Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS.26


__ADS_3

Rian dan Jesi sudah kembali ke rumah, dalam perjalanan Jesi hanya terus tertidur dipangkuan suaminya.


Rian mengelus rambut hitam milik Jesi, sangat lembut, itulah yang dirasakannya. Dia masih mengingat dengan jelas semua ucapan dokter, yang entah itu larangan ataupun hal yang harus dilakukan olehnya.


Setelah sampai di rumah, Rian memindahkan tubuh mungil itu kedalam kamarnya, kamar mereka maksudnya.


"Maaf, aku harus pergi lagi, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan". Ucap Rian, lalu mengecup puncak kepala Jesi. Meninggalkan istrinya istirahat didalam sana.


Segera dia mencari mama.


"Mah,, mama" panggil Rian. Kebetulan saja mama sedang duduk santai sambil menonton drama Korea kesukaannya.


"Kenapa nak?" Tanya Mama.


"Aku harus pergi, masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan, aku titip istriku". Pinta Rian.


"Baiklah, bagaimana hasilnya tadi?" Balas mama.


"Janinnya berjalan 2 Minggu, aku titip Jesi pada mama, jika dia menginginkan sesuatu, tolong dituruti" pinta Rian.


"Baiklah, kau ini, mama juga pernah merasakan hal yang sama, jadi jangan khawatir, pergi saja sana" balas mama.


"Aku pergi" pamit Rian


"Hati-hati Nak" teriak mama.


"Iya" balas Rian juga ikut berteriak.


________________________


Gelap,, entah dimana ini, tapi sangat gelap yang dirasakannya.


Jesi terus saja melangkahkan kakinya, meski sudah sangat pegal yang dirasa, tak tahu harus kemana, dia terus melangkah ke depan.


"Gue dimana? Kenapa gelap banget sih?" Ucap Jesi. Dia terus saja berjalan meski tak tahu harus pergi kemana.


Tiba-tiba ada setitik cahaya, Jesi mengayunkan kakinya semakin cepat. Cahaya itu tiba-tiba saja menyelimutinya.


"Dimana ini?" Tanya Jesi. Dia melihat kesekeliling,


"Taman?" Gumam Jesi.


Dia melihat seorang anak laki-laki yang bersama seorang wanita, dia memegang tangan wanita itu kuat, seakan tak mau melepaskan nya.


"Kamu tunggu disini, main saja sana. Saya pergi membeli es krim untukmu" ucapnya. Anak itu mengangguk paham.


Jesi terus saja melihat kearah anak itu, sangat lucu dan tampan, dia juga anak yang penurut.


Jesi mengamati dari jauh, apa yang dilakukan oleh anak itu, dia tampak sangat menikmati permainan yang ada. Lalu duduk di ayunan menunggu wanita yang tadi.


Tiba-tiba saja yang tadinya terang, kini sudah gelap. Mungkin saja sudah malam, pikir Jesi.


Dia masih melihat kearah anak laki-laki itu, mungkin usianya sekitar 4-5 tahun. Jesi tetap mengawasi dari jauh, entak mengapa dia juga ikut melihat ke kiri dan kekanan. Mencari wanita yang tadi membawa anak itu.


Tiba-tiba dia berdiri, berjalan meninggalkan taman, karna merasa khawatir, Jesi mengikutinya dari belakang.


Dia terus berjalan. Tak tentu arah mengikuti anak laki-laki yang lucu itu. Tiba-tiba dari arah berlawanan, ada mobil yang melaju kencang kearah anak itu.


"Awasss" teriak Jesi, namun entah mengapa, suaranya bahkan tak didengar oleh anak itu, dia terus saja melangkah...


"Awasss" Jesi tetap berteriak, dan berlari kearah anak itu, berusaha mendorong nya.


........


"Jesi,,, sayang,,, kamu kenapa?" Tanya mama, tadi mama mendengar suara teriakan Jesi. Mama berlari dan memasuki kamar itu dengan cepat.


"Sayang kamu kenapa?" Tanya mama lagi.


"Hikss..hikss.. mah.. aku nggak bisa nyelamatin anak itu mah, dia celaka mah.. hikss... hikss" tangis Jesi. Tubuhnya dipenuhi keringat dingin.


Dengan cepat mama memeluk Jesi.


"Tenang sayang, itu hanya mimpi buruk, tenang" mama berusaha menenangkan Jesi yang terus saja menangis, wajah lucu itu masih terbayang dalam ingatannya. Dia tak bisa menyelamatkan anak lucu dan tampan itu.


Mama membawa Jesi ketaman belakang, membiarkan Jesi menenangkan pikirannya.


"Itu hanya mimpi buruk saja, yah itu hanya mimpi" gumamnya.


"Mah" panggil Jesi.


"Ada apa sayang? Kau mau sesuatu?" Tanya Mama.


"Aku pengen makan masakan mama" ucap Jesi manja.


"Ouhh,, baiklah. Kau mau makan apa?" Balas mama lagi.


"Emmhhh,," Jesi memikirkan apa yang ingin dimakannya. " kalau boleh aku mau kimbap" ucap Jesi. (Kimbap/gimbap:makanan khas Korea.)


"Kimbap?" Tanya mama lagi.


"Iya mah, aku pengen aja makan kimbap" balas Jesi sambil mengangguk.


"Baiklah, mama buatkan dulu" balas mama. Lalu meninggalkan Jesi yang asik dengan ponselnya, berjalan ke dapur dan membuat kimbap seperti keinginan menantu dan calon cucunya.

__ADS_1


Mama mulai menanak nasi, lalu membuat isiannya. Potongan daging, ikan, telur dan sayuran. Lalu menggulungnya dengan rumput laut kering. Kemudian memotongnya menjadi kecil-kecil.


Sementara ditaman belakang Jesi duduk sendiri, fokus dengan ponselnya. Entah apa yang dia baca ataupun tonton.


"Kakak ipar" sapa Rey.


"Ahkk, Rey. Mengagetkan saja" balas Jesi.


"Hehehe,, kau sedang apa?" Tanya Rey.


"Entahlah, aku hanya sedang asik dengan ponselku" balas Jesi santai.


"Hmmttt, bagaimana dengan pemeriksaan nya tadi? Berapa usianya?" Tanya Rey lagi.


"Pemeriksaan berjalan lancar, dan janinku berjalan 2 Minggu" balas Jesi.


"Dua Minggu?"


"Yah, berjalan dua Minggu, memangnya kenapa?" Tanya Jesi.


"Itu berarti, saat kau menyelamatkan Kami sedang hamil? Begitu?" Ucap Rey, Jesi mengangguk.


"Oh Lord, kakak ipar, kau benar-benar hebat" puji Rey.


"Tidak juga Rey. Lalu bagaimana latihannya?" Tanya Jesi.


"Ouhhh, kakak ipar, sangat melelahkan, kau tahu, kak Ex menyuruhku berlari mengelilingi lapangan dibelakang mansions, lalu menyuruhku push-up. Kemudian mengangkat beban, sangat melelahkan" celoteh Rey.


"Untung saja dia harus pergi, jadi aku bisa pulang cepat, kalau tidak, aku pasti akan pulang larut" tambahnya.


"Pergi? Kemana?" Tanya Jesi.


Rey mengangkat bahunya. "Aku tak tahu, katanya ada misi yang harus diselesaikan" balas Rey.


"Sayang" panggil mama.


Rey dan Jesi menengok kearah mama yang berjalan mendekat.


"Apa sudah jadi, mah?" Tanya Jesi.


"Sudah, ini" mama memberikan Jesi nampan berisi potongan kimbap dan sumpit.


"Kimbap" ucap Rey. "Kakak ipar, apa aku boleh minta juga?" Tanya Rey.


"Tentu saja" balas Jesi. Dia menyuapkan Rey sepotong kimbap, lalu menyuapkan juga pada mama.


"Bagaimana rasanya?" Tanya mama.


"Masakan mama yang terbaik" puji Jesi dan Rey bersamaan.


🍁🍁🍁🍁🍁


"Kakak ipar, kau yakin ingin pergi sendiri?" Tanya Rey. Dia khawatir jika Jesi kenapa-napa diluar sana.


"Tentu saja, aku ini women strong, apa kau lupa?" Balas Jesi.


"Tidak kak, tapi"


"Aku hanya ketaman dan makan es krim saja Rey, aku ingin menghirup udara segar." Potong Jesi.


"Baiklah, kau harus mengabari kakak ku, jika tidak, aku tak tahu apa yang akan terjadi nanti" balas Rey.


"Iya cerewet" ejek Jesi. Dia berjalan menghampiri mobil dan mulai menghidupkan mesin mobil, meninggalkan rumah mewah itu.


Jesi merasa dadanya sangat sesak, dia ingin menghirup udara segar.


Taman menjadi pilihannya saat ini, dan benar saja. Ketika sampai disana, sudah banyak sekali pengunjungnya.


Anak-anak yang bermain di temani orang tua mereka, para muda-mudi yang berjalan-jalan, ataupun sekedar duduk dan membaca buku atau mengerjakan tugas mereka. Ada juga yang bercanda tawa. para lansia yang juga menikmati sore yang cerah ini. Yah sekarang sudah mulai sore, sekitar jam 5 sore tepatnya.


Jesi tersenyum melihat kearah kedamaian dan ketenangan disini, mereka sangat harmonis, pikir jesi. Inilah mengapa dia suka sekali ketaman. Melihat pemandangan ini.


Mata Jesi tertuju pada wanita dengan anak laki-laki disampingnya. Ingatan tentang mimpi itu datang lagi.


'Tidak mungkin'. Gumam Jesi.


Dia tak mau mimpi itu menjadi nyata. Itu tak boleh terjadi.


Jesi mengawasi dari jarak yang sedikit jauh.


Entah apa yang diucapkan oleh wanita itu, tapi setelah itu, dia pergi.


Jesi menggigit jari kukunya yang panjang, dia tak tenang.


"Nggak, nggak mungkin ini nyata, ini pasti hanya mimpi." Ucap Jesi. Namun dari arah belakang, ada anak kecil yang berlari dengan dikejar oleh kakaknya, sang kakak berusaha mengejar adiknya yang terus saja berlari.


'Brukkk'


Jesi langsung memegang tangan anak cantik sekitar 7 tahunan, agar dia tak terjatuh.


"Maaf nona, adik saya nggak sengaja" ucap kakaknya meminta maaf.


" Tak apa". Balas Jesi. Dia berjongkok menyamakan tingginya dengan anak cantik itu.

__ADS_1


"Jangan berlarian seperti itu, lihat kakakmu capek mengejarmu'" ucap Jesi sambil tersenyum.


" Hmm" balasnya sambil tersenyum, membuat pipinya yang seperti bakpau itu bergerak.


"Sana main, hati-hati ya". Ucap Jesi sambil mengelus Surai lembut itu.


Kedua kakak beradik itu meninggalkan Jesi, dan dia juga sadar. Ternyata ini bukan mimpi, ini nyata.


Jesi terus saja mengamati anak itu, dia tersenyum melihat anak itu tampak bahagia.


Hatinya sesak mengingat mimpi itu, jika benar maka. Dia harus melakukan sesuatu.


Jesi berjalan kearah kedai es krim. Membeli beberapa es krim, lalu berjalan ke tempatnya tadi.


Ada remaja yang lewat.


"Dek, adek" Panggil Jesi. Dia menoleh.


"Kakak manggil aku.?" Tanyannya.


Jesus mengangguk. "Bisa minta tolong?" Tanya Jesi. Dia mengangguk.


"Bisa kau berikan es krim ini pada anak itu? Yang memakai baju hitam" tunjuknya. Remaja itu mengangguk.


Dia menerima es krim dari tangan Jesi.


"Dan ini untukmu" Jesi juga memberikan es krim padanya.


"Makasih kak" ucapnya tulus, dia berbalik dan mendekati anak berbaju hitam yang dimaksud Jesi. Memberikan es krim, lalu kembali pada Jesi.


"Sudah kak, kalau gitu aku permisi dulu" pamit nya.


"Tunggu" tahan Jesi.


"Apa kak?"


"Ini" Jesi memberikannya uang 50 ribu. "Kau sudah mau membantuku, terima kasih" sambung Jesi.


"Makasih kak, kalo gitu aku pergi dulu". Setelah itu Jesi memperhatikan wajah polos yang menikmati es krim ditangannya.


Hari semakin gelap, anak itu tak beranjak dari tempatnya. Dia terus saja bermain ayunan, es krim ditangannya sudah habis.


Dia memegang perutnya.


"Apa dia lapar?" Gumam Jesi.


Kebetulan ada pedagang kaki lima yang lewat dengan jualan nya.


"Buk" panggil Jesi.


"Iya nona, mau beli apa?" Tanyanya.


"Ibu lihat anak kecil disana? Yang make baju hitam" ucap Jesi menunjuk ayunan.


"Iya nona, ada apa?" Tanyanya lagi.


"Ibu kesana, bilang saja sama dia, ambil apapun yang dia mau, sudah dibayar" ucap Jesi." Setelah itu, akan saya bayar, saya awasi dari sini saja buk" sambungnya.


Ibu penjual itu menurut, siapa yang tak mau jualannya laris coba.


"Nak" panggilnya. Anak itu menoleh.


"Ambil apapun yang kamu mau nak, kamu laparkan?"


"Tapi atu nggak punna uann nene" balasnya.


"Ambil saja, sudah dibayar sama Tante baik" jawab ibu penjual. Anak itu tampak senang, dia mengambil beberapa roti dan makanan ringan, ibu penjual memberikannya banyak sekali Snack.


Dan juga sebotol susu kotak yang dititipkan Jesi.


Dia tampak menikmati rotinya. Ibu penjual kembali ke Jesi.


"Sudah nona" ucap nya.


"Makasih buk" Jesi memberikannya 3 lembar uang berwarna merah.


"Ini berlebihan nona, terlalu banyak" ucapnya.


"Ambil saja buk, makasih sudah mau membantu saya" ucap Jesi sambil terus melihat kearah anak itu


"Itu anakmu? Kenapa tidak ditemani?" Ucapnya.


"Dia lagi ngambek sama saya buk, nggak mau ditemani" ucap Jesi berbohong.


"Ya sudah,kalau begitu ibu pergi dulu. Makasih" ucapnya dan pergi dari situ.


Hari semakin gelap, para pengunjung juga sudah mulai pergi dari taman, dan bergantian dengan para muda-mudi yang berdatangan membawa pasangan mereka.


Jesi menggigit kuku jarinya, 'tak mungkin, itu hanya mimpi'. Batin Jesi.


******* NOTE...


Sampai sini dulu part kali ini. Jangan lupa like, komen dan Vote-nya.

__ADS_1


ArigataouπŸ˜‰


__ADS_2