dengan wajah masamnya.
"Ada apa dengannya?" Tanya Jesi polos.
"Kakak ipar, maaf". Ucap Rey.
Jesi bingung dengan apa yang dimaksud Rey.
"Untuk apa kau meminta maaf?" Tanya Jesi.
"Kakak pasti cemburu, ahhkk, aku memang tak sengaja tadi, aku sangat senang dengan ucapannya tadi kakak ipar". Ucap Rey tak enak hati, dia tak ingin hubungan kakaknya merenggang, ini hanya salah paham.
"Sudahlah, biar aku yang bicara dengannya, lanjutkan saja makan malamnya". Balas Jesi sambil tersenyum.
Yang lain mengangguk.
Jesi meninggalkan makan malamnya dan menyusul Rian.
'Pasti diruang kerjanya' gumam Jesi. Untung saja dugaannya benar.
'Tokk...Tokk... Tokk...'.
"Masuk!" Balas Rian. Dia. Masih kesal.
"Kak Rian." Panggil Jesi.
"Hmmm" balas Rian. Ternyata memang benar, Rian sedang cemburu.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Jesi.
"Tidak" jawab Rian dingin.
'Hufttt,, aku harus merayunya lagi'. Batin Jesi.
"Lalu mengapa wajahmu masam begitu? Apa aku membuat kesalahan?" Tanya Jesi. Dia berjalan kearah Rian yang sedang berdiri melihat keluar.
Jesi memeluk Rian dari belakang.
"Maaf". Ucap Jesi. Rian tak bergeming.
"Aku tahu aku salah, maaf" ucap Jesi lagi
"Kau tak pernah memberikan aku simbol itu, tapi mengapa kau membalas Rey dengan itu, aku tak suka" ucap Rian.
"Itu tak seperti yang kau pikirkan, kau salah paham". Balas Jesi.
Rian membalikkan tubuhnya, lalu memegang kedua bahu Jesi.
"Kau bilang salah paham? Kalau begitu. Jelaskan padaku sekarang" ucap Rian dingin.
"Rey hanya berterima kasih padaku karena mengijinkan nya berlatih dengan kak Ex, dan simbol itu selalu digunakan jika seseorang berterima kasih" ucap Jesi menjelaskan. "apa kau tak pernah menonton drama Korea?" Sambungnya.
"Apa hubungannya dengan drama Korea?" Tanya Rian bingung.
__ADS_1
"Oh Lord, suamiku tak pernah menonton drama Korea". Jesi mengejek.