
"Syukurlah Jesica baik-baik saja". Gumam Rian.
Rian mengalihkan pandangan nya ke Josua yang terbaring di samping Jesi, sambil memeluk mommy nya erat.
Kata dokter Jesi baik-baik saja, dia hanya pingsan karena terus mengeluarkan isi perutnya. Selain itu janinnya juga baik-baik saja.
"Apa jenny sudah pergi?" Tanya Rian.
"Sudah Tuan muda" jawab Hengky.
"Kau boleh istirahat, aku yang akan menjaga istriku" ucap Rian.
"Baik tuan muda, saya akan beristirahat setelah tuan muda makan siang" balas Hengky, dia meninggalkan ruang rawat Jesi dan membeli makanan.
___________________
Sedangkan di kantor.
"April, apa kau mengetahui hal ini?" Tanya Mbak Retna.
April menggeleng. "Enggak mbak, saya juga kaget pas pak presiden bilang kalau Jeije itu Istrinya" balas April.
'Sebenarnya apa alasan Jesica menyembunyikan hal ini?' Batin Mbak Retna
Setelah itu mereka kembali, mbak Retna harus mengawasi staf nya, sesuai perintah Jenny, tak ada yang boleh keluar sampai jenny kembali.
"Ini semua gara-gara Lo, kalau Lo nggak nyebarin semua ini, nggak mungkin kita kayak gini" ucap Si B.
A melotot. "Heiii.. kalian juga yang menyebarkannya" balas Si A. "Jika kalian tak menambahkan bumbu, tak mungkin rumor ini akan mencelakai aku" sambung A.
"Lo tuh yang duluan, kita cuma ikutan aja" sambung si E.
"Lo juga salah" sambung si D.
Akhirnya ruangan itu penuh dengan pertengkaran, mereka saling menyalahkan atas apa yang terjadi dan akan menimpa mereka.
"DIAMMMM!!!!" bentak Jenny. Dia sudah sampai satu menit yang lalu, dan mendengarkan semua perdebatan staf di sana.
Semua langsung diam. Hening yang ada, hanya aura mencekam yang berasal dari Jenny.
'Takkk.. Takk'..Takk'
Jenny melangkah mendekat, memutar Vidio rekaman CCTV.
Disana terlihat jelas, siapa saja yang menyebarkan dan termakan rumor.
Jenny berjalan ke arah A dan C, mereka yang pertama menyebarkan rumor ini.
'Plakk'
'plakk'
'Bruggg'
'bruggg'
Jenny menampar jawah mereka, lalu memukul perut A dan C.
"Angkat barang kalian, saya tak ingin melihat wajah kalian lagi!" Bentak Jenny.
Dia melihat kearah para staf yang lain, menunjuk wajah orang-orang yang mendukung A dan C, lalu mereka juga berhasil sama dengan A dan C. Ditampar, pukul dan dipecat dengan tidak terhormat.
"Nona maafkan kami, kami hanya termakan ucapan mereka" ucap E membela diri.
"Iya nona, kami hanya termakan ucapan mereka, harusnya ka...".
"Diam!!...Hentikan omong kosong kalian, dan pergi dari sini sekarang juga!!" Potong Jenny.
Mereka langsung kembali ke tempat mereka, membereskan barang-barang, dan keluar dari sana.
Departemen lain yang juga ikutan termakan rumor melihat betapa kejamnya jenny saat ini. Mereka hanya menundukan kepala, mereka tahu dengan siapa mereka berhadapan.
Sekarang mereka tahu, ternyata istri presiden direktur juga bekerja di sini, tapi selalu rendah hati, tak pernah sombong dan selalu sopan dengan siapa dia berhadapan.
"Saya nggak nyangka, ternyata staf yang bernama Jesica itu istri pak presiden, jika saya tahu, saya akan bersikap baik padanya" bisik-bisik staf departemen lain.
Yah, inilah yang akan terjadi, menjadi penjilat hanya untuk mendapatkan jabatan yang lebih tinggi. Memang selalu terjadi bukan?.
Kembali ke Rumah Sakit.
Mata Jesi mulai terbuka, bau alkohol yang tajam menusuk oleh Indra penciuman nya.
__ADS_1
"Rumah sakit lagi?" Gumam Jesi, dia sangat malas jika harus berhadapan dengan rumah sakit.
"Mom, tau sudah banun" ucap Josua. Jesi mengalihkan pandangannya pada Josua.
"Sayang, kau disini?" Balas Jesi.
Josua mengangguk.
"Dimana Dad?" Tanya Jesi.
Josua mengangkat tangannya kearah sofa, disana terlihat seorang pria yang sedang terlelap.
"Kau sudah makan?" Tanya Jesi lagi.
Josua mengangguk. (Author: Yah, anak kecil mah hanya gituan aja kan? Angguk sama geleng kepalaπππ)
"Dad Juda" ucap Josua.
"Syukurlah kalau begitu" gumam Jesi, dia takut Rian terlalu mengkhawatirkan dirinya hingga lupa akan kesehatan nya juga perlu dijaga juga.
Kerongkongan nya kering, haus yang dia rasakan.
Jesi melihat kesamping, disana ada segelas air putih. Dia berusaha mengambilnya.
"Mom, bial Jojo yang ambil" ucap Josua menghentikan gerakan Jesi.
Dia turun dari atas bangsal dan berjalan dengan kaki pendeknya ke nangkas disamping bangsal.
Mengambil gelas yang berisi air dan memberikannya pada Jesi.
"Terimakasih sayang" ucap Jesi, dia mengelus rambut Josua, lalu menerima gelas itu. Meneguknya hingga kandas.
Josua tersenyum, lalu menyodorkan tangan mungilnya meminta gelas kosong.
Jesi memberikannya pada Josua untuk kembali menyimpannya.
Namun tangan Josua licin, alhasil gelas itu jatuh ke lantai.
'Prakk".
Rian yang tertidur pulas mendengar suara gelas yang jatuh, dia langsung membuka matanya.
Dia langsung berjalan kearah Josua dan Jesi.
"Sayang, kau sudah sadar" ucap Rian.
Jesi mengangguk. Rian melihat kearah gelas yang sudah pecah dan berserakan dilantai. Dan Josua berdiri disitu, dia mengangkat tubuh mungil Josua dan mendudukkan nya diatas bangsal.
"Kau harus? Mengapa tak membangunkan ku?" Ucap Rian.
Dia menekan tombol disamping bangsal Jesi, beberapa detik kemudian, ada seorang perawat yang datang.
"Anda menekan bel tuan muda?" Tanya perawat.
"Hmm... Bereskan ini" tunjuk Rian kearah pecahan gelas yang berserakan.
"Baik tuan muda" balasnya.
Dia keluar dan memanggil office boy.
Beberapa menit kemudian office boy datang dan membersihkan pecahan gelas, lalu keluar kembali melanjutkan tugasnya.
"Sayang, kapan aku bisa pulang? Aku sangat malas disini" rengek Jesi.
"Tapi kau masih sakit". Balas Rian.
Jesi menggeleng. "Aku baik-baik saja, aku ingin pulang" ucapnya lagi.
"Huffttt... Baiklah kita pulang, tunggu aku panggilkan dokter dan memeriksa mu" balas Rian, dia mengalah, lebih baik mengalah dari pada urusannya semakin panjang.
______________________
Rian, Jesi dan Josua sudah berada di rumah, mereka pulang setelah dokter memeriksa keadaan Jesi.
"Sayang" panggil Jesi. Saat ini dia sedang menemani Josua bermain, dia teringat kejadian tadi pagi di kantor.
"Ada apa?" Tanya Rian. Dia menghentikan pekerjaannya dan melihat kearah Jesi yang sedang menemani Josua bermain.
"Bagaimana keada'an di kantor? Apa yang harus kulakukan?" Tanya Jesi polos.
"Apa? Bersikap seperti biasa saja, lagi pula aku ingin mengumumkan pernikahan kita" balas Rian.
__ADS_1
"Tapi".
"Tapi apa? Kau takut mereka melakukan sesuatu pada mu?" Potong Rian.
Jesi menggeleng. "Tidak, sudahlah, terserah kamu saja". Balas Jesi.
"Bagaimana dengan acara pernikahan kalian kakak?" Sambung Rey yang baru datang dari kamarnya.
"Kau benar Rey, pesta seperti apa yang kau inginkan?" Sambung Mama. Mama dan papa juga datang dan berkumpul dengan mereka di ruang keluarga
"Semakin cepat semakin baik, dan semua urusan pesta aku serahkan pada Jesica dan mama saja" balas Rian.
"Semakin cepat yah, bagaimana kalau lusa, aku harus kembali secepatnya, kakak" ucap Rey.
"Aku setuju saja, bagaimana denganmu, sayang?" Balas Rian.
Jesi mengangguk. "Aku ikut saja" sambung Jesi.
"Baiklah, sudah diputuskan, lusa pesta pernikahan kalian akan dilaksanakan" ucap papa.
Sedangkan Josua, dia menatap satu persatu anggota keluarga Rios.
"Mom.." Panggil nya.
"Ada apa sayang" jawab Jesi. "Kau mau sesuatu?" Sambung nya.
Josua menggeleng. Semua orang dewasa itu menatapnya, apa yang ingin diucapkan oleh Josua.
"Mom, pesta pelnitahan itu apa" tanya Josua polos.
Rey langsung menepuk keningnya, mama langsung melemparkan pandangannya kelainan arah. Papa menggeleng seperti Rian. Sedangkan Jesi hanya tersenyum kikuk.
Josua masih menatap mommy lekat, meminta jawaban.
"Pesta pernikahan itu, untuk orang-orang yang sudah menikah, sama seperti Mom dan Dad" balas Jesi, dia tak tahu harus berkata apa pada putranya.
"Menitah? Apa itu mom?" Tanya Josua lagi.
Jesi langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal, 'aduh, mengapa Jojo bertanya lagi, aku harus mengatakan apa? Tak mungkin aku menjelaskannya secara rinci' batin Jesi.
Rian tersenyum melihat Jesi yang tak tahu harus mengatakan apa untuk putra sulungnya.
"Jojo, sini boy" panggil Rian. Dia menyimpan laptop dimeja.
Josua berdiri dan berjalan kearah Daddy nya. Rian mengangkat tubuh Josua keatas pangkuannya.
"Kau ingin tahu?" Tanya Rian.
Josua mengangguk. Matanya berbinar, pasti Daddy nya menjawab pertanyaannya.
"Kau lihat mommy?" Ucap Rian, Josua melihat kearah Mommy nya.
"Daddy harus menikahi mommy barulah bisa tinggal bersama, kami harus mengucapkan janji,,,,,,,kau akan mengetahui nya setelah dewasa" sambung Rian.
"Janji? Sama sepelti Jojo beljanji pada mom?" Tanya Josua polos.
"Memangnya apa yang Jojo janjikan pada Mom?" Tanya Rian, dia penasaran apa yang dijanjikan istri dan anaknya.
"Jojo janji, Atan menjada mom sampai mom tua sepelti Oma" balas Josua.
"Ohhh, ponakan ku akan meluluhkan hati para wanita ketika dewasa" ucap Rey.
"Apa maksudmu, Rey?" Tanya mama
"Apa mama tak melihat, wajah Jojo itu tampan, ditambah dia bermulut manis seperti..." Rey melirik keras plafon.
"Seperti siapa Rey?" Tanya Jesi.
"Bukan siapa-siapa kakak ipar, sudahlah, aku lapar, apa kalian tidak lapar? Kita belum makan malam" tanya Rey mengalihkan pembicaraan
"Kau benar Rey, kita makan malam dulu, baru berkumpul lagi" sambung papa.
Akhirnya keluarga itu pergi ke ruang makan, disana para pelayan sudah menyiapkan makan malam diatas meja panjang.
Mereka menikmati makan malam dengan tenang, tersenyum melihat wajah Josua yang belepotan memakan Japchae. (Makanan. Korea).
******NOTE..
Sampe sini dulu part kali iniπ
Jangan lupa like komen dan Vote-nya π
__ADS_1