Menikah Dengan Presdir

Menikah Dengan Presdir
EPS.28


__ADS_3

Semua menatap kearah Rey yang sedang memeriksa Josua yang tertidur pulas diatas tempat tidur king size itu.


"Bagaimana keadaannya,Rey?" Tanya semua orang.


"Dia baik-baik saja, hanya kekurangan gizi, aku rasa dia perlu beristirahat, dan mungkin dia hanya ingin bersama kakak ipar nanti, karna kakak ipar lah yang menemukannya" jawab Rey.


Semua bernafas legah. Mama mendekati ranjang, mengelus pipi Josua.


"Rey, kira-kira berapa umurnya?" Tanya mama.


Rey mengamati wajah Josua. Dia mengalihkan pandangannya ke Jesi.


"Kaka ipar, apa Jojo sudah mahir berbicara?" Jesi menggeleng.


"Kira-kira 4 tahunan lebih" sambung Rey.


"Kalau begitu kami pergi dulu, istirahatlah kalian" ucap Papa. Rian mengangguk. Mereka keluar dari kamar Rian dan Jesi.


"Sayang" Panggil Jesi.


"Ada apa?" Tanya Rian lembut.


"Aku lapar" balas Jesi sambil memegang perutnya. Sejak tadi dia memang tak menyantap apapun di taman, selain makan kimbap sebelum ke taman saja.


"Kau lapar? Kau mau apa?" Tanya Rian.


"Nasi goreng" jawab Jesi.


"Baiklah, akan kusuruh Bik Anna membuatnya" balas Rian. Jesi mengangguk, dia tak ingin membuat Rian harus pergi kedapur dan memasak nasi goreng malam-malam begini.


Rian juga pasti lelah bekerja seharian, ditambah harus mencarinya tadi.


Beberapa menit kemungkinan Bik Anna datang dan membawa nampan yang berisi nasi goreng dan susu ibu hamil.


"Ini tuan muda" ucap Bik Anna. Rian mengangguk.


Setelah Bik Anna pergi, Rian kembali masuk kedalam kamar, memberikan Jesi nampan.


"Sayang, makan malamnya" ucap Rian. Jesi menyimpan ponselnya. Ria duduk di sofa, lalu Jesi duduk dipangkuan nya.


"Kau sudah makan?" Tanya Jesi. Rian menggeleng.


"Baiklah, kita makan bersama" lanjut Jesi.


Keduanya makan nasi goreng, Jesi menyuapi suaminya, lalu Rian juga menyuapinya.


Setelah itu mereka bergabung dengan Josua di ranjang.


Josua memeluk Rian erat, entah apa yang dia mimpikan, namun pelukan itu sangat erat.


'apa ini rasanya dipeluk oleh putra sendiri?' batin Rian.


Jesi hanya tersenyum melihatnya, dia juga ikut memeluk Rian dari belakang Josua.


Mereka seperti keluarga yang sangat lengkap. Akhirnya Josua bisa mendapat orang tua yang benar-benar lengkap, yang menyayangi nya dengan tulus.


_______________


"Mom itut" rengek Josua. Dia tak mau melepaskan Jesi pergi bekerja.


"Sayang, kau sama Oma yah, mom mau bekerja" balas Jesi, dia terus saja meminta Josua tinggal bersama mama.


Meski Josua tampaknya hanya mulai mengenal anggota keluarga Rios, namun dia tak mau melepaskan Jesi pergi.


"Sayang, Bagaimana ini?" Tanya Jesi.


"Bawa saja dia, nanti jika dia mengantuk, bawa dia ke ruangan ku" balas Rian. Josua memang mulai mau bersamanya, namun tak mau melepaskan mommy nya.


"Boy" panggil Rian. Josua menoleh.


"Ya Dad" balas Josua.


"Kau mau ikut mom? Tak mau bersama Oma? Bukankah Oma mau mengajakmu membeli mainan?" Ucap Rian. Sejak tadi mama dan papa terus saja membujuk Josua dengan mainan, apa lagi Rey.


Josua menggeleng. "Mau itut mom" balasnya.


Dia turun dari kursinya, berlari kearah kursi Jesi yang berada di depannya.


"Mom itut" ucapnya lagi.


"Baiklah, Jojo boleh ikut, tapi janji jangan nakal, oke?" Ucap Jesi. Jojo mengangguk.


"Kalah begitu ikut bibik Anna ganti pakaian mu, sana ganti". Sambung Rian.


Bik Anna mendekat, menggendong Josua kelantai atas, mengganti pakaiannya yang sudah dibelikan oleh Rian.


Semalam Rian dan Jesi langsung memesan pakaian untuk Josua. Semua sesuai dengan keinginan Jesi, karna dialah yang lebih tahu dalam memilih fashion anak.


"Kamu yakin, yangk?" Tanya Jesi lagi.


"Hmmt, nanti akan ada penjaga yang mengawasi Josua. Kau bekerja lah seperti biasa" balas Rian tersenyum.


"Terima kasih sayang" ucap Jesi.


"Ehemm...ehemm"


Semua melihat ke arah Rey.


"Ada apa Rey, mau minum?" Tanya mama.


Rey menggeleng. "Kakak, jika kau ingin bermesraan pergilah kekamar saja, masih ada jomblo di sini" ucap Rey.


"Cihh...Memangnya kau tak punya kekasih?" Tanya Rian.

__ADS_1


"Tidak, mereka bukan selera ku" jawab Rey santai.


"Mau kucarikan?" Tawar Jesi.


Rey menggeleng. Dia teringat sesuatu. "Kakak, kapan pesta pernikahan mu? Aku harus kembali ke NY Minggu depan, aku harus menyelesaikan skripsi ku" ucap Rey.


Mereka sampai melupakan hal ini.


"kita bicarakan setelah makan malam" balas Rian.


"Baiklah, semuanya aku serahkan pada mama" sambungnya.


Bik Anna dan Josua sudah berada diruang makan, disana Jesi masih menunggu putranya.


"Ouhh,, anak mom tampan sekali" puji Jesi.


"Matati mom" balas Josua sambil tersenyum.


"Ohh.. ponakanku sangat tampan dan pintar" puji Rey juga.


"Sayang ayo berangkat, kita terlambat" ucap Rian mengingatkan. Jesi mengangguk.


Mereka pergi kekantor dengan kendaraan masing-masing. Rian dan Hengky, sedangkan Jesi dan Josua.


Sepanjang jalan Josua banyak bicara, meski ucapannya belum jelas, namun bisa dipahami oleh orang dewasa.


Jesi memberinya buku cerita bergambar, agar dia bisa melihat-lihat gambar dibuku itu. Sampai matanya terpejam, dia mulai memasuki alam mimpinya.


Ketika sampai di kantor, Jedi menggendong Josua, dia tak mungkin membiarkan Josua tidur dalam mobil.


Pas sekali, Rian juga sampai di kantor, dia melihat istrinya yang kesusahan membawa tas, dan berkas, ditambah menggendong putranya.


Rian mendekat. "Biarkan dia bersamaku, saat bangun Hengky akan mengantarnya padamu" ucap Rian. Jesi mengangguk.


Untung saja, kali ini Josua tak terbangun seperti kemarin. Dia malah semakin erat memeluk Rian.


Mereka berpisah di pintu utama kantor, Rian dengan percaya diri memasuki kantornya sambil menggendong putranya. Semua kariawan hanya melihat lalu berbisik.


"Apa itu anak pak Presiden?" Ucap salah satu.


"Kurasa iya, bukankah pak presiden sudah menikah, wajar saja jika dia memiliki anak" sambung yang lain.


Mereka terus saja bergosip.


Sedangkan Jesi, dia berjalan kearah departemen sekretaris.


"Jeije" panggil April.


"Hai, Morning" sapa Jesi.


"Hmmttt,,,, gimana keadaan Lo, udah baikan?" Tanya April.


"Udah Ril. Kalo gitu gue ketempat gue dulu, pasti banyak banget kerjaan gue, kayak karung yang ditumpuk" balas Jesi.


Mereka berpisah, ketempat mereka masing-masing dan mulai mengerjakan tugas mereka.


'owekkkkk... owekkkkk'.


Tiba-tiba saja Jesi mual, dia segera berlari kearah toilet.


Alex baru saja datang, dia hanya melihat Jesi berlari ke toilet.


"Itu Jeije kan.? Kenapa lagi dia?" Gumam Alex.


Alex berjalan ketempatnya, masih ada kerjaan yang harus dia selesaikan.


Sementara di toilet Jesi terus saja muntah, dia mengeluarkan isi perutnya.


"Gue bilang juga apa, dia itu pasti hamil, dasar Ja**ng". Ucap para penggosip.


Jesus tak mempedulikan orang-orang itu, dia hanya perlu menutup telinganya untuk orang-orang seperti mereka.


Ternyata rumor tentang Jesi yang hamil sampai ditelinga Rian. Orang-orang itu terus membicarakan tentang Jesi yang hamil.


Saat itu Rian berencana pergi ke lantai dasar, dia tak sengaja mendengar seseorang menyebut nama Istrinya.


"Wah, yang bener Lo, si Jesica dari departemen sekretaris itu seorang ja**ng?" Sebut saja dia si A.


"Bener bro, gue denger-dengar sih yah, dia itu lagi hamil, kan dia selalu layani pengunjung Club malam" sambung Si B.


"Ahkk, kalau gitu gue bakal sewa dia nih malem buat hangatkan ranjang gue".


Rian hanya diam, dia ingin marah tapi ditahannya. Dia kembali ke ruangannya dengan kesal.


Lalu menyuruh jenny mencari siapa yang menyebarkan rumor itu.


Dengan cepat jenny tahu siapa dalang dibalik rumor itu, Rian tak menyalahkan stafnya yang hanya termakan gosip murahan.


"Hikss...hiksss...mom...mom.." panggil Josua, dia sudah mencari Jesi dalam ruangan ini. Yah, ruangan tempat Rian biasa istirahat jika kelelahan, disana ada tempat tidur, lengkap dengan kulkas mini, kamar mandi, dan tentu saja pemandangan yang indah.


"Mom...mom..." Panggil Josua lagi.


Rian segera pergi keruangan sebelah.


"Hai boy, sudah bangun?" Ucap Rian.


Josua mengangguk. "Dad, dimana mom, Dad?" Tanya Josua.


"Mom.ada dibawah, kau mau bertemu mommy mu?" Tanya Rian. Josua mengangguk.


"Ayo dad antar" sambil merentangkan tangannya. Josua berjalan dan masuk kedalam gendongan Rian.


Mereka pergi ke departemen sekretaris, menemui Jesica. Diikuti Jenny dan Hengky

__ADS_1


Namun saat didalam lift, Josua meminta turun, dia tak mau digendong.


Rian menuruti keinginan putranya. Josua memegang tangan kekar Rian.


Mereka tiba di departemen sekretaris, Rian mendengar cemooh dari kariawannya pada seseorang yang berdiri ditengah-tengah mereka.


"Dasar Ja**ng, kita pikir Lo itu cewek baik-baik, tapi ternyata Lo nggak sepolos yang kita kira" ucap A.


"Iya, nggak nyangka gue" sambung si B.


Asih banyak lagi yang dilontarkan oleh mereka.


"Ada apa ini?!" Bentak Rian.


Semua orang langsung melihat kearah Rian. Mereka langsung menunduk.


"Jawab jika saya bertanya!" Bentak Rian lagi, Josua yang kaget langsung menangis.


"Ohh.." Rian ingat, dia membawa Josua saat ini. Dia berjongkok dan menggendong Josua.


"Maaf sob, dad tak bermaksud" ucap Rian sambil mengusap punggung Josua, menenangkan nya.


"Ini pak, ada ja**ng disini pak, dia hamil diluar nikah, pak" salah seorang dari mereka mengangkat suaranya.


"Siapa?!" Tanya Rian.


"Dia pak" tunjuk si A.


Mata Rian membulat, dia melihat wajah pucat istrinya, ditambah sepertinya Jesi lemas akibat terus saja mual dan muntah.


Rian langsung menurunkan Josua, berjalan kearah Jesi.


Jesi menggeleng, namun tak digubris oleh Rian.


Mata Rian memerah, tangannya mengepal.


"Hentikan omong kalian, dia istriku!!" Bentaknya. Telinganya panas mendengar ini.


Tiba-tiba kesadaran Jesi menghilangkan, dia hampir saja terjatuh jika Rian tidak cepat berlari dan menarik Jesi kedalam pelukannya.


"Sayang,, sayang buka matamu" ucap Rian, sambil menepuk pipi Jesi. Josua semakin menangis melihat mommy nya jatuh pingsan.


"Mom..mom...hikss..hikss..mom" Panggil Josua.


Semua orang tak percaya, jadi istri presiden direktur tempat mereka bekerja adalah Jesica. Yang sering mereka panggil Jeije.


Wanita cantik dengan penuh kelembutan, hangat dengan siapapun, pekerja keras, dan tentu saja sangat pintar.


"Baby.. open your eyes" ilang Rian. Dia menepuk pipi Jesi pelan.


"Hengky!!" Panggil Rian. "Bawa Josua pergi, Jenny lakukan tugasmu!" Perintah Rian.


Dia mengangkat tubuh istrinya ala bridal style, berjalan tergesa-gesa keluar dari departemen sekretaris.


Hengky langsung menggendong Josua pergi menyusul Rian.


Sedangkan jenny melangkah kearah para kariawan yang tadi menggali Jesi.


'plakk'


'plakk'


'plakk'.


Jenny terus menampar mereka.


"Retna, tahan mereka, jangan sampai keluar dari ruangan ini sebelum saya kembali!" Ucap Jenny disertai bentakan.


Jenny keluar dari sana, menyusul Rian dan Hengky.


Mbak Retna langsung melihat kearah stafnya.


"Apa kalian puas. Huhh!!!" Bentaknya


" Apa kalian puas telah memfitnah Jeije?! Kalian tahu siapa dia sekarang kan? Nyonya tempat kalian mencari uang, sama seperti ku! Kalian benar-benar mengecewakan saya" sambung mbak Retna. "April, ikut saya" sambungnya lagi.


"Baik mbak" balas April. Mereka pergi dari sana.


Sedangkan Alex?. Dia malah tak percaya, dia selalu mengejar Jesica. Dan sekarang, kenyataan pahit ada didepannya. Jesi sudah bersuami.


'apa itu alasannya selalu menolak ku?' batin Alex. Dia pergi dari sana dengan keadaan frustasi.


Jenny sampai tepat ketika Rian dan Hengky berjalan kearah mobil.


"Hengky, berikan tuan muda Josua padaku" ucapnya. Hengky memberikan Josua yang terus menangis pada Jenny, lalu duduk dibelakang kemudi, dan membawa tuannya ke rumah sakit terdekat.


"Sayang bertahanlah" gumam Rian.


"Hikss...Mom...mom... hikss..hiksss" Josua melihat kebelakang, kearah Rian dan Jesi.


Rian menatap putranya. 'Apa ini yang disebut hubungan batin antara anak dan ibunya?'. Batin Rian.


.


.


.


.


.


*****NOTE*****

__ADS_1


JANGAN LUA LIKE KOMEN DAN VOTE-NYA.


__ADS_2